“Jadi, Mas Adi dulu itu lahirnya aneh, Dek. Waktu lahir, Mas Adi itu nggak nangis, tapi menggeram dan .........” begitulah ibuku mencoba menceritakan tentang keanehan saat kelahiranku pada adikku, Widi.
Baiklah, daripada mendengar cerita ibuku, lebih baik aku yang menceritakan. Aku juga sudah khatam dengan cerita tersebut karena sudah diulang beberapa kali. Seperti yang sekarang dia lakukan pada adikku.
2 Maret 1990 jam sembilan malam, ibuku merasakan kontraksi yang sangat dan katanya tidak ada redanya. Sakit kontraksi yang nyeri sampai membuat ibuku menangis tetapi tidak berair mata. Berbeda dengan kakak atau adikku yang katanya kontraksi terjadi beberapa kali dan ada jeda kontraksi tersebut tidak lagi terasa.
Ayahku saat itu sedang tidak ada di rumah karena harus bekerja di luar pulau. Hanya ada kakek yang ada di rumah dan sudah tertidur. Beruntungnya, kakakku, Dedi, yang saat itu berusia lima tahun terbangun mendengar rintihan ibuku. Dia segera berlari ke kamar kakekku dan menggedor-gedor pintunya. Cerdas sekali bukan? Anak umur lima tahun sudah bisa berpikir dan mengambil tindakan secepat itu.
Akhirnya kakek bangun dan membuka pintu kamarnya. Wajahnya panik dan tampak tergesa-gesa. Sama sepeerti wajah kakakku yang tak kalah panik dan tergesa-gesanya. Mas Dedi segera menjelaskan apa yang terjadi pada ibuku dan kakek sadar kalau cucunya akan segera lahir. Beliau langsung berlari ke kamar ibuku dan benar saja ibuku sedang menggeliat-geliat menahan rasa sakit.
Kakek segera menggendong ibuku keluar dari kamar. Kakekku adalah purnawirawan angkatan darat. Hingga masa tuanya saja masih kekar dan kuat. Beliau menggendong ibu hanya menggunakan kedua tangannya. Kakek meminta Mas Dedi untuk membuka pintu yang mengarah ke garasi. Kakek langsung berlari ke arah mobil dan meletakkan ibu di kursi belakang bersama Mas Dedi. Kakek mengeluarkan mobil sedannya dan tidak lupa mengunci pintu lalu segera meluncur ke rumah sakit di pinggiran kota Solo yang paling dekat dengan rumahku.
Sampai di rumah sakit, ibu segera mendapatkan penanganan seperti biasanya. Ibu masih menjerit-jerit karena sakitnya kontraksi saat itu. Menjerit dan menangis tanpa keluar air mata sedikitpun. Dokter segera membantu ibu untuk melahirkan bayinya. Tetapi entah bagaimana, walaupun sakit dan kontraksi terus menerus, bayinya tidak segera mau keluar. Bagaimanapun usaha yang dilakukan oleh ibu, bayinya tidak kunjung lahir. Sampai dokter memberikan pemacu agar bayinya segera lahir. Tetapi masih saja tidak keluar, mungkin memang belum waktunya. Berjam-jam ibu masih dalam kondisi tersebut, kasihan sekali. Sebegitu malangnya dia menahan sakit selama berjam-jam.
Kakek yang daritadi menunggu kelahiranku bersama dengan Mas Dedi, akhirnya ikut masuk ke dalam ruangan. Kakek membacakan doa di samping telinga ibu yang diikuti dengan doa yang sama oleh ibu. Secara ajaib, kontraksi yang daritadi dirasakan ibu berhenti. Walaupun keluargaku adalah penganut agama yang taat, saat panik doa-doa tersebut tidak sempat terucap. Jika menyadarinya lebih awal, tentu doa-doa tersebut sudah didaraskan sejak tadi.
Lalu, pukul setengah empat pagi tanggal 3 Maret 1990, kontraksi tersebut terasa lagi. Namun berbeda dari kontraksi sebelumnya yang menyiksa, kontraksi ini terasa lebih normal dan sama seperti kontraksi saat ibu melahirkan Mas Dedi. Tepat saat adzan subuh berkumandang, aku terlahir di dunia.
Keanehan tentang kelahiranku masih belum selesai. Aku tidak menangis saat keluar dari rahim ibuku. Aku membuka mulutku seperti sedang menangis dengan keras namun tidak keluar suara sama sekali. Bahkan ibuku yang tidak melihat aku membuka mulut sempat mengira aku sudah mati saat itu. Dokter memukul-mukul pantatku agar aku menangis. Tetapi tetap tidak ada suara tangis yang keluar dari mulutku. Dokter meletakkan aku di samping ibuku karena tampaknya mereka sudah putus asa untuk membuat aku menangis.
