Tidak bisa Rinai begini terus. Ini sudah lebih dari seminggu tubuhnya serasa kosong. Hilang isi. Hambar. Tidak berasa sama sekali. Pikirannya makin kacau, meskipun dia lega kalau Zein dan Max akhirnya tertangkap dan ditahan selama 6 tahun.
Itu semua karena Aiden tidak memiliki cidera yang parah. Meskipun butuh pengobatan yang lumayan lama untuk memulihkan kesehatannya dan beberapa tulang yang memang patah. Mungkin sekarang pria itu sudah beraktivitas seperti biasa.
Melamun adalah satu-satunya rutinitasnya sekarang, kadang Gena jengah sudah mengomentari sahabatnya. Layaknya seseorang yang sedang menunggu pacarnya kembali dari wajib militer.
“Dia kenapa sih? Putus cinta? Atau pms? Tapi masa selama itu? Atau ada masalah sama Tante Rindu? Tapi gak mungkin.”
Gena mencoba menebak-nebak pikiran Rinai sekarang. Baik Wintang dan Rinai memang pura-pura seolah tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi soal kasus Aiden.
Kadang penasaran juga bagaimana mereka akhirnya. Apakah akan ada perselisihan di antara Aiden dan Zein?
“Tere bilang, sekarang permainan lu agak mendingan. Efek kembalinya Aiden ternyata bisa memberi suplemen bagi tubuh. Tapi sampai sekarang gue belum lihat batang hidungnya, ke mana ya dia? Fokus sama kesehatannya kah?”
Harus berapa kali Rinai bilang? Dia tidak tahu apa-apa lantaran memang hubungan mereka abu-abu. No colourfull. Bagaimana mungkin bintang sepertinya mengenal Rinai secara nyata? Apakah selama ini hanya delusi saja?
Hanya mengeluh dan mengambil napas beberapa kali. Tidak menyangka kalau mencintai seseorang ternyata sesakit ini.
“Kamu sama Ajun apa kabar? Kenapa kalian jarang kencan sih?”
“Dia lagi sibuk sama keluarganya. Kakaknya yang kerja di luar negri pulang, jadi ya lebih sering sama dia sih. It's okey, gue bukan tipe orang yang harus nuntut ketemu setiap weekend.”
Star sudah melakukan misi terbaiknya. Apalagi akhir-akhir ini agensi disibukkan dengan persiapan meet and great Aiden. Banyak fans yang menunggu hari itu tiba, termasuk Rinai.
Perasaannya campur aduk. Bisakah dia baik-baik saja ketika menatap seseorang yang selama ini menjadi teman ghaibnya? Apakah semua yang dia alami hanyalah hayalan? Lalu, kenapa Rinai berharap tinggi pada pria yang tidak memiliki ikatan apa-apa dengannya?
“Nanti malam gue baru ingat kalau kalau lu dipanggil sama Kak Tere. Meskipun dia awalnya kesal karena lu kayak kelihatan gak fokus banget saat latihan, tapi nyatanya wali kota muji lu kan? Bahkan, permainan lu makin membaik, Nai. Suara yang katanya mirip suara kodok sekarang jadi idaman beberapa anak muda yang mungkin lebih sering mendengarkan musik lewat radio.”
Memang sih, awal Rinai masuk dia orang PD dengan suaranya apalagi dulu saat sebelum mengenal Aiden dan berlatih beberapa olah vokal untuk mengembangkan suaranya.
“Dulu aku berguru sama orang yang tepat. Dan kayaknya, aku sudah tidak bisa memiliki kesempatan itu karena waktu memang tahu tega memisahkanku dengan orang-orang yang sebenarnya berjasa dan berarti.”
Wintang tidak bisa menebak siapa orangnya. Apalagi selama ini dia tahu kalau Rinai jarang sekali membicarakan masalah pribadinya bahkan hanya mengatakan kalau urusannya dengan Aiden hanya sekadar penggemar yang berusaha menyelamatkan nama baik Aiden selama koma di London.
