Aku rapatkan jas almamater kampusku karena merasa kedinginan, aku berteduh di bawah gapura pintu masuk sekolah.
Sebagian jilbabku pun terasa basah terkena air hujan yang tertiup angin ke arahku.
Terlihat beberapa siswa masih berada di dalam sekolah karena terjebak hujan sama denganku.
Tiiin tiiiin.
Mobil berwarna putih keluar dari gerbang sekolah, aku segera minggir karena takut tertabrak.
"Bu Salsa, ayo bareng saya," kata Razki sambil membuka kaca mobilnya.
"Enggak usah Razki, Ibu mau nunggu angkot, makasih yaa, " jawabku dengan tersenyum, walau masih sebal.
"Gak pa-pa Bu, anggap saja aku menebus kesalahanku," katanya sambil ketawa kecil.
"Gak usah, sudah Ibu maafkan."
Bagaimana mungkin aku nebeng seorang murid.
"Ayolah Bu, lagian ini hujannya deres banget, berangin lagi, Bu Salsa udah basah begitu, nanti sakit loh."
Sok perhatian banget anak ini.
Tapi benar juga, aku sudah kedinginan, bagaimana kalau aku sakit, hujannya juga gak tahu sampe kapan.
Aku dikost sendirian, jauh dari saudara dan orang tua, aku gak mau ngrepotin teman-temanku kalau aku sakit.
Akhirnya terpaksa aku memutuskan untuk menerima tawarannya.
Razki turun dari mobil membukakan pintu depan samping kemudi.
"Silakan Bu Salsa," katanya sambil tersenyum.
Ya ampun anak ini sepertinya playboy.
"Makasih ya."
"Maaf Bu sabuk pengamannya, apa mau ku bantu?"
"Oh iya, gak usah, Aku bisa sendiri," katanya yang sudah duduk di kursi kemudi.
"Bu Salsa rumahnya sebelah mana?"
"Ibu ngekost di jalan mawar gang 2, nanti berhenti depan gang aja."
"Kamu kok baru pulang? Ngapain aja di sekolah?"
Aku penasaran.
"Aku tadi ngawasin anak OSIS Bu, mau ada kegiatan besar."
Ooh, rajin juga nih anak.
Mobilnya terus melaju pelan karena hujan deras dan angin kencang, jarak pandang jadi pendek.
Aku hanya terdiam kedinginan, almamaterku yang basah kehujanan tadi membuat badanku semakin terasa dingin.
"Apa Bu Salsa kedinginan?" tanya Razki sambil menepikan mobilnya di dekat pohon besar di pinggir jalan raya.
Dia seperti mengerti perasaanku.
"Kenapa berhenti?"
Pikiranku sudah kemana-mana, apa yang akan anak ini lakukan.
Dia melepaskan sabuk pengamannya kemudian memalingkan badannya ke belakang seperti akan mengambil sesuatu dari kursi bagian belakang.
Diambilnya jaket berwarna cream dari dalam tasnya kemudian diberikan padaku.
"Ini Bu pakai jaket saya. Jasnya Bu Salsa sepertinya basah nanti sakit kalau tidak segera di lepas," katanya sambil menyodorkan jaket di tangannya.
"Gak usah Raz, ini juga mau sampe kos."
Brukkkkkk ... Brukkkkk ...
Tiba-tiba pohon besar tepat di depan mobil Razki ambruk menimbulkan suara yang keras.
Sontak aku dan Razki kaget.
"Astaghfirullah." Kataku sambil mengelus d**a, Allah masih menyelamatkanku.
Untungnya pohon besar itu hanya mengenai sedikit bagian depan mobil Razki.
Razki langsung memundurkan mobilnya, pohon itu menutupi jalan yang akan kami lewati.
Kami akhirnya terjebak tidak bisa maju atau mundur terlalu banyak.
Aku tahu mau putar balik pasti tidak bisa, banyak mobil antri di belakang kami, jadi harus menunggu polisi datang mengarahkan karena ini adalah jalan searah.
