Semenjak permintaan Raffa yang menginginkan bayi laki laki itu semakin manja pada Zahra, seperti saat ini entah sudah berapa kali Zahra menghela nafas karena terus menerus di buntuti oleh Raffa.
“Mas Raffa!” geram Zahra.
Raffa menghentikan langkahnya. “Hm?”
“Mas gak ada kerjaan lain apa? Jangan ngikutin Zahra mulu!”
Raffa menggeleng lalu menerjang badan Zahra membuat perempuan itu memekik karena hampir saja terjungkal.
“Mas Raf!” teriak Zahra, Raffa terkekeh laki laki itu mengecupi seluruh wajah istrinya dengan gemas.
“Gemes banget si, jadi pengen gigit!”
Zahra mendengus perempuan itu duduk di kursi pantry dengan Raffa yang terus mendusel di lehernya, Zahra mengelus rambutnya hitam milik suaminya. “Mas Raffa kenapa?tumben manja banget.”
Raffa lagi lagi hanya menjawab dengan gelengan, laki laki itu menyentuh perut rata Zahra membuat Zahra menahan nafas.
“Mau baby Humairaku,” ujarnya dengan nada merengek membuat Zahra gemas.
“Katanya Gus pesantren, si kulkas kok sama istri mental yupi.”
Raffa tak menggubris ucapan Zahra laki laki itu terus saja mengelus perut Zahra berharap ada darah dagingnya di dalam.
“Gimana mau ada baby nya,orang belum nyoblos,” lirih Raffa dalam hati.
Zahra menatap tangan Raffa yang mengelus perutnya, ada rasa bersalah karena dirinya belum memberikan hak Raffa seutuhnya namun di sisi lain Zahra juga takut.
“Mas Raffa,” cicit Zahra, Raffa mendongak lalu memeluk istrinya dengan sayang.
“Mas gak maksa sayang mas tungguin kamu siap, kita lakuin dengan keikhlasan ya jangan di paksain Cuma karena kamu gak enak sama mas.”
Zahra mengangguk perempuan itu memeluk rahang Raffa yang berada di pundaknya mengelusnya dengan sayang dia beruntung memiliki Raffa di hidupnya.
Ayunda duduk di teras kamarnya di temani Silfi yang sedang membaca buku, perempuan itu sangat gigih untuk memahami agama, ketika sedang menikmati waktu santainya tiba tiba satu perempuan dengan gamis datang memarahi mereka membuat Silfi yang sedang membaca pun terkejut.
“Kalian ngapain malem malem di luar kamar? Gak liat kawasan santriwati sudah sepi! Kenapa masih di luar!” Ayunda menatap perempuan itu dengan sinis.
“Waalaikumsalam, gak punya adab ya Mbak? Setau saya di sini di ajarkan untuk mengucapkan salam sebelum memulai obrolan, kok mbak datang datang langsung marah marah!” sewot Ayunda menatap ustadzah Rena, ya yang datang dan marah marah adalah Rena perempuan itu menatap tajam kearah Ayunda.
“Gak usah sok kamu di sini! Saya lebih dahulu tinggal di sini dan kalian hanya santri baru!”
Silfi meletakkan bukunya lalu berkecak pinggang acara membacanya tergangu akibat ulah ustadzah Rena.
“Afwan ustadzah, setahu saya di sini sopan santun di utamakan bukan umur dan sejak kapan yang di pandang.”
Sedangkan Rena hanya diam, Ayunda menatap sekeliling lalu menghela nafas untung malam ini sepi jadi tidak ada yang melihat keributan antara santri dan ustadzah.
“Kalian anak bau kencur aja udah belagu! Raffa emang seleranya rendah”
Ayunda mengepalkan tangannya ingin sekali perempuan itu menghajar mulut cabe ustadzah yang satu ini, jika bukan di pesantren sudah adu otot dia.
