Theo lulus sekolah dan mendapat tawaran kuliah psikologi serta kebijakan digital di luar negeri. Ia ingin meneliti dampak jejak digital pada kesehatan mental remaja.
Alyn bangga, tetapi takut jarak jauh menghidupkan kecemasan Theo.
"Aku punya rencana terapi dan dukungan kampus," kata Theo. "Aku tidak pergi tanpa persiapan."
Tristan memeriksa fasilitas kesehatan universitas dan hampir membuat daftar aturan harian. Theo meminta kepercayaan lebih besar.
Mereka menyepakati panggilan mingguan, kontak darurat, dan hak Theo meminta ruang. Jika kondisinya memburuk, pulang menjadi pilihan, bukan kegagalan.
Tara sedih kehilangan kakaknya di rumah. Theo berjanji tidak selalu membalas cepat, tetapi akan menjaga hubungan.
Di bandara Alyn teringat bayi kecil di inkubator. Kini Theo berdiri lebih tinggi darinya dan membawa hidup sendiri.
"Aku bukan alasan Mama dan Papa bersama, kan?" tanyanya sekali lagi.
"Bukan," jawab keduanya.
Theo tersenyum lega lalu pergi.
Bulan pertama sulit, tetapi ia menggunakan dukungan kampus. Ia juga membuat proyek yang membantu mahasiswa meminta penghapusan konten lama secara hukum.
Alyn dan Tristan belajar tidak memeriksa setiap langkah.
Di rumah, Tara mulai mendapat kesempatan mengikuti program musik nasional. Jika diterima, ia juga akan tinggal di asrama.
Alyn tertawa pahit. "Kenapa semua anak ingin meninggalkan rumah?"
Tristan menjawab, "Mungkin karena mereka tahu rumah tetap ada ketika mereka pulang."
Tara diterima dalam program musik nasional. Pengalaman prematur serta kisah keluarga menginspirasi lagunya, tetapi ia menentukan sendiri bagian yang boleh dipublikasikan.
Alyn ingin hadir pada setiap pertunjukan. Pekerjaan membuatnya melewatkan satu konser kecil, dan rasa bersalah kembali muncul.
Tara berkata, "Mama melihat latihan dan pertunjukan lain. Satu hari tidak menghapus semuanya."
Anak yang dahulu dikhawatirkan tidak mampu bernapas kini berdiri di panggung besar dan mengendalikan suaranya sendiri.
Tristan mengurangi operasi setelah mengalami nyeri tangan. Pemeriksaan menunjukkan masalah saraf ringan akibat penggunaan bertahun-tahun.
Ia dapat terus bekerja dengan terapi, tetapi harus mengurangi prosedur kompleks. Kehilangan sebagian peran bedah membuatnya berduka.
Alyn tidak mengatakan jabatan kepala departemen sudah cukup. Ia memahami operasi adalah bagian identitas Tristan.
Tristan beralih lebih banyak mengajar dokter muda dan menemukan kepuasan melihat mereka berkembang.
Pada konser akhir tahun, Theo pulang mengejutkan Tara. Andin, Mark, Mara, Aldo, ibu, serta seluruh keluarga duduk bersama.
Tara membawakan lagu berjudul One Day at a Time. Lagu itu menceritakan detak jantung kecil, ruang inkubator, dan keluarga yang tidak menjanjikan hidup tanpa takut.
Setelah pertunjukan, Alyn serta Tristan berdiri di lorong auditorium yang sepi.
"Kita sudah tua," kata Alyn.
"Speak for yourself."
Mereka tertawa. Namun hasil pemeriksaan tangan Tristan juga menemukan tanda awal penyakit saraf progresif yang mungkin suatu hari memengaruhi lebih dari keterampilan bedahnya.
Masa depan kembali datang tanpa kepastian, seperti kehamilan Alyn bertahun-tahun lalu.
Tristan menatap tangan kanannya di bawah cahaya lampu kamar mandi. Tidak ada getaran yang terlihat. Namun ketika ia merentangkan jari-jari dan mempertahankannya beberapa detik, telunjuknya bergerak kecil di luar kendali.
Begitu kecil hingga orang lain mungkin tidak menyadarinya.
Begitu besar bagi seorang ahli bedah.
"Kamu belum tidur?" Alyn berdiri di ambang pintu dengan wajah mengantuk.
Tristan buru-buru menurunkan tangannya. "Sebentar lagi."
Alyn tidak bergerak. Setelah puluhan tahun bersama, ia sudah mengenali cara suaminya menyembunyikan ketakutan: bahunya terlalu tegak, suaranya terlalu tenang, dan matanya menghindari cermin.
"Tanganmu sakit lagi?"
"Bukan sakit. Hanya sedikit kaku."
"Tristan."
Satu kata itu meruntuhkan pertahanannya. Tristan mengembuskan napas dan menyerahkan hasil pemeriksaan lanjutan yang sejak sore tersimpan di laci. Dokter saraf belum memberikan diagnosis pasti. Ada kemungkinan gangguan saraf motorik, tetapi masih diperlukan rangkaian tes untuk membedakannya dari cedera saraf perifer atau tremor yang dapat diobati.
Alyn membaca setiap baris dua kali.
"Kenapa baru kamu berikan sekarang?"
"Tara baru selesai tampil. Aku tidak mau merusak malamnya."
"Dan setelah malamnya selesai, kamu berniat menanggung ini sendirian?"
Tristan terdiam. Alyn mendekat, lalu menggenggam tangan yang dulu pertama kali menyentuh perutnya ketika Theo masih berupa gerakan kecil. Tangan yang menggendong Tara dari inkubator, yang memasangkan cincin pernikahan, dan yang telah menyelamatkan begitu banyak nyawa.
