Adnan harus mendapatkan kekecewaan setelah tahu bahwa tumpukan uang yang sangat diinginkannya ternyata sudah tidak ada, sebab Jiro telah menyumbangkannya kepada anak-anak korban perang dan anak-anak yang membutuhkan biaya pendidikan di seluruh dunia. Kemudian Adnan yang berhasil dilumpuhkan oleh Jiro menggunakan stunt gun, akhirnya harus mendekam dan dikurung di dalam ruangan lemari besi oleh Jiro. Sementara itu Romi yang sedang berada di ruang komputer milik Jiro, telah berhasil memprogram ulang God Apps dan mengganti namanya menjadi ‘Finding’. Kemudian dia melepaskan aplikasi tersebut untuk berkeliaran secara bebas di dunia internet, dan mencari orang yang benar-benar membutuhkan bantuan dari aplikasi tersebut.
Beralih ke tempat lain, atau lebih tepatnya, kepada Beni, Kriss, dan Lisa yang saat ini masih terjebak di lantai satu kastil, dan harus berhadapan dengan puluhan anak buah Damian yang sedang menyisir setiap ruangan untuk mencari keberadaan mereka.
Beberapa saat sebelumnya, ketika Kriss dan Beni sedang berjalan secara perlahan di sepanjang lorong sayap timur, tiba-tiba saja terdengarlah suara benturan logam dari arah langit-langit, lalu sebuah jeruji ventilasi terlepas dan jatuh menghantam lantai, sehingga secara reflek Kriss dan Beni langsung mengarahkan senjata mereka ke arah lubang tersebut.
Namun untungnya, yang keluar dari lubang itu bukanlah musuh, melainkan seorang wanita yang langsung meloncat turun lalu mendarat dengan sempurna di atas lantai lorong, dengan baju yang sudah kotor oleh debu, dan lengan baju yang sudah robek sebelah.
“Lisa!” Ucap Kriss dan Beni secara bersamaan.
“Syukurlah, kalian berdua masih hidup.” Ucap Lisa, sambil menghembuskan nafas lega.
Kemudian Beni segera menghampiri Lisa lalu memperhatikan seluruh tubuhnya, seperti seorang kakak yang sedang memeriksa adiknya yang baru saja pulang dari medan perang. “Kau tidak apa-apa? Kau habis darimana? Dan kenapa kau keluar dari langit-langit seperti kelelawar?” Tanya Beni bertubi-tubi.
“Nanti saja kujelaskan. Sekarang dengarkan aku baik-baik, karena ini jauh lebih penting daripada semua yang sedang kita hadapi disini.” Jawab Lisa dengan raut wajah yang sangat serius.
Melihat raut wajah Lisa yang seperti itu, Kriss dan Beni langsung terdiam. Kemudian Lisa segera menceritakan seluruh hal yang barusan dia dengar bersama Romi dari dalam saluran ventilasi udara, mulai dari sambungan telepon Adnan, kesepakatan Adnan dengan sang Komisaris Polisi di Jakarta, rencana untuk membersihkan nama Adnan, rencana pencalonan Adnan sebagai walikota lalu sebagai Presiden, sampai kalimat terakhir yang diucapkan oleh sang Komisaris, yakni perintah untuk tidak meninggalkan satupun saksi.
Selama mendengarkan cerita itu, Kriss sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia hanya berdiri diam bersandar di dinding lorong, dengan tangan kanan yang masih memegangi pundak kirinya yang terluka. Namun dari raut wajahnya, terlihat jelas bahwa ada sesuatu yang sedang runtuh di dalam dirinya.
Selama 12 tahun, Kriss sudah mengabdi di kepolisian. Selama 12 tahun pula dia selalu percaya bahwa seburuk apapun keadaannya, institusi tempatnya bekerja itu masih memiliki orang-orang baik di posisi paling atas. Dan sekarang, seluruh kepercayaan itu hancur hanya dalam waktu beberapa menit saja.
“Pantas saja...” Gumam Kriss dengan suara yang sangat pelan.
“Kriss?” Ucap Beni, sambil memperhatikan temannya itu dengan perasaan khawatir.
