Siang ini panas menjerit dengan suhu mencapai 35 derajat celcius. Menjadikan tahun ini sebagai musim ter ‘panas’ dibanding beberapa tahun lalu. Padahal Jakarta tidak sepanas ini sebelumnya, sudah seperti Pekanbaru saja.
“Joon Ertemish Gerdein!...., segera kebawah kita akan berangkat honey~”
“okay mom already~”
Musim panas ini akan kami habiskan disalah satu kota terindah di Jerman bagian tepatnya Cochem, distrik Cochem-Zell. Entah kenapa harus jauh-jauh ke Jerman karena biasanya kami akan ke tempat nenek di Frelighsburg, Quebec. Kampung halaman daddy ini adalah yang terbaik untuk healing menurutku, sepanjang hari aku akan mengukur ranjang dikamar Louthvi dengan potrait sungai Pike yang memukau apalagi ketika sunrise dan golden hournya, so gorgeous!.
“ada yang tertinggal?”
“umm......., nothing maybe?”
Ini kali pertama aku ke Jerman, tempat yang akan kami tuju merupakan tempat bersejarah juga, katanya destinasi disana indah, I hope so. Pesawat kami lepas landas pukul 17.20 WIB sore ini, terlalu dini memang untuk mengepak barang bawaan, tapi karena aku suka melakukan pekerjaan itu lebih awal, sudah menjadi habit bagiku untuk selalu before time dengan segala urusan.
Kata daddy, beliau akan kekantor sebentar untuk mengurus beberapa hal sebelum berangkat, takut ada yang tertinggal dan terlupa katanya, how perfectionist!. Sembari menunggu daddy, aku dan mommy mengemasi barang bawaan masing-masing. Libur semester ini semoga menyenangkan, hwaiting Joon-ah!!.
“TIN...!!! TIN........!!!”
“Sayang~ daddymu sudah datang!”
“ready dear?”
“humm....., I’m ready”
“Ooo kesayanganku kenapa datar begitu?? You don’t like Germany?”
“tidak juga, just little bit nervous dad”
“hahahaha......, sudah mommy tebak. Daddymu saja yang tidak peka dengan anak sendiri, Joon kan selalu seperti itu kalau ketempat baru”
“benar juga ya, sorry daddy lupa”
Mereka meledekku hingga kami sampai dibandara, aku selalu berpikir ‘apa aku betul anak mereka?’ bagaimana tidak, aku merasa berbeda sekali dengan anak-anak pada umumnya. Diumur lima aku sudah fasih berbahasa hewan, menanyakan beberapa hal pada mereka. Ketika memasuki elementary school, aku bisa menguping pembicaraan makhluk gaib, mendengar angin saling bertukar informasi mengenai apa saja yang terjadi didunia ini, yang paling mengesankan adalah aku tidak kesulitan dalam belajar atau bisa dikatakan semuanya terlalu mudah dan membosankan, seolah semua pelajaran itu sudah dikepalaku. Tidak ingin kejadian-kejadian itu sampai kepermukaan, aku merahasiakannya dari anak-anak lain, of course from my mommy and daddy, hanya takut akan dibuang karena punya anak aneh sepertiku atau yang paling parah dimasukan kerumah sakit jiwa, ughh...... that’s a nightmare for me!.
Menginjak middle school ketika otakku mulai mengerti dengan situasi ini, aku menyimpan kemampuanku dan mulai mengendalikan emosionalku agar aku kelihatan seperti anak-anak pada umumnya. Sebagai manusia ada sesuatu yang tidak bisa kita kontrol bukan? Begitu juga denganku yaitu mataku yang tiba-tiba berubah warna, lagi?!. Mommy bilang ketika lahir mataku mirip dengan daddy berwarna emerald tapi lebih pekat, seiring bertambahnya usiaku, mata emerald kebangganku memudar layaknya emerald mililk daddy. Tapi yang mengejutkan adalah mataku berubah warna lagi, you know?? That’s violet!!! Violet!!!! Kejadiannya ketika aku kehilangan pulpen yang daddy hadiahkan dari Netherlands, amarahku memuncak seketika untuk pertama kalinya aku merasa begitu marah dan dengan sendirinya mataku berubah menjadi violet.
Pulpen itu ternyata dicuri Ganda, sipendiam dibangku paling belakang, hari itu berakhir dengan Ganda masuk UKS karena beberapa lebam kemerahan diwajahnya dan aku dibawa pulang, besoknya sekolah geger dengan tersebarnya 'anak emas para guru ternyata aneh', begitulah tajuk beritanya. kasus perubahan warna bola mata itu berbuntut hingga gosip aku dianggap memakai jampi-jampi dan santet agar bisa menjadi juara dan mendapatkan nilai tinggi disetiap mata pelajaran.
“Joon-ah wake up~ kita sudah dibandara sayang”
“ughh........, ‘aku tertidur?’”
Bandara Soekarno-Hatta berjarak dua jam perjalanan dari rumah, untuk menghindari macet kami tentu berangkat lebih awal dan sesuai prediksi, kami tiba pukul 16. 35 WIB, hampir 3 jam diperjalanan saja. Okay! Tiga minggu di Jerman, semoga saja lancar, see you Indonesia~.