Setelah pulang dari rumah sakit, Tristan meminta berbicara dengan setiap anak secara terpisah. Bukan karena ia memperkirakan kematian akan datang dalam hitungan hari, melainkan karena pengalaman sesak napas membuatnya sadar betapa banyak kalimat penting yang selalu ditunda.
Theo mendapat giliran pertama. Mereka duduk di studio belajar, dikelilingi rekaman kuliah dan model anatomi yang pernah menjadi bagian terbesar hidup Tristan.
"Ayah mau kamu mengambil jam tangan itu," kata Tristan sambil menunjuk kotak kayu di rak.
Theo mengenali jam yang dahulu dipakai ayahnya saat melamar Alyn untuk kedua kali. "Kenapa sekarang?"
"Supaya benda itu menjadi milikmu saat aku masih bisa melihatmu memakainya."
Theo memasang jam tersebut. Talinya sedikit longgar.
"Ayah tidak sedang berpamitan, kan?"
"Ayah sedang mengatakan apa yang perlu dikatakan tanpa menunggu perpisahan."
Tristan meminta maaf karena pada masa kecil Theo, ia kadang terlalu sibuk membuktikan diri sebagai dokter dan ayah yang baik. Ia juga mengakui ketakutannya pernah membuat Theo merasa harus menjadi anak yang tidak menambah masalah.
"Kamu tidak wajib meneruskan namaku atau memperbaiki semua kesalahanku," katanya. "Hiduplah dengan namamu sendiri."
Theo menunduk, memutar jam di pergelangan tangan. "Aku ingin Ayah melihat aku lulus."
"Aku juga ingin. Dan aku akan berusaha berada di sana. Tapi kalau tubuh Ayah punya rencana lain, jangan mengubah hari kelulusanmu menjadi hari berkabung."
Percakapan dengan Tara berlangsung di ruang musik. Tristan menyerahkan stetoskop pertamanya yang telah dibingkai bersama catatan pendek.
Tara mengerutkan dahi. "Aku bukan dokter."
"Itu bukan perintah untuk menjadi dokter. Stetoskop mengajarkanku mendengar apa yang tidak selalu bisa dilihat. Musikmu melakukan hal yang sama."
Tara memeluk ayahnya dan menangis di bahunya. Ia mengaku takut setiap kali menerima tawaran pertunjukan di luar kota. Sebagian dirinya ingin terus berada di rumah agar tidak kehilangan momen terakhir.
"Kalau kamu berhenti hidup supaya bisa menyaksikan Ayah mati, penyakit ini merenggut terlalu banyak," kata Tristan.
"Bagaimana kalau aku sedang pergi saat Ayah membutuhkan aku?"
"Maka Ayah akan bersama orang-orang yang mencintai Ayah. Dan kamu juga termasuk di dalamnya, berapa pun jaraknya."
Malamnya tiba giliran Alyn. Tristan tidak memberikan benda apa pun. Ia hanya meminta istrinya duduk di samping tempat tidur.
"Aku sudah menulis surat untukmu," katanya. "Tapi jangan dibaca sekarang."
"Aku benci surat perpisahan."
"Ini bukan hanya surat perpisahan. Ada daftar kata sandi dan dokumen juga. Sangat romantis."
Alyn tertawa meski matanya basah.
Kemudian Tristan menjadi serius. "Ketika waktunya tiba, jangan jadikan kesedihan sebagai bukti bahwa kamu mencintaiku. Kamu boleh bahagia lagi."
Alyn menggeleng. "Kita tidak perlu membicarakan semuanya malam ini."
"Justru karena kita masih punya malam ini."
Alyn akhirnya mengucapkan ketakutannya sendiri. Ia takut lega ketika beban merawat berakhir. Ia takut rasa lega itu akan membuatnya menjadi istri yang buruk.
Tristan menggenggam jemarinya. "Kelelahanmu bukan ukuran cintamu. Dan kelegaan tidak menghapus duka. Keduanya boleh tinggal di hati yang sama."
