Venya sekarang susah sekali menjelaskan ke bunda Kori kalau dirinya ada di luar dan sedang menginap di rumah orang. Bukan rumah, tapi Vila orang. Namun, ketika mengatakan bahwa di vila itu ada tante dan om yang mebgajaknya ke vila bunda Kori lebih cenderung ingin banyak mengobrol dengan tante Fany.
"Bund, bisa ga bunda bilang iya aja?" Tanya Venya ketika mendnegar bunda beekali - kali menanykan hal yang sama.
'Sama siapa?'
'Kok ga bilang dari awal ?'
'Sebelah mana?'
'Kapan pulang?
Atau lebih parahnya adalah Bunda Kori meminta Venya untuk video call. Karena Bunda Koritakut Venya ada di antah-berantah. Lalu setelah telepon mereka menggunakan panggilan video, Burda Kori meminta Venya untuk tour. Berjalan - Jalan mengelilingi tempat keberadssn Venya.
Bukan apa - apa, twrkadang avenya malu jika harus seeprti itu. Dia seperti terlihat oleh orang dedang house tour dan Venya bahkan di lihat oleh beberapa orang sebagai konten kreator. Tidak ada yang salah dengan konten kreator. Tapi, Venya hanya tidak ingin orang mengangapnya konten kreator karena Venya bukan ada di dalam bidang itu. Bahkan Venya tidak berniat dan juga tidak ada bakatbdi bidang itu.
"Iya, bunda cuman pengen mastiin kamu dalam keadaan baik - baik aja." Kata bundanya lagi.
Venya mengangguk kecil, "kalo aku nelepon. Dalam keadaan tenang dan bisa bicara dengan jelas, bukankah sudah jelas kalo aku baik - baik aja bun?" Tanya Venya.
Bunda kori di sebrang telepon sana diam, "iya juga sih." Jawab bunda kori membuat Venya menarik nafasnya.
"Iya pokoknya gitu ya, bund. Venyanijin nginep di sini. Apa perlu bunda mgobrol sama tantenya temenku?" Tanya Venya lagi.
"Ga usah. Bunda peecaya sama kamu." Kata bunda kori membuat Venya tenang. Setidaknya, Venyantidak perlu mengajak dan memnita tante Fany untuk mengobrol dengan bundanya. "Sama Gemma?" Tanya Bunda kori kemudian.
Venya sekarnag yang diam. Dia bahkan baruningat lagi, dia ceheck ponselnya lahi dan masih sama. Hanya ceklis satu dan tidak ada tanda - tanda akan di baca.
"Engga. Venya belum ada kabar dari Gemma." Kata Venya lagi emnajwab pertanyaan Bunda Koei, "Gemma mungkin lagi sibuk sama kuliahnya. Udah mau semester akhirnl juga kan." Kata Venya lagi.
"Oh gitu. Ya udah, nanti kabarin aja kalo mau apa dan kabarin kalo ada apa - apa." Kata bunda Kori lagi, "bunda juga pengennya ke puncak sama anak - anak. Tapi belum ada waktu aja." Katanya lagi.
Venya tersenyum, "kemaren kan aku udah janji mau makan ituloh, bund. Nanti, pas Venya pulang, kita makan ya. Venya udah gajian." Kata Venya lagi. "Kalo nanti gajian lagi, bunda sama anak - anak aku ajak ke puncak." Kata Venya, "kita sewa Vila yang agak besaran soalnya biar muat semua orang." Lanjutnya.
Bundanya hanya berdeham, "iya, kamu hati - hati di sana. Lain kali ajakin temenmu main ke panti." Kata bunda Kori.
Venya hanya mengangguk dan tidak ada jawaban lagi dari mulutnya. Bunda Kori yang pamit terlebih dahulu dan mematikan panggilannya. Bukan ala - apa, Venya hanya belum membeeitahu Ari jika dia dulu tinggal di panti asuha, dia tidak punya orang tua dan dia hidup sebatang kara sekarang. Venya hanya belum siap dengan sikap yang akan di terimanya jika Ari tahu semuanya. Bahkan Venya belum siap jika Ari tidak bisa menerimanya. Venya hanya belum siap kehilangan teman lagi.
