Mereka memindahkan Ardi ke ruko kosong tempat Lintang menunggu. Bukan karena percaya—belum—tapi karena seorang mayor satuan khusus yang baru saja ditembaki oleh pasukannya sendiri adalah orang yang sama-sama tidak bisa pulang seperti mereka.
Lintang menatap Ardi dari balik selimut, mata sepuluh tahunnya menilai. "Dia bau seragam," kata anak itu pelan pada Damar. "Aku gak suka."
"Aku juga belum suka," jawab Damar jujur. "Tapi sekarang dia sama buronnya kayak kita."
Ardi membentangkan sesuatu di lantai—peta jaringan komando yang ia gambar dari ingatan, kotak-kotak dan garis penghubung. Tangannya sudah berhenti gemetar, tapi matanya belum berhenti gelap.
"Tiga tahun terakhir," katanya, "ada perubahan di satuan kami. Pelan. Halus. Anggaran datang dari sumber yang enggak pernah kami tanyakan. Peralatan canggih muncul tanpa surat pengadaan. Perwira-perwira tertentu naik pangkat terlalu cepat." Ia menunjuk dua kotak di petanya. "Aku kira itu cuma politik. Korupsi biasa. Sampai malam ini."
Sekar berlutut di samping peta, dan dari tasnya ia mengeluarkan map lusuh—file penyelidikan lamanya, yang sudah ia tunjukkan pada Damar berminggu lalu. Ia membuka satu halaman, menggeser ke arah Ardi.
"Sumber anggaran kalian," kata Sekar. "Coba lihat. Apa salah satunya namanya ini?"
Ardi membaca. Wajahnya berubah. "Ini... ini perusahaan yang bayarin pelatihan luar negeri kami. Riset bioenergi. Aku selalu kira itu cuma kontraktor pertahanan."
"Itu bukan kontraktor," kata Sekar. "Itu perusahaan yang sama yang ngedanain Sanggar."
Ruangan jatuh sunyi. Bukan kesunyian Sekar—kesunyian sungguhan, kesunyian orang yang baru saja melihat lantai di bawah kakinya berubah jadi jurang.
"Tunggu," Ardi menggeleng. "Kamu bilang perusahaan yang sama mendanai Sanggar—organisasi yang kami buru—DAN mendanai satuan yang memburu mereka?"
"Iya." Damar berjongkok, menatap peta. Tiba-tiba semuanya masuk akal dengan cara yang membuat perutnya mual. "Mereka main di dua sisi. Negara ngejar Sanggar, Sanggar ngejar negara, dan dua-duanya dibiayai tangan yang sama. Selama kita semua sibuk saling baku hantam—"
"—gak ada yang nyari siapa yang ngasih uangnya," Sekar menyelesaikan.
Ardi duduk bersandar ke dinding, menatap langit-langit yang penuh noda air. Pria yang seumur hidupnya percaya pada rantai komando, pada perintah, pada bendera, baru saja menyadari bahwa rantai itu sudah lama bukan miliknya.
"Berarti separuh perintah yang kuterima tiga tahun ini," ucapnya lirih, "mungkin datang dari mereka. Operasi ke Sarang. Bisa jadi itu bukan kami yang memburu Sanggar—bisa jadi itu satu sel Sanggar membersihkan sel yang lain. Pakai tanganku."
"Atau pakai aku," kata Damar. Dingin merayap di tengkuknya. "Mereka pengin nangkep aku dari awal. Bukan buat dipenjara. Buat dipake. Negara mau senjata. Sanggar mau senjata. Dan kalau dua-duanya satu tuan—"
"—berarti dari awal cuma ada satu pemburu," kata Sekar. "Yang lain cuma topeng."
Lintang, yang sedari tadi mendengarkan dari atas matras, akhirnya bicara. Suaranya kecil tapi jernih, dan menebas seluruh kerumitan orang dewasa itu jadi satu kalimat sederhana.
"Jadi semua orang yang ngejar kita," kata anak itu, "sebenernya orang yang sama?"
Tak ada yang menjawab. Karena jawabannya iya, dan tak satu pun dari mereka sanggup mengucapkannya keras-keras pada anak sepuluh tahun.
Ardi melipat peta dengan tangan yang kini benar-benar tenang—ketenangan orang yang sudah kehilangan segalanya dan karenanya tak punya apa-apa lagi untuk ditakuti.
"Aku enggak bisa pulang," katanya. "Aku enggak bisa percaya satu pun perintah lagi. Tapi aku kenal orang. Beberapa di dalam yang masih bersih. Yang sefrekuensi denganku." Ia menatap Damar. "Aku enggak minta kamu percaya aku. Aku cuma minta kita berhenti saling buru, dan mulai buru yang sebenarnya."
Damar memandang Sekar. Sekar mengangkat bahu samar—*entah, terserah lo.* Lalu Damar memandang Lintang, yang sudah kembali menarik selimut ke dagu, mata terpejam pura-pura tidur.
"Belum percaya," kata Damar pada Ardi. "Tapi gue gak buru lo lagi. Itu udah lebih dari yang gue kasih ke siapa pun bulan ini."
Ardi mengangguk. Bagi pria yang ditembaki pasukannya sendiri malam itu, itu sudah cukup.