BAB I
Haji Burhan yang baru saja akan membayar belanjaannya di kasir tertegun melihat Gus Maksum sedang berdiri didepan kasir sedang membayar belanjaannya. Beberapa kali Haji Burhan mengerjap-ngerjapkan matanya, beliau tidak mau mempercayai apa yang dia lihat, namun semua yang didepan matanya sangat nyata dan tak bisa disangkal.
Beberapa meter didepan Haji Burhan, tampak Gus Maksum, Seorang tokoh agama, sedang memegang satu kotak kecil belanjaannya, inilah yang membuat haji Burhan kaget, sebab Gus Maksum membeli sekotak pengaman, pengaman yang biasa digunakan oleh orang-orang m***m, padahal pengaman adalah sesuatu yang tabu dan tidak pernah terdengar dibeli ataupun di pakai oleh seorang pemuka agama. Karena ada hadis yang tenar dikalangan pesantren yang melarang membuang s****a diluar istri, bahkan haram dikeluarkan sendiri
Begitu Gus Maksum berlalu, barulah Haji Burhan memberanikan diri menyambangi kasir untuk membayar belanjaannya.
“Itu bukannya Gus Maksum, pimpinan Pesantren Ar-Royan ya?” dengan hati-hati, Haji Burhan bertanya kepada kasir minimarket yang sedang men-scan belanjaanya, sementara mata beliau mengikuti sosok Gus Maksum yang semakin menjauh.
Haji Burhan bertanya untuk memastikan dia tidak salah lihat, dan untuk memastikan bahwa yang dibeli oleh Gus Maksum benar-benar k****m.
Kasir cantik itu menoleh dan berhenti menscan, dia tersenyum setengah tersenyum kepada Haji Burhan. Ini bukan pertama kalinya orang-orang bergosip tentang prilaku Gus Maksum yang nyeleneh itu. Dia sendiri selalu merasa heran dengan kelakuan Gus Maksum. Pimpinan Pesantren Ar-Royan itu secara berkala membeli beberapa pengaman diminimarket itu.
“Iya, betul pak. Itu Gus Maksum pak. Kenapa memangnya Pak?” Kasir cantik bertanya balik setelah menjawab pertanyaan Haji Burhan, pertanyaannya menyiratkan sesuatu yang sudah dia ketahui jawabannya.
“jadi benaran Gus Maksum? Dia beli pengaman kan?”
Seperti dugaan kasir cantik, si bapak menanyakan perihal Gus Maksum yang beli pengaman. Pertanyaan itu juga yang sudah hampir setahun ini ditanyakan orang-orang kepadanya.
“Iya, hampir tiap minggu Gus Maksum beli pengaman disini. Saya juga merasa aneh pada awalnya, kok ya bisa seorang pimpinan Pesantren doyan memakai pengaman? Bukannya berhubungan suami istri tidak perlu pakai pengaman ya? Apalagi belum punya anak.” Kasir cantik menambahkan sedikit bahan bakar biar gosipnya semakin panas, sembari tangannya sibuk mengemas belanjaan Haji Burhan
“Oh dunia, ada apa ini? Bagaimana bisa seorang panutan berprilaku seperti ini.” Keluh Haji Burhan seakan-akan berbicara kepada dirinya sendiri.
“Saya juga heran dengan kelakuan beliau. Saya juga sering lihat dia beli pengaman disini. Saya jadi khawatir dengan anak-anak yang sekolah di pesantren itu, bagaimana jadinya anak-anak yang gurunya suka berprilaku menyimpang dari ajaran agamanya?” Seorang ibu muda nyeletuk dari belakang. Kata-kata ibu itu sukses membuat wajah Haji Burhan pucat pasi.
“Putri bapak sekolah disana?”
Si ibu seksi menebak. Perubahan wajah Haji Burhan membuat si ibu menduga-duga. Senyum tipis terlukis diwajahnya, jika hal itu benar maka akan menjadi cerita yang sangat panas.
“Kalau putri bapak sekolah disana sebaiknya segera dipindahkan, khawatir terpengaruh hal-hal buruk yang tak diiinginkan. Sekarang kan zaman edan? Hampir setiap hari ada saja berita tentang gelapnya lembaga pendidikan pesantren." Sambung si ibu.
Haji Burhan tidak menjawab, beragam pikiran buruk melintas dikepalanya. Beliau segera membayar dan membawa belanjaannya dengan tergesa, kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya. Sementara ibu muda dan kasir mengantar kepergian haji Burhan dengan senyuman puas.
******
Sementara itu, pukul 21.50 Gus Maksum sudah sampai ke rumahnya yang terletak didepan pesantren Ar-Royan, tepatnya disamping gerbang utama pondok pesantren Ar-Royan. Rumah Gus Maksum dan pesantren dipisahkan oleh tembok setinggi 2 meter yang memagari pesantren. Rumah Gus Maksum berada diluar kawasan pesantren. Pimpinan pondok sebelumnya sengaja menempatkan rumah pimpinan dan perumahan guru diluar kawasan pesantren untuk menjauhi fitnah, karena pesantren Ar-Royan adalah pesantren yang mengkhususkan diri dalam pengajaran tahfizh atau menghafal Quran khusus putri, karena semua muridnya putri maka harus ada protocol keamanan khusus, bahkan guru-gurunya semua berjenis kelamin perempuan. Hanya satpam gerbang, pegawai kantor yayasan dan Gus Maksum yang berjenis kelamin laki-laki. Maka dari itu kantor yayasan juga bermarkas diluar pesantren, disebelah rumah Gus Maksum. Singkatnya, siswi-siswi pesantren Ar-Royan tidak pernah berinteraksi dengan laki-laki sama sekali. Hanya berinteraksi dengan sesame jenis.
