Alyn mengira memperbarui janji pernikahan hanya membutuhkan halaman belakang, beberapa kursi, dan makan malam bersama keluarga. Ia lupa bahwa Andin menganggap acara keluarga sebagai proyek besar yang harus memiliki tema, susunan warna, serta daftar kemungkinan bencana.
"Tidak ada dekorasi berlebihan," kata Alyn ketika Andin datang membawa tiga katalog.
"Aku cuma menawarkan pilihan."
"Kamu sudah memesan bunga, kan?"
Andin terdiam selama dua detik. "Hanya contoh."
Dari ruang tengah, Tristan tertawa. Suaranya tidak lagi sekuat dahulu, tetapi masih cukup jelas untuk membuat Andin berteriak bahwa ia berada di pihak kakaknya.
Di balik kegembiraan persiapan itu, kondisi Tristan terus berubah. Ia mulai mengalami kesulitan menelan makanan tertentu. Dokter menyarankan evaluasi tambahan dan penyesuaian tekstur makanan. Tristan mengangguk selama konsultasi, lalu diam sepanjang perjalanan pulang.
"Kamu boleh membatalkan acaranya kalau terlalu lelah," kata Alyn.
"Aku tidak mau membatalkannya."
"Aku tidak sedang mengujimu."
Tristan menoleh. "Aku tahu. Aku hanya ingin ada satu hal yang kupilih sendiri sebelum penyakit ini memilih lebih banyak hal untukku."
Alyn tidak membantah lagi. Mereka mengubah rencana agar sederhana: keluarga inti, taman rumah lama ayah, dan sore hari supaya Tristan tidak terlalu lelah. Theo pulang lebih awal dari kampus. Tara membatalkan satu pertunjukan dan bersikeras memainkan musik secara langsung.
Beberapa hari sebelum acara, Alyn menemukan Tristan berlatih berdiri di depan cermin tanpa tongkat.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Aku ingin berdiri sendiri saat mengucapkan janji."
"Dengan mempertaruhkan jatuh di depan semua orang?"
"Hanya beberapa menit."
Alyn menahan rasa kesal. "Kalau janji itu hanya sah ketika kamu berdiri tanpa bantuan, berarti selama ini kita memahami pernikahan dengan salah."
Tristan menunduk. Ia mengaku masih sulit menerima bahwa foto-foto terakhir mereka mungkin selalu memperlihatkan tongkat atau kursi roda.
Alyn berdiri di sampingnya di depan cermin. "Aku juga takut melihat perubahanmu. Tetapi aku lebih takut kalau kamu melukai diri sendiri hanya untuk menciptakan gambar yang tidak jujur."
Pada hari acara, hujan turun sejak pagi. Andin hampir menangis melihat kursi-kursi taman dipindahkan ke dalam rumah. Alyn justru tertawa. Pernikahan pertamanya dengan Tristan juga dipenuhi hal-hal yang tidak berjalan sesuai rencana. Barangkali ketidaksempurnaan memang tradisi mereka.
Menjelang sore, hujan berhenti. Udara masih dingin dan tanah basah, tetapi langit perlahan terbuka. Keluarga membawa kursi kembali ke teras. Tristan datang dengan tongkat di tangan kiri dan Alyn di sisi kanannya.
Tidak ada pendeta atau pembawa acara. Theo membuka pertemuan dengan membaca surat pendek tentang rumah yang tidak dibangun dari dinding, melainkan dari orang-orang yang terus menyediakan jalan pulang. Tara kemudian memainkan lagu ciptaannya.
Ketika tiba giliran Tristan, ia tidak berusaha menyembunyikan getaran tangannya.
"Dulu aku berjanji akan menjagamu," katanya kepada Alyn. "Hari ini aku tahu kalimat itu tidak lengkap. Aku juga berjanji membiarkanmu menjagaku tanpa menganggap diriku gagal. Aku berjanji mengatakan ketika aku takut, menerima bantuan ketika aku membutuhkannya, dan tetap melihatmu sebagai perempuan yang kucintai—bukan hanya orang yang merawatku."
Alyn menarik napas panjang sebelum menjawab.
"Aku berjanji berjalan bersamamu tanpa berpura-pura bahwa jalan ini mudah. Aku akan mencintaimu, tetapi aku juga akan menjaga diriku sendiri. Aku akan meminta bantuan sebelum kelelahan berubah menjadi kebencian. Dan selama kita masih memiliki hari, aku akan menjalani hari itu bersamamu, bukan menghabiskannya dengan hanya menunggu kehilangan."
