Nayla masih tenggelam dalam pelukan Laras, sahabatnya. Dia merasa sangat beruntung di tengah kesulitannya, dia masih memiliki satu orang untuk bersandar.
“Boleh nggak untuk sementara, gue tinggal di apartemen lu?” Tanya Nayla yang masih nyaman dalam pelukan Laras.
“Tentu! Lu bisa tinggal di sini sampai kapanpun. Apartemen gue bebas buat lu tempati.”
Pelukan mereka terurai saat ponsel Nayla berbunyi. Terlihat nama sang Mama pada panggilan.
“Halo, Ma,” jawab Nayla tidak bersemangat.
“Nak, kamu sudah sampai di apartemen Laras?” Tanya Hanum dari seberang sana.
Nayla mengangguk pelan. “Sudah, Ma,”
“Kamu aman kan di sana, Sayang?”
“Aman, Ma,” jawab Nayla lirih.
“Sabar dulu ya, Sayang. Mama yakin, Papa hanya sebentar marahnya. Nanti pasti Papa akan meminta kamu kembali. Uang untuk kamu, Mama titip ke Laras ya. Biar Papa nggak tahu kalau Mama kirim uang,” tutur Hanum menenangkan.
Nayla menggeleng pelan. “Mama nggak perlu kirim uang, Nayla masih punya tabungan kok, Ma,” tolaknya halus.
Terdengar suara hembusan napas kasar dari seberang. “Tabungannya kamu simpan dulu saja. Mama nggak akan mungkin diam saja melihat kamu kelaparan. Mama boleh bicara dengan Laras?” Ucap Hanum.
Nayla mengangguk. “Tunggu sebentar, Ma.”
Nayla menyerahkan ponselnya kepada Laras yang masih duduk di sebelahnya. “Mama mau ngomong sama lu.”
Laras segera menyambar ponsel sahabatnya itu.
“Halo, Tante. Ini Laras,” sahutnya sambil menatap ke arah Nayla yang kini bersenter pada sandaran sofa dengan tatapan kosong.
“Laras, tante mau minta tolong. Kamu bantu jaga Nayla ya. Apalagi dia sekarang sedang hamil,” pinta Hanum dengan lirih kepada Laras.
Larang mengangguk cepat. “Iya, Tante. Laras pasti akan menjaga Nayla. Tante tidak perlu khawatir.”
Hanum menahan butiran air mata yang jatuh di pelupuk matanya. “Terima kasih banyak ya Laras. Tante nggak tahu kalau nggak ada kamu,” ungkapnya tulus.
“Nanti Tante kirim uang untuk Nayla melalui rekening kamu ya.”
Laras mengangguk seolah Hanum ada di depannya. “Iya, Tante,” jawabnya singkat.
“Boleh Tante bicara lagi dengan Nayla?” Pinta Hanum.
“Bisa, Tante. Sebentar ya,” kata Laras lalu menyerahkan kembali benda pipih itu kepada Nayla.
“Halo, Ma,” sapa Nayla.
“Sayang, sudah dulu ya. Mama takut ketahuan sama Papa. Mama di larang komunikasi sama kamu,” terang Hanum menahan tangis.
“Iya, Ma. Mama baik-baik di sana ya.”
“Kamu juga, Sayang. Mama sayang sama kamu.” Ucap Hanum sebelum mematikan sambungan telepon.
“Gue harus cari Mas Arsen!” Kata Nayla setelah meletakkan ponselnya di atas meja.
“Tapi kemana, Nay?”
“Gue cuma ingat dia kerja di PT. Vision Inc. Nama lengkapnya Arsen apa ya. Gue lupa-lupa ingat. Duh, ayo dong gue harus ingat!” Geramnya kesal pada diri sendiri sambil mengacak rambut kusutnya.
Laras mengusap pelan lengan sahabatnya. “Mending sekarang lu tidur. Istirahat dulu. Ingat lu sedang hamil, Nay.”
Nayla menghela napas kasar. “Lu benar. Gue harus istirahat. Sekarang ada janin yang menggantungkan kehidupannya sama gue,” gumamnya pelan sambil mengelus perutnya.
Laras tersenyum lembut. “Kalau lu sudah ingat siapa itu Mas Arsen, gue pasti antar lu temui pria itu.”
Mereka beranjak dari sofa menuju kamar tidur. Laras mengambilkan selimut untuk Nayla serta menata bantal untuk mereka tidur.
“Gue ganti baju dulu, Ras,” ucap Nayla sembari mencari piyama di dalam kopernya.
“Lu nggak apa-apa kan tidur di tempat tidur kecil? Kamar lu kan luas banget,” tanya Laras sambil terkekeh pelan.
Nayla menggeleng cepat. “Nggak masalah Ras, masih untung gue nggak tidur di jalanan malam ini,” jawabnya penuh syukur sambil berganti baju.
Lima menit kemudian Nayla bergabung dengan Laras di atas kasur. Dia melupakan sejenak kerisauannya dan menuju ke alam mimpi.
***
“Laras, gue sudah ingat sekarang!” Pekik Nayla senang. Padahal dia baru saja membuka matanya setelah tidur nyenyak semalaman.
“Apa sih, Nay?” Gumam Laras malas. Matanya masih terpejam.
“Namanya Arsen Ravindra. Kerjaan dia sebagai Software Engineer. Ya gue ingat! Akhirnya, ya Allah!” Pekik Nayla pelan.
Ucapan Nayla sontak membuat Laras membuka matanya, “Lu ingat, Nay?”
“Iya!”
