Suara kapur yang bergesekan dengan papan tulis hitam menghasilkan bunyi berdecit yang ngilu. Baskara Gautama, seorang guru honorer yang mengampu pelajaran sejarah meniup debu putih yang menempel di jemarinya, lalu berbalik menghadap kearah murid kelas sebelas Madrasah Aliyah Al-Ikhlas. Ruang kelas itu pengap. Atapnya yang bocor menyisakan noda cokelat besar di langit-langit, mirip peta buta yang suram.
"Jadi, anak-anak," Baskara menjeda kalimatnya, mencoba menelan ludah yang terasa kering. "Strategi gerilya Jenderal Sudirman berhasil karena beliau memanfaatkan momentum. Beliau tahu kapan harus bersembunyi di dalam hutan, dan kapan harus menyerang saat musuh lengah."
Mata Baskara beralih ke bangku baris ketiga. Di sana, seorang murid perempuan bernama Sari sedang menunduk dalam-dalam. Bahunya bergetar pelan. Baskara tahu penyebabnya. Kemarin, kepala sekolah baru saja mengumumkan daftar murid yang belum melunasi uang ujian semester sebesar Rp100 ribu. Jika besok belum lunas, Sari tidak boleh ikut ujian. Bagi sari yang hidup tanpa ayah dan ibunya hanya sebagai tukang loundry, uang seratus ribu adalah fiksi ilmiah yang mustahil digapai dalam semalam.
Kring!
Bel tanda istirahat berbunyi. Murid-murid berhamburan keluar. Baskara merapikan buku teks sejarahnya yang jilidannya sudah lepas. Ia melirik ke bawah, melihat kaki kanannya sendiri. Sepatu pantofel hitamnya sudah jebol di bagian sol depan. Untuk menyiasatinya, Baskara mengikat ujung sepatu itu dengan dua lilitan karet gelang tebal berwarna kuning. Setiap kali melangkah, karet itu bergesek dengan lantai, mengeluarkan bunyi plek, plek, plek yang memalukan.
Baskara berjalan menuju ruang guru, mencoba menulikan telinga dari rasa lapar yang mulai melilit lambungnya. Hari ini adalah tanggal dua puluh lima. Hari yang paling ia tunggu sekaligus ia takuti. Hari gajian.
Di meja administrasi, Pak kepsek yang berbadan subur sedang menghitung tumpukan uang di dalam amplop cokelat. Ketika melihat Baskara mendekat, wajah pria itu langsung berubah masam. Ia menyodorkan sebuah amplop tipis tanpa sepatah kata pun.
"Terima kasih, Pak," ucap Baskara sopan.
Baskara duduk di mejanya di sudut ruangan, membuka amplop itu dengan tangan sedikit gemetar. Di dalamnya ada empat lembar uang seratus ribu rupiah total Rp. 400 ribu . Itulah harga keringatnya selama sebulan penuh mengajar sejarah dari pagi hingga sore. Honornya bulan ini dipotong Rp100 ribu karena ia sempat izin dua hari saat terserang demam berdarah bulan lalu. Tidak ada asuransi, tidak ada tunjangan.
Baskara memejamkan mata. Otaknya langsung berhitung dengan cepat. Bayar kontrakan kamar petak Rp250 ribu. Sisa Rp150 ribu untuk makan sebulan dan bensin motor bebeknya yang akinya sudah mati. Mustahil. Ia bahkan tidak punya sisa uang untuk membantu membelikan Sari kartu ujian.
"Baskara," sebuah suara ketus memecah lamunannya. Bu Linda, guru senior yang mengajar matematika, menatapnya dengan pandangan merendahkan dari balik kacamata tebalnya. "Kalau punya uang lebih, belilah sepatu baru. Malu dilihat wali murid, guru kok sepatunya diikat karet gelang seperti bungkus nasi padang."
Beberapa guru lain di ruangan itu tertawa kecil. Baskara hanya tersenyum tipis, menyimpan amplopnya ke dalam saku celana kainnya yang sudah pudar warnanya. Ia sudah mati rasa terhadap hinaan semacam itu.
Sore harinya, hujan deras mengguyur kota. Baskara pulang ke rumah kontrakannya dengan tubuh basah kuyup karena jas hujannya sudah robek di bagian ketiak. Kontrakan petaknya berukuran 3x3 meter, pengap dan hanya berisi satu kasur lipat tipis serta sebuah meja kayu kecil.
Di atas meja itu terletak sebuah laptop jinjing tua merek Axioo keluaran tahun 2010 pemberian seorang alumni yang kasihan melihatnya. Laptop itu lambatnya luar biasa dan baterainya sudah bocor, jadi harus selalu dicolok ke listrik.