Tristan mengulurkan tangan. Alyn menggenggamnya.
Mereka tidak mengulang janji karena janji lama telah gagal.
Mereka mengulangnya karena orang yang mengucapkan janji itu telah berubah.
Tiga bulan setelah pembaruan janji, kehidupan mereka tidak menjadi lebih ringan. Tristan beberapa kali terbangun karena kram otot. Alyn mulai terbiasa tidur dengan satu telinga tetap waspada, mendengarkan perubahan napas suaminya.
Ia masih bekerja sebagai direktur, menghadiri rapat, dan mengambil keputusan untuk ratusan pegawai. Namun di rumah, pikirannya dipenuhi jadwal obat, terapi, makanan, serta alat bantu. Ia mengatakan kepada semua orang bahwa ia baik-baik saja sampai suatu pagi tubuhnya menolak kebohongan itu.
Alyn sedang memimpin presentasi ketika tulisan pada layar mendadak kabur. Napasnya pendek dan jantungnya berdegup cepat. Ia mencoba meneruskan kalimat, tetapi suaranya menghilang.
Rekan kerjanya membawanya ke ruang kesehatan. Dokter memastikan tidak ada serangan jantung. Itu serangan panik akibat kelelahan berkepanjangan.
Alyn meminta kejadian itu tidak diberitahukan kepada Tristan. Sore harinya ia pulang dan tersenyum seperti biasa. Namun Tristan melihat bekas plester pemeriksaan di lengannya.
"Apa yang terjadi?"
"Hanya sedikit pusing."
"Alyn."
Nada yang sama pernah Alyn gunakan ketika memergokinya menyembunyikan hasil pemeriksaan. Kini kebohongan kecil itu berbalik kepadanya.
Setelah mendengar penjelasan, Tristan marah. Bukan kepada Alyn, melainkan kepada dirinya sendiri.
"Aku menjadi beban yang membuatmu sakit."
"Kondisimu menambah bebanku, iya," jawab Alyn jujur. "Tapi masalahnya bukan keberadaanmu. Masalahnya kita bertingkah seolah cinta berarti aku harus mengurus semuanya sendiri."
Keesokan harinya mereka mengadakan pertemuan keluarga. Andin menawarkan mengatur jadwal pendamping. Aldo mengurus pembiayaan perawat profesional. Theo dan Tara tetap membantu saat berada di rumah, tetapi Alyn menolak menjadikan anak-anak sebagai perawat utama ayah mereka.
Tristan awalnya tidak nyaman ketika seorang perawat bernama Seno datang tiga kali seminggu. Ia merasa privasinya hilang ketika membutuhkan bantuan untuk mandi dan berpakaian. Seno tidak memperlakukannya sebagai pasien yang rapuh. Ia menanyakan preferensi, menunggu izin sebelum menyentuh, dan membiarkan Tristan melakukan sendiri apa pun yang masih mampu ia kerjakan.
"Bantuan itu bukan mengambil kendali," kata Seno. "Bantuan yang baik mengembalikan kendali sebanyak mungkin kepada orang yang menerimanya."
Kalimat itu mengubah sesuatu dalam diri Tristan.
Alyn mulai menemui terapis dan mengambil satu hari bebas setiap pekan. Pada hari pertamanya, ia hanya duduk di taman, membaca setengah halaman buku, lalu menangis karena merasa bersalah menikmati waktu tanpa suaminya.
Ketika pulang, Tristan menanyakan harinya.
"Aku merasa egois."
"Apakah kamu akan menyebutku egois kalau aku mengambil waktu untuk beristirahat?"
"Tidak."
"Kalau begitu jangan memakai aturan yang lebih kejam untuk dirimu sendiri."
Malam itu mereka makan bersama tanpa membicarakan obat atau pemeriksaan. Seno telah menyiapkan makanan dengan tekstur aman bagi Tristan. Tara melakukan panggilan video dari studio, sedangkan Theo mengirim foto perpustakaan tempat ia sedang menulis.
Cinta mereka tetap membutuhkan kesetiaan.
Tetapi kesetiaan tidak harus dikerjakan hanya oleh dua tangan yang kelelahan.