“Pantas saja setiap kali aku mengajukan surat izin untuk menemui Leonard, suratnya selalu hilang. Pantas saja setiap kali aku hampir mendapatkan petunjuk, aku langsung dipindahkan untuk menangani kasus lain. Pantas saja pasukan khusus itu tidak pernah menghasilkan apapun selama dua bulan penuh... Ternyata selama ini aku sedang mengejar tikus, sambil dipegangi ekorku oleh kucingnya sendiri.” Ucap Kriss, dengan nada suara yang bergetar menahan amarah.
Kemudian Kriss segera menegakan tubuhnya, lalu dia menatap Lisa dan Beni secara bergantian dengan tatapan yang sudah berbeda dari sebelumnya, yakni tatapan seorang polisi yang sudah tidak lagi peduli terhadap jenjang karirnya sendiri.
“Baiklah, kalau begitu rencananya berubah. Menangkap Adnan hidup-hidup saja sudah tidak cukup lagi, karena begitu dia kita serahkan ke Jakarta, dia justru akan dilindungi. Yang harus kita dapatkan sekarang adalah bukti, dan bukti itu ada di dalam server milik Jiro.” Ucap Kriss.
“Romi sudah menuju kesana lewat saluran ventilasi.” Jawab Lisa.
“Sendirian?!” Tanya Beni dengan nada terkejut.
“Ya. Dan itulah sebabnya kita harus segera naik ke menara utama secepat mungkin, karena kalau Jiro sampai menemukan Romi disana sendirian, maka kita tidak akan pernah bisa memaafkan diri kita sendiri seumur hidup.” Jawab Lisa.
Setelah rencana itu disepakati oleh mereka bertiga, maka tanpa membuang waktu lagi mereka segera berlari menyusuri lorong sayap timur, menuju ke arah ruang perjamuan besar, sebab menurut denah kastil yang sempat dilihat oleh Kriss di dinding lorong tadi, satu-satunya tangga yang bisa membawa mereka naik ke menara utama adalah tangga yang berada tepat di belakang ruang perjamuan tersebut.
Ruang perjamuan itu adalah ruangan yang sama dengan ruangan tempat Jiro menyambut para anak buahnya beberapa waktu yang lalu, dengan sebuah meja kayu yang sangat besar dan panjang di tengah ruangan, kursi-kursi berukir di sepanjang sisinya, tirai beludru merah yang menjuntai dari langit-langit, serta tiga buah lampu gantung kristal raksasa yang tergantung dengan rantai tebal di atas meja tersebut.
Namun sesampainya mereka bertiga di ambang pintu ruangan itu, langkah mereka langsung terhenti seketika. Sebab di dalam ruang perjamuan tersebut, sudah menunggu sekitar dua puluh orang anak buah Damian, yang berdiri berjajar di kedua sisi meja panjang itu sambil memegang senjata mereka masing-masing. Dan di ujung ruangan, tepat di depan pintu menuju tangga menara, berdirilah Damian si bos gangster sambil memanggul kapak pemadam kebakaran di pundaknya.
“Nah, akhirnya datang juga. Aku sudah bosan menunggu kalian.” Ucap Damian sambil menyeringai.
“Minggir. Kami tidak punya urusan denganmu.” Ucap Kriss.
“Sayangnya aku punya urusan dengan kalian, Inspektur. Tuan Jiro membayarku sangat mahal untuk berdiri di depan pintu ini, jadi selama aku masih bisa berdiri, kalian tidak akan bisa lewat.” Jawab Damian.
Setelah itu, tanpa aba-aba sedikitpun, seluruh anak buah Damian langsung menembakan senjata mereka secara bersamaan ke arah pintu tempat Kriss dan kawan-kawan sedang berdiri. Maka seketika itu juga, mereka bertiga langsung melompat ke samping untuk berlindung, Kriss dan Lisa berlindung di balik sebuah pilar batu, sedangkan Beni berguling lalu bersembunyi di balik meja kayu besar yang berada di dekat pintu.
