"Mas tadi santri barunya udah di ajak keliling?” tanya Zahra pada Raffa yang tengah rebahan di kasur.
Raffa mengangguk. “Udah.”
“Namanya siapa mas?”
“Kalo gak salah si, Anna Anindia dia baik, ramah, lemah lembut si,” kata Raffa tidak sadar bahwa apa yang dia ucapkan cukup membuat hati Zahra sesak.
“Alhamdulillah.”
“Sayang,” panggil Raffa.
Zahra menoleh. “Apa?”
“Pernikahan kita udah berapa bulan?”
Zahra nepak berfikir. “Jalan lima bulan.”
Raffa menegakkan badannya menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang. “Boleh Mas minta hak Mas?”
Zahra terdiam, perempuan itu nampak berfikir apakah ini waktunya? Tapi dia masih takut dan ragu jika dirinya hamil rumah tangganya akan goyah, namun apapun itu dia harus percaya pada Allah karena Allah selalu bersama umatnya, karena itu sudah menjadi hak Raffa untuk meminta.
Zahra dengan ragu mengangguk, Raffa tersenyum manis. “Ikhlas Humaira?”
“Insyallah ikhlas, lagian udah hak Mas juga.”
Raffa menyugar rambutnya kebelakang, laki laki itu menarik Zahra kedalam pelukannya.
“Malem ya? Kan sekalian malam ini malam Jum’at, hm?” katanya sambil menaik turunkan alisnya.
Zahra mencubit perut sixpack Raffa, membuat laki laki itu meringis. “Sakit yang!”
“Lagian ngebet banget si!”
“Ya harus dong, karena Mas pengen punya tim sepak bola, pokonya sekali main harus 11 anak.”
Zahra melotot,lalu melepaskan pelukan Raffa. “Emang Mas kira aku induk kucing? Sekali lahiran langsung 11!”
“Ya harus segitu gak mau tau!”
Zahra melemparkan guling kearah Raffa dengan kesal. “Kamu aja yang hamil sono!”
Raffa terkekeh lalu menarik kembali Zahra kepelukannya. “Ututut ngambek nih?”
“Gak.”
“Udah dong masa mau belah duren masa ngambek, nanti gak jadi lagi!”
“Siapa suruh ngeselin, gak jadi mampus.”
“Ya jangan lah sudah cukup berpuasa selama lima bulan”
Zahra mengalungkan tangannya di leher Raffa perempuan itu mendongak menatap wajah tampan suaminya dari bawah.
“Tapi Zahra takut Mas, nanti sakit”
Cup
Raffa mengecup bibir Zahra membuat perempuan itu melotot. “First kiss Zahra itu!!”
Raffa terkekeh. “Alhamdulillah Mas yang ambil.”
“Ngeselin banget si!”
Raffa mengelus bibir mungil istrinya. “Awalnya sakit tapi nanti enggak percaya deh.”
Zahra mengangguk, Zahra meletakkan kepalanya di d**a bidang Raffa, nyaman satu kata yang Zahra rasakan ah rasanya tidak rela jika Raffa sampai meninggalkannya.
“Mas Raffa,” panggil Zahra.
Raffa menunduk. “Hm?”
“Kalo Zahra hamil Mas Raffa bakalan tinggalin Zahra?”
Raffa menangkup pipi istirnya. “Enggak sayang, karena baby nya perlu Abi!”
Zahra terkekeh. “Zahra pegang ucapannya Mas ya, Zahra gak mau mas Cuma janji doang.”
Raffa mengangguk memeluk gemas badan mungil istrinya itu. “Iya iya, gemes banget si!”
“Emang Zahra gemesin.”
“Iya dah gimana kamu.”
Zahra tersenyum lalu kembali menenggelamkan wajahnya di d**a bidang Raffa menghirup rakus bau badan Raffa yang memabukkan, pasutri itu menghabiskan waktu pagi dengan bermanja-manja di kamar.
Ayunda, Silfi dan Anna duduk di pondok tempat mereka bersantai ketiga gadis itu sedang fokus membaca mengenai tata cara berpakaian menurut agama.
“Eh Anna gue mau tanya dong,” kata Silfi pada Anna.
Anna menoleh. “Nanya apa?”
“Kamu udah ketemu Zahra belum?”
Anna menggeleng. “Emang dia siapa?”
“Istrinya Raffa,” kata Ayunda menimpali, Anna mengangguk.
“Cantik gak ya?”
“Cantik, dia perempuan sholehah, pinter agama lagi sempurna dah pokonya.”
“Gus Raffa udah beristri.”
Silfi mengangguk. “Udah, ya itu Zahra namanya.”
“Nanti kita kenalin,” kata Ayunda dan di angguki Anna.
“Kenapa lo milih mondok di sini Na?” tanya Ayunda.
Anna mengetuk ngetuk dagunya. “Papah aku yang masukin sih.”
“Sekarang papah lo kemana? Kok pas kamu datang gue liat lo datang sendirian.”
Anna menunduk. “Papah sakit.”
Ayunda tertegun dia tidak tau,jadi merasa tidak enak. “Maaf ya Na, gue gak tau.”
Anna mengangguk. “Gak papa kok.”
Ayunda tersenyum lalu mereka bertiga melanjutkan acara bacanya dengan khusu sesekali bercanda gurau membahas hal hal random.
Sedangkan di pondok yang tak jauh dari pondok yang di tempati ketiga gadis itu, terdapat dua laki laki yang sedari tadi memperhatikan mereka.
