Diceritakan sebelumnya, Lisa telah berhasil mengalahkan Queensy, Beni telah berhasil mengalahkan Boris, Kriss telah berhasil mengalahkan Rodriguez, dan Romi telah berhasil mengalahkan Arcane. Setelah itu, mereka berempat melanjutkan pencarian terhadap satu sama lain di dalam Kastil besar milik Jiro.
Walaupun yang menjadi tujuan utama mereka datang kesana adalah untuk menangkap Jiro dan Adnan, tetapi jika mereka belum mendapatkan kabar dari satu sama lain dalam waktu yang cukup lama, maka hal itu akan membuat mereka khawatir, apalagi alat komunikasi mereka sudah hilang atau rusak saat menjalani pertarungan, sehingga saat ini mereka mengalami keterbatasan dalam hal menghubungi satu sama lain.
Persenjataan yang saat ini mereka miliki adalah, Lisa memiliki 2 pistol, Beni memiliki 1 pistol dengan sisa peluru yang tidak seberapa banyak, yakni pistol yang sempat dilemparkan oleh Boris ke sudut ruang bawah tanah, lalu berhasil dipungut kembali olehnya seusai pertarungan. Sedangkan Kriss, saat ini dia hanya membawa 1 pistol milik Rodriguez yang seluruh pelurunya sudah habis terpakai, sebab kedua pistol beserta kacamata spesial miliknya masih berada di tangan Rodriguez, yang kini sedang terkapar tak berdaya di ruangan berpilar itu. Dan yang keadaannya paling memprihatinkan adalah Romi, karena dia sama sekali tidak memiliki senjata api, pistol pemberian Beni sudah dilemparkan keluar jendela oleh Arcane, sehingga satu-satunya andalan Romi sekarang hanyalah sepasang sarung tangan peningkat kekuatan yang masih melekat di kedua tangannya.
Selain persenjataan, alat bantu yang mereka miliki juga sudah tidak lengkap lagi. Kacamata spesial milik Beni sudah hancur karena sempat terinjak oleh Boris, kacamata milik Kriss dirampas oleh Rodriguez ketika dia sedang tak sadarkan diri di basement, sedangkan Romi memang tidak pernah memakainya sejak awal. Sehingga kini, satu-satunya orang yang masih memiliki kacamata spesial yang berfungsi dengan baik hanyalah Lisa seorang.
Dengan bekal seadanya seperti itu, mereka berempat tetap harus melanjutkan misi yang sudah mereka rencanakan sejak dari Jakarta, yakni menangkap Jiro dan Adnan hidup-hidup, lalu mengambil kembali aplikasi God Apps, sekaligus merebut berkas-berkas penting yang bisa membongkar kedok para oknum polisi kotor. Tanpa berkas itu, Leonard akan bebas dalam hitungan minggu, dan seluruh perjuangan mereka selama ini akan menjadi sia-sia belaka.
Sementara itu, di ruang komputer yang berada di menara utama kastil, Jiro masih duduk santai di kursi besarnya, sambil menatap belasan layar yang menampilkan setiap sudut ruangan di dalam kastil miliknya. Wajahnya kini tidak lagi menampakan senyuman lebar seperti sebelumnya, melainkan hanya sebuah senyuman tipis yang sulit untuk diartikan. Empat anak buah pilihannya, yang dia datangkan dari berbagai negara dengan bayaran yang sangat mahal, semuanya sudah tumbang dalam waktu yang berdekatan.
Kemudian Jiro bergumam pelan, sambil memutar-mutar kursinya. “Empat orang, empat kekalahan... Menarik sekali. Rupanya para tikus yang masuk ke rumahku ini bukan tikus sembarangan.” Gumam Jiro.
Lalu tiba-tiba, pintu ruang komputer terbuka dengan kasar, dan masuklah Adnan dengan raut wajah yang sudah dipenuhi oleh amarah. Berbeda dengan Jiro yang selalu terlihat santai, Adnan justru terlihat sangat tegang, kemejanya sudah basah oleh keringat, dan urat di lehernya terlihat menonjol karena menahan emosi.
“Apa yang sedang kau lakukan?! Empat orang bayaranmu itu sudah kalah semua! Kenapa kau masih duduk-duduk santai disini?!” Bentak Adnan.
