Zahra menatap Raffa yang baru saja pulang dengan wajah lesu dan kusut, ingin rasanya Zahra menanyakan apa yang terjadi namun dia urungkan karena takut Raffa tambah pusing.
“Mas Raffa,” panggil Zahra pada Raffa yang tengah rebahan di kasur.
“Hm.”
Zahra duduk di samping Raffa mengelus tangan suaminya itu dia tau Raffa sedang ada sesuatu. “Kenapa mas? Cerita sama Zahra.”
Raffa menggeleng laki laki itu semakin menenggelamkan wajahnya di bantal.
“Mas Raffa Zahra istrinya mas Raffa bukan?” Raffa mengangguk.
“Terus kenapa mas gak cerita sama Zahra? Mas gak anggap Zahra istri Mas?”
Sontak ucapan Zahra membuat Raffa menggeleng laki laki itu bangun dari tidurnya lalu duduk menghadap sang istri. “Kenapa mas?” tanya Zahra.
Raffa mengusap wajahnya kasar lalu menghembuskan nafasnya. “Tadi ustadzah Rena ke kantor.”
Zahra mengeryit. “Ngapain?”
“Dia ngasih mas teh tapi gak Mas minum, dia bilang sama Mas kenapa nikahin kamu Mas bilang kamu kan udah jodohnya Mas udah jodoh yang Allah kasih,” kata Raffa menceritakan apa yang terjadi di kantor tiga jam yang lalu.
Zahra mengangguk lalu menangkup rahang Raffa membuat bibir cowok itu maju kedapan. “Gemes banget si suami siapa si?”
Cup
“Suaminya Azahra Malik Arsyila, ibu dari anak anaknya Muhammad Ali Al-Raffa.”
Zahra terkekeh lalu memeluk Raffa sayang, semakin hari pernikahannya semakin erat Zahra bersyukur sampai saat ini belum ada masalah besar yang menimpa rumah tangganya namun Zahra selalu berdoa jika suatu saat rumah tangganya di ujung tanduk dia meminta kepada Allah agar selalu memberikan keutuhan kepada rumah tangganya.
“Mandi gih Mas, Zahra mau masak buat makan malam.” Zahra melepaskan pelukannya perempuan itu meraih tali cadar yang berbeda di belakang kepalanya namun d hentikan oleh tangan Raffa.
“Mas yang buka.” Zahra mengangguk lalu berbalik membelakangi Raffa, Raffa dengan telaten membuka ikatan cadar Zahra setelah terbuka Raffa tersenyum melihat wajah cantik Zahra.
“Cantik.”
Zahra tersenyum lalu memeluk Raffa. “Inget ya Humairaku, dari atas sampai bawah punya Mas, wajah cantik kamu juga punya Mas! Mas gak mau berbagi apalagi membagi.”
“Iya semuanya punya Mas Raffa, udah ah sana mandi bau tau!” ejek Zahra.
Raffa berdecak. “Mau seminggu aku gak mandi pun gak akan bau, gak akan ada sejarahnya seorang Gus Raffa bau.”
“Kamu juga manusia Mas punya oroma bau,” kekeh Zahra.
Raffa berdiri laki laki itu menarik hidung Zahra. “Gak jelas kamu Humaira!”
Raffa masuk kekamar mandi, sedangkan Zahra menyiapkan baju yang akan Raffa pakai setelah selesai perempuan itu turun ke bawah untuk masak makan malam.
Raffa turun dengan baju hitam dan celana panjang hitamnya laki laki itu selalu mengenakan outfit hitam, entah mungkin sepertinya kebanyakan cowok menyukai pakaian hitam.
“Masak apa hm?” tanya Raffa sambil duduk di pantry.
“Masa kayu sama batu!” Zahra berdecak bisakah Raffa melihat bahwa dirinya sedang masak sup?
Raffa terkekeh. “Gak baik jawab gitu Humaira!”
“Mas Raffa si ngeselin! Udah tau Zahra masak sup masih aja nanya, biar apa begitu,” kesalnya.
Cup
“Gemes banget si istrinya Raffa kalo marah, basa basi aja si sayang,” katanya anteng dengan kembali duduk di kursi pantry.
“Kebiasaan deh Mas Raffa suka nyosor!”
“Nyosor sama istri sendiri gak papa kali, kecuali nyosor istri orang”
Zahra menatap tajam Raffa perempuan itu berkecak pinggang menatap suaminya tajam. “Coba aja kalo berani, tapi jangan harap bisa tidur sama Zahra!”