Dulu, pernah ada orang yang mendekati Venya. Yang sudah lama katanya 'menaksir' Venya, tapi begitu Venya mengatakan jika dia tkdak ada orang tua, dia tinggal dipanti asuhan dan dia hanya bisa sampai sana menceritakannya, orang itu susah dihubungi dan bahkan jika bertemu saja seperti melihat Venya jijik. Dia bahkan tidak menyapa Venya lagi sampai sekarang.
Keterlaluan?
Menurut Venya tidak.
Hanya keadaan Venya dan nasibnya yang kurang beruntung. Maka, ketika Gemma meneeima Venya dengan apa adanya, Venya merasa bahwa Gemma adalah segalanya untuknya. Bahkan Gemma bisa menerima Venya ketika dia emngeluhkan tentang pantibasuhan. Jika Venya membandingkan, Gemma dengan Aeri untuk sekarang, jelas Ari tidak ada apa - apanya divandingkan Gemma. Kemungkinan besar, Ari akan menganggapnya mimpi ketinggian jika Venya menceritakan anak panti bisa sukses. Secara, Ari adalah orang kaya dengan segala kemewahan yang kerap sekali datang dan ada untuknya.
Bahkan Venya merasa snagat insecure dengan semua keadaan di sini sekarang. Kamar tamu di vila ini mewah. Lebih besae bahkan bisa sampe tiga kali lipat kamar kosnya. Kamar mandi di dalam dengan fasilitas yang sama seperti di hotel yang pernah sekali - kalinya Venya datangi karena terpaksa. Dan tentu saja kasur premium yang bahkan sangat nyaman untuk tidur di atasnya.
Terkadang, Venya membayangkan jika kamarnya seluas ini. Dia bahkan bisa bermain buku tangkis di sini dengan atap yang tinggi walaupun ini di lantai satu. Venya juga seperti ada di dalam bukunya yang sering kali membuat tokohnya kaya raya dengan memikiki kamar luas dan juga fasilitas yang lengkap. Insipirasinya adalah darinkonten kreator yang sering kali menyajikan room tour di chanel you*tube milik mereka. Dan emreka di bayar untuk hal itu. Sangat menakjubkan emmang dunia digital. Sampai pada akhienya, Venya merasakan ada di kamar ini. Di kamar tokohnya yang kaya raya dan juga sangat di fasilitasi oleh orang tuanya.
Lagi, Venya menarik nafasnya. Dia bemar - benar merasa bahwa dirinya snagat kecil jika harus terus berteman dengan Ari. Mau tidak mau, cepat atau lambat, Venya harus memberitahu Ari keadaannya. Keadaan yang sebenarnya tentang dirinya. Agar jika Aritidak mau berteman dengannya, dia bisa dengan tenang meninggalkan Ari atau bahkan ditinggalkan oleh Ari. Venya tidak mau ada yang ditutup - tutupi di antara lertemanannya itu. Venya mungkin akan secepatnya memberitahu Ari. Semuanya. Setidaknya, Venya tidak terlalu sakit hati jika memang benar di tinggalkan.
Sakit hati?
Ya, ditinggal orang yang berkesan cukup membuat hatinya sakit tentu saja. Dan Ari adalah orang dengan kesan yang baik semenjak pertama kali mereka bertemu dan mengobrol. Maka dari itu, Venya juga tidak ingin mengecewakan Ari karena dia berbohong atau bahkan menutup - nutupi keadaannya. Setidaknya, Venya juga memberikan kesan yanh baik untuk Ari jika mereka berdua beeniat untuk memisahkan diri mereka sendiri.
** *** **
"Udah ijin sama bundamu?" Tanya Tante Fany begitu Venya melewati ruang TV siang itu untuk berjalan ke taman di depan rumah dan mengetikkan beberapa bab untuk stok menulisnya.