“Duduklah dulu, jangan berteriak-teriak di ruanganku.” Jawab Jiro dengan tenang.
“Kriss ada di dalam rumahmu, Jiro! Dia inspektur polisi! Kalau dia keluar hidup-hidup dari pulau ini sambil membawa berkas itu, maka bukan hanya aku yang akan hancur, tapi kau juga!” Ucap Adnan, dengan nada suara yang semakin meninggi.
Namun Jiro sama sekali tidak terlihat panik, dia justru mengambil sebuah cangkir teh yang ada di dekat papan ketiknya, lalu meminumnya secara perlahan, kemudian dia mulai berbicara lagi. “Kau ini mantan polisi, tapi caramu berpikir seperti orang yang sedang berjudi di meja terakhir. Aku tidak sedang bermain-main, aku sedang menjalankan permainan. Dan permainan yang bagus itu selalu punya babak kedua.” Ucap Jiro.
“Permainan?? Kau menyebut ini semua permainan?!”
“Tentu saja. Kalau aku hanya ingin mereka mati, aku bisa meledakan seluruh sayap timur kastil ini sejak mereka masuk melewati pintu depan tadi. Tapi apa serunya? Aku ingin melihat sampai dimana batas kemampuan mereka.” Jawab Jiro sambil tersenyum.
Mendengar jawaban itu, Adnan langsung terdiam sejenak, dia menatap Jiro dengan tatapan yang penuh curiga, karena baru sekarang dia benar-benar sadar bahwa orang yang selama ini dia lindungi ternyata sama sekali tidak memikirkan keselamatan dirinya. Bagi Jiro, semua ini hanyalah sebuah permainan yang bisa dia ulang kapan saja, sedangkan bagi Adnan, ini adalah pertaruhan atas seluruh sisa hidupnya.
Kemudian Adnan menarik nafas panjang, lalu berkata dengan nada yang sudah lebih tenang, walaupun matanya masih menyimpan kemarahan. “Baiklah, terserah kau saja... Aku akan kembali ke kamarku.” Ucap Adnan, lalu dia segera keluar dari ruang komputer itu sambil menutup pintu dengan keras.
Sepeninggal Adnan, Jiro hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil, kemudian dia kembali menghadap ke layar-layar komputernya. Dia sama sekali tidak tahu, atau mungkin dia sengaja tidak mau tahu, bahwa di dalam kepala Adnan saat ini sedang tersusun sebuah rencana yang sama sekali tidak melibatkan dirinya.
Setelah itu, Jiro menekan sebuah tombol berwarna merah yang ada di meja komputernya, dan seketika itu juga seluruh pengeras suara yang terpasang di setiap lorong dan setiap ruangan di dalam kastil, mulai mengeluarkan suara berdengung, lalu terdengarlah suara Jiro yang bergema ke seluruh penjuru bangunan megah itu.
“Selamat malam, Inspektur Kriss, Nona Lisa, Tuan Beni, dan tentu saja, temanku yang paling kurindukan, Romi... Aku mengucapkan selamat kepada kalian berempat, karena kalian sudah berhasil menyelesaikan babak pertama. Sungguh di luar dugaanku. Maka dari itu, sekarang izinkan aku membuka babak kedua untuk kalian.” Ucap Jiro lewat pengeras suara.
Kriss, Lisa, Beni, dan Romi yang saat itu sedang berada di tempat yang berbeda-beda, sontak saja langsung menghentikan langkahnya masing-masing, lalu mendongak ke arah pengeras suara yang menempel di dinding lorong, sambil mendengarkan setiap kata yang diucapkan oleh Jiro dengan seksama.
“Peraturannya sederhana. Di dalam rumahku ini masih ada 30 orang lagi yang sangat ingin berkenalan dengan kalian, mereka dipimpin oleh seorang pria yang bernama Damian, bos gangster dari pelabuhan yang tidak pernah kalah berkelahi. Mulai malam ini, mereka semua kulepaskan. Selain itu, seluruh pintu di lantai satu sudah kukunci secara otomatis, sehingga jalan keluar satu-satunya adalah menara utama, tempat aku sedang duduk sekarang. Aku menunggu kalian disini. Selamat menikmati babak kedua.” Ucap Jiro, lalu suara di pengeras suara itu terputus.
