Dari gestur yang ditunjukkan Allana, Ratih bisa merasakan bagaimana ketakutan yang Allana alami. Tubuh Allana sedikit bergetar dipelukannya. Ratih tak bisa membayangkan betapa mencekamnya kejadian itu.
"Tapi, kenapa Non Allana sudah pulang?" Itu adalah pertanyaan tidak masuk akal yang dilontarkan Ratih.
Allana melepas pelukannya, air mukanya berubah keruh. Allana menatap kosong ke depan.
Sungguh, Ratih tidak berniat menyinggung perasaan Allana. Tapi memang dasar, mulutnya ini susah dikontrol.
"Seperti biasa, Bi, Allana selalu dianggap tidak ada," jawab Allana membuat Ratih dilanda rasa bersalah.
"Aduh, maafin Bibi Non. Bibi gak bermaksud," papar Ratih memegang kedua telapak tangan Allana "non Allana yang sabar, ya," kata Ratih menyesal.
"Iya, Allana udah terbiasa kok, Bi. Allana ini sangat jauh jika dibandingkan sama Rama. Kalau Rama ibarat Berlian yang berkilau dan selalu terlihat menakjubkan sedangkan Allana hanya sebatas batu kerikil biasa yang sering diinjak-injak," kata Allana terbesit rasa tidak berguna dalam dirinya. Jika saja Allana terlahir dengan otak yang jenius, dia pasti akan dielu-elukan sama seperti Rama. Jujur, Allana ingin, ingin mendapat perlakuan dan kasih sayang sama dengan Rama. Terlepas dari gender apa yang dia miliki.
"Al, jangan bilang gitu, kamu punya hati yang tulus, kamu orang baik. Dan untuk kepribadian seperti itu tidak semua orang memiliki hati bak malaikat seperti kamu," ungkap Devan sangat jujur.
"Tapi, Van, kedua orang tua aku gak pernah menginginkan kelahiran aku, mereka benci sama aku," papar Allana.
"Apa alasan mereka benci sama kamu Al?" tanya Devan terus memandang Allana lekat.
"Karena aku Perempuan," lirih Allana.
Devan yang mendengarnya tercengang sementara Bi Ratih yang sudah mengetahuinya tampak bersikap biasa.
Apa salahnya jika Allana terlahir sebagai perempuan? Itu sudah takdir Ilahi. Devan mengerutkan keningnya seolah ingin mengetahui lebih dalam lagi.
"Papa sangat ingin punya anak laki-laki, terlebih waktu aku lahir, Perusahaan Keluarga hampir bangkrut. Maka dari itu, aku disebut anak pembawa sial oleh mereka," jelas Allana meski hatinya terasa perih.
"Padahal di dunia ini, anak itu adalah anugerah. Mereka gak berhak menghakimi kamu seperti ini," jelas Devan tidak terima.
Allana mengangguk. "Kamu benar, tapi hal itu gak berlaku buat mereka. Kekecewaan mereka semakin bertambah, karena aku bukan orang yang jenius seperti Rama. Dia yang selalu bisa dibanggakan pencapaiannya. Rama yang sangat disayang oleh Papa dan Mama. Berbanding terbalik sama Aku yang selalu dibilang beban oleh kedua orang tua aku sendiri," lanjut Allana menahan tangisnya dengan berusaha tersenyum.
Devan meraih telapak tangan Allana yang berada di sofa. Memberi kehangatan dibalik telapak tangan Allana yang terasa dingin."Al, kamu layak mendapat kasih sayang mereka. Kamu juga bisa mendapat Prestasi dengan cara kamu sendiri," kata Devan menyemangati.
"Prestasi itu bukan hanya melalui nilai Akademik tapi juga Non-Akademik. Bukannya tahun lalu, kamu memenangkan lomba menyanyi tingkat Nasional? Itu juga termasuk prestasi Al," jelas Devan memberi motivasi
Allana tersenyum miris. "Itu gak ada harganya di mata mereka Van," lirih Allana menatap Devan sendu.
Setahun yang lalu, Allana yang berseragam putih abu-abu berlari penuh semangat masuk ke dalam rumahnya membuat Hanna yang menatap gelagat yang tidak biasa dari Allana mengernyit heran.
"Kamu ngapain lari-lari Allana?" tanya Hanna yang duduk sedang membaca majalah.
"Lihat Ma, Allana juara satu lomba menyanyi tingkat Nasional," kata Allana menggebu-gebu seraya sedikit mengangkat pialanya ke atas. Senyumnya mengembang sempurna. Allana tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia yang membuncah.
Hanna menutup majalah yang dia baca. Raut wajahnya terlihat marah membuat Allana yang mendapat respon seperti itu mengerut bingung.
