Musim hujan datang ketika kondisi pernapasan Tristan mulai menurun. Dokter menyarankan alat bantu napas noninvasif pada malam hari. Kali pertama mengenakan masker, Tristan panik dan mencabutnya.
"Aku tidak bisa," katanya dengan napas tersengal.
Seno mematikan mesin dan menunggu sampai ia tenang. Mereka mencoba lagi keesokan harinya dengan durasi beberapa menit. Setelah dua minggu, Tristan dapat menggunakannya sepanjang malam.
Perubahan itu memberi tenaga tambahan pada siang hari, tetapi tidak mengembalikan fungsi yang sudah hilang. Tristan semakin jarang keluar rumah. Pusat pendidikan bedah tetap berjalan dari studio kecilnya, dan para residen bergantian berkunjung untuk berdiskusi.
Suatu sore, Niko datang membawa kabar bahwa ia terpilih menjadi kepala tim bedah muda. Ia menyerahkan keputusan pertamanya kepada Tristan untuk diperiksa.
"Jangan meminta izinku," kata Tristan. "Jelaskan alasanmu."
Niko memaparkan rencana dengan tegang. Tristan mengajukan pertanyaan sampai setiap kelemahan terlihat. Setelah itu ia mengangguk.
"Sekarang itu keputusanmu. Jangan menjadi salinanku. Jadilah dokter yang lebih baik daripada aku."
Malamnya Tristan demam. Saturasi oksigennya turun dan Alyn membawanya ke rumah sakit. Infeksi paru yang tampak ringan berkembang cepat karena otot pernapasannya melemah.
Theo dan Tara segera pulang. Andin, Aldo, Mark, serta Mara menunggu bergantian di lorong. Setelah beberapa hari, antibiotik mulai bekerja, tetapi dokter menjelaskan bahwa episode berikutnya dapat lebih berbahaya.
Tristan meminta berbicara dengan keluarga ketika kondisinya stabil. Ia menjelaskan pilihan perawatan yang diinginkannya apabila suatu hari tidak lagi dapat bernapas sendiri. Ia tidak menginginkan tindakan agresif tanpa kemungkinan memulihkan kesadaran dan kemampuan berinteraksi.
Tara menangis dan meninggalkan ruangan.
Theo menatap formulir keputusan medis. "Kenapa kita harus membicarakan ini sekarang?"
"Karena Ayah masih bisa mengatakan apa yang Ayah inginkan," jawab Tristan. "Ayah tidak mau kalian menebak-nebak sambil merasa bersalah nanti."
Alyn membantu anak-anak memahami bahwa membicarakan kematian tidak membuat mereka menyerah pada kehidupan. Setelah beberapa percakapan sulit, dokumen itu ditandatangani.
Tristan diperbolehkan pulang seminggu kemudian. Rumah terasa berbeda setelah mereka hampir kehilangan dirinya. Tara tidur di sofa dekat kamar orang tuanya. Theo bekerja dari meja makan. Alyn beberapa kali terbangun hanya untuk memastikan dada Tristan masih bergerak.
Pada suatu dini hari, Tristan membuka mata dan menemukan Alyn sedang memperhatikannya.
"Kamu belum tidur?"
"Sudah. Lalu bangun."
"Kamu sedang menghitung napasku."
Alyn tidak menyangkal. Tristan mengulurkan tangan kirinya. Gerakannya lambat, tetapi Alyn segera menyambutnya.
"Aku masih di sini," katanya.
"Aku tahu."
"Besok pagi kita minum kopi di teras."
"Kamu tidak boleh minum kopi banyak-banyak."
"Teh, kalau begitu. Yang penting terasnya."
Alyn tersenyum di dalam gelap. Mereka tidak berjanji tentang tahun depan. Tidak pula tentang bulan berikutnya. Setelah semua yang mereka lalui, satu hari bukan sesuatu yang kecil.
Pagi datang bersama cahaya pucat setelah hujan. Seno membantu Tristan duduk di kursi roda, lalu Alyn membawanya ke teras. Theo membuat teh terlalu manis. Tara membawa gitar dan memainkan lagu tanpa lirik.
Tristan memandang mereka satu per satu.
"Ternyata aku mendapatkan besok," katanya.
Alyn menggenggam tangannya. "Dan hari ini kita menjalaninya."
Mereka tahu tidak semua pagi akan datang dengan lembut. Namun selama satu hari lagi diberikan, mereka akan berhenti memperlakukannya sebagai ruang tunggu menuju kehilangan.