Beberapa saat setelah pengumuman itu selesai, terdengarlah suara sirene pendek, kemudian pintu-pintu besi di sepanjang koridor lantai satu mulai menutup satu persatu secara bersamaan, sehingga suara benturan logam terdengar bersahut-sahutan di seluruh bangunan itu, bagaikan sebuah orkestra yang menandakan bahwa perburuan sudah resmi dimulai.
Sementara itu, Kriss yang sedang berjalan sambil memegangi luka tembak di pundak kirinya, segera bersandar di dinding lorong untuk mengatur nafasnya. Darah yang keluar dari lukanya sudah membuat seluruh lengan kirinya berwarna merah kehitaman, dan pandangannya pun mulai sedikit berkunang-kunang. Namun Kriss tetap memaksakan diri untuk terus berjalan, karena dia tahu bahwa berhenti di tempat itu sama saja dengan menyerahkan dirinya kepada musuh.
Lalu, ketika Kriss berbelok di ujung lorong, tiba-tiba saja ada sebuah bayangan besar yang muncul dari arah berlawanan, sehingga secara reflek Kriss langsung mengangkat pistol kosongnya dan membidikan benda itu ke arah bayangan tersebut. Namun untungnya, orang yang muncul di hadapannya itu bukanlah musuh.
“Woy woy woy! Jangan tembak! Ini aku!” Teriak orang itu, sambil mengangkat kedua tangannya.
“Beni?” Ucap Kriss, sambil menurunkan pistolnya.
Ternyata orang yang berdiri di hadapan Kriss saat ini adalah Beni, dengan wajah yang sudah lebam di beberapa bagian, bibir yang sobek, dan bekas gigitan tanah yang masih menempel di bajunya. Melihat temannya masih hidup, Kriss langsung merasa lega, begitupun juga sebaliknya dengan Beni.
“Astaga, kau berdarah!” Ucap Beni, ketika dia melihat pundak kiri Kriss.
“Tidak apa-apa, pelurunya hanya menyerempet.” Jawab Kriss.
“Menyerempet apanya, bajumu sudah seperti kain pel.” Ucap Beni, lalu tanpa menunggu jawaban dari Kriss, dia segera merobek bagian bawah bajunya sendiri, kemudian dia mengikatkan sobekan kain itu ke pundak Kriss dengan cukup kuat, supaya darahnya bisa berhenti mengalir.
“Aakh!” Kriss meringis kesakitan.
“Tahan sebentar, kalau darahmu terus keluar, sebentar lagi kau akan pingsan di lorong ini, dan aku terlalu malas untuk menggendongmu.” Ucap Beni.
Setelah luka Kriss selesai dibalut seadanya, mereka berdua segera saling bertukar informasi mengenai apa yang sudah mereka alami masing-masing. Kriss menceritakan tentang Rodriguez si penembak ulung dan permainan merakit pistol, sedangkan Beni menceritakan tentang Boris si penghancur tulang yang hampir mematahkan seluruh tulang di tubuhnya. Setelah itu, mereka berdua langsung membicarakan hal yang paling mereka khawatirkan saat ini, yakni keberadaan Lisa dan Romi.
“Kau melihat Lisa atau Romi?” Tanya Kriss.
“Tidak sama sekali. Tadi Lisa jatuh bersamaan denganku, tapi lubangnya berbeda. Sedangkan Romi, dia satu-satunya yang tidak ikut jatuh, jadi dia pasti masih ada di lantai atas.” Jawab Beni.
“Kalau begitu kita harus segera naik. Romi tidak punya senjata, dan dia satu-satunya orang yang bisa merebut God Apps dari Jiro. Kalau Romi sampai tertangkap, maka misi ini selesai.” Ucap Kriss.
Namun, belum sempat mereka berdua melangkah, terdengarlah suara langkah kaki yang sangat banyak dari arah ujung lorong, disertai dengan suara tawa dan teriakan orang-orang yang sepertinya sedang berburu. Maka seketika itu juga, Kriss dan Beni langsung masuk ke dalam sebuah ruangan yang ada di dekat mereka, lalu menutup pintunya secara perlahan.
Ruangan yang mereka masuki itu ternyata adalah sebuah ruang perpustakaan yang sangat besar, dengan rak-rak buku setinggi tiga meter yang berjajar rapi memenuhi seluruh ruangan, juga dengan beberapa tangga kayu beroda yang digunakan untuk mengambil buku di bagian atas. Di tengah ruangan itu terdapat sebuah meja baca panjang, dengan lampu-lampu kecil berwarna kuning di atasnya.
