Distributor itu bernama Pak Sugianto. Sekar melacaknya selama tiga hari — telepon yang tidak diangkat, alamat kantor yang sudah jadi minimarket, sampai akhirnya seorang mantan karyawan tim balap lawas memberi tahu: Pak Sugianto sudah pensiun, sakit-sakitan, tinggal di rumah kecil di pinggiran kota.
Bayu pergi sendiri. Ia membawa map arsip dan kuitansi lama.
Pak Sugianto duduk di kursi rotan di teras rumahnya, selang oksigen tipis di hidung, tubuh kurus dimakan usia dan penyakit. Ia menatap Bayu lama sebelum bicara.
"Kamu anaknya Hardian," katanya, suaranya serak. Bukan pertanyaan. "Wajahmu mirip dia. Aku tahu suatu hari ada yang datang."
Bayu duduk di bangku kayu di hadapannya. Ia sudah menyiapkan kemarahan, tuduhan, suara meninggi. Tapi melihat orang tua sakit ini, semua itu menguap. Yang tersisa hanya satu kebutuhan: kebenaran.
"Saya cuma mau tahu apa yang terjadi," kata Bayu. "Soal ban yang Bapak jual ke tim Bapak saya lima tahun lalu."
Pak Sugianto memejamkan mata. Lama. Lalu, dengan suara yang berat oleh sesuatu yang ia bawa terlalu lama, ia mulai bicara.
"Aku distributor kecil. Tim Hardian butuh ban kompetisi, tapi mereka nggak punya dana untuk ban pabrikan resmi yang mahal. Aku dapat stok ban impor dengan harga miring. Sah. Banya bagus, sungguh. Tapi—" Ia terbatuk, selang oksigennya bergetar. "Tapi ban itu punya rentang suhu yang lebih rendah dari ban tropis. Dibuat untuk iklim Eropa yang adem. Maksimal lima puluh dua derajat. Aspal kita di siang terik bisa nembus lima puluh delapan, enam puluh."
"Bapak tahu itu," kata Bayu, dan suaranya dingin. "Bapak tahu dan tetap jual."
"Aku tahu." Air mata mengambang di mata tua itu. "Aku tahu, Nak. Tapi dengar dulu. Aku kasih lembar spesifikasinya ke tim Hardian. Aku selipin di dokumen. Itu kewajibanku, dan aku lakuin. Suhu maksimal lima puluh dua derajat — tertulis jelas. Aku sumpah."
Bayu mengerutkan kening. "Tapi laporan resmi bilang spesifikasi itu nggak tersedia bagi tim."
"Itu dia." Pak Sugianto mencengkeram lengan kursi rotan. "Setelah Hardian meninggal, ada orang datang ke kantorku. Dari perusahaan besar — yang sekarang jadi Wijaya Group. Mereka tahu ban itu lewat aku. Mereka bilang, kalau ketahuan ban impor di luar spesifikasi suhu dijual ke tim lokal, citra industri balap nasional hancur, sponsor kabur, semua tim kecil ditutup. Mereka 'bantu' aku. Mereka ambil semua arsipku. Termasuk salinan lembar spesifikasi yang aku kasih ke tim Hardian."
Bayu merasakan darahnya membeku. "Mereka hilangkan buktinya."
"Mereka bikin seolah informasi suhu itu memang nggak pernah sampai ke tim Hardian." Suara Pak Sugianto pecah. "Biar kelihatannya kecelakaan murni. Ban gagal, tim nggak tahu, nasib. Bukan kelalaian siapa-siapa yang bisa dituntut. Aku dikasih uang. Banyak. Aku diam. Lima tahun aku diam, Nak, dan setiap malam aku—"
Ia tidak bisa melanjutkan. Bahu tuanya berguncang.
Bayu duduk diam, dunia berputar pelan di sekelilingnya. Potongan-potongan jatuh ke tempatnya, mengerikan dan jernih.
Lembar spesifikasi itu ADA. Ayahnya, atau tim ayahnya, seharusnya menerimanya. Lalu kenapa ayahnya tetap balapan di suhu lima puluh delapan derajat dengan ban yang maksimal lima puluh dua?
"Pak," kata Bayu pelan, takut pada jawabannya. "Kalau Bapak saya nerima lembar spesifikasi itu... kenapa dia tetap balapan?"
Pak Sugianto menatapnya, dan di mata tua itu ada belas kasihan yang membuat Bayu lebih takut dari segalanya.
"Itu," bisiknya, "yang harus kamu tanya ke ibumu, Nak. Cuma dia yang ada di pit hari itu selain timnya. Cuma dia yang tahu apa yang dibilang Hardian sebelum start." Ia terbatuk, selang oksigennya berdesis. "Aku cuma jual bannya. Tapi keputusan untuk tetap balap... itu bukan dari aku. Dan bukan dari kamu, Nak. Apapun yang selama ini kamu pikir kamu lakuin di radio — bukan kamu yang putusin Hardian masuk lintasan."
Bayu pulang dengan kepala penuh, dadanya sesak oleh sesuatu yang lebih besar dari trauma. Bukan salahnya. Pak Sugianto baru saja mengatakannya. Tapi jika bukan salahnya, dan jika lembar spesifikasi itu ada, maka ada satu kebenaran terakhir yang tersembunyi.
Dan kebenaran itu ada pada ibunya.