Venya menyimpan teh hangat di sebelah lapptopnya dan dia duduk di bangku sore tadi. Dia berniat melanjutkan tulisannya yang bahkan belum selesai tadi di perjalanan. Venya juga berniat untuk mengedit naskah yang bulan depan sudah terbit di penerbit baru. Dia juga sedang mengurus - ngurus penyelesaian kontrak yang akan ia akhiri di akhir bulan ini. Dia bahkan lupa ponselnya ads di mana. Dia lebih baik kehilangan ponsel dsripada laptopnya. Jika harus memilih. Karena bagaimanapun, laptop ini adalah perjuangannya. Dia membeli larop dengan hasil keringat sendiri.
Ponsel Venya pun sama. Dia membelinya dari hasil keringatnya sendiri namun, laptop menurutnya lebih berharga. Dimana data semua kepenulisan ada di sini. Sebenarnya ada back upnya juga di ponsel. Namun, tetap saja. Tidak apdol rasanya jika seornag oenulis tanpa latopnya.
"Cari apa?" Tanya Ari yang sedang berjalan ke arahnya.
Venya menatap Ari kemudian dia refleks menutupp setengah layar laptopnya. Lalu, ia tersenyum. "Ponsel gue. Lo ada liat ga?" Tanya Venya pada Ari.
Ari menggeleng, "ada yah, hari gini orang lupa sama hp." Kata Ari, "kalo gue mah, hp adalah my everything." Lanjut Ari.
"Iyaaa iyaaa." Kata Venya menjawab asal kemudian dia menutup layar laptopnya dan mencari ponselnya di dalam. Pasalnya dia belum mengirim lokasi dia sekarang kepada Gemma. Bahkan Venya sampai lupa dia punya Gemma.
Padahal, sebenarnya, Venya tidak harus mengirimkan lokasi. Karena Venya rasa om dan tante Ari adalah orang baik. Tidak mungkin mereka menyakiti atau bahkan melakukan keburukan yang sudah terjadi konflik di kepala Venya tentang nereka waktu itu. Selanjutnya, Venya masih tetao mebgirim lokasi kelada Gemma agar Gemma bisa tahu dan kalo bisa menyusul ke sini. Setidaknya, Venya ingin berbagi kebahagiaan melihat pemandangan yang menurut Venya sangat oke ketika Gemma yang suka memotret pemandangan
Iya.
Salah satu kebiasaan Gwmma adalah memotret hal yang indah menurutnya. Bunga, daun, rumput atau bahkan oemandangan siang pagi dan malam yang indah dan bisa diambil momentnya oleh Gemma adalah hal yang baru diketahui Venya ketika Gemma berani meminjamkan ponselnya kepada Venya. Bahkan Venya saja terkesima. Gemma jarang mempposting apapun di galerynya. Jadi,Venya baru mengetahuinya sekarang - sekarang. Ya, tepat sebelum mereka putus.
Venya kemudian menemukan ponselnya di atas meja di ruang tengah yang ada om Guntur dan tante Fany sedang asyik menonton film net*flix di televisinya. Mereka seakan pengantin baru yang masih hangat. Padahal Venya mendengwr cerita mereka tafinektika makan, mereka menikah hampir lima tahun. Dtapi mereka masih mesra seperti ini. Hangat dan tanpankonflik, sepertinya.
"Om, tante, maaf. Aku ganggu ya?" Tanya Venya sebelum ia mengungkapkan apa kemauannya.
"Ga papa, Ven. Ada apa?" Tanya tante Fany dengan lenbutnya.
Venya tersenyum kecil, "ponselku ada di meja. Aku permisi buat ngambil." Kata Venya lagi.
Tante Fany melihat Venya dan ponselnya bergantian. "Iyaaa sok ambil aja. Kenapa mesti malu - malu sih. Anggap aja rumah dan keluarga sendiri." Kata tante Fany pada Venya.
Om guntur pun ikut mengangguk, "iyaaa. Anggap om sama tante ininom dan tante kamu juga. Udah biasa ini seperti ini." Kata om guntur.
Selanjutnya Venya teekekeh, "iya om. Tante. Maaf ya, aku ganggu kemeesraan kalian berdua." Kata Venya sedikit bercanda.