“Sembunyi di balik rak.” Bisik Kriss.
Beberapa saat kemudian, pintu perpustakaan terbuka, lalu masuklah enam orang pria bertubuh besar dengan tato di leher dan lengan mereka, masing-masing membawa senjata yang berbeda-beda, ada yang membawa pistol, ada yang membawa pemukul bisbol, dan ada juga yang membawa senapan laras pendek. Mereka mulai menyisir ruangan itu sambil menendangi kursi dan menjatuhkan buku-buku dari raknya.
Kriss yang sedang bersembunyi di balik rak paling ujung, segera memberi isyarat kepada Beni dengan menggunakan jarinya, dia menunjuk ke arah tangga kayu beroda yang ada di dekat Beni, lalu menunjuk ke arah rak buku yang berjajar. Beni yang langsung mengerti maksud dari isyarat itu, segera mengangguk pelan.
Kemudian, ketika keenam orang itu sudah berjalan tepat di sepanjang lorong rak yang sempit, Beni langsung saja mendorong tangga kayu beroda tersebut sekuat tenaga, sehingga tangga itu meluncur cepat lalu menghantam rak buku yang paling ujung. Maka seketika itu juga, seluruh rak buku yang berjajar di ruangan itu langsung tumbang secara berurutan, satu menimpa yang lainnya, persis seperti susunan kartu domino yang dijatuhkan.
“Awaaas!!”
Empat dari enam orang itu langsung tertimpa oleh rak-rak buku yang tumbang, sehingga mereka semua terjepit dan tidak bisa bergerak sama sekali. Sedangkan dua orang lainnya yang berhasil menghindar, segera menembakan senjatanya secara membabi buta ke segala arah. Namun Kriss yang sudah bersiap di balik meja baca, langsung melemparkan sebuah buku tebal ke wajah salah satu dari mereka, dan ketika orang itu terhuyung ke belakang, Beni segera menerjangnya lalu menghantamkan tinjunya ke rahang orang tersebut hingga tumbang seketika.
Sedangkan orang yang terakhir, dia sempat membidikan senapannya ke arah Kriss, namun Kriss yang sudah berpengalaman selama 12 tahun di kepolisian, dengan cepat menepis laras senapan itu ke atas menggunakan tangan kanannya, lalu dia memutar tubuh orang tersebut dan membanting kepalanya ke meja baca, sehingga orang itu langsung jatuh terkulai ke lantai.
Setelah keadaan di dalam perpustakaan kembali sunyi, Kriss dan Beni segera memungut senjata-senjata milik para gangster yang sudah tumbang tersebut. Kriss mengambil sebuah pistol beserta dua kotak peluru cadangan, sedangkan Beni mengambil senapan laras pendek dan mengisinya sampai penuh. Kini persenjataan mereka berdua sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya.
“Nah, begini baru bisa bekerja.” Ucap Beni sambil tersenyum puas.
“Ayo, kita cari Lisa dan Romi.” Ajak Kriss.
Sementara itu, di sayap barat kastil, atau lebih tepatnya di lorong panjang yang menghubungkan ruang makan dengan ruang cuci, Romi sedang berjalan sambil menyeret kakinya karena sudah sangat kelelahan. Lengannya yang tersayat oleh pisau belati Arcane masih terus mengeluarkan darah, dan sekarang dia mulai merasa pusing karena sudah berjam-jam tidak makan ataupun minum.
Kemudian, ketika Romi berbelok di sebuah persimpangan lorong, tiba-tiba saja dua orang gangster sudah berdiri tepat di hadapannya, dan salah satu dari mereka langsung mengangkat pistolnya lalu membidik kepala Romi dari jarak yang sangat dekat.
“Dapat satu! Dia yang paling kecil!” Teriak orang itu.
Romi yang sudah tidak punya tenaga untuk lari ataupun melawan, hanya bisa mundur ke belakang sambil mengangkat kedua tangannya, wajahnya sudah pucat pasi, dan keringat dingin mulai membasahi seluruh dahinya. Dia benar-benar sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi pada dirinya beberapa detik kemudian.
