Calista terbangun dari alam sadarnya. Sudah setengah jam dia tertidur pulas, tepat saat ini menunjukkan pukul delapan malam. Mereka bertujuh berkumpul di rumah lima bersaudara tersebut yang termasuk rumah Egi, Nathan, Gery, Anggun dan Pricil. Karena insiden hantu yang sejak tadi tidak jelas tujuannya itu selalu menghantui Calista, entah apa tujuannya. Dan, dia seperti ada sangkutpautnya dengan Gisya ataupun Naufan. Aneh.
“Cal, lo nyenyak amat tidur nggak bangun-bangun,” celetuk Pricil, yang saat ini menunggu Calista di dalam kamarnya. Calista menggeram, dia mengubah posisinya menjadi duduk di bibir kasur, matanya melihat sekeliling sudut ruangan lalu menatap Pricil seolah bertanya, ‘Ini di mana?’
“Rumah gue, ini di kamar gue.” Pricil menjawab pertanyaan dari tatapan Calista.
Suara derap langkah kaki berbondong-bondong memasuki kamar Pricil yang di desain interior dengan aura berbau mistis. Sepertinya, keluarga mereka misterius karena di kamar itu terdapat banyak lukisan antik, menurut Calista.
“Cal, udah sadar lo? Habis jalan-jalan ke mana baru nongol?” Nathan yang paling rempong, pria itu tampan, berambut Fringe, lirikan matanya tajam, senyumnya cool, postur tubuhnya juga kurus, tinggi, tapi suka bercanda ternyata.
Anggun menggeser Nathan agar memberinya jalan untuk menyodorkan segelas air putih kepada Calista yang masih kebingungan. “Nath, lo nggak usah deket-deket juga o***g! Sempit, b**o lo nempis mulu kayak nggak ada jalan lain aja, ini kamar luas!” Anggun mengebu-ngebu dan mendorong Nathan agar menjauh sedikit, memberinya jarak di antara mereka.
“Deket juga lo senang, kan?” goda Nathan, dibalas tatapan galak Anggun yang terlihat tomboy.
“Aku menemukan kuncinya,” ujar Calista, membuat semua pasang mata meloneh ke arahnya dengan tatapan bertanya.
Egi langsung menanggapi dengan Gery. “Kunci apa?”
“Aku mimpiin dia,” lirih Calista, Pricil mendekat dan mengisyaratkan untuk diam. Gadis berambut lurus lebih dari sebahu itu menggenggam tangan Calista, seperti menyalurkan sesuatu. Calista yang awalnya bingung karena merasakan ada getaran dalam tubuhnya, dia hanya bisa diam saja menatap Pricil yang mencoba untuk berkonsentrasi. Selain Calista, mereka sudah tahu apa yang akan dilakukan Pricil. Gadis itu mencoba untuk menerawang sesuatu melalui Calista. Remang-remang cahaya muncul dari jendela kamar Pricil, angin berembusan sangat kencang hingga menerpa kulit mereka dan rambutnya berterbangan ke udara tertiup angin.
Pricil melepaskan genggaman tangan Calista, detik itu juga angin berhenti, cahaya pun sirna. “Apa yang lo lihat? Bayangan apa yang muncul?" Naufan bertanya dengan mata serius, dia takut akan ada sesuatu terjadi. Pricil menggeleng, sepertinya dia butuh beberapa detik untuk mulai menjelaskan semuanya. Terjadi kehengingan untuk beberapa saat hingga Pricil mulai membuka suara.
“Jadi...,” Di dalam mimpi Calista...
Gisya Permata Aurah. Gadis itu berjalan keluar dari toilet cewek sendirian dan hendak menuju ke lapangan basket indoor, menemui seseorang yang ingin dicarinya. Di belakang Gisya, sosok juba hitam itu mengikutinya dengan kaki tak menapak. Calista menjadi paranoid saat melihat kehadiran sosok juba hitam itu. Sudah ratusan kali dia mengejar Gisya dan meneriakinya agar menengok ke belakang bila ada yang mengikutinya dan berniat jahat. Namun, Gisya seolah tidak mendengar. Dia terus berjalan sampai berbelok ke arah tangga yang menghubungkan ke gedung atas.
Calista baru sadar, dirinya hanya bayangan yang hadir untuk melihat kejadian sebelumnya. Calista terus menyaksikan apa yang hendak orang itu lakukan. Lorong koridor lantai atas memang sepi, karena sudah bel masuk berbunyi dan seperti ada aura horor di sekolah ini karena begitu besar gedung bertingkatnya. Sosok juba hitam itu melewati Gisya, tepat berhenti di depan gadis itu. Anehnya, Gisya malah diam menatapnya. Tapi, Calista memunggunginya hingga tidak melihat ekspresi Gisya.
“Gisya dalam bahaya,” pekik Calista, dengan sekujur tubuh gemetaran.
Sosok juba hitam itu tertawa bengis, dia menggiring Gisya untuk masuk ke Lab IPA. Gisya menurut dan mengikutinya, hingga pintu terkunci.
“Gawat ini, darurat!” Calista tampak panik dan bingung, mencari sesuatu yang akan digunakan untuk menolong Gisya. Tapi, apa daya dia hanya seorang yang hadir melihat kenyataan telah terjadi. Pikiran Calista mencoba untuk menembus masuk, saat dia menyentuh knop pintu, tangannya masuk seolah menembus pintu tersebut. Calista baru sadar, dia sedang bermimpi. Calista pun menembus pertahanan pintu tersebut. Terlihat Gisya sedang duduk di kursi dengan wajah pucat dan pandangan kosong menatap ke depan.
“Gisya, mau diapain?” gumam Calista takut, menggigit bibir bawahnya.
Sosok juba hitam itu muncul lagi, membawa gelas minuman berdarah. Dia memberikan gelas tersebut kepada Gisya seolah mengisyaratkan dengan bahasa tubuh dan menyuruhnya minum.
Gisya mengangguk, dia meraih gelas berdarah entah berantah dari mana asalnya setan s****n itu mendapatkannya. Tanpa sadar, Gisya meminumnya.
“Anjeli kekasihku, kau akan ikut bersamaku.” Makhluk itu berucap dengan lantang dan dia terbang ke udara sambil tertawa bengis dengan ekspresi mengerikan. Gisya terbatuk-batuk, dia mengeluarkan darah tersebut. Hingga mata merah yang tadi berada di sana berganti menjadi hitam legam. Perlahan, tubuhnya tumbang. Dia pingsan? Maybe.
“Anjeli? Kau harus bangun! Ikut bersamaku, kita memulai hidup baru!” Hantu itu murka, dia mengangkat dagu Gisya dan menatapnya lamat-lamat. “Cantik, kau begitu menawan. Tapi, laki-laki itu jahat! Dia sudah membuatmu menderita, aku akan membalaskan dendammu,” kata hantu itu dengan suara menggelegar.
“Azka Rafael, kau harus menggantikan nyawa Anjeli.”
Azka Rafael? Apa itu Naufan Raid Azka? Atau kembarannya?
“Permintaan Anjeli adalah nyawa Azka diseret ke Neraka.”
Calista langsung membungkam bibirnya rapat-rapat dengan kedua tangannya.
Semuanya gelap. Awal yang di mulai dengan dendam, akan berakhir tidak baik.