Venya sudah merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang bahkan tidak seharusnya 'diselingkuhi' ketika sedang menjalani sebuah hubungan. Venya juga sudah merasakan menjadi anak yatim piatu dengan entah dimana orang tuanya berada. Venya sudah merasakan harus berbagi makanan dengan orang lain di saat dirinya masih lapar ketika makan.
Semua itu cukup perih menurut Venya. Apakah dia harus merasakan perih secara terus menerus? Bahkan Venya rasa dia tidak seharusnya seperti itu. Dia sudah cukup merasakan semua perih yang bahkan tidak bisa di sebutkan satu persatu dengan bahasanya. Dia sudah cukuup merasakan semua perih dan juga semua sakit yang harusnya dia bagi bersama orang terdekatnya. Namun, Venya tidak memiliki orang sedekt itu selain bunda Kori dan juga Gemma.
Bahkan dia sudah lebih merasa dekat dengan mereka karena mereka sering seklai bersama dia. Dia bahkan tidak pernah sekalipun menyatakan bahwa mereka adalah teman atau bahkan seseorang yang dekat dengan dia. Mereka mungkin menganggap Venya biasa saja. Namun, Venya merasa bahwa mereka berdua adalah hal luar biasa yang sudah hadir di kehidupannya.
Venya hanya tidak bisa mengungkapkan bagaimana kepada mereka jika menurut Venya mereka berdua adalah orang yang berharga. Namun, satu orang dari dua orang tadi sudah mengkhiantainya. dia bahkan tidak bisa melupakan pengkhiantannya. Bahkan Venya sendiri bisa memaafkannya namun tidak bisa melupakan apa sudah terjadi. Memaafkan iya, tapi lupa mungkin tidak bisa.
Dia harus dan sedang belajar bahwa pengalaman sangatlah penting. Dan ini adalah pengalaman yang luar biasa harus diingat. Intinya, jangan terlalu percaya pada orang lain selama orang itu masih bisa menjauh dari kita. Cerita apa saja yang kita ceritakan pada mereka adalah hal yang mungkin mereka tidak bisa simpan sendiri. Maka dari itu, Venya tidak menceritakan segalanya. Baik itu kepada Gemma ataupun kepada bunda Kori.
Masih banyak hal yang menjadi rahasia untuk dirinya sendiri. Dia simpan untuk dia sendiri dan tidak berniat untuk menceritakkannya kepada siapapun itu. Venya penuh dengan kerahasiaan yang dia jaga dengan baik sampai detik ini. Dimana Venya merasa bahwa orang lain tidak perlu mengetahui semuanya tentang Venya.
Venya masih memikirkan apakah dengan menceritakan kepada orang lain tentang dirinya yang misalkan sedang terluka akan membuatnya jauh lebih baik? Mungkin saja untuk sebgaian orang. Namun, untuk sebagian orang lainnya tidak seperti itu. Ada orang yang bahkan bisa dengan sangat tertebak. Jika ia menceritakan apapun kepada orang lain maka orang lain yang menerima cerita itu bisa menyebarkannya ke orang lain lagi.
"Boleh, kapan?" Tanya Venya pada ponselnya yang tergeletak di samping laptopnya.
Siang itu dia sedang bekerja di meja kerjanya namun sedikit terusik dengan suara telepon yang berdering di ponselnya. Nomor yang baru saja di simpan kemarin itu meneleponnya. Ari. Orang itu menghubungi Venya dengan segala kesibukannya. Entah sibuk apa yang jelas, Venya bisa mendengar deru mesin mobil dan juga angin yang kencang di sebrang telepon itu.
Ari masih menyimpan nomor milik Venya yang waktu itu meneleponnya saat ponsel Ari jatuh sebelum menyelamatkan anak yang tenggelam itu. Kemarin, dia menanyakannya lagi kepada Venya, apakah nomornya masih sama atau sudah diganti. Jawaban Venya adalah masih tetap dan belum berniat untuk di ganti.
