"Saya terima nikah dan kawinnya Lunara Salsabila binti Bimo Saputra dengan maskawin tersebut tunai."
"Sah?" Tanya sang penghulu pada saksi dan seluruh tamu undangan.
Sah!!
Sah!!
Sahut mereka hampir bersamaan.
Alhamdulillah.. Rasa syukur baru saja terucap dari dalam benak Luna yang masih berada di dalam rumah. Tak lama setelah itu, seseorang datang menjemputnya untuk keluar dan bertemu mempelai pria.
Luna berjalan dengan hati-hati sambil merasakan jantungnya yang berdegup lebih cepat di banding saat di dalam tadi. Menggunakan gaun cantik berwarna putih dan jilbab yang menutupi kepalanya, Luna terus menampilkan senyum saat beberapa teman mengambil gambar dirinya yang sedang berjalan. Langkah kaki Luna berhenti tepat di samping kursi yang Sabian Pratama—suaminya duduki. Luna ikut duduk disana untuk melanjutkan proses pernikahan.
Matanya fokus memperhatikan wajah Bian saat pria itu menyematkan cincin permata di jari manisnya. Mas Bian pasti sangat gugup sampai tidak bisa menampilkan senyum. Batinnya.
Kini giliran Luna yang menyematkan cincin di jari manis Bian dan tepukan tangan terdengar di belakang sana. Luna mencium tangan Bian untuk yang pertama kalinya sebagai seorang istri. Ia benar-benar tidak mengira jika pertemanannya dengan Bian saat kuliah bisa sampai ke jenjang pernikahan.
Ibundanya yang tidak bisa hadir di acara sakral ini karena telah tiada saat usia Luna menginjak 15 tahun membuatnya merasa sedih. Beruntung sang Ayah—Pak Bimo mampu menggantikan posisi itu dengan baik selama 10 tahun terakhir ini. Luna menangis di pelukan Bimo sambil mengatakan, "maafkan kesalahan Luna, Pak. Mohon doakan pernikahan Luna agar selalu bahagia. Luna janji, akan sering datang dan tengok bapak di rumah."
"Bapak sudah memaafkan dan melupakan semua kesalahan Luna. Bapak juga akan selalu berdoa untuk kebahagiaan pernikahan kamu. Jadilah istri yang patuh pada suami ya, nak?"
"Luna rindu ibu, Pak.."
"Bapak juga sangat merindukan ibumu. Berbahagialah dengan Bian, ya?"
Luna menganggukkan kepalanya. Kini tubuhnya bergeser untuk meminta restu atau sungkem dalam bahasa jawa pada kedua orang tua Bian.
"Terima kasih sudah hadir dan membawa keceriaan untuk putra mama, nak Luna."
"Terima kasih juga untuk restu yang ibu berikan pada kami. Mulai hari ini, Luna bisa rasakan hadirnya ibu dalam diri Mama Nindy."
Luna sedikit terkejut saat air mata Nindy menetes di tangannya. Tapi wajar saja, melepas seorang putra atau putri di hari pernikahan mereka bukanlah sesuatu yang mudah. Terlebih bagi Nindy yang selama ini menjaga, melindungi dan mengurus segala macam keperluan Bian harus merelakan semua tugas itu untuk dilakukan oleh dirinya.
Saat belum bergeser dan masih meng-iya-kan beberapa pesan yang diberikan oleh Nindy, Luna mendengar sedikit bisikan yang diberikan oleh sang ayah pada telinga Bian, "bapak titip Luna ya, nak. Tolong jaga dan lindungi dia. Dulu, bapak bisa melihat mata ibunya di mata Luna. Tapi mungkin setelah ini tidak lagi.."
Air mata Luna kembali menetes namun buru-buru ia sapu menggunakan tisu agar tidak merusak riasan yang susah payah kakak iparnya buatkan hari ini. Ya, Luna memiliki satu orang kakak laki-laki bernama Abiyan. Tiga tahun lalu, ia menikah dengan wanita bernama Silvi yang tak lain adalah teman Luna saat kecil.
Usai mendapat restu dari ayah mertuanya, Luna pun kembali berdiri di bantu oleh Abiyan Saputra. Ia berusaha tersenyum setelah memastikan air matanya tidak mengalir seperti tadi.
Lanjut pada sesi pemotretan, Luna tersenyum bahagia sambil memamerkan cincin pernikahannya. Lain hal dengan Bian, pria itu hanya berdiri tegang tanpa menampilkan senyum.
"Ayo tersenyum, Mas."
Setelah memohon karena sejak tadi Bian belum juga tersenyum, kini pria itu menampilkan senyumnya walau hanya sebentar dan sedikit.
Satu pertanyaan muncul begitu saja dalam benaknya. Ada apa dengan mas Bian? Apa yang sedang ia pikirkan? Sejak tadi aku tidak melihatnya tersenyum. Luna terus menatap iris mata Bian yang seolah tidak ingin menatapnya balik. Ia hanya bisa berharap jika Bian akan kembali tersenyum sebentar lagi.