Alyn meminta Tristan memperkenalkannya kepada Evelyn melalui panggilan video. Tristan tersinggung pada awalnya, tetapi memahami kepercayaan mereka masih memiliki bekas luka.
Evelyn ternyata sudah menikah dan suaminya ikut dalam panggilan. Ia mengatakan foto tersebut diambil setelah mereka pulang dari operasi panjang bersama tim lain.
Alyn merasa malu, tetapi Tristan tidak mengejek.
"Aku ingin mempercayaimu," kata Alyn. "Tapi aku juga tidak mau mengabaikan tanda hanya supaya terlihat dewasa."
"Bertanya bukan masalah. Menuduh tanpa mendengar baru menjadi masalah."
Mereka menemukan keseimbangan antara transparansi dan pengawasan. Tristan tidak wajib mengirim lokasi setiap saat; Alyn berhak menanyakan situasi yang memengaruhi hubungan.
Sebaliknya, Tristan merasa cemburu ketika Revan membantu Alyn dalam proyek kerja. Ia hampir meminta Alyn menjauh, lalu mengingat hak yang sama berlaku dua arah.
Revan sendiri bertunangan dengan perempuan lain dan hanya menganggap Alyn teman. Tristan meminta maaf karena membuat asumsi.
Menjelang akhir fellowship, rumah sakit Inggris menawarkan posisi permanen. Gajinya besar dan fasilitas penelitiannya jauh lebih baik.
Tristan tidak memberikan jawaban sebelum berbicara dengan Alyn.
"Aku tidak mau lima tahun dari sekarang menyalahkanmu kalau menolak," katanya. "Aku juga tidak mau kehilangan kehidupan bersama Theo."
Alyn meminta mereka membandingkan pilihan secara nyata. Tinggal di Inggris berarti karier Alyn harus dimulai ulang dan dukungan keluarga berkurang. Tinggal di Indonesia berarti Tristan melepaskan kesempatan penelitian.
Mereka sepakat Tristan pulang setelah fellowship dan mencari kerja sama penelitian jarak jauh. Keputusan itu bukan pengorbanan sepihak; ia memperoleh jalur baru yang tetap mendukung kariernya.
Tristan pulang tepat setahun setelah keberangkatan. Theo yang kini dapat berjalan beberapa langkah menatapnya lama di bandara, lalu berlari kecil sambil memanggil, "Papa."
Tristan berlutut dan menangis saat memeluknya.
Alyn berdiri beberapa langkah kemudian. Mereka saling tersenyum sebelum berpelukan.
Hidup satu kota kembali tidak otomatis mudah. Tristan terbiasa jadwal Inggris dan ingin mengubah rutinitas Theo. Alyn merasa pengalaman setahun membuatnya lebih mengetahui kebutuhan anak.
"Aku juga ayahnya," kata Tristan.
"Iya, tapi kau perlu belajar rutinitasnya sekarang, bukan langsung mengganti."
Mereka mengikuti kelas pengasuhan bersama dan membagi tanggung jawab tertulis. Tristan mengambil dua malam jaga setiap minggu, sementara Alyn kembali bekerja lebih banyak.
Hubungan mereka semakin stabil. Suatu malam Tristan mengeluarkan cincin pertunangan lama yang tidak pernah sempat diberikan.
"Aku tidak akan melamar malam ini," katanya.
"Kenapa menunjukkannya?"
"Karena dulu aku menyembunyikan rencana dan ketakutan. Sekarang aku ingin jujur bahwa aku memikirkan pernikahan."
Alyn menghargai kejujuran, tetapi meminta waktu hidup bersama dalam ritme baru sebelum mengambil keputusan.
Tristan setuju. Cincin disimpan kembali tanpa drama.
Keesokan hari ayah mengundang seluruh keluarga. Ia mengatakan ingin meminta maaf secara resmi kepada Alyn dan mengakui Theo sebagai cucu tanpa syarat pernikahan.
Namun sebelum makan malam dimulai, Andin yang sedang hamil mengalami pendarahan dan dilarikan ke rumah sakit.
Kini giliran Alyn menghadapi ketakutan dari sisi kakak, sementara Mark harus menunggu di luar ruang tindakan seperti yang pernah dilakukan Tristan.
Dokter menemukan plasenta Andin berada terlalu rendah dan menyebabkan pendarahan. Bayinya masih hidup, tetapi Andin harus dirawat serta beristirahat ketat.
Mark duduk di lorong dengan wajah pucat. "Aku seharusnya lebih menjaga dia."
"Kondisi ini bukan karena kau kurang menjaganya," kata Alyn. "Jangan membuat rasa bersalahmu menjadi beban Andin."
Tristan tidak menangani Andin karena hubungan pribadi. Ia membantu Mark memahami penjelasan dokter setelah memperoleh izin.
Andin takut kehilangan bayi dan terus meminta kepastian. Dokter hanya dapat mengatakan mereka akan memantau dari hari ke hari.
"Aku benci jawaban itu," katanya kepada Alyn.
"Aku juga dulu membencinya. Tapi tidak ada orang yang bisa menjanjikan hasil. Kita jalani satu hari dulu."