(Bagian Kedua)
Merasa bosan dan kesal, tidak ada tanda-tanda kalau keduanya akan mendapatkan keringanan. Bahkan Felix seperti hilang tanggungjawab.
“Kalau tahu gini, mendingan gue enggak ikut-ikutan soal Aiden, Zein. See? Mr. Felix sama sekali tidak pernah memperlihatkan rasa belas kasihan karena kita berdua yang harus menanggung ide buruknya di tempat sialan ini.”
Zein juga marah, muak, kesal dan sudah putus asa. Membayangkan masa-masa yang harus dia lalui dengan memiliki nama besar dari panggung ke panggung, kini hanya menjadi angan-angannya saja.
Dan juga, Zein masih punya sedikit saja rasa kemanusiaan karena ini bukan salah Max sepenuhnya. Masa depan pria itu harus terjebak menyebalkan dengannya.
“Gak ada yang bisa gue lakukan selain minta maaf sebesar-besarnya.”
“Yeah, minta maaf sih gak bakalan ngubah yang udah terjadi, Zein. Kita bukan anggota star yang dianakemaskan. Lu pikir, setelah kita keluar dari sini kita akan tetap bisa masuk dengan mudah ke sana? Setelah keluar dari sini mungkin kita bukan siapa-siapa. Dan ingat, tentang bayaran yang pernah lu janji kan sama gue.”
Bukannya berkesan jahat hanya menagih apa yang pernah diucapkan oleh Zein. Pria itu juga sama frustasinya. Memikirkan nama baiknya, masa depan, keluarga dan juga Anya. Pasti wanita itu sangat kecewa dengan perbuatannya lada kekasihnya.
Ternyata orang yang baru saja ada di pikirannya datang menjenguk. Zein sama sekali tidak punya persiapan untuk bertemu dengan Anya.
“Zein, ini bukan Aiden. Meskipun gue tahu nanti Anya akan bilang apa ke kita. But, hadapi saja. Seperti kata lu saat kita disekap.”
Palingan Max sudah hilang kesabaran karena mulai bosan dengan makanan yang rasanya hambar. Max juga punya seseorang yang mungkin tidak akan pernah menerimanya lagi karena pernah menjadi seorang narapidana. Semua ini karena keserakahan dan juga keinginannya untuk melompat menuju kesuksesan dengan cara yang cepat.
Mereka sengaja melambatkan langkah, ragu-ragu duduk di ruang tamu. Tidak ada siapa-siapa karena memang ini bukan jadwal yang tepat untuk menjenguk seseorang karena biasanya memang dibuka saat weekend saja.
“Rasanya pasti menyebalkan bukan kita dipermainkan oleh seseorang yang sudah lama dianggap sahabat. Aku sampai enggak tahu harus ngomong apa, sama kalian, sama diri sendiri. Kalian, hah!”
Sudah jelas kalau Anya sangat kecewa. Selama ini, setiap ada masalah dengan Aiden, Anya selalu lari ke Zein. Max tahu soal itu, Meskipun tidak benar-benar tahu sebenarnya ada apa di antara mereka berdua.
“Aiden tidak mati, Anya. Setidaknya kami juga sudah menyesal.”
“Hampir mati. Tolong kalian sadari dulu perbuatan kalian sendiri.”
Anya sama kesalnya dengan Aiden. Meskipun hubungannya dari dulu tidak pernah ada titik terang dengan pria itu, setidaknya Anya memanfaatkan semuanya dengan cara yang baik-baik.
“Apa kau benar-benar mencintai Aiden?”
Deg! Pertanyaan Zein membuat Max menginjak kaki Zein. Pertanyaan absurd karena selama ini, Max tahu mereka memang dekat tapi Aiden lah kekasih asli Anya. Sebenarnya mereka kenapa sih? Terjebak friendzone?
(Bagian Ketiga)
Meskipun dilarang berkali-kali untuk datang ke tempat Aiden, Anya tetap melakukannya. Ya, dia harus tabah menghadapi Arlita, mamanya Aiden yang sangat sensitif terhadapnya.