"Aduh Allana! Kenapa kamu ikut lomba seperti itu segala? Buang-buang waktu belajar kamu! Pantas saja, kamu tidak pintar sampai sekarang," sesal Hanna melipat tangan.
"Tapi, Allana tetap belajar kok, Ma," sanggah Allana berusaha tetap tersenyum bahagia. Padahal hatinya menyimpan banyak luka.
Dimas datang sehabis pulang dari kantor, dia berjalan seraya melonggarkan dasi di lehernya.
Allana menatap Dimas dengan binar penuh harap.
"Papa liat deh, Allana menang lomba menyanyi," Allana memperlihatkan Pialanya. Dimas langsung merebut piala itu dan membantingnya ke lantai.
Allana tercengang. Dia hanya menunduk pasrah memandang Pialanya yang pecah berhamburan di lantai.
"Apa-apaan ini! Saya menyekolahkan kamu agar pandai dalam bidang akademik bukan menyanyi!" gertak Dimas lantang menganggetkan Allana yang membuat Allana mati-matian menahan rasa sakit di hatinya.
"Asal kamu tau Allana! membesarkan kamu ini pakai uang, sekolah juga pakai uang hargai kerja keras saya!" seru Dimas.
"Allana cuma mengembangkan bakat Allana, Pa," balas Allana membela diri.
"Omong kosong! Cepat masuk kamar dan belajar! Apa kamu gak malu sama Rama? Dia cerdas dan tekun, tidak seperti kamu!" kata Dimas. Lagi dan lagi selalu ada perbandingan antara Allana dan Rama. Sampai kapan Allana harus bertahan dalam kondisi begini. Dia lelah selalu dituntut agar bisa sepadan dengan Rama. Allana memang tidak sepandai Rama tapi Allana berbakat dalam bidang tarik suara.
Sebelum Allana pergi menuju kamar, dia terlebih dahulu mengumpulkan puing-puing piala yang hancur bertebaran. Saat Allana akan mengambil bagian yang berada di depan sepatu Dimas. Ayahnya itu malah dengan sengaja menendangnya jauh hingga membentur meja dan terpecah lagi menjadi dua bagian.
Hati Allana teriris, kala melihat bagaimana usahanya tak pernah dihargai. Usahanya selalu sia-sia di mata kedua orang tuanya.
"Dengar Allana, saya tidak mau kamu ikutan lomba seperti itu! Tidak berguna!" gertak Dimas.
"Gak semua Prestasi itu harus dari Pelajaran, Pa. Allana punya bakat dalam bidang itu dan Allana buktikan kalau Allana cukup bisa menguasai. Apa itu salah?" tanya Allana kefua kelopak matanya memanas Allana memeluk puing-puing Piala itu erat.
Kemarahan Dimas semakin menjadi. "Bantah terus kamu?! Saya tegaskan! Apapun yang tidak berkaitan dengan Akademik itu Salah! Cepat masuk kamar dan belajar!" perintah Dimas sama sekali memikirkan perasaan Allana yang hancur.
Allana menundukan kepala saat mengingat peristiwa itu.
Reflek jemari Devan menyeka air mata Allana. "Mereka gak pantas disebut orang tua Al!" geram Devan.
Setelah mendengar cerita dari Allana, Devan mengerti betapa Allana sangat tersiksa baik secara batin maupun mentalnya, pasti berat, bertahan dalam keluarga yang selalu menuntutnya. Keluarga yang seharusnya menjadi tempatnya berbagi suka duka malah memberi luka yang tak terkira.
"Maaf Al, karena aku, kamu jadi membuka luka lama kamu," sesal Devan.
"Gak pa-pa, mungkin udah jalannya Van," jawab Allana tetap tegar. Bagaimanapun juga peristiwa itu merupakan bagian dari perjalanan hidupnya.
"Kamu habis dari mana Van? Kok kamu bisa nolong aku?" tanya Allana ingin tahu.
"Ta-tadi aku habis pulang dari rumah temen. Kebetulan deket di area itu dan aku dengar suara orang teriak minta tolong. Terus aku pastiin ternyata orang itu kamu," alibi Devan. Dia tidak tahu pasti kronologinya, sebab Elenio sama sekali tak berkata apapun.
Allana merasa ada yang disembunyikan dari Devan. Sebab, Devan seperti tidak yakin dengan ucapannya.
Devan segera menetralkan cara bicara dan suaranya. "Kamu jangan keluar sendiri malam-malam Al. Kalau kamu memang ingin ke suatu tempat, kamu bisa telfon aku. Biar aku yang jaga kamu," tawar Devan agar keselamatan Allana terjamin.
