"Ini kenapa ya motor gue oleng?"
Andin turun dan memeriksa keadaan motornya.
"Sial, pake kempes lagi!" umpat Andin.
Karena hari masih pagi, tukang tambal ban belum ada yang buka. Akhirnya Andin mendorong motornya hingga sampai ke sekolah.
Sesampai di sekolah Andin memakirkan motornya. Setelah dia melapor ke Guru piket, Andin di minta menyapu bagian depan kantor sekolah.
Setelah ia menyelesaikan masa hukumannya. Andin langsung berlari ke dalam kelas, dengan keringat yang membasahi tubuhnya.
Tok! Tok!
Saat pertama ia mulai mengetuk pintu, Andin di sambut oleh seorang Guru tampan. Yang mana guru itu mengajar mata pelajaran pertama hari ini.
Pak guru terpana melihat ke arah Andin. Sedangkan Andin mengatur nafasnya yang terengah-engah.
"Ada apa?" tanya Pak Guru.
"Sa--saya mau masuk kelas, Pak?" jawab Andin.
"Kamu masuk sekolah jam berapa?" tanya Pak Guru lagi.
"Masuk jam tujuh tiga puluh, Pak," balas Andin.
"Kamu tahu ini sudah jam berapa?" tanya Pak Guru lagi.
"Jam delapan, Pak!" Kata Andin dengan terengah-engah sambil menghapus keringat di dahinya.
Guru yang tengah mengajar di kelas Andin bernama Aarav. Ia baru saja lulus CPNS yang di tempatkan di sekolah tempat Andin menimba ilmu.
"Kamu sudah telat tiga puluh menit, jadi kamu saya hukum dengan mengerjakan tugas." Ujar Pak Aarav sambil mempersilakan Andin masuk.
"Ba-baik Pak!" Jawab Andin gugup.
"Ya sudah, silakan masuk! Besok kamu tidak boleh telat lagi ya," pesan Pak Aarav.
Andin berlalu duduk di kursinya, ia tengah mengeluarkan tisu dari dalam tas untuk menghapus keringat yang terus saja bercucuran di dahinya.
"Eh Din, loe tumben telat. Ada apa?" tanya teman Andin bernama Rina.
"Iya nich, ban motor gue kempes. Sialnya lagi tukang tambal belum ada yang buka. Apes banget gua hari ini," keluh Andin.
"Ouh, kasihan banget kamu," kata Rina.
Ting!
Pak Aarav melempar Andin dengan bonkahan kertas yang baru saja dia remukan. Andin dan Rina pun terkejut danelihat ke arah orang yang melempar mereka.
Dengan sorot mata tajam sambil melipat tangan di d**a. Pak Aarav menyoroti ke arah Andin.
"Kamu sudah telah pake ngerumpi segala!" Seru Pak Aarav dengan nada datar.
Semua mata para siswa tertuju ke arah Andin dan Rina. "Ma--maaf Pak!" Jawab Andin kikuk.
Andin mengambil bongkahan kertas itu dengan rasa malu. Ia buru-buru memasukan kertas itu ke dalam laci meja meja belajarnya.
"Kamu buang itu ke tempat sampah," ucap Pak Aara.
"Ee ii-ya Pak, maaf." Kata Andin yang langsung mengambil dan membuangnya ke tempat sampah.
Jam pelajaran pun usai, Andin pulang dan kembali mendorong motornya. Ia mengantarkan motornya ke tempat tambal ban yang tidak jauh dari sekolah.
Sesampai di rumah Andin terlihat lesu, melihat anaknya yang kelehan. Mama Andin bertanya pada anaknya. "Kenapa kamu lesu sekali?"
"Iya Ma, saat pergi ke sekolah ban motor aku kempes. Mana tambal ban belum buka lagi. Lebih kesal lagi sampai di sekolah di hukum Guru. Mana Gurunya nyebelin lagi!" Gerutu Andin meluapkan keluh kelasnya pada Mamanya.
"Ya sudah, kamu mandi dulu. Habis itu kamu makan, Mama habis masakin makanan kesukaanmu," Ujar Mama.
Dengan langkah lesu Andin berjalan menuju ke kamarnya. Setelah selesai mandi Andin berlalu makan dan mengerjakan tugas-tugas sekolahnya.
*******
Seminggu sudah Pak Aarav mengajar di sekolah Andin, hari ini ia kembali mengajar di kelas dua belas. Lagi-lagi Andin telat saat jam pelajarannya.
"Itu teman kamu siapa namanya? Kenapa dia tidak ada?" Tanya Pak Aarav pada Rina sambil menunjuk kursi kosong di sebelahnya.
"Belum datang, Pak!" Jawab Rina.
"Oke, keluarkan tugas yang saya berikan Minggu lalu." Ucap Pak Aarav.
Semua para siswa mengeluarkan buku tugasnya. Tidak lama kemudian Andin datang dengan tergesa-gesa.
Tok! Tok!
Andin masuk dengan senyum menyeringai. "Maaf Pak, saya telat lagi." Ucap Andin.
"Kenapa lagi kamu terlambat?" tanyanya.
"Tadi motor saya kehabisan bensin, jadi saya ngisi dulu di pompa bensin. Tahunya pas giliran saya isi, malah lampu mati. Jadi tunggu dulu hingga bisa, Pak!" Jelas Andin.
"Ini kedua kalinya kamu telat jam mata pelajaran saya. Kalau kamu telat lagi besok, akan saya kasih hukuman lagi!" Ancam Pak Aarav.