“Oke, nanti kita coba temui. Lu tahu nama kantornya kan kemarin. Kita cari alamat kantornya di internet,” sahut Laras bersemangat.
“Tapi emangnya lu nggak kuliah?” Tanya Nayla yang masih enggan turun dari tempat tidur.
“Enggak lah, sahabat gue lagi kesulitan. Mungkin nanti gue ijin sakit. Lu sendiri gimana?” Tanya Laras balik.
Nayla menghela napas berat. “Entahlah, Papa sudah nggak mau bayar biaya kuliah semester depan. Kayaknya gue berhenti kuliah aja deh,” ucap Nayla sendu.
Laras menautkan kedua alisnya. “Tapi sayang banget, Nay.”
“Ya, gue tahu. Tapi gue nggak punya pilihan,” cetus Nayla pasrah.
“Semoga saja kita bisa bertemu mas Arsen hari ini ya, Ras,” gumam Nayla penuh harap yang di anggukki oleh Laras.
Mereka bergegas mandi dan bersiap menuju kantor Arsen sesuai alamat berdasarkan hasil pencarian mereka di internet.
***
Mobil sedan tua milik Laras membelah kemacetan di Ibu kota siang itu. Satu jam kemudian mereka sampai di depan gedung perkantoran yang menjulang tinggi.
“Benar kan ya ini gedungnya?” Tanya Laras saat mematikan mesin mobilnya di parkiran.
“Iya,”
“Lu gugup ya?” Tanya Laras.
Nayla hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaan Laras.
Laras melepas seatbeltnya dan memeluk erat Nayla, “Tenang, Nay. Ada gue,” ucapnya pelan.
Setelah memastikan keadaan sahabatnya, Laras melepas pelukannya lalu mereka turun dan menuju ke arah lobi. Sampai di lobi, Laras menghampiri meja resepsionis untuk konfirmasi.
“Siang mbak, kalau kantor Vision Inc. Ada di lantai berapa ya?” Tanya Laras dengan senyum.
“Di lantai sebelas Mbak. Ada keperluan apa kalau boleh tahu?” Tanya resepsionis itu dengan ramah.
“Saya mau ketemu dengan salah satu karyawannya.”
Petugas resepsionis itu mengangguk. “Oh, baik. Silahkan isi buku tamu terlebih dahulu ya.”
Setelah selesai dengan urusan administrasi, mereka naik ke lantai sebelas. Ketika sampai di lantai yang di tuju, Laras segera konfirmasi ke petugas yang berjaga.
“Siang mbak, saya mau bertemu dengan Bapak Arsen di bagian software engineer,” sapa Laras ramah.
“Oh, sebentar ya Mbak. Ada keperluan apa?”
Laras tersenyum samar. “Bilang saja Nayla ingin bertemu.”
“Baik, di tunggu sebentar ya,” ucap wanita itu lalu mengangkat gagang telepon dan menghubungi seseorang. Tak lama wanita itu menutup telponnya.
“Mbak, Pak Arsen sudah lima hari ini sedang cuti. Mbak bisa datang lagi besok karena Pak Arsen besok sudah masuk kembali.”
Keduanya lantas menghela napas bersamaan mendengar penjelasan itu. Untuk sekedar menghilangkan rasa kecewa.
“Baik mbak, terima kasih,” ucap Laras dengan senyum tipis.
“Sabar ya, Nay. Besok kita kesini lagi.” Kata Laras seraya menggandeng lengan nay menuju lift.
Nayla berjalan dengan langkah berat dan pikiran kosong. Hari ini dia pulang dengan tatapan hampa.
***
Laras melajukan mobilnya kembali ke apartemen. Sejak tadi Nayla menjadi sangat pendiam. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Gue kok ragu ya sama mas Arsen. Gimana kalau dia nggak mau tanggung jawab sama anak ini, Ras,” sahut Nayla memecah keheningan di antara mereka.
Laras mendengkus kesal. “Yah, lu gimana sih. Belum apa-apa sudah menyerah.”
Nayla menghela napas. “Apa gue cari cowok yang bisa gue bayar ya buat kawin kontrak. Cuma sampai anak ini lahir, habis itu cerai,” ucapnya tanpa berpikir panjang.
Laras mencubit pelang lengan sahabatnya. “Gila lu! Ide dari mana itu. Gue bakal tetap temani lu untuk minta tanggung jawab sama mas Arsen. Kalaupun misalnya dia nggak mau tanggung jawab, biar gue bantu lu membesarkan anak itu.”
“Lagi pula, lu emangnya punya uang buat bayar cowok yang mau jadi suami kontrak lu?” Ledeknya.
Nayla tersenyum nanar sambil menoleh ke arah Laras. “Ya kalau cowok itu mintanya nggak banyak sih gue masih bisa bayar dia pakai uang tabungan gue.”
“Sebaiknya tabungan lu di pakai untuk memenuhi kebutuhan lu kedepan. Punya anak itu mahal, Nay. Apalagi Papa lu sudah nggak bersedia membiayai hidup lu lagi,” pesan Laras sambil tetap memperhatikan kemacetan lalu lintah di depannya.
Nayla mengangguk pelan. “Iya lu benar, Ras.”
Nayla meraih tangan Laras dan menatapnya lurus-lurus. “Laras, janji ya. Lu nggak bakalan ninggalin gue kalau sampai hal buruk menimpa gue,” pinta Nayla sungguh-sungguh.
Laras memandang balik sahabatnya dengan tulus. “Iya, Nay. Gue janji.”
***