Bukankah rasa dikhianati oleh teman sendiri tidak akan sembuh dengan sendirinya? Jawabannya, hanya masalah waktu saja. Aiden tidak habis pikir kenapa Zein begitu membencinya, apakah di dunia ini tidak ada orang yang tulus?
“Nai, apakah kamu punya seseorang yang sangat mengerti kamu melebih kamu mengerti dirimu sendiri?”
Meskipun belum mengatakan apa yang sebenarnya dia dengar kemarin, Aiden berusaha untuk legowo. Ya, hanya hati yang sabar saja yang jadi perkara sulit untuk ditaklukkan.
Entahlah. Sejauh ini, Rinai hanya punya mama Rindu, malaikat berwujud manusia meskipun tanpa sayap di punggungnya. Tidak pernah merasa dikecewakan, justru sebaliknya.
“Only mom, maybe. Why? Apakah kamu sedang ada masalah dengan orang terdekatmu?”
Kalau dipikir-pikir, siapa? Bukankah Rinai tahu bahwa sang bintang sama sekali tidak berkomunikasi dengan semua manusia terkecuali pada Rinai?
Mereka sedang merenung, menatap teras di villa Aiden. Kaca yang merembes air hujan, apalagi Jakarta sangat jarang sekali punya cuaca sehangat ini. Untungnya, Aiden adalah orang yang rapi. Banyak makanan dengan kadaluarsa lebih dari setahun seperti kopi, kadang-kadang Rinai menyeduh biji-bijian di villa tempat mereka sering mengobrol.
“Tidak ada, hanya iseng bertanya. Oh iya, kabarmu gimana, Nai? Bukankah ada acara di dekat ballrom hotel Axian? Ada walikota di sana? Sudah berlatih sampai sejauh mana?”
Sungguh! Rasanya bosan membahas sesuatu tentang latihan. Oke, Rinai memang suka musik, tapi kalau hampir setiap hari membicarakannya dia juga punya rasa bosan kan?
“Kadang-kadang aku ngobrol dengan pacarmu. Masih pacarmu kan?”
Sialan Rinai! Memang sih, mereka sudah jarang sekali berbicara dari hati ke hati. Tapi Aiden yakin kalau wanita itu akan setia, mana mungkin ada kaum hawa yang tega meninggalkan kekasihnya yang sedang terbaring koma di London?
“Lebih baik masih punya. Kamu, apa kabar? Itu, siapa? Orion kan? Masih sering chatan sama dia?”
Rinai menatap Aiden dengan tajam. Dari mana pria itu tahu kalau mereka sering bertukar pesan? Padahal dari dulu Rinai tidak pernah menceritakan kedekatan mereka, hanya iseng menanyakan nama saja.
Baiklah, daripada terus-terusan dipancing, mendingan Rinai diam saja bukan? Hujan makin deras, Rinai mulai menutupi jemarinya. Sudah lama dia tidak merasakan dingin, apalagi sejauh ini tidak pernah ada seseorang yang menghangatkannya.
Melihat perempuan itu kedinginan, Aiden prihatin. Dia menunjuk kamarnya, ruangan yang belum pernah dimasuki Rinai dari pertama mereka kenal.
“Terkadang, aku hanya mempercayai apa yang harus kupercayai, Aiden. Di dunia yang serba bahaya, gak semua bisa dijabat tangan kalau kita gak punya apa-apa kan?”
“Iya sih,” selama ini Aiden tidak pernah susah mendapatkan kepercayaan orang. Meskipun sebenarnya dia adalah pria yang sangat pemilih.
“Bintang besar seperti kamu mana paham. Kadang, kamu harus jadi orang yang bodo amat ketika dunia sedang gak berpihak ke kita.”
Untungnya hujan mereda. Rinai memberanikan masuk ke kamar Aiden. Yang paling ditakutkan dia adalah semisal nanti ada foto kenangan bersama Anya Gwen. Wanita cantik yang ternyata membuat Rinai tidak bisa mengontrol perasaannya sendiri.
Andai saja pria itu masih lajang, apakah Rinai bisa sedikit saja meminta agar Aiden membalas perasaannya? Rinai cepat-cepat menggeleng, ngapain sih sampai berpikir sampai sejauh itu?
Kamar Aiden ternyata hanya biasa saja. Kebanyakan nuansa putih hitam. Tidak ada foto yang terpajang, hanya ruangan yang mungkin saja walk in closet.