“Maaf ustadzah kami mau masuk dulu, kalo ustadzah mau di sini silahkan sekalian temenin setan pohon mangga itu,” tunjuk Ayunda pada pohon mangga di samping kamarnya, Ayunda menarik tangan Silfi membawanya masuk kedalam kamar percuma meladeni orang seperti ustadzah Rena tidak akan kelar Cuma buang buang waktu.
“Ih kok masuk si! Padahal gue udah gemes banget pengen tuh robek robek bibirnya,” maki Silfi dengan geram.
Ayunda meletakkan buku bacaannya. “Inget kata Zahra, gak boleh dendam biarin aja si lah, gak penting juga ngurusin dia.”
“Bisa bisanya si Raffa naro itu beban di pesantren! Cuma ngerusak pemandangan tau gak si.”
Ayunda terkekeh begitulah jika Silfi geram dengan seseorang perempuan itu akan selalu mengumpat, entah membandingkan atau mencacinya dengan kata kata pedas.
“Udah yuk lah tidur.”
Assalamualaikum warahmatullah
Assalamualaikum warahmatullah
Raffa mengusap wajahnya ketika laki laki itu selesai melaksanakan sholat tahajud, dia sholat sendirian karena Zahra bilang perempuan itu sedang kedatangan tamu atau tanggal merah pantas saja tadi Zahra bersikap ketus dan sedikit sensitif tenyata istrinya sedang datang bulan.
Raffa melipat sajadah dan melepaskan sarungnya laki laki itu meletakkan kopiah nya di meja lalu naik keatas ranjang menyusul istirnya yang sudah terlelap.
Cup
Raffa mengecup kening Zahra merebahkan tubuhnya di samping sang istirnya memeluk badan mungil Zahra dari belakang.
“Selamat malam Humairaku.”
Zahra bangun dari tidurnya ketika Raffa membisikkan selamat malam, sebenarnya perempuan itu sudah bangun ketika Raffa mengucapkan salam di rakaat terakhir.
Zahra tersenyum melihat wajah damai Raffa yang tertidur terkadang dirinya berfikir sebaik itukah dirinya hingga Allah mendatangkan sosok Raffa yang sempurna bagi Zahra dalam hidupnya, Zahra mengelus rahang Raffa yang di tumbuhi bulu bulu perempuan itu terus mengamati setiap inci wajah suaminya mulai dari mata hidung bahkan bibir,eh astagfirullah.
“Udah liatin nya hm?” Zahrah tersentak kala Raffa berujar, laki laki itu membuka matanya menatap wajah istirnya.
“Mas tau mas ganteng, tapi biasa aja dong liatinnya.” Zahra membuang muka kearah lain sungguh benar benar memalukan.
Raffa terkekeh lalu memeluk istrinya merapatkan tubuh Zahra ke dalam pelukannya. “Tidur Humairaku, kagum nya nanti aja pagi.”
“Ih Mas siapa yang liatin lagi! Kepedean,” bantah Zahra.
Raffa mengeryit. “Masa? Terus tadi elus elus apa?”
Zahra diam perempuan itu menunduk menutupi wajah merahnya, emang dasar suaminya ini hobi sekali membuatnya tersipu.
Raffa menarik hidung Zahra gemas. “Gemes banget si, istri sapa sih?”
“Istrinya Muhammad Ali Al-Raffa, ibu dari anak anaknya Raffa!”
Raffa terkekeh lalu memeluk Zahra, menenggelamkan wajahnya di d**a Zahra menutup rona merah di wajahnya. “Baper akutuh yang!”
Zahra terkekeh. “Emang bener juga.”
“Udah diem!” bukannya diam Zahra malah semakin gencar menggoda Raffa membuat Raffa sudah memerah malu.
“Kalo kamu gak diem aku buntingin sekarang juga nih sayang!”
“Iya iya diem.” Zahra terkekeh ketika Raffa mengangguk lucu, gemas satu kata yang menggambarkan Raffa saat ini.
“Selamat malam Umi,” bisik Raffa.
“Selamat malam juga Abi.”
