Nico menolak mempercayai Kean begitu saja. Ia meminta bertemu malam itu di sebuah kafe, jauh dari rumah Rea. Kean datang membawa salinan laporan utang Mike dan foto yang diambil penagih.
“Dari mana Lo dapat semua ini?” tanya Nico.
“Bar tempat Mike berutang baru masuk dalam jaringan usaha keluarga gue. Pengelola lamanya menjalankan perjudian ilegal. Gue sedang membersihkannya.”
“Dan apa hubungannya sama Rea?”
Kean menunjukkan pesan penagih yang menyebut Rea sebagai jaminan lain. Wajah Nico langsung mengeras.
“Gue akan bawa dia pergi malam ini.”
“Kalau Lo mendadak melarangnya bertemu Mike tanpa menjelaskan identitas Rea, dia mungkin justru melawan.”
“Lo tahu identitasnya?”
Kean menatapnya. “Rea Adhiyaksa adalah putri Rangga Adhiyaksa.”
Nico terdiam. Selama bertahun-tahun Rea hanya mengatakan bahwa keluarganya kaya dan mengendalikan hidupnya. Ia tidak pernah menyebut bahwa ayahnya adalah salah satu pengusaha terbesar di negeri tersebut.
“Kenapa Lo mencari dia?”
“Keluarga kami merencanakan perjodohan.”
Nico tertawa tanpa humor. “Jadi Lo juga datang untuk mengatur hidupnya?”
Pertanyaan itu mengenai Kean. Ia memang ingin melindungi, tetapi sebagian tindakannya didorong rasa memiliki atas perempuan yang bahkan belum mengenalnya.
“Gue datang karena ada ancaman,” jawabnya. “Perjodohan adalah masalah terpisah. Rea berhak menolaknya.”
Mereka sepakat mengawasi tanpa membuat Rea panik sambil menunggu tim keamanan menangkap penagih. Namun orang-orang itu bergerak lebih cepat.
Keesokan sore, Mike menerima pesan berisi lokasi pesta dan batas waktu. Ibunya juga menelepon sambil menangis karena dua lelaki datang ke rumah lama, menanyakan dirinya. Ketakutan mengambil alih semua janji.
Mike menemui Rea di minimarket. Ia terlihat pucat, tetapi memaksakan senyum.
“Ada pekerjaan foto malam ini,” katanya. “Kliennya butuh model perempuan. Bayarannya lumayan. Lo mau bantu?”
Rea mengerutkan dahi. “Gue bukan model.”
“Cuma foto katalog di hotel. Lo tinggal pakai gaun dan berdiri beberapa jam.”
“Kenapa mendadak?”
“Modelnya batal. Gue butuh Lo.”
Kalimat terakhir melunakkan hati Rea. Ia menyetujui setelah Mike berjanji akan selalu berada bersamanya.
Malam itu Mike menjemput dengan mobil. Di kursi belakang ada gaun hitam dan kotak sepatu. Rea mulai curiga ketika mereka meninggalkan pusat kota menuju sebuah bangunan besar di kawasan sepi.
“Katanya hotel?”
“Ini vila pribadi klien.”
“Mike, berhenti.”
“Kita sudah dekat.”
“Gue bilang berhenti!”
Mike justru menambah kecepatan karena melihat mobil hitam mengikuti. Ia mengira itu penagih yang memastikan tugas dilakukan.
Rea mencoba membuka pintu, tetapi terkunci. “Lo bohong lagi. Mau bawa gue ke mana?”
“Gue nggak punya pilihan, Re.”
“Apa maksud Lo?”
Air mata Mike jatuh. “Mereka akan membunuh gue dan menyakiti nyokap gue kalau utangnya nggak dibayar.”
Rea memandang gaun di kursi belakang, lalu wajah Mike. Kebenaran menyusun dirinya sendiri dengan cara paling mengerikan.
“Lo menukar gue?” suaranya nyaris tak terdengar.
“Cuma satu malam. Gue akan kembali jemput Lo. Mereka bilang Lo nggak akan—”
Tamparan Rea mendarat. “Gue percaya sama Lo!”
