Gelombang tidak lama menepati janjinya. Tiga hari kemudian ia kembali—kali ini tidak sendiri menghadang di tol kosong, tapi melacak mereka ke sebuah desa di mana salah satu netral menyembunyikan tim untuk semalam istirahat.
Namanya Pak Surya. Lelaki paruh baya, mantan guru, salah satu kontak pertama Sekar. Kekuatannya kecil dan aneh: ia bisa mengeraskan udara di sekelilingnya sejenak, membuat perisai tipis yang rapuh, cukup untuk menahan hujan, atau lemparan batu, atau—mungkin—satu pukulan.
Ia bukan petarung. Ia hanya pria yang menyediakan rumahnya dan menyiapkan teh hangat dan berkata pada Lintang, "Tidur yang nyenyak, Nak. Pak Surya jaga."
Gelombang datang lewat tengah malam.
Tidak ada peringatan dari jaringan kali ini—ia datang sendiri, diam, tanpa van, tanpa pasukan, hanya satu pria dan kemampuan untuk meruntuhkan apa pun. Dinding rumah Pak Surya mulai retak dari getaran sebelum siapa pun terbangun. Sekar terbangun pertama, instingnya mengenali bahaya, dan ia menjatuhkan kesunyian ke seluruh rumah—tapi kesunyian tidak menghentikan getaran. Getaran bukan suara. Getaran adalah tanah itu sendiri yang berguncang.
"DAMAR!" Sekar menjerit dalam gelembung sunyinya sendiri, suaranya tak sampai ke mana-mana.
Atap mulai runtuh. Damar bangun, menarik energi dari instalasi listrik rumah yang sekarat, melepaskan ledakan ke arah getaran untuk memecahnya—tapi ia masih lemah dari pertarungan tol, masih belum pulih penuh, dan getaran Gelombang sudah merobohkan satu sisi rumah.
Lintang terjebak di kamar yang runtuh. Balok kayu jatuh. Anak itu menjerit, mencoba menekuk ruang untuk melindungi dirinya, tapi mengantuk dan panik dan getaran Gelombang mengacaukan konsentrasinya—tekukan ruangnya gagal terbentuk.
Pak Surya lebih cepat.
Lelaki tua itu melempar dirinya menyeberangi ruangan, dan di atas tubuh Lintang ia mengeraskan udara—seluruh sisa kekuatannya, perisai tertebal yang pernah ia bentuk, lebih dari yang seharusnya bisa ia tahan. Balok-balok atap yang runtuh menghantam perisai itu. Perisai itu menahan. Untuk satu detik. Dua detik.
Cukup lama bagi Lintang untuk meringkuk keluar dari bawahnya.
Tidak cukup lama untuk Pak Surya.
Perisai pecah pada detik ketiga, dan atap turun.
Damar mencapai mereka dengan ledakan terakhir yang menghancurkan dinding tersisa, menyibak puing—dan menemukan Lintang menggigil di sudut, hidup, tergores tapi hidup, terlindung. Dan di bawah balok-balok berat itu, Pak Surya. Tidak bergerak.
Gelombang sudah pergi. Ia datang, ia merobohkan, ia mengukur kekuatan mereka, dan ia menghilang lagi ke malam, meninggalkan kehancuran sebagai pesan.
Damar mengangkat balok-balok itu dengan tangan kosong, garis-garis birunya hampir padam, otot-ototnya berteriak. Sekar membantu. Mereka membebaskan tubuh Pak Surya. Tapi sudah tak ada lagi yang bisa dibebaskan.
Lelaki yang menyajikan teh hangat. Yang berkata *Pak Surya jaga.* Yang tidak punya kekuatan untuk bertarung, hanya kekuatan untuk melindungi satu kali, dan menggunakannya seluruhnya untuk anak yang baru ia kenal satu malam.
Lintang menangis tanpa suara, tubuhnya berguncang. "Salahku," bisiknya berulang. "Salahku. Kalau aku enggak panik, kalau tekukanku jadi—"
"Bukan salah kamu." Damar berlutut, menarik anak itu ke dadanya, memeluknya erat. "Dengar Kakak. Bukan. Salah. Kamu. Itu pilihan dia. Dia milih kamu. Itu hal paling berani yang pernah dilakuin orang di dunia ini."
Tapi kata-kata tidak membuat lebih ringan. Tidak untuk Lintang, dan tidak untuk Damar.
Fajar menemukan mereka berdiri di pekarangan, di samping gundukan tanah yang baru mereka gali sendiri, tanpa nisan, tanpa nama—karena nama Pak Surya tak boleh tercatat, bahkan dalam kematiannya, agar keluarganya aman.
Sekar berdiri di samping Damar, matanya merah. "Ini orang pertama yang mati gara-gara ikut kita."
Damar menatap gundukan tanah itu. Sesuatu di dalam dirinya mengeras, dingin, dan untuk pertama kalinya sejak fenomena dimulai, ia merasakan sesuatu yang lebih berbahaya daripada ketakutan.
Ia merasakan keinginan untuk membunuh.
"Bukan yang terakhir," kata Damar pelan. "Kalau Gelombang masih hidup, ini bukan yang terakhir."
Dan Sekar, mendengar nada suara itu, merasakan dingin yang berbeda merayap di punggungnya. Bukan dingin duka. Dingin yang lain. Dingin yang ia takutkan sejak pertama kali membaca berkas Damar: *potensi eskalasi tinggi.*