---
Hotel Grand Royal. Lantai 88. Suite Presiden.
Jam menunjukkan pukul 10 malam. Dari balik jendela kaca, gemerlap kota terlihat seperti lautan bintang. Tapi Alya tidak sanggup menikmatinya.
Jantungnya berdegup kencang sampai rasanya mau copot. Tangannya dingin, berkeringat. Dia berdiri di depan pintu kamar 8808 dengan lutut gemetar.
Di tangannya ada selembar kertas kecil. Nomor kamar. Dan pesan terakhir dari ibunya.
_“Layanin Om itu baik-baik, Ya. Dia orang penting. Kalau berhasil, hutang kita 500 juta lunas. Kalau gagal... kita diusir dari rumah kontrak malam ini juga. Adik-adik kamu mau tidur di jalan?”_
Suara Bu Ratna masih terngiang di kepalanya. Nada mengancam. Nada memaksa.
Alya menutup mata. Air mata jatuh tanpa bisa dia tahan. Usianya baru 20 tahun. Baru lulus D3 Akuntansi. Mimpinya jadi sekretaris di perusahaan bagus. Bukan... bukan jadi seperti ini.
Tapi dia anak sulung. Dia harus melindungi 2 adiknya.
Dengan napas tertahan, Alya mengetuk pintu.
Tok. Tok.
Tidak ada jawaban.
Dia mengetuk lagi. Lebih keras.
Tok. Tok.
Tetap hening.
Alya bingung. Dia pegang gagang pintu. Ternyata tidak dikunci.
Dengan tangan gemetar dia mendorong pintu itu pelan. _Creak_
Ruangan itu gelap gulita. Hanya lampu temaram dari lampu meja di sudut ruangan yang menyala. Aroma mahal langsung menusuk hidungnya. Aroma parfum pria, aroma kayu, dan alkohol mahal.
“Tuan...?” Suaranya hampir tidak terdengar. Parau. “Permisi...”
Tidak ada jawaban.
Alya melangkah masuk dengan hati-hati. Hak sepatunya berbunyi pelan di lantai marmer. Dia bisa melihat siluet ranjang besar di tengah ruangan. Seprai putih. Bantal empuk.
Tiba-tiba...
_Klik._
Pintu di belakangnya tertutup sendiri.
Alya terlonjak kaget dan berbalik. Jantungnya hampir copot.
Dan saat itu juga, lampu utama menyala terang. Menyilaukan.
Di depannya, berdiri seorang pria.
Pria itu tinggi. Sangat tinggi. Sekitar 188cm. Jas hitam mahal sudah tergeletak di sofa. Kemeja putihnya terbuka dua kancing di atas, memperlihatkan d**a bidang dan sedikit bulu d**a. Lengan kemejanya digulung sampai siku, memperlihatkan jam tangan Rolex dan otot lengan yang jelas terlatih.
Tapi yang paling membuat Alya membeku adalah wajahnya.
Wajahnya seperti diukir dari batu. Tajam. Sempurna. Rahang tegas. Hidung mancung. Bibir tipis yang terkatup rapat.
Dan matanya...
Mata hitam itu. Gelap. Kosong. Dingin. Menatap Alya dari atas sampai bawah seperti sedang menilai barang. Tidak ada kehangatan sama sekali.
Pria itu meneguk sisa wiski di gelasnya lalu meletakkannya di atas meja dengan bunyi _tak_.
“Kamu?” Suara pria itu berat, serak, dan sangat dingin. Sampai membuat Alya menggigil. “Pengganti dari Bu Ratna?”
Alya mengangguk kecil. Tenggorokannya tercekat. Dia tidak bisa bicara.
Pria itu berjalan mendekat. Setiap langkahnya membuat lantai marmer berbunyi pelan. _Tak. Tak. Tak._
Alya mundur tanpa sadar sampai punggungnya mentok ke dinding. Tidak ada jalan keluar.
Pria itu berhenti tepat 1 jengkal di depan wajahnya. Aroma parfumnya kini sangat kuat.
“Namanya siapa?” Tanyanya lagi. Nadanya datar.
“A-Alya, Tuan.” Jawab Alya dengan suara bergetar. “Alya Maheswari.”
“Adrian Wirajaya.” Pria itu memperkenalkan diri tanpa diminta. “CEO Wirajaya Group.”
Nama itu... Alya pernah dengar. Di berita. Di majalah bisnis. Pria paling kejam. Paling kaya. Paling ditakuti di kota ini. Dijuluki "Iblis Bertopi".
Jantung Alya semakin kencang.
“Dengar baik-baik, Alya.” Jari panjang Adrian mengangkat dagu Alya paksa. Tidak kasar, tapi tidak bisa ditolak. “Saya tidak suka basa-basi. Saya bayar 500 juta untuk malam ini. Jadi lakukan tugas kamu dengan baik. Jangan banyak drama. Jangan banyak tanya.”
Alya menunduk. Air mata sudah menggenang di pelupuk mata. Dia menggigit bibir bawahnya sampai sakit.
“Saya... saya belum pernah, Tuan...” bisiknya pelan. Hampir tidak terdengar. “Tolong... pelan-pelan...”
Adrian berhenti sejenak. Alisnya sedikit berkerut. Seolah baru tau info itu. Tapi ekspresinya kembali datar sedetik kemudian.
“Mata ke atas. Lihat saya.” Perintahnya tegas.
Alya menurut dengan takut. Saat mata mereka bertemu, Alya merasakan dunianya runtuh. Mata Adrian kosong. Tidak ada iba. Tidak ada nafsu. Hanya kekosongan dan sedikit kebencian.
“Bagus.” Adrian melepas dagu Alya. “Kalau begitu kita mulai.”
