Setahun berlalu dengan kecepatan yang aneh. Beberapa hari terasa begitu panjang karena latihan fisik dan kunjungan rumah sakit. Bulan-bulan lain menghilang di antara konser Tara, penelitian Theo, pekerjaan Alyn, dan kelas-kelas Tristan.
Penyakit itu berkembang, tetapi lebih lambat daripada dugaan terburuk mereka. Tristan menggunakan tongkat untuk jarak jauh dan kursi roda pada hari-hari ketika tenaganya menurun. Suaranya sesekali melemah, sementara pikirannya tetap tajam.
Ia berhenti mengajar di ruang kuliah besar dan mengubah satu ruangan rumah menjadi studio pembelajaran daring. Dokter muda dari berbagai kota mengikuti diskusinya. Anehnya, pengaruh Tristan justru meluas setelah tubuhnya membatasi perjalanan.
Suatu sore, seorang pasien lama bernama Bagas datang berkunjung. Rambutnya telah memutih dan langkahnya tidak lagi tegap. Ia membawa foto keluarganya.
"Saya pernah sangat marah kepada Dokter," katanya. "Sebagian kemarahan itu masih ada. Tapi perubahan sistem yang lahir dari kasus saya sudah menyelamatkan orang lain. Saya ingin Dokter tahu itu."
Tristan tidak meminta pengampunan. Ia menerima kenyataan bahwa satu peristiwa dapat menyimpan kesalahan dan kebaikan sekaligus.
"Terima kasih sudah datang," katanya.
Theo menyelesaikan penelitian pertamanya tentang jejak digital dan pemulihan remaja. Ia mendedikasikannya bukan kepada orang tuanya, melainkan kepada anak-anak yang tidak memiliki keluarga aman untuk pulang. Alyn menangis saat membacanya.
Tara pulang dari pertunjukan membawa komposisi baru berjudul "The Hand That Stayed". Ia memainkan lagu itu untuk Tristan. Melodinya dimulai dengan satu nada ragu, lalu berkembang menjadi harmoni yang dimainkan oleh tangan lain.
"Ini tentang Ayah?" tanya Tristan.
"Tentang kita semua," jawab Tara.
Pada akhir pekan, keluarga berkumpul di rumah lama ayah yang kini dikelola Aldo sebagai tempat pertemuan keluarga. Andin datang bersama Mark dan Mara. Mereka makan terlalu banyak, membicarakan ayah, lalu tertawa ketika mengingat sifat keras kepalanya.
Menjelang senja, Tristan kelelahan. Alyn membawanya ke teras dan menyelimuti kakinya. Dari sana mereka melihat anak-anak yang dahulu mereka takut tidak akan pernah miliki kini berdebat soal lagu dan penelitian.
"Dulu aku menunda menikahimu karena takut mewariskan penyakit," kata Tristan. "Kemudian aku hampir kehilanganmu karena ketakutan itu. Sekarang penyakit datang juga, dalam bentuk yang tidak pernah kurencanakan."
"Kita memang tidak pernah menang dengan mengendalikan masa depan," jawab Alyn.
"Lalu kita menang dengan apa?"
Alyn berpikir sejenak. "Dengan memilih apa yang tetap kita lakukan hari ini."
Tristan menatap matahari yang turun. Ia tidak tahu berapa banyak fungsi tubuh yang masih akan direnggut. Alyn tidak tahu berapa lama ia sanggup membagi tenaga antara suami, anak-anak, dan pekerjaannya. Mereka belum terbebas dari ketakutan, kesedihan, atau amarah.
Namun malam itu Tristan memilih tetap duduk di antara keluarganya. Alyn memilih meminta bantuan ketika tubuhnya lelah. Theo memilih bercerita saat kecemasannya kembali. Tara memilih pulang tanpa harus meninggalkan musiknya.
Tidak ada pilihan yang dapat menghentikan waktu.
Tetapi pilihan-pilihan kecil itu menjaga mereka agar tidak kehilangan diri sebelum waktunya.
Saat semua orang bersiap pulang, Tristan memanggil Alyn.
"Aku ingin memperbarui janji pernikahan kita," katanya. "Bukan pesta besar. Hanya keluarga."
Alyn tersenyum, tetapi air matanya jatuh. "Kenapa sekarang?"
"Karena dulu aku berjanji ketika merasa masa depan masih panjang. Sekarang aku ingin berjanji ketika aku akhirnya mengerti bahwa panjang atau pendek bukan bagian terpentingnya."
Alyn mencium keningnya.
"Kalau begitu, kita lakukan."
Di kejauhan, Theo dan Tara memanggil mereka untuk foto keluarga. Tristan berdiri dengan bantuan tongkat dan tangan Alyn. Tidak sempurna, tidak bebas dari luka, dan tidak tahu apa yang menunggu esok hari.