"Bu Salsa pakailah cepat jaketnya, sepertinya kita akan lama di sini."
Akhirnya aku menuruti permintaan Razki karena akupun sudah sedikit menggigil kedinginan.
"Ada kresek putih di laci depan Bu Salsa, bisa buat wadah jas yang basah. Mau aku ambilkan?"
"Eh gak usah, biar aku ambil sendiri."
Ku buka laci yang tepat di depanku, terdapat kresek yang isinya belanjaan dari salah satu supermarket terlihat dari label pada kantong kresek itu.
"Ini isinya gimana?"
"Taruh di laci aja Bu. Coklatnya boleh buat Bu Salsa."
Ku keluarkan isi tas kresek itu berupa alat cukur jenggot, rollon pria, cream rambut pria, parfum, handsanitizer, coklat silverq**n dan yang membuat mataku melotot adalah pembalut, lipstick, dan beberapa skincare dengan merk seperti yang ku punya.
"Jangan salah Bu, itu belanjaan Mamaku kemarin. Hehehe."
"Ooh kirain punya cewek kamu."
"Cewek? Pacar maksudnya? Aku gak punyalah Bu."
Aku tak menanggapinya karena aku tak peduli.
"Itu coklatnya buat Bu Salsa kalo mau."
"Gak usah."
Setelah isi kantong kresek itu habis, kumasukkan jas almamater kesayanganku kedalamnya.
"Halo, ada pohon tumbang di jalan anggrek dekat pujasera, aku kejebak, cepetan kesini."
Kata Razki yang menelpon seseorang entah siapa.
"Kamu telpon siapa?"
"Ada deh Bu," jawabnya sambil mengukir senyum menyebalkannya.
Iiih anak ini nyebelin juga.
Aku hanya manyun setelah mendengar jawabannya itu.
"Bu Salsa ayo ikut aku."
Tiba-tiba Razki keluar dari mobilnya sambil membentangkan payung, kemudian dia berlari membukakanku pintu.
"Cepetan Bu, nanti airnya masuk ke mobilku."
Enak aja nyuruh-nyuruh orang, lupa apa kalau aku ini gurunya, gak ada sungkan-sungkannya dikit kek.
Terpaksa aku menuruti kemauan anak itu.
Dia memayungiku dan mengajak menuju ke seberang jalan tepat di depan pujasera, sedangkan mobilnya dibiarkan begitu saja di dekat pohon tumbang itu.
Kami hanya memakai satu payung, sebagian seragamnya jadi basah karena payungnya sebenarnya ukuran single.
"Mau ngapain ke pujasera?"
"Aku lapar Bu, aku gak mau Bu Salsa sendiri di mobil."
"Terus kenapa tadi gak bilang aja kalau mau makan?"
"Aku gak mau Bu Salsa menolak ajakanku."
"Terus kamu langsung maksa Ibu aja gitu?"
"Iya Bu, hehe. Maaf ya Bu."
"Jangan sampai jadi kebiasaan."
"Ayok Bu."
Dia mengajakku duduk di sebuah tempat makan mie ayam.
Suasananya lumayan rame saat itu, banyak yang sedang berteduh dari hujan.
"Apa Bu Salsa doyan mie ayam?"
Perutku saat ini memang terasa lapar, tetapi aku teringat uang cash ku saat ini sedang menipis, apa lagi aku berencana membeli kertas HVS dan tinta printer setelah pulang dari sini, belum lagi bayar servis motorku yang mogok tadi.
Kini ku urungkan untuk memesan makanan.
"Ibu lagi gak lapar Raz."
Tiba-tiba perutku tanpa dikomando malah berbunyi.
Krucuk-krucuk.
Membuatku tersipu malu.
Aku baru ingat tadi di sekolah cuma makan bakso, itu pun gak aku habiskan.
"Ah Bu Salsa bohong ya, gak usah khawatir, aku yang bayar."
Razki seakan tahu kalau uang ku sedang nipis.