*** *** ***
Venya menghampiri lagi Ari yang masih duduk di bangku di depan laptop Venya. Dia bahkan sepertinya tidak menyentuh apapun di meja itu. Semuanya tampak sama seperti Venya meninggalkannya tadi. Dia bahkan menghadap ke pemandangan dan membelakangi meja. Bahkan Ari sudah memakai hoodienya. Seingat Venya, tadi Ari hanya menentengnya tanpa memakainya.
"Te lo dingin tuh." Kata Ari ketika Venya duduk di bangku.
Ia bahkan lupa tentang teh hangatnya. Harusnya, Venya membuat teh panas bukan teh hangat. Udara puncak memang bukan main - main. Teh hangat ditinggal semenit di luar juga sudah dingin. Venya merasa bersalah pada teh nya.
"Iya. Gue lupa lagi." Kata Venya pelan.
"Mau dibikinin lagi?" Tanya Ari kemudian dia berbalik ke arah Venya. "Ven, lo ga dingin apa?!" Serunya heboh.
Venya bingung menatao Ari, " kenapa sih?" Tanyanya.
"Lo udah pake kaos doang, celana jeans lagi." Kata Ari kemudian dia membuka hoodienya secara kasar. "Nih pake." Katanya melempar hoodie miliknya ke kepala Venya.
Venya baru saja mau menggerutu tapi Ari lebih dulu menggerutu. "Lo ya, ini Bogor. Dingin. Lo nanti masuk angin. Balik - balik ke Jakarta lo sakit, gue juga yang ngerasa salah." Katanya sambil beejalan menuju ke dalam Vila.
Yang bisa Venya lakukan sekarang adalah terkekeh sambil memakai hoodie kebesaran milik Ari. Bahkan Venya merasa bahwa dia tidak kedinginan sama sekali. Padahal di handphonenya menunjukkan suhu di abwah 20 derajat selsius. Tapi rasanya, Venya tidak sedingin itu. Apakah Venya sudah terbiasa dengan kedinginan ini? Bahkan Venya tidak membawa persiapan jaket atau baju hangat di mobil Ari tadi. Dia hanya membawa baju ganti dan celana ganti. Dia tidak berpokiran membawa baju hangat dan jaket.
Setelah itu, Venya membuka latopnya lagi. Walaupun di dalam mode sleep, laptopnya dengan otomatis harus emmasukkan kata sandi begitu akan masuk ke dalam desktop milik Venya. Kenapa? Entah. Venya hanya tidak suka orang memakai laptop kerjanya dia. Bahkan Gemma saja tidak diberikan kata sandinya. Hanya Venya yang tahu dan akan seterusnya seperti itu.
Venya meneruskan ketikannya. Namun, begitu mendengar langkah kaki milik Ari mendekat ke aeahnya, Venya menutup semua aplikasi di laptopnya dan hanya menampilkan wallpaper laptopnya. Dia bahkan tidak bisa menulis jika dilihat seperti itu. Apalagi, Venya yang harus menyembunyikan identitasnya sebagai penulis yang cukup terkenal di dunia platform menulis sekarang.
"Nih, awas panas." Kata Ari begitu meletakkan teh hangat yang baru di meja di samping laptop milik Venya.
Venya mengangguk, "terima kasih, Ri." Kata Venya, "sebenernya ini teh manis atau teh tawar?" Tanya Venya.
"Manis." Jawab singkat Ari.
Sekarang, Ari yang tidak menggunakan jaket. "Lo ga bawa jaket lagi?" Tanya Venya.
Ari menatao Venya, "ada, cuman gue ga bakal lama di sini. Ngantuk." Kata Ari kemudian. "Lo di sini ga papa?" Tanya Ari.
Venya terkekeh, "ini baru jam sembilan, Ri." Kata Venya, "lo juga janjian mau bikin oesta kecil - kecilan kalo banyak orang. Masa jam segini udah ngantuk aja." Kata Venya lagi.
Ari terkekeh, "rencana sih besok malem. Lo ngineo di sini berapa hari?" Tanya Ari.
Venye mengerutkan keningnya, "bukankah yang harus nanya itu gue ke lo ya?"