Malam semakin larut. Tidak semua kalimat berhasil mereka ucapkan tanpa tangis. Namun ketika lampu dipadamkan, tidak ada lagi rahasia besar yang berdiri di antara mereka.
Ada hal-hal yang diucapkan manusia untuk mengakhiri hubungan.
Ada pula yang harus diucapkan agar cinta tetap hidup bahkan setelah sebuah kehidupan berakhir.
Dua tahun kemudian, Tristan masih hidup.
Penyakitnya telah merenggut kemampuan berjalan dan membuat suaranya semakin pelan. Ia menggunakan perangkat komunikasi ketika terlalu lelah berbicara. Namun pikirannya tetap jernih, selera humornya tetap buruk menurut Tara, dan ia masih mengajar dua kelas daring setiap minggu.
Theo akan lulus pada awal musim panas. Perjalanan panjang dengan pesawat terlalu berisiko bagi Tristan, sehingga keluarga semula merencanakan menonton upacara melalui siaran langsung. Theo menerima keputusan itu, tetapi kekecewaan tetap terdengar dalam suaranya.
Seminggu sebelum kelulusan, kondisi Tristan stabil. Dokter mengatakan perjalanan mungkin dilakukan dengan pendamping medis dan perencanaan ketat. Alyn langsung menolak karena risiko infeksi dan kelelahan.
"Aku ingin pergi," kata Tristan melalui perangkatnya.
"Kamu baru keluar dari infeksi dua bulan lalu."
"Aku tahu risikonya."
"Dan kalau terjadi sesuatu di perjalanan?"
Perangkat itu mengeluarkan suara datar yang bertolak belakang dengan perasaan Tristan. "Aku tidak mau seluruh sisa hidupku ditentukan hanya oleh cara paling aman untuk tidak mati."
Kalimat itu membuat Alyn marah sekaligus mengerti. Mereka berkonsultasi kembali dengan tim medis. Seno bersedia ikut, maskapai menyediakan bantuan, dan jadwal dibuat dengan waktu istirahat panjang.
Mereka tidak memberi tahu Theo.
Pada hari kelulusan, Theo berdiri bersama mahasiswa lain di balik panggung. Ketika ia mengintip ke arah tempat duduk keluarga, ia melihat Tara, Andin, dan Alyn. Kursi di samping Alyn tampak kosong.
Lalu Seno muncul mendorong kursi roda Tristan melalui lorong samping.
Theo menutup mulutnya. Dari kejauhan, Tristan mengangkat tangan kirinya. Jam tangan di pergelangan Theo menangkap cahaya.
Saat nama Theo dipanggil, ia berjalan ke panggung dengan mata basah. Penelitiannya tentang kesehatan mental dan jejak digital memperoleh penghargaan khusus. Dalam pidato singkat, ia tidak menceritakan riwayat keluarganya secara terperinci.
"Saya belajar bahwa teknologi bisa menyimpan luka lebih lama daripada ingatan manusia," katanya. "Karena itu, kita harus membangun ruang yang juga menyimpan kesempatan untuk pulih."
Setelah acara, Theo berlutut di depan ayahnya.
"Ayah seharusnya tidak mengambil risiko sebesar ini."
Tristan mengetik jawabannya perlahan.
"Kamu benar. Jangan beri tahu ibumu."
Alyn yang berdiri tepat di belakang mereka mendengus. "Perangkat itu tidak bisa berbisik, Tristan."
Mereka tertawa bersama. Kemudian Theo menyandarkan kening pada tangan ayahnya.
"Aku senang Ayah datang."
"Aku juga."
Perjalanan pulang melelahkan. Tristan membutuhkan beberapa hari untuk pulih, tetapi tidak menyesal. Foto kelulusan ditempatkan di studio belajarnya: Theo memegang ijazah, Tara membuat wajah konyol, Alyn berdiri di belakang kursi roda, dan Tristan tersenyum lemah di tengah mereka.
Ia berhasil melihat hari yang pernah ia janjikan tidak dapat dipastikan.
Dan Theo menjalani hari itu bukan sebagai anak yang menunggu kehilangan, melainkan sebagai seorang lelaki yang sedang memulai hidupnya sendiri.