Tanpa ragu dan tanpa rasa bersalah, beberapa menit yang lalu Pak Kades telah merapalkan mantra tepat di depan mata Marshal, hingga membuat ia sedikit mengagumi sosok yang dielukan oleh masyarakatnya itu. Seluruh kebaikan Pak Kades terus saja mengalir dari bibir orang-orang yang menyayanginya, namun mereka tidak tahu bahwa lelaki itu bisa saja berkhianat.
Marshal kembali menundukkan kepala, pikiran dan hatinya berlarian tanpa bisa ia kendalikan. Dedaunan seolah turut berhenti, tersihir oleh doa-doa yang mengandung mantra.
"Tidak mungkin itu hanya doa biasa, mungkin serupa mantra sihir yang mampu membuat waktu terhenti. Tapi kenapa aku tidak terpengaruh oleh mantra itu?," gumam Marshal di dalam hati.
Rasa hati Marshal ingin marah melihat sosok ibu di sebelahnya sedang tersenyum seperti o