"Kalau aku tidak bisa mengoperasi lagi, siapa aku?" tanya Tristan lirih.
"Suamiku. Ayah anak-anak. Dokter yang ilmunya tidak hanya tinggal di jari-jari. Dan manusia yang boleh takut."
Keesokan harinya Tristan menyerahkan daftar operasinya kepada wakil kepala departemen untuk sementara. Keputusan itu membuat ruang rapat sunyi. Beberapa kolega menyatakan dukungan, beberapa lainnya bertukar pandang seolah sedang menghitung siapa yang akan menggantikan posisinya.
Tristan melihat semuanya, tetapi untuk pertama kalinya ia memilih keselamatan pasien di atas harga dirinya.
Pemeriksaan dimulai: MRI, tes konduksi saraf, pemeriksaan darah, serta observasi gerakan. Menunggu hasil terasa lebih melelahkan daripada berdiri berjam-jam di meja operasi.
Malam itu Theo menelepon dari kampus. Tristan hampir berbohong, tetapi Alyn duduk di sebelahnya dan menggeleng lembut.
"Ada sesuatu yang sedang Ayah periksa," katanya akhirnya. "Belum ada kesimpulan."
Theo diam cukup lama. "Ayah takut?"
Tristan menatap tangannya sendiri. "Iya."
"Good. Berarti Ayah tidak pura-pura kebal lagi."
Tristan tertawa kecil. Kalimat itu terdengar seperti Alyn, hanya dengan suara putranya.
Tiga hari kemudian dokter saraf memanggil mereka. Hasilnya belum memastikan penyakit progresif yang paling mereka takutkan, tetapi juga belum menyingkirkannya. Mereka harus menunggu perkembangan gejala selama beberapa bulan.
Ketidakpastian kembali duduk di antara Alyn dan Tristan.
Kali ini, mereka tidak membiarkannya memisahkan kursi mereka.
Rumah sakit mengumumkan cuti klinis Tristan sebagai keputusan sukarela. Namun berita bergerak cepat dan berubah bentuk sebelum mencapai telinga terakhir. Ada yang mengatakan tangannya lumpuh. Ada yang mengatakan ia melakukan kesalahan fatal. Seseorang bahkan menghubungkan kondisi itu dengan kasus Bagas bertahun-tahun lalu.
Tristan membaca komentar-komentar tersebut sampai tengah malam.
Alyn mengambil ponselnya. "Kamu yang mengajarkan Theo untuk tidak memberi makan pada ruang digital yang kejam. Sekarang giliranmu mempraktikkannya."
"Lebih mudah memberi nasihat daripada menjalankannya."
"Aku tahu."
Di rumah sakit, Tristan masih datang tanpa mengenakan pakaian operasi. Ia mengajar residen, mengevaluasi kasus, dan memperbaiki protokol keselamatan. Pada hari pertama, ia merasa seperti tamu di rumah sendiri. Bunyi pintu ruang operasi yang tertutup membuat dadanya sesak.
Seorang residen bernama Niko menghampirinya membawa hasil pemindaian pasien. "Dok, saya perlu pendapat Anda. Lokasi tumornya dekat pembuluh besar."
Tristan menelaah gambar itu. Dalam beberapa menit, pikirannya menyusun rute pembedahan, risiko, serta jalan keluar jika terjadi perdarahan.
"Jangan masuk dari sisi yang paling pendek," katanya. "Masuk dari sisi yang memberimu ruang saat keadaan memburuk."
Niko mencatat dengan cepat. Operasi dipimpin dokter lain dan berlangsung sukses. Ketika Niko keluar, ia langsung mencari Tristan.
"Rencananya menyelamatkan kami, Dok."
Untuk pertama kalinya sejak cuti klinis, Tristan merasa keahliannya belum hilang. Bentuknya saja yang berubah.
Di rumah, Tara mengajak ayahnya memainkan piano. Tristan menolak karena jari kanannya terasa lambat, tetapi Tara menggeser bangku agar tersedia tempat di sampingnya.
"Kita tidak perlu memainkan lagu sulit," katanya. "Satu nada pun tetap musik kalau dimainkan bersama."
Mereka memainkan melodi sederhana. Beberapa kali Tristan terlambat menekan tuts, dan Tara menyesuaikan tempo tanpa mengomentarinya.
Alyn menyaksikan dari ruang makan sambil menahan air mata.
Namun kedamaian itu pecah ketika pihak rumah sakit meminta Tristan mempertimbangkan mundur dari jabatan kepala departemen. Mereka menyebutnya restrukturisasi sementara, tetapi Tristan memahami maksudnya.
"Mereka sudah menganggap aku selesai," katanya setelah membaca surat resmi.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Alyn.
"Aku tidak tahu apakah bertahan berarti berjuang atau hanya menyangkal."
Alyn tidak memilihkan jawaban. Ia meminta Tristan menemui konselor profesi dan berbicara dengan dokter sarafnya. Setelah serangkaian diskusi, Tristan menawarkan jalan tengah: ia melepaskan kendali operasional, tetapi memimpin pusat pendidikan dan keselamatan bedah yang selama ini baru menjadi gagasan.
Dewan rumah sakit menyetujuinya dengan masa evaluasi enam bulan.
Saat menandatangani dokumen, tangan Tristan kembali bergetar. Ia berhenti, menarik napas, lalu melanjutkan tanda tangannya hingga selesai.
Garisnya tidak serapi dahulu.
Tetapi namanya masih miliknya.