Suara tembakan yang sangat bising langsung memenuhi seluruh ruangan itu, peluru demi peluru menghantam pilar, memecahkan guci-guci antik, merobek tirai beludru, dan menghancurkan piring-piring keramik yang masih tertata di atas meja panjang. Serpihan kaca dan kayu berhamburan ke segala arah, sehingga suasana di ruang perjamuan yang tadinya megah itu, kini berubah menjadi seperti medan perang.
“Terlalu banyak! Kita tidak bisa maju!” Teriak Beni sambil menundukan kepalanya.
“Lisa, berapa sisa pelurumu?” Tanya Kriss.
“Sembilan di pistol kanan, tujuh di pistol kiri!” Jawab Lisa.
“Kalau begitu jangan tembak orangnya.” Ucap Kriss.
“Apa maksudmu?” Tanya Lisa dengan bingung.
Kemudian Kriss segera menunjuk ke arah langit-langit ruangan itu, tepatnya ke arah tiga buah lampu gantung kristal raksasa yang tergantung tepat di atas meja panjang, dimana sebagian besar anak buah Damian sedang berdiri berjajar di kedua sisinya.
“Rantainya. Tembak rantainya.” Ucap Kriss.
Lisa yang langsung mengerti maksud dari perintah itu, segera mengaktifkan mode pembidik super pada kacamata spesialnya, kemudian dia menghitung sampai tiga di dalam hatinya, lalu dia menyembulkan tubuhnya dari balik pilar dan langsung menembakan pelurunya ke arah rantai yang menahan lampu gantung pertama.
Dua buah peluru pertama meleset dan hanya menghantam langit-langit, namun peluru yang ketiga berhasil mengenai sambungan rantai tersebut secara telak, sehingga rantai itu langsung putus, dan lampu gantung kristal raksasa yang beratnya ratusan kilogram itu langsung jatuh menghantam meja panjang di bawahnya.
BRAAAKK!!
Suara benturan yang sangat keras langsung menggema di seluruh ruangan, meja kayu besar itu patah menjadi dua bagian, dan pecahan kristal beterbangan ke segala arah bagaikan hujan es. Lima orang anak buah Damian yang berdiri paling dekat langsung tertimpa oleh lampu gantung tersebut, sedangkan yang lainnya berhamburan mundur sambil melindungi kepala mereka masing-masing.
“Sekarang!” Teriak Kriss.
Maka Beni langsung bangkit dari persembunyiannya lalu menembakan senapan laras pendeknya ke arah para gangster yang sedang kebingungan itu, sedangkan Kriss segera berlari maju sambil menembak secara terarah, dan Lisa kembali membidik rantai lampu gantung yang kedua, lalu menembaknya sampai putus, sehingga sekali lagi terdengarlah suara benturan yang sangat keras disertai teriakan panik dari para anak buah Damian.
Dalam waktu yang tidak sampai satu menit, jumlah lawan yang tadinya berjumlah dua puluh orang, kini sudah berkurang menjadi tinggal beberapa orang saja, dan sisanya pun akhirnya memilih untuk melarikan diri keluar dari ruangan itu sambil berteriak-teriak ketakutan.
Namun, di tengah kekacauan tersebut, ada satu orang yang sama sekali tidak bergerak dari tempatnya, yakni Damian. Dia tetap berdiri tegak di depan pintu menuju tangga menara, dengan kapak pemadam kebakaran yang masih terpanggul di pundaknya, sambil menatap Kriss dan kawan-kawan dengan tatapan yang penuh amarah.
“Kalian menghancurkan rumah Tuan Jiro.” Ucap Damian.
“Kau juga ikut menghancurkannya tadi.” Jawab Beni.
Kemudian Damian langsung berlari menerjang ke arah mereka bertiga sambil mengayunkan kapaknya, dan ayunan pertama yang dia layangkan itu langsung membelah sebuah kursi kayu berukir menjadi dua bagian, sehingga Kriss dan Lisa harus segera melompat mundur untuk menghindar.
“Biar aku yang urus orang ini! Kalian berdua cari jalan ke tangga!” Teriak Beni, sambil melemparkan senapannya kepada Kriss.
“Beni, jangan gegabah!” Ucap Lisa.