"Makasih atas tawaran kamu Van. Aku pikir udah gak ada lagi orang yang berteman sama aku lagi setelah kejadian itu. Tapi ternyata aku salah, kamu sama Tania selalu ada buat aku," ujar Allana tulus. Dia senang karena masih dikelilingi oleh orang-orang baik.
"Sebagai teman, aku sama Tania akan selalu berusaha ada di sisi kamu Al, jangan pernah merasa sendiri lagi," kata Devan sebagai bentuk rasa persahabatannya.
"Kamu bisa berbagi cerita sama kami, jangan dipendam sendiri," ujar Devan membuat Allana mengangguk patuh.
Allana menatap Devan dengan sorot mata berkaca-kaca."Makasih Van."
"Sama-sama. Aku pamit pulang Al, kamu harus segera tidur, udah malem," peringat Devan.
"Iya, kamu hati-hati, Van." Allana mengantar Devan sampai pintu depan. Saat Allana memperhatikan mobil yang ditumpangi Devan. Rasanya itu tidak asing di matanya.
"Bukannya itu mobilnya El?" gumam Allana.
"Kok bisa ada sama Devan?" Allana kembali bertanya-tanya.
"Iya, itu mobilnya Den El," sahut Bi Ratih membuat Allana menoleh.
"Oh iya, Bibi, baru ingat," kata Bi Ratih.
"Bibi ingat apa?" tanya Allana menatap penuh ke arah Bi Ratih.
"Tadi, Den El, telfon ke Bibi tanyain Non Allana sudah pulang apa belum," terang Bi Ratih.
"El nanya itu ke Bibi," ucap Allana setengah tidak percaya.
"Iya, Non." ucap Bi Ratih mengiyakan.
'Apa mungkin El yang udah nolong aku?' batin Allana.
***
Elenio memarkirkan motornya di halaman depan rumah. Kebetulan
Devinka dan Bagas juga baru datang. Devinka yang sudah menutup pintu mobil berjalan mendekati Elenio.
"Acaranya udah selesai, Ma?" tanya Elenio.
"Belum, cuma, Mama pengen cepet pulang. Gak tahan sama sikap Dimas dan Hanna yang melupakan Allana, mereka sama sekali tidak mencerminkan sebagai sosok orang tua yang baik," papar Devinka merasa miris.
"Papa masuk duluan mau istirahat," ujar Bagas berjalan melewati Elenio dan Devinka yang masih berdiri di depan pintu.
"Iya, Mas," balas Devinka.
"Allana aman kan? Dia pulang ke rumah dengan selamat kan El?" tanya Devinka membuat Elenio mengangguk.
"Kamu pulang pakai motor siapa El?" tanya Devinka menatap motor besar berwarna merah, yang dia yakini bukan milik Elenio. Pasalnya seingat Devinka tadi, Elenio pergi mengendarai mobil.
"Punya Devan," jawab Elenio biasa saja.
"Memangnya mobil kamu kenapa?" tanya Devinka.
"Mogok," sahut Elenio.
"Oh iya, Mama baru ingat" Devinka menepuk jidatnya. "Ada yang mau Mama tanyain ke kamu," lanjutnya.
Elenio mengangkat sebelah alisnya sebagai respon. "Apa?"
"Jadi, beberapa hari lalu, Mama, lihat ada kue bolu coklat di tempat sampah, itu dari siapa, El?" tanya Devinka dengan pandangan menyelidik.
Elenio gelagapan. "I-itu ... dari teman, Ma," jawab Elenio menelan salivanya kasar.
"Terus kenapa dibuang?"
Elenio mencoba mencari Alasan.
"Itu karena kue-nya udah kadaluarsa," jawabnya enteng.
"Ah masa, Mama gak percaya," tuduh Devinka."Kalau kue-nya kadaluarsa kenapa dikasihin ke kamu?"
Elenio melirik ke arah lain.
"Dia gak cek dulu sebelum beli."
"Kamu bohong El!" seru Devinka membuat Elenio terkejut dia memalingkan wajahnya.
"Mama tau, itu pemberiannya Allana." Elenio bergeming. Tangan Devinka terulur mengusap bahu Elenio.
"Buka hati kamu El. Allana orang baik," tutur Devinka meyakinkan. Elenio mengetatkan rahangnya, seketika wajahnya terlihat menyimpan bara amarah.
"Sedikit aja, kasih ruang hati kamu buat dia. Dengarkan suara hati kamu, jangan terus-menerus mengikuti ego kamu, El," pesan Devinka.
"Dia orang yang tulus gak sepantasnya dia menerima kebencian kamu," ungkap Devinka, teringat kala Allana masih sempat-sempatnya tersenyum dalam kondisi yang memilukan.
"Kamu renungin kata-kata Mama, jangan sampai kamu menyesal." Devinka menepuk dua kali bahu Elenio.