Namun tiba-tiba saja, terdengarlah dua buah suara tembakan yang berasal dari arah belakang kedua orang gangster tersebut, dan seketika itu juga kedua orang itu langsung jatuh tersungkur ke lantai sambil memegangi kaki mereka masing-masing yang tertembak. Lalu dari balik kegelapan lorong, munculah sesosok wanita yang berjalan sambil masih mengacungkan kedua pistolnya ke arah kedua orang yang sudah tumbang tersebut.
“Ka- kak Lisa!” Ucap Romi, dengan mata yang seketika langsung berkaca-kaca.
“Kau tidak apa-apa?” Tanya Lisa, sambil menghampiri Romi.
“A- aku baik-baik saja... Tapi tadi aku hampir mati.” Jawab Romi, dengan suara yang masih bergetar.
Kemudian Lisa segera memperhatikan lengan Romi yang tersayat, lalu tanpa banyak bicara dia langsung merobek lengan bajunya sendiri untuk dijadikan pembalut luka, dan mengikatnya di lengan Romi. Romi yang diperlakukan seperti itu hanya bisa diam sambil menundukan kepalanya, wajahnya memerah, dan dia tidak berani menatap wajah Lisa sama sekali.
“Kenapa kau diam saja? Sakit ya?” Tanya Lisa.
“Ti- tidak koq, tidak sakit sama sekali.” Jawab Romi sambil menggeleng cepat.
Setelah itu, mereka berdua segera duduk sejenak di lorong tersebut untuk mengatur nafas, sambil membicarakan langkah apa yang selanjutnya harus mereka ambil. Lisa menceritakan tentang Queensy si ratu pembunuh bayaran, sedangkan Romi menceritakan tentang Arcane si pembunuh berantai, walaupun dia tidak menceritakan bagian dimana Arcane mengatakan bahwa dirinya sedang mengincar Lisa.
“Kak, aku harus sampai ke ruang komputer.” Ucap Romi tiba-tiba.
“Ruang komputer? Maksudmu tempat Jiro sedang berada sekarang?” Tanya Lisa.
“Ya... Dengar, menangkap Jiro dan Adnan saja tidak akan cukup. Selama God Apps masih ada di server milik Jiro, maka siapapun yang nanti menemukannya bisa memakainya lagi untuk hal yang jahat. Aplikasi itu harus kuambil alih, lalu kuubah dari dalam. Dan untuk melakukan itu, aku harus duduk di depan komputer yang terhubung langsung dengan servernya.” Jelas Romi.
“Lalu bagaimana caramu kesana? Jiro bilang semua pintu di lantai satu sudah dikunci.” Tanya Lisa.
Kemudian Romi menunjuk ke arah langit-langit lorong, tepatnya ke arah sebuah pipa besar berwarna abu-abu yang membentang di sepanjang atap. “Lihat itu... Itu adalah saluran ventilasi udara. Semua ruangan di kastil ini pasti terhubung dengan saluran itu, termasuk ruang komputer. Selain itu, sebuah ruang komputer dengan puluhan server pasti membutuhkan pendingin yang sangat besar, jadi kalau kita mengikuti saluran ventilasi yang hawanya paling dingin, maka kita pasti akan sampai kesana.” Ucap Romi.
Lisa yang mendengar penjelasan itu langsung tersenyum kecil, karena dia sudah terbiasa dibuat kagum oleh cara berpikir Romi yang selalu bisa menemukan jalan keluar dari hal-hal kecil yang tidak diperhatikan oleh orang lain. Namun, belum sempat Lisa menjawab, tiba-tiba terdengarlah suara langkah kaki yang sangat banyak dari arah ujung lorong.
“Hoy! Dua orang disini!”
Ternyata rombongan gangster yang dipimpin langsung oleh Damian sudah menemukan mereka. Damian adalah seorang pria bertubuh gempal dengan kepala yang dipenuhi oleh tato, dia berjalan paling depan sambil memanggul sebuah kapak pemadam kebakaran di pundaknya. Di belakangnya, ada sekitar sepuluh orang anak buah yang langsung berlari sambil menembakan senjata mereka.
Maka seketika itu juga, Lisa langsung menarik tangan Romi lalu mengajaknya berlari sekencang mungkin ke arah yang berlawanan. Peluru demi peluru melesat di dekat kepala mereka dan menghantam dinding lorong, sehingga serpihan tembok berhamburan ke segala arah. Sesekali Lisa berbalik untuk membalas tembakan, namun jumlah peluru yang dia miliki sudah semakin menipis, sehingga dia harus menggunakannya dengan sangat hemat.