Ragu-ragu Rinai masuk, langsung mengambil hoodie milik Aiden dan berganti baju. Seperti dugaannya, kebesaran. “Hoodie kamu lucu. Ini beneran punya kamu? Bukan hadiah dari siapa-siapa kan?”
Aiden menggeleng. Dari dulu Anya ingin sekali tidur di sini saat merasa gabut dan bisa menghabiskan malam bersama Aiden. Meskipun Jakarta adalah kota yang bebas, Aiden dididik agar jauh bisa lebih menghargai wanita.
“Itu pemberian nenekku. Karena dia suka merajut, dia selalu berharap punya cucu perempuan. Aku banyak menyimpan hoodie rajut buatannya.”
Syukurlah, karena tidak mungkin Aiden memakai hoodie warna cerah dengan tambahan pita di bagian bawah saku. Cute sekali. “Ini kubawa gak apa-apa?”
“Simpan kamu aja. Aku masih punya banyak. Mama juga tidak suka memakai rajut dari nenek, mungkin bosan dari kecil.”
Dengar-dengar, keluarga Aiden sangat tertutup. Wajah Aiden saja masih ada campuran China, mungkin dari sang nenek. Senyum merekah di wajah Rinai, meskipun tidak sengaja pemberian dari Aiden, dia merasa terharu bisa mendapatkan hoodie gratis.
(Bagian Kedua)
Cukup!
Anya tidak bisa seperti ini terus. Setiap malam dia selalu merasa bersalah dan gelisah. Kadang saja dia mengkonsumsi obat tidur agar bisa lelap.
“Aiden. Apakah kamu bisa sadar sebentar saja? Aku hanya merasa gagal sebagai pianis.”
Anya mengatakannya pelan sekali. Biasanya ada Zein yang datang ke sini setiap wanita itu merasakan sesak di dadanya. Sudah berapa lama pria itu tidak muncul? Max juga. Ah, sialan! Kenapa susah sekali mendamaikan hati sendiri.
Sejujurnya, dia tahu siapa yang sudah berusaha menghancurkan nama Aiden. Tapi tidak mungkin Anya menghancurkan nama dua orang sekaligus bukan?
Apartemennya ada yang memencet bel, padahal baru saja Anya memejamkan mata. “Siapa?”
“Felly?”
Tanpa ba-bi-bu, Felly langsung masuk dan memeluk Anya. Sangat terlihat dan terburu-buru, bahkan kelihatan kalau wanita itu baru saja menangis.
“Are you okay? Kamu ke sini sendiri?”
“Aiden, Aiden!”
Mata Anya membelalak. Rasa kantuknya langsung hilang entah ke mana. “Aiden kenapa?”
Meskipun tidak terlalu dekat dengan sang mama mertua, Anya tahu bagaimana keadaan kekasihnya di sana. Pria itu masih belum ada perkembangan selama dua bulan terakhir.
Felly langsung menceritakan kabar terkini, Aiden menggerakkan ujung jarinya. Arlita berteriak histeris, seperti mendapatkan keajaiban karena sudah lama putranya berbaring lama.
“Apakah kamu yakin? Ini gak hoax seperti kabar sebelumnya kan?”
No! Felly cepat-cepat mencari bukti di mana ayahnya bertukar kabar dengan manager Aiden di London.
Tidak tahu bagaimana rasanya sekarang. Anya bingung, meskipun dia bahagia Aiden sudah sadar, tapi sebenarnya dia juga penasaran kabar Zein sekarang.
Berbeda dengan mereka yang sama paniknya, Aiden tengah mengamati ruangan. Dia sudah lega karena tahu siapa dalang dari kasusnya sendiri.
Tidak ada yang ingin dia katakan. Hanya memanggil mamanya saja, bertanya jam berapa sekarang.
“Masih jam 4 pagi, Aiden. Bagaimana keadaan tubuhmu? Dokter akan segera datang.”
“Hmmm, baik, Ma. Tidak ada yang perlu Mama khawatirkan.”
Kalau bukan karena Aiden baru sadar dari koma selama beberapa bulan lamanya, sudah pasti Arlita akan mencubit lengan putranya.
“Seandainya kamu tidak sadar sampai satu tahun, mama akan bunuh diri!”
Arlita sampai sudah bosan menangis setiap hari. Tapi, dia lega bisa melihat senyum putranya lagi. Semoga saja, Aiden tidak menderita lagi.