“Tenang saja, tadi aku sudah melawan orang yang jauh lebih besar dari dia!” Jawab Beni.
Setelah itu, Beni langsung berhadapan satu lawan satu dengan Damian. Ayunan demi ayunan kapak dilayangkan oleh Damian ke arah Beni, dan setiap ayunan itu selalu berhasil menghancurkan benda apapun yang terkena olehnya, mulai dari kursi, tiang penyangga tirai, sampai pinggiran meja kayu yang tebal. Sedangkan Beni hanya bisa menghindar sambil terus mundur, karena dia tahu bahwa dia sama sekali tidak boleh menerima satupun ayunan itu.
Beberapa kali Beni mencoba untuk merangsek maju dan melayangkan tinjunya, namun jangkauan kapak Damian jauh lebih panjang daripada jangkauan tangannya, sehingga setiap kali dia mendekat, dia justru harus segera mundur lagi sambil menahan nafas. Bahkan pada percobaannya yang ketiga, mata kapak itu sempat menyerempet lengan kanan Beni sampai sobek, sehingga darah langsung mengalir membasahi sikunya.
“Aakh!” Beni meringis kesakitan sambil memegangi lengannya.
Sedangkan Damian hanya tertawa terbahak-bahak sambil kembali memanggul kapaknya. “Sudah kubilang, selama aku masih berdiri kalian tidak akan bisa lewat. Aku sudah berkelahi di pelabuhan sejak umurku empat belas tahun, dan sampai sekarang belum ada satupun orang yang pernah menjatuhkanku.” Ucap Damian.
Mendengar perkataan itu, Beni justru ikut tersenyum sambil mengusap darah di lengannya. “Kebetulan sekali, malam ini aku juga sudah dua kali dibanting oleh orang yang badannya lebih besar daripada dirimu, dan aku masih berdiri disini.” Jawab Beni.
Kemudian, ketika Beni sudah terpojok di dekat dinding, Damian segera mengayunkan kapaknya secara vertikal dari atas ke bawah dengan sekuat tenaga. Namun pada saat itu juga, Beni langsung menarik tirai beludru merah yang menjuntai di sampingnya, lalu melemparkannya ke arah wajah Damian, sehingga kapak tersebut hanya menghantam lantai dan menancap disana, sedangkan kepala Damian kini tertutup seluruhnya oleh kain tirai yang tebal.
“Rasakan ini!” Teriak Beni.
Lalu dengan sekuat tenaga, Beni segera melayangkan tinjunya ke arah kepala Damian yang masih tertutup oleh kain tirai tersebut, satu pukulan, dua pukulan, tiga pukulan, sampai akhirnya tubuh Damian yang besar itu terhuyung ke belakang lalu jatuh menabrak meja yang sudah patah, dan akhirnya dia terkapar disana tanpa bisa bangun lagi.
Sambil terengah-engah, Beni segera memungut kapak pemadam kebakaran yang menancap di lantai tersebut, lalu dia berkata. “Aku pinjam ini sebentar.”
Setelah pertarungan di ruang perjamuan itu berakhir, mereka bertiga segera berlari melewati pintu yang tadi dijaga oleh Damian. Namun ternyata, di balik pintu itu bukanlah tangga menuju menara, melainkan sebuah lorong pendek yang berujung pada sebuah pintu baja yang sangat tebal, dengan sebuah alat pemindai kartu yang menempel di dindingnya.
Dan dari balik pintu baja tersebut, terdengarlah suara pukulan yang bertubi-tubi, disertai dengan teriakan seorang pria yang terdengar sangat putus asa.
“Keluarkan aku dari sini!! Siapapun, tolong!! Keluarkan aku!!”
Kriss yang mengenali suara itu, langsung terdiam sejenak, kemudian dia berjalan mendekati pintu baja tersebut lalu menempelkan tangannya di permukaan pintu yang sangat dingin itu.
“Adnan?” Ucap Kriss.