“Dapat yang tipis?” Nyai Ratna Sari bertanya dengan tidak sabar begitu melihat kehadiran Gus Maksum dikamarnya.
“Alhamdulillah dapat, cukup untuk satu minggu.” Ujar Gus Maksum, dengan hati gembira.
“Seminggu? Paling Cuma bertahan dua hari, paling lama tiga hari.” Ejek Nyai Ratna Sari.
“Hehehehe..." Gus Maksum terkekeh.
“Kalau habis nanti beli lagi ya! Umi belum siap hamil. Kita masih muda, masih banyak yang harus kita lakukan ketimbang disibukkan oleh anak-anak yang merepotkan. Kita punya anak kalau sudah umur 40 an saja.” Ucap Nyai Ratna Sari tegas.
“Baiklah….”
Gus Maksum menuruti saja apa yang dikatakan Nyai Ratna Sari, toh nanti kalau punya anak Nyai Ratna Sari yang mengurusnya, tentu saja Nyai Ratna Sari tau kondisi dirinya sudah mampu mengurus anak atau belum. Jika belum siap punya anak tapi sudah punya anak tentu akan sangat merepotkan, bisa-bisa anaknya akan jadi korban ketidaksiapan itu.
Namun Jauh dilubuk hati Gus Maksum sebenarnya dia tidak nyaman pakai k****m untuk mencegah punya anak, Tapi untuk menyenangkan hati Nyai Ratna Sari, istri yang di cintainya. Dia terpaksa pakai pengaman, karena Nyai Ratna Sari tidak mau pakai a**************i KB, Nyai Ratna Sari tidak mau rekayasa hormon mempengaruhi moodnya, dia juga tidak mau tubuhnya rusak karena KB, banyak kejadian dimasyarakat ibu-ibu yang tubuhnya menggemuk atau wajahnya bercak-bercak hitam hitam setelah memakai a**************i KB tertentu, sebagian wanita ada yang tidak haid selama bertahun-tahun. Bahkan ada yang sakit parah karena alat kontrasepsinya berbahaya.
“Langsung saja. Jangan lama-lama, lagi capek.” Perintah Nyai Ratna Sari.
Tanpa basa-basi lagi Gus Maksum segera mengeksekusi Nyai Ratna Sari, begitu selesai, Gus Maksum langsung tertidur karena kecapean. Pertarungan malam benar-benar menguras tenaganya. Gus Maksum terlelap dengan sangat lena di kamar tidurnya di lantai dua, dan tidak menyadari apa yang terjadi diluar sana.
*****
Pukul 22.00 malam, di asrama putri, para santri putri baru saja selesai memuraja’ah hafalan mereka. Para musyrifah (guru pembimbing asrama putri) memerintahkan semua santri putri untuk segera tidur, karena mereka akan bangun pukul 03.00 nanti untuk shalat tahajjud, dilanjutkan dengan menghafal secara mandiri sampai masuk waktu shalat subuh.
“Faza, pakaian antum kok belum di angkat. Nggak boleh lo membiarkan pakaian diluar malam-malam.” Faiha mengingatkan Faza kalau pakaiannya masih di jemuran.
Tidak seperti mayoritas pesantren yang memanjakan santri dengan system catering dan laundri. Pesantren Ar-Royan menerapkan system hidup mandiri, santri ditekankan memiliki life skill minimum. Yakni memasak dan mengurus pakaian sendiri.
“Betul kata Faiha, di kampung ana pantang jemuran diluar malam-malam.” Salsa menimpali.
“Lupa ana tadi, Syukran sudah mengingatkan. Tapi pakaian ana masih lembab, makanya tidak ana angkat, takutnya nanti bau dan jamuran.” Faza mengemukakan alasan pakaian nya tidak di angkat.
“Biarin aja Za, dari pada bau dan jamuran mending di jemuran saja, tak perlu repot-repot besok jemur lagi. Lagian pesantren kita di tembok sekeliling, disini juga hanya ada akhwat semua, pasti aman lah, nggak bakal ada pencuri atau orang iseng.” Miftah Khairiyah mendukung apa yang Faza lakukan.
“Dikampung ana pernah kejadian, tubuhnya gatal-gatal karena pakaian yang tidak diangkat saat malam hari, tidak tahu karena air embun, air hujan atau debu kotor. Yang pasti, kata dokter yang memeriksa mereka gatal-gatal memang disebabkan pakaian itu.” Faiha mencoba memberi pemahaman kepada Faza akan urgensi menangkat pakaian dari jemuran, membiarkan jemuran diluar dimalam berbahaya.
“Banyak hal yang tidak mampu kita fikirkan bisa terjadi, malang tak berbau. Musibah tak berkabar, begitu pepatah lama. lebih baik mencegah dari pada mengobati, lebih baik berhati-hati.” Sambung Faiha.
Mendengar penjelasan Faiha yang mengada-ada, wajah Faza berubah cemberut, sebagai seoarang anak tunggal yang selalu dimanja oleh orangtuanya, Faza tidak pernah ditekan seperti itu untuk melakukan sesuatu oleh orangtuanya, kata-kata Faiha otomatis memantik jiwa bosy nya, membuat dia merasa sangat tersinggung.
“Malas ana angkat jemuran, biar sajalah disana, apa yang terjadi jadi terjadilah.” Ujar Faza ketus.