“Gak bisa gitu dong, nanti gak ada yang meluk “
“Kan bisa tuh peluk peluk sosoran bibir kamu.” Raffa memeluk Zahra dari belakang menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri.
“Marah marah mulu, kenapa si?”
“Kamu nya ngeselin sih!”
“Iya aku salah.”
“Nah itu ngaku kamu.”
“Iya iya udah jangan marah nanti cantiknya hilang.”
Zahra berbalik menghadap kearah Raffa tidak lupa mematikan kompor terlebih dahulu.
“Oh jadi selama ini aku gak cantik gitu?”
Raffa mengusap wajahnya kasar. “Sabar Raffa istri lo lagi pms, sensitif.”
“Enggak sayang enggak, kamu cantik kok cantik banget malahan.”
“Halah bilang aja enggak, dengan kamu kaya gitu berarti kamu bilang aku jelek!”
“Jelek dari mananya si? Kapan aku ngomong nya.”
“Ya, gak ada si.”
“Nah kan berarti kamu cantik, udah ah jangan ribut Mas laper mau makan.”
“Astagfirullah lupa,” dengan telaten Zahra menyiapkan makan malam untuk Raffa gara gara ribut jadi lupa untuk menyiapkan makan Raffa.
“Habis ini mau kemana Mas?” tanya Zahra.
“Mau ketemu kepala desa soalnya besok ada santri baru,” jelasnya.
“Santri baru lagi?” Raffa mengangguk.
“Berapa orang?”
Raffa menatap istrinya. “Satu kok perempuan kalo gak salah.”
Zahra mengangguk perempuan itu menatap Raffa intens dia harus siap siaga dia sudah menebak jika santri baru yang besok akan datang pasti akan menggoda suaminya secara kan Raffa ganteng, sholeh sempurna lah.
“Siaga satu Zahra, pelakor ada dua sekarang.”
“Mas,” panggil Zahra, Raffa berdehem.
“Kenapa si mas harus ganteng? Kan Zahra ngadepin banyak pelakornya kewalahan apalagi ini nih harus nambah lagi satu, cape lah bertarung sendirian melawan pelakor.”
Raffa melotot mendengar penuturan istrinya yang blak blakan. “Astagfirullah Humaira! Gak boleh gitu gak baik.”
“Konsekuensi punya suami ganteng gini nih harus siap batin, jiwa dan raga memberantas pelakor.”
Raffa menggelengkan kepalanya lalu memeluk istrinya yang berada di samping laki laki itu. “Lagian kenapa harus cape cape memberantas pelakor toh Mas nya aja gak tertarik.”
Zahra menatap suaminya. “Sekarang iya siapa tau nanti malah kepincut! Pokonya Zahra gak mau punya madu apalagi di madu, di duain aja gak enak apalagi di maduin.”
Raffa terkekeh. “Posesif banget istrinya Mas gemes deh.”
“Zahra emang selalu gemes!”
“Tapi ngeselin!”
Zahra melotot. “Oh mas bilang Zahra ngeselin,awas aja nanti malam jangan harap tidur sama Zahra.”
Raffa mengusap wajahnya. “Mulut lo Raffa, mampus kan tidur di luar.”
Rena keluar dari kamarnya perempuan itu hendak menutup pintu namun suara ustadzah Rehan mengurungkan niatnya.
“Assalamualaikum ustadzah,” kata Rehan pada Rena.
Rena berbalik. “Waalaikumsalam, ada apa?”
Rehan hanya berdehem laki laki itu menatap Rena intens sedangkan yang di tatap hanya memasang wajah bingung.
“Maaf Rena sebelumnya saya mau ngasih tau, dalam pesantren Abi Ali dipan santun dalam dan akhlak di utamakan, mau yang lebih tua atau muda sama saja.”
Rena mengeryit mendengar penuturan Rehan. “Maksud kamu gimana? Saya gak ngerti.”
“Saya tau ustadzah malam kemarin cekcok dengan santriwati baru bukan? Dan saya mendengar semuanya dari awal hingga akhir, semoga ustadzah paham apa yang saya sampaikan, saya pamit tidak baik lawan jenis berduaan permisi assalamualaikun.” Rehan meninggalkan Rena yang masih menatapnya bingung.
Rena menatap kepergian Rehan dengan sorot sinis nya, apa apaan dia sok bijak memberitahukan dirinya soal agama? Bahkan dia lebih dulu tinggal di sini di bandingkan Rehan, dia juga tau tatak ramah di pesantren Abi Ali.
“Sok bijak banget jadi ustadz.”