Mike kehilangan kendali setir sesaat. Mobil oleng, lalu kembali ke jalur. “Gue takut mati!”
“Dan Lo pikir hidup gue bisa dibayar untuk hidup Lo?”
Rea menendang pintu dan berteriak meminta tolong meski jalan sepi. Mobil hitam di belakang menyalakan lampu jauh.
Di dalamnya, Kean duduk bersama kepala keamanan. Pelacak yang dipasang pada kendaraan penagih menunjukkan Mike bergerak menuju vila lama milik pengelola bar. Nico mengikuti dengan mobil lain sambil menghubungi polisi.
“Percepat,” perintah Kean.
Mike memasuki halaman vila. Dua lelaki membuka gerbang dan segera menutupnya. Rea menolak keluar. Salah seorang menarik lengannya melalui pintu yang dibuka Mike.
“Jangan sentuh gue!” teriak Rea.
Mike berdiri membeku ketika Rea meronta. Sampai detik tersebut, ia masih membayangkan penyerahan akan berlangsung tanpa kekerasan. Kenyataan di depan mata menghancurkan kebohongan itu.
“Lepaskan dia,” katanya.
Penagih tertawa. “Utang Lo mau kembali penuh?”
Mike memukul lelaki tersebut. Rea terlepas, tetapi lelaki kedua menyerang Mike dari belakang. Perkelahian pecah. Rea berlari ke gerbang, namun seorang penjaga lain menghadang.
Suara benturan keras terdengar saat mobil Kean menabrak palang luar. Tim keamanan turun, disusul Nico dan dua petugas polisi. Para penagih mencoba kabur ke dalam vila.
Kean langsung menuju Rea. Gadis itu menendang penjaga dan merebut tongkatnya sebelum Kean sempat membantu.
“Rea!” panggil Nico.
Ia menoleh dan berlari ke pelukan kakak angkatnya. Tubuhnya gemetar hebat. Nico memeluk, lalu menatap Mike yang terduduk dengan darah di bibir.
“Lo menjual dia?” desis Nico.
Mike tidak mampu menjawab.
Polisi mengamankan semua orang. Kean menunjukkan dokumen penyelidikan perusahaan dan rekaman komunikasi. Ketika salah seorang penagih menyebut bahwa Kean adalah bos mereka, Rea mendengar.
Ia melepaskan pelukan Nico dan menatap Kean. “Bos?”
“Gue pemilik baru jaringan usaha yang menaungi bar itu,” jelas Kean. “Tapi gue tidak memberi perintah ini.”
“Lo siapa?”
Kean membuka mulut. Ia ingin memperkenalkan diri tanpa membawa nama keluarga, seperti saat selama ini menyamar menjadi orang biasa. Namun Rea sudah terlalu banyak dibohongi malam itu.
“Nama gue Keanu Adhiyaksa.”
Wajah Rea kehilangan warna. Nama itu bukan sekadar nama pengusaha muda yang pernah didengarnya. Itu nama lelaki yang dipilih orang tuanya sebagai calon suami.
“Lo?” bisiknya. “Lo yang mau dijodohkan sama gue?”
Kean mengangguk.
Rea mundur. Di satu sisi ada Mike, lelaki yang baru saja menjual kepercayaannya demi utang. Di sisi lain ada Kean, orang asing yang mengetahui identitas serta perjodohannya. Nico pun ternyata menerima informasi tanpa memberitahunya.
“Kalian semua bohong,” katanya dengan napas memburu.
“Re, dengarkan kakak,” ujar Nico.
“Jangan sentuh gue!”
Rea berlari keluar gerbang yang rusak. Kean mengejar beberapa langkah, tetapi berhenti ketika Rea berteriak agar tidak diikuti.
Gadis itu berjalan di tepi jalan tanpa tahu arah. Gaun hitam masih berada di mobil Mike, sementara pakaian sederhananya kotor akibat perlawanan. Air mata menutupi pandangan.
Malam tersebut bukan hanya membuktikan Mike mengkhianatinya. Rea juga merasa seluruh kehidupan yang susah payah dibangun telah ditemukan oleh keluarga yang ditinggalkannya.
Dan kini, tidak ada lagi tempat persembunyian yang terasa aman.