Seketika, suara pukulan dari dalam ruangan itu langsung berhenti, dan beberapa saat kemudian terdengarlah suara Adnan yang sudah serak. “Kriss?? Kriss, kau masih hidup?! Cepat keluarkan aku dari sini! Jiro sudah gila! Dia mengunciku disini!” Teriak Adnan dari dalam.
“Aku sudah tahu semuanya, Adnan. Tentang Komisaris, tentang kursi walikota, dan tentang kursi Presiden yang kau impikan itu.” Ucap Kriss dengan tenang.
Mendengar hal itu, suara Adnan langsung terhenti cukup lama, sampai akhirnya dia berbicara lagi dengan nada yang jauh lebih pelan. “Ka- kalau begitu kau juga tahu bahwa aku tidak berharga lagi bagi mereka sekarang... Kriss, dengarkan aku. Kalau kau meninggalkanku disini, aku pasti mati. Tapi kalau kau membawaku pulang, aku juga pasti mati, karena orang-orang itu tidak akan membiarkan aku berbicara di persidangan.” Ucap Adnan.
“Itulah harga yang harus kau bayar setelah bertahun-tahun bekerja untuk orang seperti itu.” Jawab Kriss.
“Kriss... Aku bersedia bersaksi. Aku bersedia menyebutkan seluruh nama yang terlibat, dari mulai yang paling bawah sampai yang paling atas. Tapi keluarkan aku dari sini dulu!” Ucap Adnan, dengan suara yang sudah bergetar.
Kemudian Beni segera menyenggol lengan Kriss lalu berbisik. “Jangan percaya pada orang itu, dia sudah dua kali mengkhianati bosnya sendiri.” Bisik Beni.
“Aku tahu. Tapi seorang saksi yang berkhianat tetaplah seorang saksi.” Jawab Kriss.
Setelah itu, Kriss segera memeriksa alat pemindai kartu yang menempel di dinding, namun tentu saja mereka bertiga tidak memiliki kartu akses apapun untuk membuka pintu baja setebal itu, dan bahkan kapak milik Damian pun sama sekali tidak akan berguna untuk menghadapi pintu tersebut.
“Adnan, dengarkan aku. Kami tidak bisa membuka pintu ini tanpa kartu milik Jiro. Jadi bertahanlah disitu, jangan berteriak-teriak lagi supaya udaramu tidak habis, dan tunggu sampai kami kembali.” Ucap Kriss.
“Ja- jangan tinggalkan aku!”
“Aku akan kembali. Aku ini polisi, dan aku tidak pernah meninggalkan tersangkaku.” Jawab Kriss, lalu dia segera berbalik badan dan mengajak Lisa serta Beni untuk pergi mencari jalan lain menuju menara utama.
Namun, tepat pada saat mereka bertiga baru saja melangkah beberapa langkah, tiba-tiba saja seluruh lampu di lorong tersebut menyala dengan sangat terang, kemudian layar-layar televisi yang terpasang di sepanjang dinding lorong pun menyala secara bersamaan. Dan di seluruh layar itu, munculah wajah Jiro yang sedang tersenyum lebar, sambil duduk santai di kursi besarnya di dalam ruang komputer.
“Selamat malam sekali lagi, Inspektur Kriss. Aku harus mengakui bahwa kalian bertiga sungguh menghibur, terutama bagian ketika lampu gantung kesayanganku jatuh menimpa meja makan yang harganya lebih mahal daripada rumah kalian.” Ucap Jiro lewat layar.
“Dimana Romi?!” Bentak Lisa.
Kemudian gambar di layar itu berpindah, dan kini yang tampil disana adalah pemandangan di dalam ruang komputer, dimana Romi terlihat sedang duduk di kursi besar sambil menghadap ke arah kamera, dengan wajah yang tegang, dan di belakangnya Jiro berdiri sambil meletakan satu tangannya di sandaran kursi tersebut.
“Ka- kak Lisa! Kak Kriss! Aku tidak apa-apa!” Teriak Romi dari dalam layar.
Melihat pemandangan itu, Kriss langsung mengepalkan tangannya sekuat mungkin, sedangkan Beni hampir saja melemparkan kapak di tangannya ke arah layar tersebut kalau saja Lisa tidak segera menahannya.
