"Pagi, Assalamualaikum Gus.”
Raffa menoleh pada ustadzah Rena yang menyapa nya. “Waalaikumsalam.”
“Gus mau ngajar?” tanya Rena dengan nada yang di buat selembut mungkin membuat Zahra geram.
Raffa tak menjawab laki laki itu hanya mengangguk lalu menggenggam tangan sang istri dia tau Zahra sedangkan cemburu.
“Saya permisi karena istri saya ada kelas assalamualaikum.”
Rena menatap kepergian Raffa dan Zahra dengan sorot mata yang tidak bisa di baca. “Waalaikumsalam.”
Zahra mengelus dadanya ketika sudah mulai menjauh dari Rena entah kenapa dirinya sangat tidak nyaman dengan Rena apa karena ustadzah itu selalu mencari cari perhatian pada suaminya.
“Jangan marah Humaira, tadi dia Cuma nyapa.”
Zahra menoleh. “Mas tapi aku kurang suka sama dia, dia kaya cari perhatian terus sama kamu.”
Raffa mengangguk dia paham apa yang istrinya rasakan, laki laki itu mengelus kepala istrinya yang terbalut Khimar dan cadar.
“Jangan di pikirin percaya sama Mas.”
Zahra mengangguk lalu mencium tangan Raffa ketika sudah sampai di kelas tempat dirinya mengajar.
“Doain Zahra Mas semoga lancar.”
Raffa mengangguk. “Mas selalu doain kamu.”
Zahra mengangguk lalu pamit untuk masuk kelas begitupun dengan Raffa yang pamit untuk ke ruang guru.
Zahra memasuki kelas dengan percaya diri. “Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam Ning”
Zahra meletakkan buku bukunya lalu menatap santri santri. “Panggil ustadzah aja ya supaya sama sama yang lain kalo saat jam ngajar mengajar.”
Mereka mengangguk. “Iya ustadzah.”
“Karena ustadzah gak tau umi ngajar sampai mana dan ustadzah juga baru gimana kalo kita tanya jawab saja setuju?”
“Boleh ustadzah.”
Zahra tersenyum di balik cadarnya. “Silahkan yang ingin bertanya.”
Tak lama kemudian seorang santriwati dengan kacamata mengacungkan tangannya. “Saya mau bertanya ustadzah.”
“Kenapa?”
“Kenapa Gus Raffa meminang ustadzah Zahra?”
Zahra tersenyum. “Kalian tau apa hukumnya jika lawan jenis menjalin hubungan tanpa adanya kata sah?”
Mereka mengangguk. “Haram ustadzah.”
“Nah kalian saja tau jika lawan jenis menjalin hubungan tanpa adanya kata sah itu hukumnya haram dan termasuk kedalam zina yang tidak Allah sukai, mungkin bagi kalangan remaja itu biasa namun bagi Allah itu tidak, zina juga termasuk kedalam dosa besar dan sudah ada hukum yang di tetapkan Allah bagi pezina.”
“Dalam Qur’an surat Al Isra ayat 32 yang berarti “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah perbuatan yang keji. Dan jalan yang buruk.” “ jelas Zahra.
Mereka mengangguk dan mendengarkan penjelasan Zahra mengenai zina dan surat Al Qur’an yang tercantum menangani zina.
“Jadi, Gus Raffa meminang ustadzah dengan jalur ta’aruf?”
Zahra mengangguk. “Laki laki yang sudah siap lahir batin untuk melengkapi imannya akan melakukan tindakan ke jenjang yang serius, selain menghindari dari zina pernikahan juga menghindari dosa yang kita buat pada lawan jenis.”
Mereka mengangguk paham,lalu Zahra kembali menerangkan mengenai apa yang mereka tanyakan hingga waktu pulang menjelang.
Raffa menghela nafas ketika semua laporan mengenai pesantren telah selesai dia periksa, laki laki dengan sorban yang menutupi wajahnya itu melirik arloji di tangannya sudah waktunya makan siang namun sang istri belum juga datang.
“Assalamualaikum,” salam seseorang.
“Waalaikumsalam.”
Zahra tersenyum di balik cadarnya, lalu meletakkan rantang berisi makan siang untuk suaminya tadi Raffa berpesan agar makan siang di bawa saja ke kantor.
“Baru aja Mas tungguin,” kata Raffa sambil melangkah dan duduk di samping Zahra tidak lupa mengecup kening perempuan itu.
“Kok sepi Mas? Yang lain pada kemana?” tanya Zahra melihat kantor guru sepi, perempuan itu menyiapkan makannya lalu menyodorkannya pada Raffa.
Raffa menerima makanan yang di sodorkan Zahra. “Lagi istirahat mungkin makannya sepi.”
Zahra mengangguk lalu menuangkan air pada gelas dan meletakkannya di meja, Zahra menatap berkas berkas yang menumpuk di meja Raffa kadang perempuan itu selalu berfikir apa tidak pusing hanya menghabiskan waktu untuk menatap tulisan tulisan.
“Udah selesai meriksa berkas nya Mas?” tanya Zahra.