Namun mereka menghadap kamera bersama.
Alyn mengira memperbarui janji pernikahan hanya membutuhkan halaman belakang, beberapa kursi, dan makan malam bersama keluarga. Ia lupa bahwa Andin menganggap acara keluarga sebagai proyek besar yang harus memiliki tema, susunan warna, serta daftar kemungkinan bencana.
"Tidak ada dekorasi berlebihan," kata Alyn ketika Andin datang membawa tiga katalog.
"Aku cuma menawarkan pilihan."
"Kamu sudah memesan bunga, kan?"
Andin terdiam selama dua detik. "Hanya contoh."
Dari ruang tengah, Tristan tertawa. Suaranya tidak lagi sekuat dahulu, tetapi masih cukup jelas untuk membuat Andin berteriak bahwa ia berada di pihak kakaknya.
Di balik kegembiraan persiapan itu, kondisi Tristan terus berubah. Ia mulai mengalami kesulitan menelan makanan tertentu. Dokter menyarankan evaluasi tambahan dan penyesuaian tekstur makanan. Tristan mengangguk selama konsultasi, lalu diam sepanjang perjalanan pulang.
"Kamu boleh membatalkan acaranya kalau terlalu lelah," kata Alyn.
"Aku tidak mau membatalkannya."
"Aku tidak sedang mengujimu."
Tristan menoleh. "Aku tahu. Aku hanya ingin ada satu hal yang kupilih sendiri sebelum penyakit ini memilih lebih banyak hal untukku."
Alyn tidak membantah lagi. Mereka mengubah rencana agar sederhana: keluarga inti, taman rumah lama ayah, dan sore hari supaya Tristan tidak terlalu lelah. Theo pulang lebih awal dari kampus. Tara membatalkan satu pertunjukan dan bersikeras memainkan musik secara langsung.
Beberapa hari sebelum acara, Alyn menemukan Tristan berlatih berdiri di depan cermin tanpa tongkat.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Aku ingin berdiri sendiri saat mengucapkan janji."
"Dengan mempertaruhkan jatuh di depan semua orang?"
"Hanya beberapa menit."
Alyn menahan rasa kesal. "Kalau janji itu hanya sah ketika kamu berdiri tanpa bantuan, berarti selama ini kita memahami pernikahan dengan salah."
Tristan menunduk. Ia mengaku masih sulit menerima bahwa foto-foto terakhir mereka mungkin selalu memperlihatkan tongkat atau kursi roda.
Alyn berdiri di sampingnya di depan cermin. "Aku juga takut melihat perubahanmu. Tetapi aku lebih takut kalau kamu melukai diri sendiri hanya untuk menciptakan gambar yang tidak jujur."
Pada hari acara, hujan turun sejak pagi. Andin hampir menangis melihat kursi-kursi taman dipindahkan ke dalam rumah. Alyn justru tertawa. Pernikahan pertamanya dengan Tristan juga dipenuhi hal-hal yang tidak berjalan sesuai rencana. Barangkali ketidaksempurnaan memang tradisi mereka.
Menjelang sore, hujan berhenti. Udara masih dingin dan tanah basah, tetapi langit perlahan terbuka. Keluarga membawa kursi kembali ke teras. Tristan datang dengan tongkat di tangan kiri dan Alyn di sisi kanannya.
Tidak ada pendeta atau pembawa acara. Theo membuka pertemuan dengan membaca surat pendek tentang rumah yang tidak dibangun dari dinding, melainkan dari orang-orang yang terus menyediakan jalan pulang. Tara kemudian memainkan lagu ciptaannya.
Ketika tiba giliran Tristan, ia tidak berusaha menyembunyikan getaran tangannya.
"Dulu aku berjanji akan menjagamu," katanya kepada Alyn. "Hari ini aku tahu kalimat itu tidak lengkap. Aku juga berjanji membiarkanmu menjagaku tanpa menganggap diriku gagal. Aku berjanji mengatakan ketika aku takut, menerima bantuan ketika aku membutuhkannya, dan tetap melihatmu sebagai perempuan yang kucintai—bukan hanya orang yang merawatku."
Alyn menarik napas panjang sebelum menjawab.
"Aku berjanji berjalan bersamamu tanpa berpura-pura bahwa jalan ini mudah. Aku akan mencintaimu, tetapi aku juga akan menjaga diriku sendiri. Aku akan meminta bantuan sebelum kelelahan berubah menjadi kebencian. Dan selama kita masih memiliki hari, aku akan menjalani hari itu bersamamu, bukan menghabiskannya dengan hanya menunggu kehilangan."
Tristan mengulurkan tangan. Alyn menggenggamnya.
Mereka tidak mengulang janji karena janji lama telah gagal.
Mereka mengulangnya karena orang yang mengucapkan janji itu telah berubah.