“Tenang, tenang... Aku tidak menyakitinya sama sekali, lihatlah, tidak ada satupun luka di tubuhnya. Aku justru sangat berterima kasih kepada Romi, sebab dia baru saja melakukan sesuatu yang bahkan tidak pernah terpikirkan olehku, yakni membuang mainan terbaik yang pernah kumiliki.” Ucap Jiro sambil tertawa kecil.
“Apa maumu sebenarnya, Jiro?!” Tanya Kriss.
“Maumu, mauku, sudah tidak penting lagi. Permainannya sudah hampir selesai, dan sekarang tinggal satu babak terakhir yang tersisa. Pintu tangga menuju menara sudah kubuka untuk kalian, silahkan naik. Tapi ingat, tangga itu hanya akan terbuka untuk SATU orang saja, dan orang itu haruslah dirimu, Inspektur Kriss.” Ucap Jiro.
“Kriss, jangan! Ini pasti jebakan!” Ucap Beni.
Namun Kriss sama sekali tidak menjawab peringatan dari temannya itu, dia hanya menatap layar tersebut dalam-dalam, lalu dia melihat ke arah Lisa dan Beni secara bergantian, sebelum akhirnya dia mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu tangga yang kini sudah terbuka lebar di ujung lorong.
“Kalau aku tidak naik, dia tidak akan melepaskan Romi. Dan selama dia masih duduk di depan komputer itu, dia masih bisa menghapus apapun yang sudah disalin oleh Romi. Aku harus naik.” Ucap Kriss.
“Kalau begitu setidaknya bawa senapan ini.” Ucap Beni, sambil menyerahkan senapan laras pendek itu kepada Kriss.
“Simpan saja. Kalian berdua yang lebih membutuhkannya, karena masih ada belasan anak buah Damian yang berkeliaran di lantai bawah. Selain itu, kalian juga harus mencari cara untuk membuka pintu ruangan lemari besi itu, sebab Adnan adalah satu-satunya saksi hidup yang bisa menyebutkan nama-nama mereka di depan pengadilan.” Jawab Kriss.
Kemudian Lisa segera menghampiri Kriss lalu menatap matanya dalam-dalam. “Kriss, kau sedang terluka, wajahmu sudah pucat, dan darahmu sudah terlalu banyak yang keluar. Jangan sok kuat.” Ucap Lisa.
“Aku tahu. Makanya aku hanya perlu naik, bukan berlari.” Jawab Kriss sambil tersenyum tipis, kemudian dia segera melangkah masuk ke dalam pintu tangga tersebut.
Tangga menuju menara utama itu berbentuk melingkar dan sangat tinggi, dengan dinding batu di kedua sisinya, serta lampu-lampu kecil berwarna kuning yang menempel di dinding setiap beberapa meter. Dan tepat ketika Kriss sudah menginjak anak tangga yang kesepuluh, pintu di bawahnya langsung menutup sendiri secara otomatis, sehingga kini Lisa dan Beni tidak bisa lagi menyusulnya.
“Kriss!!” Teriak Beni sambil memukul-mukul pintu tersebut, namun tentu saja tidak ada gunanya sama sekali.
Kriss, Lisa, dan Beni sudah berhasil menumbangkan Damian beserta seluruh anak buahnya, dan kini mereka bertiga sudah mengetahui siapa dalang sebenarnya yang selama ini bersembunyi di balik seluruh kekacauan ini. Namun perjalanan mereka rupanya masih belum selesai, sebab kini Kriss harus naik seorang diri ke menara utama untuk menghadapi babak terakhir dari permainan Jiro, sementara Adnan masih terkurung di dalam ruangan lemari besi, dan Romi masih berada di dalam genggaman sang tuan rumah. Kira-kira permainan seperti apa lagi yang sudah disiapkan oleh Jiro di menara utama? Dan apakah Kriss dan kawan-kawannya bisa keluar dari pulau ini hidup-hidup sambil membawa bukti yang akan menjatuhkan sang Komisaris? Terus ikuti kelanjutan kisahnya hanya di God Apps (Castle of Doom).
Berlanjut ke Part 11