"Haruskah aku memanggil satpam agar kamu tidak ke sini tiap hari dan mengganggu kesehatan anakku?”
“Tapi aku pacar Aiden, Tante. Dan kurasa, dia sama sekali tidak keberatan akan kedatanganku.”
Dasar wanita keras kepala. Arlita juga tidak tahu kenapa putranya bisa menyukai Anya. Hubungan mereka bahkan jarang diterpa isu buruk. Meskipun nanti Aiden benar-benar serius dengan Anya, dan lama kelamaan Arlita akan luluh dengan sendirinya.
“Kamu pacarnya, aku wanita yang mengandung Aiden. Ingat itu! Masuk dan jangan terlalu bertanya ini itu, dia baru saja sembuh.”
“Baik, Tante.”
Selalu rutin membawakan buah dan memasak sesuatu yang disukai Aiden, nyatanya sampai sekarang sikap Aiden masih datar. Hanya tahu siapa Anya bagi hidupnya selama ini.
Melihat pria itu yang berada di ruang baca, membuat Anya bertanya-tanya. Apakah pernah sekali saja Aiden memikirkannya?
“Kamu datang.”
“Iya. Tapi karena memang gak boleh barengan minum obat sama makan buah, aku taruh sini ya? Biar nanti aku bilangin bibi untuk kupasin buat kamu.”
“Terima kasih, Anya. Sebenarnya kamu gak perlu repot-repot. Kamu gak ada jadwal latihan atau mengajar?”
“Sebenarnya ada.”
“Lalu?” Aiden tidak tahu kalau wanita yang hampir tiap hari ke rumahnya sudah melewatkan banyak jadwal dan rutinitas agar bisa lebih memperbanyak waktu dengan pria itu.
Mungkin Aiden adalah tipe orang yang tidak peka. Bisa jadi begitu bukan?
“Ada Tere yang bisa menghandle semuanya. Kamu udah baikan kan? Aku dengar dari manager kamu, bulan depan kamu akan bertemu dan ambil waktu untuk speak up sama wartawan juga media. Apakah ini juga soal Zein dan Max?”
Sebenarnya ini bukan urusan Anya, tapi rasanya dia juga ingin tahu apa sebenarnya yang dirasakan Aiden. Apakah kecewa? Atau lebih dari itu?
“Hukuman bagi seorang pembunuh adalah sibuk dengan pikirannya sendiri. Aku mungkin bisa memaafkannya tapi tidak bisa melupakan fakta bahwa dia ingin melenyapkanku dari dunia.”
Aiden terlihat dingin sekali. Dari dulu pria itu tidak pernah marah, hanya diam saja saat keinginan yang dia wujudkan tidak berjalan sesuai rencana.
Karena dibatasi waktu, Anya memilih pamit dan sebelum itu, dia selalu memeluk Aiden. Meskipun sampai sekarang Aiden tidak bisa merespon apa-apa.
“Permisi dulu, Tante.”
“Ya.”
Begitu Anya pergi, Arlita masuk. Berharap anaknya bisa seceria dulu, karena semenjak pulang ke negaranya sendiri, Aiden jadi pemurung. Hanya melihat kaca, apakah ini semua karena masalahnya dengan Zein?
Dari bawah sana, sosok perempuan yang begitu penasaran melihat ke arah jendela. Meskipun buram, Rinai tahu ada Aiden di sana. Entahlah, kenapa jantungnya bisa berdetak cepat bahkan hanya memikirkan seseorang saja?
Cepat-cepat Rinai memanggil taksi yang melintas saat tahu kalau Anya baru keluar dari rumah mama Aiden. Pasti mereka sangat dekat, ya, itulah yang ada di pikirannya.
“Anda mau kuantar ke mana, Nona?”
“Snow Club, Pak.”
Supir taksi mengangguk, mungkin Rinai butuh penghiburan.