Venya mengangguk menjawab peetanyaan dari tante Fany, "sudah, tan. Katanya boleh. Tapi, mungkin aku harus belanja dulu buat baju yang bakal di pakai." Kata Venya terkekeh, "aku cuman bawa dua baju sama beberapa dalemaan aja. Soalnya, ga tau bakal nginep lama di sini." Ucap Venya lagi sambil menggaruk belakang lehernya yang sebenarnya tidak gatal, "makasih ya tante udah ngijinin aku nginep di sini. Maaf kalo aku ngerepotin nantinya." Ucap Venya lagi tersenyum canggung kepada tante Fany.
Tante Fany menggeleng cepat kemudian menghampiri Venya, memegang pundaknya, "ga papa, tante justru seneng kamu nginep dj sini. Banyak orang lebih rame daripada tante smaa om guntur doang bosen liat mukanya." Kata Tante Fany terkekeh bercanda, "kalo baju, kamu pakai punya tente aja ga pala, sayang uangnya mending di tabung aja. Banyak baju tante yang ekcil kok. Lagian kita ini ga beda jauh kalo di liat dari bentuk tubuuh." Kata Tante Fany mengusap - ngusap lengan atas Venya sayang.
Kini giliran Venya yang menggeleng, "engga usah tante, biar aku beli aja. Nanti aku ikut nyuci baju aja biar ga terlalu banyak belinya." Jata Venya, "aku malu ah tante udah ngerepotin malah makin ngerepotin kalo pake baju tante nantinya." Kata Venya.
Tante Fany terkekeh, "ga paoa. Banyak baju tante yang ga ke pake, bisa tante kasihin ke kamu kalo kamu ga mau pinjem." Katanya lagi.
Itu membuat Venya menggeleng lebih keras, "itu malah ngebuat aku ngerasa ga enak tante. Ga papa deg ga usah." Kata Venya lagi. Dia bahkan agak sedikit malu jika harus meberima tawaran itu.
"Tante Ari itu emang gitu, kemaren baru belanja baju, jadi harus ada baju yang di relakan. Biasanya juga di kasih ke anak - anak yang suka bantu - bantu di sini. Cuman emang belum seminggu. Jadi, bisa di kaish ke kamu nanti." Kata om Guntur yang muncul dari dapur membawa minuman di tangannya. "Sayang juga, kadang masih pada bagus - bagus. Mending di kasih ke orang yang membutuhkan." Kata om guntur lagi.
Venya memang membutuhkannya, tapi tidak dengan menerima seperti ini. Venya masih mampu membelinya tapi, mendnegar hal yang dikatakan om guntur mengenai biasa diberikan kenorang, berarti tante Fany adalah sosok yang royak yang bahkan bisa seenaknya belanja dan 'membuanng' barang yang bahkan katanya masih bagus itu.
"Udah jagan kebanyakan mikir, terima aja sih." Kata Ari menyusuk dari lantai atas.
Venya teesenyum canggung, "okey deh tante." Kata Venya, "nanti Venya beli pakaian dalem aja berarti." Kata Venya lagi.
Tante Fany mengangguk, "gitu dong." Katanyab ersenyum, "kadang tante suka sayang kasih narang ke orang lain. Mending di kasih ke kamu yang mungkin aja bakal tante liat nanti lebih lama lagi." Kata Tante Fany.
Venya mengerutkan keningnya, tidak mengerti apa yang di maksud oleh tante Fany. "Gimana tante?" Tanyanya kemudian.
Tante Fany tersenyum sambil berbalik dsn menyusul om guntur duduk di sofa empuk di depan televisi. "Ya mungkin aja baju tante terlihat lebih baik di kamu. Kamu juga mungkin bakal jadi keluarga kami nanti." Ucap tante Fany.
Meskipun tidak mengerti ke arah mana obrolan yang sedang dibicarakan oleh tante Fany itu, Venya hanya membalas dengan tersenyum, "kalo gitu, Venya permisi dulu mau ke depan." Kata Venya sambil menunjukkan laptopnya menandakan bahwa Venya akan mengetik di depan.
Ari kini menatap Venya, "mau coba ditaman belakang rumah ga?" Tanyanya.