"Gak perlu Razki, aku bisa bayar sendiri."
Gengsi dong Bu Guru makan dibayari murid.
"Ya udah mau pesan yang mana Bu?"
Aku memesan mie ayam original, ku lihat itu varian yang paling murah.
Aku tak memesan minuman karena aku bawa air mineral dan juga sekali lagi untuk menghemat pengeluaranku.
Maklum ayah ibuku hanyalah seorang PNS guru, adik ku ada tiga dan ketiganya laki-laki, sekarang yang satu SD, yang dua SMP.
Aku sebagai anak sulung merasa bertanggung jawab pada adik-adikku, tak mau merepotkan kedua orang tuaku.
Kedua orang tuaku hanya membiayai kuliahku tiap semester, sedangkan biaya hidupku aku tanggung sendiri, termasuk biaya beli buku, keperluan tugas kuliah, biaya kost, dan printilan-printilan lain yang lumayan banyak bagiku.
Itu semua adalah kemauanku, walau begitu ayah ibuku masih sering kirim uang ke rekeningku tiap bulan walau jumlahnya hanya cukup untuk bayar kost ku tiap bulan.
Uang itu hanya aku tabung, tanpa aku gunakan, siapa tahu bisa untuk keperluan mendesak.
Untuk memenuhi kebutuhanku di tempat rantauan ini, sejak semester pertama aku join suatu bimbel untuk menjadi tutor les privat siswa-siswa SD sampai SMA dengan datang ke rumah siswa pada sore sepulang kuliah sampai malam hari.
Selain menjadi guru les, aku juga mengikuti berbagai kegiatan kepenulisan pada suatu situs, aku rutin mengirimkan tulisan dengan sejumlah targetnya dan aku mendapatkan bayaran tiap bulannya.
Akupun juga melamar menjadi asisten dosen dan akhirnya ketrima.
Alhamdulillah penghasilanku dari berbagai pekerjaanku itu bisa memenuhi kebututuhan hidupku selama di tempat perantauan ini.
Saat awal semester enam, kebutuhan semakin meningkat karena harus banyak print handout untuk keperluan mengajar saat PPL dan apalagi aku harus menabung untuk keperluan penelitian skripsi usai PPL ku selesai.
Target lulus 3,5 tahun akan berusaha ku raih salah satunya untuk menghemat pengeluaran.
Semakin cepat lulus, semakin cepat aku mendapat pekerjaan yang lebih bagus dan ayah tak perlu kirim uang semester lagi pikirku.
Akhirnya makanan pesanan kami pun datang, Razki memesan mie ayam telur puyuh dan coklat panas.
'Hemm coklat panas, baunya sungguh menggoda,' batinku.
Tak sadar lidahku mengulum bibirku melihat Razki menyeruput minuman yang telah lama tak ku beli itu.
Tiba-tiba Razki memanggil pelayan kemudian menunjuk salah satu menu yang ada pada buku menu di meja, "Mbak pesan ini satu."
Aku menikmati mie ayam originalku yang masih hangat, terasa sempurna dimakan waktu hujan deras begini.
Tak lama kemudian pelayan datang membawa coklat hangat.
"Bu Salsa, ini buat Ibu," kata Razki sambil menyodorkan coklat panas yang baru datang.
"Hemm Apa?" kataku sambil mengunyah mie ayam.
'Apa anak ini bisa membaca pikiranku?' batinku.
"Buat Ibu? Kenapa?"
"Gak pa pa, anggap aja rejeki Bu."
"Oya ... makasih banyak Razki," kataku dengan sumringah.
'Akhirnya Ya Allah, sudah lama aku tak membeli coklat panas karena mau berhemat, terakhir ku ingat membelinya saat semester lalu. Huhuhu aku terharu pengen nangis. Rasanya pengen ku peluk coklat panas ini, kangeeeeen.'
Aku bermonolog sambil senyum-senyum sendiri.
"Apa Bu Salsa sehat?" tanya Razki yang melihatku tersenyum sendiri seperti orang gila.