Pagi ini Zahra sudah di repotkan dengan rengekan Raffa yang terus saja memintanya untuk tetap diam di kamar membuat Zahra jengah sendiri.
“Mas mending mandi ke kantor, sekalian aku ada jam ngajar.” Zahra melepaskan pelukan Raffa perempuan itu berjalan menuju meja untuk menyiapkan buku yang akan dia bawa.
Raffa menggeleng. “Gak mau! Kamu di sini aja sama mas!! Jangan keluar.”
Zahra menghela nafas perempuan itu menatap tajam Raffa sambil berkecak pinggang. “Kalo masih kaya gini, jangan harap malem tidur sama Zahra,” ancamnya lalu keluar kamar tidak lupa memakai cadar dan membawa buku yang sudah dia siapakan.
Sedangkan Raffa sudah ketat ketir sendiri dengan cepat dia turun dari kasur untuk bersiap siap pergi ke kantor, jangan sampai dia di amuk Zahra dan berkahir tidur di luar, big no!
“Assalamualaikum Zahra.” Zahra menoleh kearah Ayunda dan Silfi.
“Eh, waalaikumsalam.”
“Mau kemana Zah? Udah rapih aja,” tanya Ayunda ketika melihat penampilan Zahra.
“Mau ngajar Yun.”
“Kamu jadi guru?” tanya Silfi dan di angguki Zahra.
“Hebat banget ya kamu, udah baik cantik pinter lagi,” pujinya menatap kagum sosok Zahra.
Zahra hanya tersenyum. “Alhamdulillah atuh.”
“Yaudah kita pamit dulu ya Zahra mau masak, assalamualaiku,” pamit Ayunda memang sekarang dia bertugas untuk memasak.
“Waalaikumsalam.” Zahra memandangi punggung Silfi dan Ayunda yang mulai menjauh.
Perempuan itu menggeleng lalu melanjutkan langkahnya menuju kelas.
Raffa merenggangkan otot ototnya yang pegal karena dua jam hanya duduk memeriksa laporan pesantren, apalagi di tambah dia kerja sendiri. Kang Yusuf dan Rehan sedang ada kelas, jika di tanya mana kedua teman Raffa? Raffa pun tidak tau mereka kemana, saat sedang asik meregangkan otot tiba tiba suara pintu di ketuk.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab Raffa, Raffa mendongak ternyata ustadzah Rena yang datang dengan tangan yang membawa nampan berisi teh.
“Di minum dulu Mas Raffa,” katanya sambil meletakkan teh yang dia buat di meja kerja Raffa.
Raffa hanya mengangguk lalu kembali fokus pada berkas dan leptopnya tidak menggubris ucapan Rena.
“Mas Raffa?” panggil Rena.
Raffa berdehem sebagai jawaban.
“Kenapa mas milih Zahra sebagai istri?”
Pertanyaan itu sontak membuat Raffa mendongak dengan wajah datar, memang apa salahnya jika dia menjadikan Zahra istri? Jika Allah menentukan Zahra jodohnya apa boleh buat.
“Memang kenapa? Ada masalah, menurut saya tidak karena mungkin Allah yang menjadikan Zahra sebagai jodoh sekaligus pendamping hidup saya,” jelas Raffa membuat Rena diam.
“Tapi mas—,” ucapan Rena terpotong kala Raffa berucap.
“Ustadzah Rena kenapa? Kita harus profesional sebagai pengurus dan pemilik santri di sini! Lagian siapa jodoh saya dan dengan siapa saya menikah bukan urusan ustadzah bukan? Jadi jangan campuri urusan rumah tangga saya apalagi mengatur siapa jodoh saya karena semuanya sudah Allah tentukan dan atur!” tegas Raffa lalu bangun dari duduknya meninggalkan Rena yang mematung.
Raffa menghela nafas kenapa ada saja orang yang mencampuri urusannya apalagi mengaturnya mengenai siapa yang harus dia nikahi, bukannya semua sudah Allah atur umatnya hanya perlu menikmati dan berusaha untuk mendapatkannya.