Ari menenyakan Venya dan memastikan bahwa Venya ikut ke tempat yang akan dijadikan spot yang baik untuk menulis kata Ari kepada Venya sebagai bujukan yang membua Venya meng- iyakan waktu itu. Venya juga ditanyakan lagi kapan mau berangakat ke sana untuk mencari inspirasi tulisannya. Dan sekarang adalah waktunya. Ari meneleponnya saat Venya selesai mengerjakan satu bab untuk novil di platform satu.
"Ya lo bisanya kapan?" Tanya Ari di sebrang telepon.
"Malam minggu gimana? Kata lo, lo punya penginapan?" Tanya Venya lagi.
Ari berdeham, "iya." Katanya, "kita ga berdua nanti dipenginapan. Ada om sama tante gue di sana yang lagi liburan juga. Sekalian aja gue ajak lo biar lo tau gimana indahnya penginapan gue." Kata Ari lagi. Selanjutnya Ari terkekeh, "ga seindah itu juga sih. Tapi lumayan bisa buat lo cari inspirasi. Katanya lo lagi belajar nulis." Ucap Ari lagi.
Secara tidak sadar, Venya mengangguk. Dia sadar jika Ari tidak bisa melihat anggukkannya. Dia bodoooh tertawa dalam hati sendiri. Selanjutnya Venya bertanya lagi, "gue boleh bawa temen ga?" Tanya Venya untuk Ari.
"Siapa cowok lo? Boleh." Kata Ari alagi, "ada sodara gue juga yang mau gue aja. Makin rame makin seru dah." Kata Ari lagi.
Venya lantas terkekeh. Entah harus menjawab apa dia kepada Ari yang menanyakan 'cowok lo?' padanya, bukan? atau mantan? Mustahil. "Temen gue sih." Kata Venya, "cowok. Mungkin nanti ada kesamaan antara lo dan temen cowok gue. Jadi bisa nyambung kalo ngobrol." Kata Venya lagi.
Ari lantas berdeham, "boleh. Ajak aja." Kata Ari, "gue nanti beli bahan - bahan buat acara makan - makan gitu. Jadi kita bisa rame - ramean di sana." Kata Ari lagi.
"Okay, see you buat malam minggu." Kata Venya.
Setelah Ari menjanjikan akan menjemput Venya karena lokasi Venya lebih dekat ke lokasi yang akan dituju oleh mereka, jadilah Ari yang nantinya akan menjemput Venya dan juga teman Venya itu. Yang dimaksud teman cowok Venya adalah Gemma. Venya ebrtanya dulu pada Ari sebelum mengajak Gemma dengan alasan bahwa Ari tidak keberatan jika Venya membawa temannya yaitu Gemma. Setidaknya, untuk urusan Gemma yang jadi ikut atau engga itu urusan nanti. Yang penting adalah ijin dari orang yang mengajaknya.
Mereka berdua baru tiga kali bertemu dan juga mereka berdua baru sekali ini mengobrol. Dan tentu saja Venya ada sedikit keraguan malah ke arah takut untuk harus berduaan dengan Ari walaupun secara fisik, Ari lebih baik daripada Gemma. Dari attitude juga sangat jauh dan juga Ari lebih bisa diandalkan lagi. Selebihnya, Gemma mungkin menang di umur yang lebih dewasa dari Venya dan juga Ari.
"Nanti aja deh mendekati hati H ngajakin Gemma. Males juga nanti tiba - tiba dia nanya yang engga - engga lagi ke gue. Ujung - ujungnya dia ngajak berantem. Dan berantem beneran lagi. Males gue." Kata Venya untuknya sendiri.
Dengan alasan malas bertengkar, Venya lebih memilih akan mengajak Gemma tepat di hari H. Di pagi atau siang harinya. Mungkin lebih baik daripada sekarang meminta ijin dan bertengkar karena Gemma yang mendesak dan mencaritahu siapa yang mengajak Venya dan juga kemana mereka akan pergi. Setidaknya itu yang paling aman.