Hari kualifikasi tiba. Langit Sentul cerah, aspal memanas, dan tribun mulai terisi. Dua puluh dua mobil akan bertarung memperebutkan posisi start untuk balapan besok. Posisi kualifikasi menentukan segalanya—di sirkuit sesempit ini, menyalip itu sulit, dan start dari depan adalah separuh kemenangan.
Bayu duduk di kokpit, menunggu giliran keluar. Pak Gun bicara lewat radio, suaranya tenang.
"Aspal lima puluh empat derajat. Ban dingin di dua lap pertama, jangan dipaksa. Lap ketiga ban masuk suhu kerja optimal, baru kamu serang. Kamu cuma punya satu lap cepat yang berarti. Jangan buru-buru. Satu lap bersih lebih baik dari dua lap kotor."
"Siap," jawab Bayu.
Ia keluar pit. Dua lap pemanasan, persis instruksi Pak Gun. Ia melirik layar suhu ban di setir—kiri depan, kanan depan, kiri belakang, kanan belakang. Angka-angka naik perlahan menuju zona hijau. Saat keempatnya masuk suhu kerja, Bayu menarik napas.
Lap cepat. Sekarang.
Ia menyerang Tikungan Satu lebih dalam dari sebelumnya. Rem di titik terakhir, putar, gas. Tikungan Dua, Tiga, mengalir. Untuk pertama kalinya, ia tidak berpikir tentang ketakutan atau ayahnya. Ia hanya membaca lintasan, membaca ban, membaca mobil. Tubuhnya yang dulu lupa kini mengingat—bukan dengan otak, tapi dengan insting yang tertanam sejak ayahnya melatihnya di garasi.
Tikungan Tujuh datang. Bayu tidak mengangkat gas lebih awal seperti biasanya. Ia menahan, melihat apex, melempar mobil masuk dengan kepercayaan yang ia bangun susah payah. Mobil menikung mulus, ban menggigit aspal panas, sensor tetap di zona hijau.
Ia melewati garis finish dan suara Pak Gun meledak di radio. "BERSIH! Itu lap bersih, Bayu! Tunggu waktunya—"
Layar di pit menampilkan waktunya. Bayu menahan napas.
Posisi dua belas dari dua puluh dua.
Bukan depan. Tapi jauh di atas perkiraan siapa pun untuk tim sekarat dengan pembalap yang lima tahun absen. Tengah grid. Tim Prakoso, yang semua orang kira akan jadi yang paling lambat, mengalahkan separuh peserta—termasuk beberapa tim mapan berdana besar.
Di pit, Dimas berteriak girang. Sekar, yang ikut datang, melompat memeluk Pak Heru. Bahkan Pak Gun, yang biasanya tenang, mengepalkan tinju ke udara.
Reno meraih pole position, tercepat seperti yang diperkirakan. Saat ia keluar dari mobil dan melihat papan waktu, matanya menyipit menemukan nama PRAKOSO di posisi dua belas. Senyum mengejeknya tidak muncul kali ini.
Ia berjalan mendekat ke pit Prakoso, helm masih di tangan. Untuk sesaat Bayu mengira ia akan mengejek lagi. Tapi Reno hanya berdiri, menatap PR-09, lalu menatap Bayu.
"Lap ketiga kamu," kata Reno. "Aku lihat dari data tim. Kamu lewat Tikungan Tujuh full throttle." Ada sesuatu di nadanya yang berbeda—bukan ramah, tapi tidak lagi meremehkan. "Pembalap yang takut nggak bisa begitu."
Lalu ia pergi tanpa menunggu jawaban.
Pak Gun menepuk bahu Bayu. "Dia mulai lihat kamu sebagai ancaman, Mas. Itu artinya kamu sudah jadi pembalap lagi."
Malam itu, di hotel murah dekat sirkuit, Bayu tidak bisa tidur karena gugup—tapi untuk pertama kalinya, gugup yang sehat. Gugup seorang pembalap sebelum balapan, bukan teror seorang korban. Besok ia akan start dari posisi dua belas. Besok ia akan balapan sungguhan, lima puluh lap, di lintasan yang merenggut ayahnya.
Ia menatap jaket ayahnya yang tergantung di kursi. "Besok, Pak," bisiknya. "Kita jalan bareng."