Baskara mengganti pakaiannya dengan kaos oblong, lalu duduk di lantai semen yang dingin. Ia menyalakan laptop tersebut. Di layarnya, sebuah grafik berwarna merah dan hijau bergerak naik turun dengan fluktuasi yang liar. Itu adalah aplikasi sekuritas saham.
Enam bulan lalu, Baskara menemukan sebuah buku tabungan saham kuno atas nama almarhum ayahnya di dalam lemari tua milik ibunya di kampung. Ayahnya, seorang pegawai tata usaha sekolah, ternyata pernah membeli beberapa lot saham sebuah bank BUMN raksasa pada tahun 1995 dan melupakannya begitu saja.
Ketika Baskara mengurus dokumen kematian dan mendatangi kantor sekuritas di kota, ia hampir pingsan. Saham yang dulunya hanya bernilai ratusan ribu rupiah, kini telah mengalami stock split berkali-kali dan mengakumulasi dividen yang tidak pernah diambil selama hampir tiga dekade. Nilai total portofolio peninggalan ayahnya beserta akumulasi dividennya kini menyentuh angka fantastis: Rp500 juta.
Bagi orang awam, uang setengah miliar rupiah adalah tiket untuk segera keluar dari kemiskinan—membeli rumah baru, motor baru, atau pakaian mewah. Namun, Baskara tahu hukum pasar. Jika ia mencairkan uang itu sekarang untuk konsumsi, ia hanya akan memperpanjang napas kemiskinannya untuk beberapa tahun ke depan. Uang Rp500 juta ini bukanlah uang belanja, melainkan amunisi perang. Ia membiarkan seluruh dana tersebut tetap mengendap kokoh di dalam Rekening Dana Nasabah (RDN).
"Strategi Sudirman," bisik Baskara pada diri sendiri, menatap grafik saham sebuah perusahaan sektor konsumsi lapis dua (second-liner) yang harganya sedang hancur-hancuran ke level terendah dalam lima tahun akibat sentimen berita buruk yang dilebih-lebihkan media.
Baskara tahu, secara fundamental, perusahaan ini memproduksi barang kebutuhan pokok yang dikonsumsi oleh seluruh rakyat Indonesia setiap hari. Utangnya rendah, manajemennya bersih, dan produknya tidak akan pernah mati. Pasar sedang panik secara tidak rasional, dan para investor institusi sedang melakukan aksi jual massal (panic selling).
"Ini saatnya masuk ke dalam hutan," gumam Baskara. Jemarinya yang kasar karena debu kapur bergerak di atas touchpad laptop.
Dengan modal Rp500 juta di tangannya, ia tidak lagi sekadar menjadi remah-remah di pasar saham. Ia memiliki kekuatan modal yang cukup untuk melakukan akumulasi besar-besaran di harga bawah. Ia membeli di saat semua orang takut. Ia menginvestasikan seluruh harapan hidupnya pada angka-angka digital itu.
Tiba-tiba, ponsel jadulnya bergetar di atas lantai. Sebuah pesan w******p masuk dari nomor Sari, muridnya.
“Pak Baskara, maaf mengganggu malam-malam. Terima kasih sudah mengajar Sari selama ini. Besok Sari tidak masuk sekolah lagi karena mau bantu Ibu cuci baju di laundry. Bapak jangan cari Sari lagi ya, Pak.”
Baskara terpaku menatap layar ponselnya. Dadanya terasa sesak seolah dihantam benda tumpul. Rasa lapar di perutnya mendadak hilang, digantikan oleh rasa amarah dan ketidakberdayaan yang membakar batinnya. Dunia ini begitu kejam pada orang miskin, dan sistem pendidikan tempatnya mengabdi justru ikut menendang anak-anak yang tidak berdaya.
Ia melirik kembali ke layar laptopnya. Transaksi pembelian sahamnya baru saja berstatus Match (berhasil dibeli). Ribuan lot saham kini tercatat atas namanya tepat di harga dasar.
Baskara mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapannya menembus jendela kontrakan yang buram oleh air hujan.
"Tunggu Bapak, Sari. Tunggu Bapak," bisik Baskara lirih, air matanya menetes tanpa bisa ditahan, jatuh tepat di atas sepatu pantofelnya yang masih terikat karet gelang di dekat pintu.
Di atas meja, grafik saham yang baru saja ia beli menggunakan modal setengah miliar tersebut tiba-tiba memunculkan sebaris lilin hijau kecil (bullish candle). Dari sanalah, perlawanan sang guru ritel dari ruang kelas yang miskin, baru saja dimulai.