Setelah pulang dari rumah sakit, Tristan meminta berbicara dengan setiap anak secara terpisah. Bukan karena ia memperkirakan kematian akan datang dalam hitungan hari, melainkan karena pengalaman sesak napas membuatnya sadar betapa banyak kalimat penting yang selalu ditunda.
Theo mendapat giliran pertama. Mereka duduk di studio belajar, dikelilingi rekaman kuliah dan model anatomi yang pernah menjadi bagian terbesar hidup Tristan.
"Ayah mau kamu mengambil jam tangan itu," kata Tristan sambil menunjuk kotak kayu di rak.
Theo mengenali jam yang dahulu dipakai ayahnya saat melamar Alyn untuk kedua kali. "Kenapa sekarang?"
"Supaya benda itu menjadi milikmu saat aku masih bisa melihatmu memakainya."
Theo memasang jam tersebut. Talinya sedikit longgar.
"Ayah tidak sedang berpamitan, kan?"
"Ayah sedang mengatakan apa yang perlu dikatakan tanpa menunggu perpisahan."
Tristan meminta maaf karena pada masa kecil Theo, ia kadang terlalu sibuk membuktikan diri sebagai dokter dan ayah yang baik. Ia juga mengakui ketakutannya pernah membuat Theo merasa harus menjadi anak yang tidak menambah masalah.
"Kamu tidak wajib meneruskan namaku atau memperbaiki semua kesalahanku," katanya. "Hiduplah dengan namamu sendiri."
Theo menunduk, memutar jam di pergelangan tangan. "Aku ingin Ayah melihat aku lulus."
"Aku juga ingin. Dan aku akan berusaha berada di sana. Tapi kalau tubuh Ayah punya rencana lain, jangan mengubah hari kelulusanmu menjadi hari berkabung."
Percakapan dengan Tara berlangsung di ruang musik. Tristan menyerahkan stetoskop pertamanya yang telah dibingkai bersama catatan pendek.
Tara mengerutkan dahi. "Aku bukan dokter."
"Itu bukan perintah untuk menjadi dokter. Stetoskop mengajarkanku mendengar apa yang tidak selalu bisa dilihat. Musikmu melakukan hal yang sama."
Tara memeluk ayahnya dan menangis di bahunya. Ia mengaku takut setiap kali menerima tawaran pertunjukan di luar kota. Sebagian dirinya ingin terus berada di rumah agar tidak kehilangan momen terakhir.
"Kalau kamu berhenti hidup supaya bisa menyaksikan Ayah mati, penyakit ini merenggut terlalu banyak," kata Tristan.
"Bagaimana kalau aku sedang pergi saat Ayah membutuhkan aku?"
"Maka Ayah akan bersama orang-orang yang mencintai Ayah. Dan kamu juga termasuk di dalamnya, berapa pun jaraknya."
Malamnya tiba giliran Alyn. Tristan tidak memberikan benda apa pun. Ia hanya meminta istrinya duduk di samping tempat tidur.
"Aku sudah menulis surat untukmu," katanya. "Tapi jangan dibaca sekarang."
"Aku benci surat perpisahan."
"Ini bukan hanya surat perpisahan. Ada daftar kata sandi dan dokumen juga. Sangat romantis."
Alyn tertawa meski matanya basah.
Kemudian Tristan menjadi serius. "Ketika waktunya tiba, jangan jadikan kesedihan sebagai bukti bahwa kamu mencintaiku. Kamu boleh bahagia lagi."
Alyn menggeleng. "Kita tidak perlu membicarakan semuanya malam ini."
"Justru karena kita masih punya malam ini."
Alyn akhirnya mengucapkan ketakutannya sendiri. Ia takut lega ketika beban merawat berakhir. Ia takut rasa lega itu akan membuatnya menjadi istri yang buruk.
Tristan menggenggam jemarinya. "Kelelahanmu bukan ukuran cintamu. Dan kelegaan tidak menghapus duka. Keduanya boleh tinggal di hati yang sama."
Malam semakin larut. Tidak semua kalimat berhasil mereka ucapkan tanpa tangis. Namun ketika lampu dipadamkan, tidak ada lagi rahasia besar yang berdiri di antara mereka.
Ada hal-hal yang diucapkan manusia untuk mengakhiri hubungan.
Ada pula yang harus diucapkan agar cinta tetap hidup bahkan setelah sebuah kehidupan berakhir.