"Baik Pak, bolehkah saya masuk?"
"Silakan, dan keluarkan tugas Minggu lalu yang saya kasih." Pesan Guru tampan itu.
"Oke Pak," balas Andin.
Andin kegirangan karena tidak mendapat hukuman lagi dari Pak Guru. Ia berlalu duduk dan mengambil buku tugas dari dalam tasnya.
"Mampus gue!" Umpat Andin.
"Loe kenapa lagi sih, Din!" tanya Rina.
"Buku tugas gue ketinggalan, Rin. Gawat nih, pasti Bapak killer itu marah lagi!" Bisik Andin pada Rina.
"Kamu sengaja ya bikin Pak Aarav kesal? Atau kamu mau jadi pusat perhatian dia? Soalnya enggak biasanya kamu begini," ucap Rina.
"Idiiihh, enggak lah! Ngapain juga aku cari perhatian Bapak galak itu!" Bantah Andin.
"Andin!" Panggil Pak Aarav.
"Ii-iya Pak," jawab Andin.
"Mana tugasmu? Tinggal kamu sendiri yang belum mengumpulkan tugas," ujar Pak Aarav.
Sejenak Andin terdiam, entah alasan apa yang akan dia berikan pada Gurunya. Jantungnya mulai berdegup kencang karena akan menerima hukuman dari Pak Aarav.
"Maaf Pak, tugasnya ketinggalan." Jawab Andin gelisah.
"Ketinggalan, apa enggak kamu kerjakan sama sekali ?"
"Saya kerjakan kok, Pak."
"Oke kalau begitu, kamu kerjakan di papan tulis,"
Andin melirik teman-temannya yang melihat ke arahnya. Lagi-lagi dia menjadi pusat perhatian teman satu kelas.
"Itu Andin kenapa ya? Biasanya dia disiplin banget, enggak biasanya dia bertingkah seperti sekarang!" Bisik teman-temannya.
"Iya ya, apa mungkin dia sengaja bikin Pak Aarav kesal kali ya?" Balas yang lainnya.
"Harap diam semuanya, silakan Andin kamu kerjakan soalnya dari nomor satu hingga sepuluh." Pinta Pak Guru sambil memberikan spidol pada Andin.
Andinpun mengerjakan perintah dari Gurunya hingga selesai. Dan setelah selesai malah Pak Aarav terpelongo melihat jawaban yang di tulis Andin.
"Sudah selesai, Pak!"
"Kamu silakan kembali duduk,"
Andin pun kembali duduk di kursinya sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang kecapekan.
"Oke untuk tugas Andin semuanya benar, lain kali kamu jangan sampai kelupaan lagi." Pesan Pak Aarav pada Andin.
"Iya Pak,"
******
Saat di dalam kantor Pak Aarav bercerita tentang Andin pada Guru-guru. Ia bertanya seperti apa karakter Andin.
"Buk, itu siswa kelas dua belas yang bernama Andin biasa telat ya masuknya?" tanya Pak Aarav pada Novi.
"Ouh, Andin ya Pak. Dia anak yang pintar dan juga disiplin, ia juga enggak banyak tingkah." Puji Buk Novi.
Pak Aarav dibuat bingung oleh pernyataan Buk Novi. Karena apa yang dikatakan Buk Novi bertolak belakang dengan yang dialami.
"Emang kenapa Pak dengan Andin?" sambung Buk Novi lagi.
"Andin terlambat saat mata pelajaran saya. Tadi dia juga terlambat, sepertinya Andin tidak disiplin."
"Hah, masa iya Pak!" Kata Buk Novi terkejut.
******
Di dalam kelas semua teman-teman Andin bertanya padanya. Kenapa dia selalu telat saat jam mata pelajaran Pak Aarav?
Namun saat mereka sedang asyik berbicara, tiba-tiba anak kelas sebelas menganggil Andin.
"Kak Andin," panggilnya.
"Iya Dek, ada apa?"
"Kakak dipanggil Pak Guru ganteng tuh!" Katanya.
Andin mengerutkan dahinya, dia tidak mengetahui siapa Pak Guru yang dimaksud adik kelasnya. " Pak Guru Ganteng siapa?" tanya Andin.
"Itu lho kak, yang Guru baru. Siapa ya namanya? Oh iya, Pak Aarav ya." Katanya sambil menggaruk kepala.
"Ih, apalagi sih Guru killer itu. Enggak bosan-bosan dia kasih aku hukuman!" Bathin Andin kesal.
"Ouh, Pak Aarav. Ganteng dari mana dia? Tapi makasih ya atas infonya,"
"Oke Kak,"
Dengan hati kesal Andin mengunjungi kantor Guru, ia menjadi Pak Aarav di sana. Dan menanyakan ada apa gerangan memanggil dia.
"Ada apa Pak?"
"Besok tolong kamu serahkan buku tugas kamu ya, biar dikasih paraf. Kalau tidak ada buku tugasnya nilai kamu kosong," ujar Pak Aarav.
"Oke baik Pak,"
Dari luar Buk Novi masuk ke dalam kantor, ia mendapati ada Andin yang tengah berbicara dengan P
ak Aarav.
"Andin, benar kamu telat di jam mata pelajaran Pak Aarav?" tanya Buk Novi tiba-tiba.
"Hhmm, iya Buk, maaf." Jawabnya. "Dasar tukang ngadu!" umpat Andin melirik Pak Aarav.
*******