Alih-alih melakukan penanganan medis, dokter justru memilih untuk memberikanku kepada ibuku. Mungkin menurutnya bonding hubunganku dengan ibuku akan membuat aku menangis. Nyatanya, tidak juga. Aku masih saja belum mengeluarkan suara tangisan sama sekali.
Kakek melakukan hal yang sama padaku seperti pada yang dilakukannya pada ibu. Kata ibu, bahkan kakek sedikit menitikkan air mata dan suaranya sedikit bergetar saat membacakan doa tersebut. Inilah kekuatan doa, aku langsung mengeluarkan suara lewat mulut kecilku. Bukan suara tangis, suaranya seperti menggeram dan mengerang. Lebih lagi, badanku bergetar kuat sambil mengeluarkan suara aneh tadi.
Dokter dan suster yang sedari tadi masih berada di dalam ruangan bersalin, segera mengambilku dan membawaku ke ruang perawatan inkubasi. Aku dimasukkan ke dalam alat inkubasi karena diagnosa kedinginan terkena suhu udara yang berbeda dengan suhu air ketuban. Benar saja, aku berhenti menggigil saat berada di dalam alat inkubasi. Namun tidak berselang lama, aku benar-benar berhenti bergerak, bahkan jantungku juga berhenti bergerak. Aku dinyatakan meninggal pukul enam pagi.
Kesedihan menyeruak dari mata ibu dan kakekku, bahkan Mas Dedi yang saat itu masih sangat kecil juga bisa merasakan kesedihan yang sama. Kali ini, air mata ibuku benar-benar keluar bahkan tidak berhenti-henti sampai pulang ke rumah. Ibu menggendongku yang sudah tidak bernyawa sampai tiba di rumah. Dia juga tidak memperlakukanku seperti jenazah, melainkan seperti bayi yang baru lahir. Bahkan ibu tetap menyusuiku walaupun air susunya terus menerus mengalir keluar dari mulutku.
Kakek juga menangis saat melihat adegan tersebut selama perjalanan dari rumah sakit sampai ke rumah. Di rumah ternyata sudah banyak keluarga yang menunggu. Setelah mereka tahu kalau aku sudah meninggal, maka mereka segera akan mengadakan pemakaman dan ibadah penghiburan untukku.
Aku tidak akan dimakamkan sebelum ayahku pulang. Pada hari itu juga, ayah segera memberi kabar bahwa ia akan segera pulang. Ia segera memesan tiket pesawat dan beruntungnya mendapatkan tiket pesawat pada penerbangan di malam hari. Selama menunggu ayahku pulang, sudah sampai beberapa jam tetapi badanku tidak juga mengeluarkan bau busuk. Ibu semakin yakin, bahwa sebenarnya aku masih hidup. Ibu mengambilku dari peti mati dan menggendong seperti bayi pada umumnya.
Hampir semua keluarga menganggap bahwa ibuku sudah tidak waras karena kehilangan aku. Mereka membujuk ibu untuk meletakkanku kembali ke peti mati. Ibu menolak mentah-mentah permintaan keluarga yang lain. Sampai-sampai ibu mengusir keluarga-keluarga tadi keluar dari rumahnya. Keluarga masih menganggap kondisi tersebut sebagai bentuk keterpurukan ibu karena anaknya meninggal. Jadi, mereka tidak mengambil hati kata-kata ibu, tidak juga pergi meninggalkannya.
Sampai pada pukul sembilan malam, ayah datang dan langsung menangis melihat kondisiku dan kondisi ibu. Ayah mencoba menghibur ibu dan memintanya meletakkan kembali jenazahku ke peti mati. Sampai akhirnya, ayah mencoba mengelabuhi ibu dengan berkata ingin menggendongku juga. Ayah ingin mengembalikanku ke peti mati agar besok bisa dimakamkan.
Keajaiban terjadi di sini, ayah yang menangis saat melihatku menjatuhkan air mata tepat di wajahku. Tiba-tiba terdengar suara tangis yang keluar dari mulutku. Semua yang ada di sana terkejut dan terperanjat dan ada beberapa yang ketakutan sampai lari keluar rumah. Saat mengetahui bahwa aku hidup kembali, keterkejutan dan kesedihan mereka berubah menjadi suka cita dan rasa lega.
Inilah akhir keanehan dari kelahiranku. Namun menjadi awal dari kehidupanku yang berat. Sedari kecil aku sudah harus terbiasa menutupi perbedaan yang ada pada diriku dari orang-orang di sekitarku. Perbedaan yang menjadi berkat dan kutukan dalam waktu yang sama.