Setelah berlari cukup jauh, akhirnya mereka berdua masuk ke dalam sebuah ruang cuci yang penuh dengan mesin cuci besar dan tumpukan kain, lalu Lisa segera menutup pintunya dan mendorong sebuah lemari besi untuk mengganjal pintu tersebut dari dalam. Beberapa detik kemudian, terdengarlah suara pukulan kapak yang bertubi-tubi menghantam pintu itu dari luar.
“Buka pintunya! Percuma saja kalian sembunyi!” Teriak Damian dari balik pintu.
“Romi! Cari saluran ventilasinya, cepat!” Suruh Lisa, sambil terus menahan lemari yang mengganjal pintu.
Romi segera memanjat ke atas mesin cuci, lalu dia menemukan sebuah lubang ventilasi berbentuk kotak dengan penutup jeruji besi yang terpasang di dinding bagian atas. Tanpa membuang waktu lagi, Romi langsung mengepalkan tangannya yang terbungkus sarung tangan peningkat kekuatan, kemudian dia menghantamkan tinjunya ke jeruji besi tersebut hingga penutup itu terlepas dan terlempar jauh ke dalam saluran.
“Sudah terbuka! Cepat kak!” Teriak Romi.
Lisa segera melepaskan pegangannya dari lemari, lalu dia berlari dan memanjat ke atas mesin cuci, kemudian Romi menariknya masuk ke dalam saluran ventilasi tersebut. Dan tepat pada saat kaki Lisa sudah masuk seluruhnya, pintu ruang cuci itu langsung jebol dihantam oleh kapak Damian, sehingga para gangster itu berhamburan masuk ke dalam ruangan.
“Kemana mereka?!” Teriak Damian sambil melihat ke sekeliling ruangan yang sudah kosong.
Sedangkan di dalam saluran ventilasi, Lisa dan Romi merangkak secara perlahan sambil berusaha untuk tidak menimbulkan suara sedikitpun, sebab pelat logam yang mereka pijak akan berbunyi nyaring jika ditekan terlalu keras. Saluran itu sangat sempit, gelap, dan berdebu, sehingga mereka berdua harus beberapa kali menahan bersin. Sesekali mereka melewati jeruji kecil yang menampilkan pemandangan ruangan-ruangan di bawahnya, dan dari situlah mereka bisa mengetahui posisi mereka saat ini.
Setelah merangkak cukup jauh sambil terus mengikuti arah hawa dingin seperti yang dikatakan oleh Romi tadi, tiba-tiba saja Romi menghentikan gerakannya, lalu dia mengangkat tangannya sebagai isyarat kepada Lisa untuk ikut berhenti. Sebab dari arah bawah, terdengarlah sebuah suara yang sangat mereka kenal, suara seorang pria yang sedang berbicara dengan nada penuh percaya diri.
Lisa dan Romi segera merangkak beberapa senti lagi ke depan, lalu mereka berdua mengintip ke bawah melalui jeruji ventilasi yang ada di hadapan mereka. Dan alangkah terkejutnya mereka, ketika mereka menyadari bahwa ruangan yang ada di bawah mereka saat ini adalah sebuah kamar pribadi yang sangat mewah, dan pria yang sedang berbicara sambil menempelkan telepon di telinganya itu, tidak lain dan tidak bukan adalah Adnan.
Kriss dan Beni sudah berhasil bertemu kembali, begitupun juga dengan Lisa dan Romi. Kini babak kedua dari permainan Jiro sudah dimulai, dengan 30 orang anak buah yang dipimpin oleh Damian si bos gangster, dan seluruh pintu lantai satu yang sudah terkunci rapat. Namun secara tidak sengaja, Lisa dan Romi justru menemukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada seluruh permainan Jiro, yakni percakapan rahasia milik Adnan. Kira-kira apa yang sedang dibicarakan oleh Adnan lewat sambungan telepon tersebut? Dan siapakah pria misterius yang berada di seberang telepon itu? Terus ikuti kelanjutan kisahnya hanya di God Apps (Castle of Doom).
Berlanjut ke Part 9