“Santri baru bukan si Bian?” tanya Haris pada Abian yang tengah makan keripik singkong hasil minta dari Mbak Wina.
Abian mengangguk. “Namanya Anna, katanya ceweknya kalem lemah lembut lagi.”
“Kata siapa lo?”
Abian menoleh. “Raffa lah!”
Haris mengangguk lalu kembali fokus memperhatikan mereka namun di batas wajar karena jika terlalu lama akan masuk kedalam zina mata, sedangkan Abian laki laki itu sibuk dengan kripik singkong yang dia minta dari mbak Wina, walaupun laki laki tapi Abian itu tipikal cowok hobi makan namun anehnya badannya tidak pernah gendut, aneh emang.
Selepas sholat magrib berjamaah di masjid Zahra dan Raffa memutuskan untuk berkeliling ke pondok pondok santri, sekalian memantau suasana di sana.
“Kalo habis magrib gini emang suka rame ya Mas?” tanya Zahra ketika menatap sekeliling yang ramai oleh para santri.
Raffa mengangguk. “Iya, mereka udah mulai masuk kamar jam 8 malam.”
“Yang nugas berkeliling siapa mas?”
“Kalo di kamar laki laki ustadz Rehan, kalo perempuan ustadzah Rena.”
Zahra mengangguk lalu melangkah kembali sesekali perempuan itu menyahuti santri santri yang menyapanya.
“Sayang,” panggil Raffa.
“Iya?”
Raffa menunjuk kearah Ayunda dan Silfi yang tengah duduk di teras dengan satu perempuan yang Zahra tidak kenal.
“Satunya siapa mas?” tanya Zahra ketika melihat Anna.
“Santriwati baru, namanya Anna yang tadi mas bilang.”
Zahra mengangguk perempuan itu memperhatikan sosok Anna dari jauh yang tengah bercengkrama dengan silfi dan Ayunda, Zahra tersenyum ketika melihat Anna yang mudah berbaur dengan santri lain begitu cepat, sepertinya yang di katakan Raffa benar jika Anna adalah gadis ramah karena bisa Zahra liat jika gadis itu mudah bergaul dengan orang baru.
“Samperin?” tanya Raffa di angguki Zahra, Zahra dan Raffa menghampiri ketiga gadis yang tengah membaca buku itu.
“Assalamualaikum,” salah Zahra, Ayunda, Silfi dan Anna mendongak menatap seseorang yang mengucapkan salam.
“Waalaikumsalam, Zahra,Gus.”
Zahra tersenyum lalu duduk di samping Ayunda sedangkan Raffa berdiri di belakang Zahra, sambil memperhatikan gerak gerik mereka.
“Anna ya?” tanya Zahra di angguki sang empu.
“Semoga betah Anna.”
“Terimakasih Ning.” Zahra mengangguk.
“Mas Raffa!” Raffa menunduk menatap wajah istirnya dari bawah.
“Hm?”
“Mas kalo mau pulang ke ndalem duluan duluan aja Zahra mau di sini.”
Raffa menggeleng. “Mas temenin.”
Zahra mengangguk lalu mulai mengobrol dengan mereka di mulai dari pembahasan mengenai agama, tatacara berpakaian yang baik, menjaga aurat dan mengenai tentang yang bukan mahram, begitu random namun membahas mengenai tentang agama.
Seperti yang sudah di janjikan Zahra pada Raffa malam ini mereka akan melakukan hubungan suami istri seperti yang Rasullullah ajarkan, Zahra duduk di pinggir kasur dengan perasaan deg degan karena ini kali pertamanya, sedangkan Raffa laki laki itu tengah membersihkan diri terlebih dahulu.
Ceklek
Suara pintu kamar mandi di buka menampilkan Raffa dengan wajah fres nya, hati Zahra semakin was was ketika Raffa mulai mendekati dirinya, Raffa duduk di samping Zahra yang tengah menatap laki laki itu.
“Siap Humaira?” dengan tekad yang kuat Zahra mengangguk, Raffa tersenyum tangan laki laki itu mulai terangkat melepaskan khimar yang menutupi kepala istrinya, setelah terlepas Raffa tersenyum melihat rambut indah milik Zahra.
“Cantik.”
Zahra tersipu ketika Raffa menatapnya seintens itu, apalagi dirinya yang tidak mengenakan kerudung, Raffa terkekeh lalu menggendong Zahra menuju tengah kasur membaringkan tubuh istrinya di bawah kungkungnya.
“Baca doa dulu.”
“Allohumma baarik lii fii ahlii, wa baarik lahum fiyya. Allohummarzuqnii minhum, warzuqhum minni. Allahummajma’ baynanaa maa jama’ta ila khoirin, wa farriq baynanaa idza farroqta ilaa khoirin.”
Selepas baca doa Raffa mulai melancarkan aksinya yang seharusnya laki laki itu lakukan dengan sang istri, malam ini malam di mana seorang Azahra Malik Arsyila sudah resmi menjadi milik Raffa seutuhnya, tidak ada keraguan dan paksaan dengan keputusan Zahra, dia melakukannya dengan hati yang ikhlas karena Allah, sekarang statusnya bukan lagi menjadi seorang gadis namun sudah manjadi seorang wanita.
Semoga kelak rumah tangganya akan tetap berjalan dengan jalan yang Alla tentukan, dan semoga keluarganya menjadi keluarga yang lengkap ketika Allah menitipkan sang malaikat kecil di rahim Zahra.
[Artinya: “Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan isteriku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku.]