Ayah datang dan kembali hampir mengambil alih keputusan. Kali ini Alyn menghentikannya dengan tenang. Andin sendiri menunjuk Mark sebagai pendamping medis.
Pendarahan berhenti setelah dua hari. Andin diperbolehkan pulang dengan batas aktivitas dan pemeriksaan lebih sering.
Mark mengubah rumah menjadi terlalu steril dan melarang Andin berjalan beberapa langkah. Andin marah karena merasa menjadi pasien, bukan istri.
Alyn mengingatkan Mark bahwa perlindungan tanpa mendengar dapat berubah menjadi kurungan. Mark meminta maaf dan mengikuti panduan dokter, bukan ketakutannya sendiri.
Pengalaman tersebut mendekatkan kedua pasangan. Tristan melihat Alyn mampu mendampingi kakaknya tanpa menghapus diri.
Malam setelah Andin pulang, Tristan bertanya apakah Alyn masih takut menikah.
"Aku takut mengulang hubungan lama," jawabnya. "Bukan takut pada pernikahannya."
Tristan mengangguk. Ia tidak mengeluarkan cincin. Belum waktunya.
Ayah mengundang Alyn berbicara berdua. Untuk pertama kalinya ia meminta maaf tanpa menjelaskan bahwa kemarahannya dilakukan demi keluarga.
"Ayah mempermalukanmu ketika kau sedang takut. Ayah menganggap pernikahan dapat menutupi semuanya."
Alyn mendengarkan sambil menangis.
"Aku tidak bisa langsung melupakan."
"Ayah tidak meminta itu."
Ayah menawarkan membantu biaya Theo, tetapi Alyn meminta bantuan diberikan sebagai kasih kepada cucu, bukan imbalan agar dirinya patuh.
Mereka membuat dana pendidikan atas nama Theo dengan pengawasan bersama. Tristan tidak mengambil kendali karena pendapatannya lebih besar.
Hubungan ayah dan Alyn membaik melalui kunjungan singkat. Ayah belajar menggendong Theo dan berhenti bertanya kapan Alyn menikah.
Sementara itu, Andin melewati trimester berikutnya dengan aman. Mark mengikuti konseling pasangan karena ketakutan mereka mulai mengganggu komunikasi.
Tristan juga menyelesaikan penelitian kerja sama dengan Inggris dari Indonesia. Ia membuktikan keputusan pulang bukan akhir kariernya.
Alyn memperoleh promosi di kantor. Posisi itu membutuhkan perjalanan sesekali. Tristan menawarkan menyesuaikan jadwal operasi untuk menjaga Theo.
"Kau tidak keberatan?"
"Aku ayahnya. Ini bukan bantuan kepadamu."
Perkataan tersebut membuat Alyn semakin yakin perubahan Tristan tidak hanya dilakukan saat mengejarnya.
Pada ulang tahun pertama Theo, mereka mengadakan pesta kecil. Setelah tamu pulang, Alyn mengambil cincin lama dari laci tempat Tristan menyimpannya.
"Aku belum menjawab pertanyaan yang belum kau ajukan," katanya.
Tristan tersenyum. "Apakah sekarang aku boleh mengajukannya?"
Alyn mengangguk.
Tristan berlutut di ruang keluarga yang dipenuhi sisa balon ulang tahun. Tidak ada musik atau bunga besar. Theo tertidur di pangkuan Aldo.
"Alyn, aku pernah meminta menikah lalu pergi saat ketakutan menguasai. Kali ini aku tidak berjanji selalu benar. Aku berjanji bicara, mendengar, dan tidak membuat keputusan hidupmu sendirian. Will you marry me?"
Alyn meminta waktu beberapa menit. Ia tidak ingin jawaban keluar hanya karena kenangan sembilan tahun.
"Yes," katanya akhirnya. "Tapi kita ikut konseling pranikah dan membuat perjanjian pengasuhan serta harta yang jelas."
"Aku setuju."
Tristan memasangkan cincin setelah meminta izin. Aldo ternyata merekam dari sudut ruangan dan langsung dimarahi Alyn.
Kabar pertunangan disampaikan hanya kepada keluarga. Mereka tidak ingin media atau rumah sakit menjadikannya cerita dokter romantis yang kembali kepada mantan hamil.
Konseling membuka banyak masalah lama. Alyn masih takut Tristan menghilang ketika tertekan. Tristan masih takut satu kesalahan membuat Alyn meninggalkannya tanpa kesempatan bicara.
Mereka menyusun cara menghadapi konflik: tidak mengancam putus saat marah, memberi waktu menenangkan diri dengan batas jelas, dan kembali berbicara pada waktu yang disepakati.
Andin membantu memilih gaun dari rumah karena masih dibatasi aktivitas. Mark menjadi pendamping Tristan dan terus mengejek lamaran ruang keluarga.
Pernikahan direncanakan enam bulan kemudian, setelah perkiraan persalinan Andin.
Namun pemeriksaan terakhir menunjukkan Andin harus melahirkan lebih awal melalui operasi. Tanggalnya bertepatan dengan hari ketika gedung pernikahan Alyn harus dilunasi.
Alyn membatalkan urusan gedung dan memilih menemani kakaknya. Tristan menangani pembayaran serta jadwal tanpa mengeluh bahwa persiapan mereka terganggu.