Rasanya seperti mengagumi seorang sahabat lama. Tapi kenapa hanya Rinai yang menganggap Aiden adalah seorang kenalan lama? Rinai menggelengkan kepala lagi, tidak bisa begini terus. Dia berhak melanjutkan hidup, meskipun belakangan ini terasa hampa.
Untung saja Anya tidak memilih duduk di sekitarnya, tepat di belakangnya memang ada meja kosong. Rinai lega, Bisa-bisa Gena akan menghadap ke belakang terus dengan menyangga tangan menatap pasangan super so sweet itu.
“Kalau dadanya sesak, mendingan ke kamar aja yuk? Lihat, makanan lu gak habis, gue tahu lu gak selera makan belakangan ini kan?”
Rinai setuju, mendadak ngaku demam pada Gena. Tidak ada curiga sama sekali, toh memang Rinai sudah pucat sejak kemarin.
Memang sih, dari sekian manusia, hanya Wintang dan Ajun saja yang beranggapan ada apa-apa di antara mereka. Aiden dan Rinai. Kedua manusia yang tidak pernah terlibat skandal, hanya saja tidak mungkin Rinai mendadak tahu kasus tentang sebelum kecelakaan kalau mereka tidak pernah saling berkaitan.
“Aku bisa ke kamar sendiri, Ntang. Nanti nitip aja obat nyeri ya? Belakangan ini tidurku agak susah, mungkin insomnia.”
“Oke. Gue susul Gena. Beneran ke kamar loh ya! Gak lupa jalan kan?”
Rinai melambaikan tangan tinggi-tinggi, berharap Wintang tidak benar-benar mengintainya keluar dari kafetaria dan menuju ke gedung. Melihat Wintang benar-benar sudah pergi, Rinai mulai bisa menampilkan wajah sayunya.
Apakah pria itu akan comeback sungguhan? Bagaimana ini? Sejak datang di Star, banyak sekali pujian kalau permainannya mirip dengan cara Aiden memainkan piano. Dia takut jika pria itu penasaran akan sosok peniru gayanya?
Ah, tidak mungkin. Lagian ngapain seorang superstar seperti dia kepo akan pendatang baru?
Rinai mengamati poster dengan background gambar Aiden, Anya, Ziao dan beberapa bintang utama di star. Meskipun kebanyakan memang hanya wajah Aiden. Pria itu benar-benar menarik.
Mendadak tubuhnya malah berdiri di depan ruangan di mana Aiden sering masuk ke dalam. Tubuhnya memang tidak ingin masuk ke sana, lain halnya dengan isi hati Rinai. Satu menit berlalu, ternyata Rinai sudah berada dalam ruangan itu.
Kebetulan sekali ponselnya berdering, dia mengangkat telepon, ternyata mamanya. Sudah berapa minggu Rinai tidak menjenguk keadaan wanita yang sudah bersusah payah merawatnya?
“Kamu di mana, Sayang?”
“Aku di agensi, Ma. Kenapa? Mama apa kabar? Sehat kan?”
Terdengar sekali kalau mamanya berkomat-kamit, menyumpahi anaknya yang seakan mau meniru malin kundang versi wanita. Padahal kan belum genap satu bulan, Rinai mungkin akan ke sana weekend nanti.
“Maaf, Ma. Kemarin kan ada series orchestra, meskipun cuma anggota inti dan beberapa cadangan, aku sibuk banget, Ma. Janji deh, minggu ini aku bakalan ke sana. Aku ajak sekalian Gena sama Wintang.” Rinai tahu sahabatnya paling suka diajak ke rumahnya, bisa makan kenyang, bisa mengubah kesibukan jadi pegawai dadakan di kedai milik mama Rindu. “Sekalian ajak Rose deh!”
Rindu memekik tidak setuju. Wintang dan Rose sangat tidak bisa disatukan, mereka selalu bertengkar. Tidak benci sih, hanya seperti air dan minyak, tidakn akan bisa bersatu meskipun bersifat cair.
Apakah Rinai juga seperti itu dengan Aiden? Tidak bisa bersatu lantaran mirip dengan air dan minyak?
Mendengar langkah kaki mendekat, cepat-cepat Rinai bersembunyi di balik meja. Dia mematikan sambungan telepon dan langsung menonaktifkan data. Jangan sampai mamanya menelepon lagi, bisa-bisa ketahuan kalau Rinai sedang masuk ke ruangan yang jarang dimasuki oleh anggota star yang lain kecuali Aiden dan beberapa orang penting.