Malam itu berlangsung seperti mimpi buruk paling panjang dalam hidup Alya.
Tidak ada kata cinta. Tidak ada sentuhan lembut. Yang ada hanya perintah dingin dan keheningan yang menyesakkan.
Alya menangis dalam diam. Menggigit bantal agar suaranya tidak keluar. Dia berdoa. Berdoa agar ini cepat selesai.
Adrian tidak berkata apa-apa lagi sampai semuanya selesai. Dia seperti patung. Dingin. Mekanis. Seolah Alya hanyalah benda yang dia sewa.
Saat semuanya usai, Adrian langsung bangkit. Masuk ke kamar mandi. Keluar dengan jubah mandi. Tanpa menoleh ke arah Alya sama sekali.
Dia duduk di sofa, menyalakan sebatang cerutu. Asapnya mengepul di ruangan yang sunyi.
Alya terbaring lemah di atas ranjang. Seluruh tubuhnya sakit. Hatinya lebih sakit.
Sekitar 1 jam kemudian, Adrian berdiri. Dia berjalan ke nakas dan meletakkan sesuatu.
“Ini bayaran kamu.” Suaranya datar. “Cek 500 juta. Ambil dan pergi. Dan lupakan malam ini. Jangan pernah mencari saya lagi. Jangan pernah berharap apapun dari saya.”
Alya tidak menjawab. Dia hanya mengangguk pelan.
Dengan tenaga terakhirnya, dia bangkit. Memakai pakaiannya yang berantakan dengan tangan gemetar. Dia tidak berani menatap Adrian lagi.
Saat dia sampai di pintu, suara Adrian kembali terdengar.
“Alya.”
Alya berhenti. Tapi tidak berbalik.
“Kalau kamu hamil... aborsi. Saya tidak butuh pewaris dari wanita seperti kamu.”
_BRAK._
Pintu tertutup.
Alya bersandar di pintu kamar hotel. Air matanya pecah. Dia terisak sejadi-jadinya. 500 juta di tangannya terasa seperti racun.
Dengan langkah gontai dan kaki yang sakit, dia kabur dari hotel itu sebelum matahari benar-benar terbit.
Dia bersumpah dalam hati. Dia tidak akan pernah bertemu pria itu lagi. Tidak akan pernah.
Dia salah besar.
---
*2 TAHUN KEMUDIAN*
Kantor Pusat Wirajaya Group. Lantai 80.
“Selamat pagi, Nona Alya. Hari ini Anda mulai kerja sebagai sekretaris baru Tuan Adrian. Gaji 20 juta per bulan.”
HRD tersenyum ramah. Tapi Alya tidak bisa tersenyum balik.
Tangannya dingin. Kakinya lemas. Dia menarik napas dalam di depan gedung pencakar langit yang menjulang tinggi dan dingin. Sama seperti pemiliknya.
Di tasnya ada 2 buah foto kecil. Foto dua malaikat kecil sedang tertawa.
Ara. 2 tahun. Rambut hitam, mata hitam tajam. Mirip banget ayahnya.
Aro. 2 tahun. Rambut hitam, mata coklat. Mirip banget ibunya.
Anak kembarnya.
Anak Adrian Wirajaya.
“Bu Ratna bilang, kalau mau lunasin hutang keluarga, kerja di sini jalannya. Dekat sama dia. Mungkin dia mau tanggung jawab.” Gumam Alya sambil mengelus perutnya yang sekarang rata.
Dia tidak punya pilihan lain. Dia butuh uang. Dia butuh melindungi anak-anaknya.
Lift ekspres berhenti di lantai 80. _Ding._
Pintu terbuka.
Dan di sana... berdiri pria yang sama. 2 tahun lebih tua. 2 tahun lebih dingin. Aura kekuasaannya 10x lipat lebih kuat.
Adrian Wirajaya. CEO Wirajaya Group. Mengenakan jas hitam yang pas di badan. Rambutnya sedikit basah sehabis mandi.
Dia sedang berbicara dengan sekretaris lama. Saat melihat Alya, pembicaraannya berhenti.
Mata hitam itu menatap Alya dari atas sampai bawah. Alisnya sedikit berkerut. Seolah sedang mengingat sesuatu.
“Kamu sekretaris baru?” Suaranya masih sama. Sedingin es Kutub.
Alya menunduk dalam. Jantungnya berdetak 1000x lipat. Dia takut. Takut Adrian mengenali dia.
“Iya, Tuan Adrian. Nama saya Alya Maheswari.” Jawabnya dengan suara seprofesional mungkin.
Adrian mendekat. Berhenti tepat di depan Alya. Tinggi badan mereka terpaut jauh. Aroma parfum yang sama 2 tahun lalu menyerang indera Alya. Membuat kepalanya pusing.
Dia mengangkat dagu Alya. Sama seperti 2 tahun lalu. Paksa tapi hati-hati.
Tatapan Adrian menelusuri wajah Alya. Mata. Hidung. Bibir.
“Kita pernah bertemu sebelumnya?” Tanyanya pelan. Tapi menusuk.
Darah Alya berhenti mengalir. Otaknya kosong.
“Tidak, Tuan.” Jawabnya bohong. Suaranya bergetar. “Ini pertama kali saya bertemu Anda.”
Adrian melepaskan dagunya. Sorot matanya menyipit, curiga. Dia jelas tidak percaya.
“Hmm.” Dia berbalik. “Ikut saya ke ruangan.”
Alya mengikuti dari belakang dengan jantung yang mau copot.
Saat sampai di depan pintu ruangan CEO, Adrian berhenti dan berbisik tepat di telinga Alya. Nafasnya hangat mengenai leher Alya.
“Jangan pernah berbohong pada saya, Sekretaris Alya. Saya benci pembohong.”
*BERSAMBUNG...*
---