Raffa mengangguk lalu meneguk air yang di siapkan istirnya. “Alhamdulillah, udah.”
Zahra membereskan bekas makan Raffa lalu menyusun kembali, tak lama kemudian tiba tiba terdengar suara salam seseorang.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab Raffa dan Zahra.
“Eh ada Ning Zahra, lagi makan siang Ning?” tanya ustadzah Yuyun.
Zahra mengangguk. “Iya ustadzah.”
“Panggil Mbak aja Ning.” Zahra mengangguk.
“Kang Yusuf mana?” tanya Rehan ketika tidak melihat temannya.
“Sama istrinya lagi pulang buat istirahat kang.”
Rehan mengangguki ucapan Mbak Yuyun, laki laki itu ikut duduk di samping Raffa di ikuti Yuyun dan Rena.
“Gimana sama berkasnya Gus?”
Raffa menatap Mbak Yuyun. “Gak ada masalah Mbak alhamdulillah.”
Mereka menghela nafas. “Alhamdulillah.”
Rena menatap Zahra yang tengah membereskan alat makan bekas Raffa, perempuan itu tidak menyukai Zahra entah kenapa mungkin karena dia sudah menyimpan rasa pada Gus Raffa.
“Mas Raffa nanti sore ada acara kumpulan warga Mas Raffa bisa hadir?” kata Rena membuat Zahra sepontan mendongak.
“Saya izin istri dulu.”
Rena mengangguk walaupun ada rasa tidak suka pada kedua pasangan pengantin baru itu, apalagi mengetahui jika Raffa yang meminang perempuan bernama Zahra.
“Mas Zahra pamit pulang ya, ada yang mau di beresin.” Zahra menyalimi tangan Raffa lalu berpamitan pada mereka.
“Hati hati.” Zahra mengangguk. “Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Zahra meletakkan rantang bekas makan Raffa di wastafel sekalian perempuan itu mencucinya, hari ini adalah hari padat bagi Zahra karena harus double pekerjaan.
Zahra menyekat keringat yang membasahi pelepis nya setelah mencuci piring perempuan itu memilih untuk menyapu halaman ndalem.
“Assalamualaikum Ning Zahra,” sapa wanita paruh baya yang bekerja di bagian dapur.
Zahra menoleh lalu tersenyum pada wanita itu. “Waalaikumsalam Mbak.”
“Padahal biarin aja Ning kan ada petugas kebersihan.” Katanya.
Zahra menggeleng. “Gak papa Mbak, biar Zahra yang juga gak ketergantungan sama orang lain.”
Ibu tersebut mengangguk bersyukur sekali Gus Raffa memiliki seseorang istri seperti Azahra sudah sholehah, baik murah senyum dan menghormati sesama.
“Kalo begitu saya pamit Ning. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Zahra meletakkan sapunya lalu duduk di teras ndalem sambil menatap santri santri yang berlalu lalang tidak menyangka jika dirinya akan menjadi istri seorang Gus pemilik pondok pesantren besar.
“Ya Allah ya Robbi berkahilah pernikahan kami.”
Zahra mengusap wajahnya ketika selesai membaca doa dalam hati, walaupun dia tau menjalin rumah tangga bukan perihal yang mudah pasti selalu saja ada masalah yang menimpa tapi Zahra selalu percaya kepada Allah.
Raffa yang baru saja datang dari kantor mengeryit ketika melihat istrinya yang duduk di teras sambil memandang ke arah santri santri.
“Assalamualaikum Humaira.”
Zahra terlonjak kaget lalu mengelus dadanya. “Waalaikumsalam, Mas suka ngagetin deh.”
Raffa terkekeh lalu duduk di samping Zahra. “Kenapa?”
Zahra menggeleng perempuan itu menyandarkan kepalanya pada d**a bidang suaminya. “Gak nyangka aja Zahra jadi istri seorang Gus pesantren.”
Raffa mengeryit. “Maksudnya?”
“Ya gak nyangka gitu Zahra yang apa adanya jadi istri seorang Gus pesantren yang ganteng nya MasyaAllah.”
Raffa terkekeh lalu mengelus pipi Zahra yang tertutupi cadar. “Jika sudah jodoh mau gimana lagi?”
“Emang ya Mas, rencana Allah lebih baik dari rencana hamba nya.”
Raffa mengangguk. “Banyakin bersyukur Humaira ku.”
"Kamu habis ngapain kok sampai keringetan?" tanya Raffa ketika melihat peluh di pelepis istirnya.
"Beres beres lah ngapain lagi!"
"Kan ada petugas kebersihan, kenapa kamu yang beresin?"
Zahra menegakkan badannya menatap suaminya. "Zahra tau Mas, tapi Zahra gak mau ketergantungan sama mereka, mereka juga pasti cape habis beresin yang lain daripada gak ada kerjaan mending Zahra aja."
Raffa tersenyum inilah yang dia sukai dari Azahra sudah baik dan sangat memiliki jiwa simpati yang tinggi bagi orang lain.
Raffa mengecup kening Zahra membuat Zahra refleksi menutup matanya. "Mas gak salah pilih istri ternyata," bisiknya.