Rinai kan tidak sepenting itu?
“Kenapa tidak ke kamarku saja? Toh orang sudah biasa dengan itu kan? Mamamu juga tidak ada di sini.”
Rinai menutup mulutnya rapat-rapat. Dulu dia juga memergoki Zein dan Max membicarakan sesuatu yang penting, dan sekarang malah mendengarkan sesuatu yang bersifat narsistik.
Apakah mereka juga seperti pasangan lainnya? Saling cinta dan b******a. Duh, mungkin bisa jadi iya. Bodo jika Anya melewatkan momen ranjang dengan pria semenarik Aiden.
“Masih terlalu awal untuk membahas masa lalu, Anya. Juga, kita ini sudah dewasa, tolong pikirkan tindakanmu.”
Terdengar sekali kalau Aiden sangat lelah. Siapa yang tidak lelah jika harus duduk selama lebih dari setengah jam, lalu berfoto, memperbolehkan banyak orang mengobrol dan bertanya ini-itu. Dan Aiden sudah sering seperti itu sejak namanya menjadi trend top singer.
“Tapi aku ini pacarmu, bukan masa lalumu. Dan juga, sejak kamu sadar kamu tidak pernah menciumku, bahkan hanya menggandeng tanganku saja kamu enggan. Apa yang merubah kamu, Aiden? Tidak mungkin kamu melupakanku kan?”
Aiden menghela napas, memijat pelipisnya. Dia ingin istirahat dari pertanyaan-pertanyaan yang sama setiap melihat Anya. Bukan melupakan, hanya saja mendadak Aiden merasa perasaannya entah hambar. Aiden sendiri pun kewalahan menghadapinya.
Terlalu kesal, Anya langung keluar dan membanting pintu dengan keras. Hanya ada Aiden saja, juga Rinai di tempat persembunyiannya. Kalau sampai pria itu benar-benar tidur, punggung Rinai pasti akan keram paginya.
(Bagian Kedua)
Selama dua jam tertidur, Aiden akhirnya terbangun juga. Itu pun karena suara dering ponsel, Rinai sudah pergi karena mendengar pria itu mendengkur meskipun teramat pelan.
“Aku masih di agensi, Ma. Santai saja, aku pasti pulang.”
Klik. Diputuskan begitu saja, Aiden bahkan belum berkesempatan untuk berbincang dengan Mr. Felix, mungkin kapan-kapan langsung ke rumahnya saja. Gurunya lebih suka dikunjungi langsung daripada disapa di suatu acara besar.
Lehernya agak pegal tidur di sofa lama-lama. Dia mengambil blazernya, memakai kacamata hitam dan melangkah keluar dari agensi.
“Baru mau pulang?”
“Iya. Kamu lembur?”
“Enggaklah. Mana ada chef lembur, aku hanya kerja di pagi jam 7 dan siang jam 1 malam pun kadang-kadang. Tadi nunggu Orion, dia ngajak nongkrong. Mau gabung?”
Mereka berjalan bersisian, beberapa orang memang tahu kalau dulunya Cakra begitu dekat dengan Aiden. Pria yang tidak pernah ikut campur urusan Aiden, selalu ceplas-ceplos dan cenderung pendiam. Mungkin karena lama mengenal Aiden dan melihat pria itu lagi, Cakra meras bahagia.
Aiden menatap langit, berharap menemukan jawaban. Dia lupa siapa Orion. “Orion?” ulangnya.
“Adik. Dia drummer di sini.”
Mulut Aiden ber-oh. Tanda dia tahu, meskipun lupa Orion itu yang mana. Pertanyaannya terjawabkan karena pria yang baru saja dia sebut akhirnya datang.
“Sorry, tadi aku lagi nyari stick drum. Cap-cus kan?”
Orion tidak sadar kalau sejak tadi berdiri Aiden di samping saudaranya. “Kak Aiden? Ah, maaf. Gak tahu kalau kamu ternyata di sini. Mau ikutan?”
“Gak usah. Langsung pulang saja, tuh, supirku udah datang. Kapan-kapan aja.”
Aiden melenggang begitu saja, mendadak perasaannya jadi kesal setelah melihat Orion. Entahlah, Aiden sendiri juga tidak tahu apa yang terjadi dengannya.