Alvian Kato menghentikan laju mobilnya hingga berhenti depan sebuah rumah tua. Tidak banyak kegiatan di sekitar rumah tua tersebut, di lihatnya seorang nenek duduk di kursi goyang dengan pandangan kosong.
"Permisi, nek."
Tidak ada jawaban.
"Nek...nek, apakah nenek tahu rumah sang ibu?"
Mata kosong berpindah arah Alvian Kato kemudian berbalik kosong kembali seakan dunia luar tidaklah sepenting pikirannya.
"Nek?"
Untuk sesaat Alvian Kato tidak tahu harus berbuat apa atau berkata apa, ia duduk di dekatnya.
Diam menunggu.
Keheningan menyeruak.
Beberapa kali Alvian Kato menguap akibat semilir angin yang menerjang, sungguh ketenangan yang menyenangkan saraf.
"Orang yang kamu cari tidak ada di sini."
Alvian Kato menolehkan kepalanya, sedikit terkejut, "Nenek...." panggilnya bingung.
"Jangan cari lagi."
"Nek, aku tidak mengatakan apa-apa. Mengapa nenek berkata begitu?"
"Pergilah! di sini bukan tempatmu," Ujarnya pelan, matanya tetap kosong seakan beban berat yang di pikulnya bertambah.
Alvian Kato bangkit berdiri, "Nek, aku mencintai Santanael. Bisakah membantuku?"
"Aku tidak mengenalnya."
"Santanael anak sang ibu."
Rambut putih berpaling dengan pandangan sedih, "Dunia sangat kejam, jangan buka luka lama jika tak ingin terluka," serunya tegang.
"Maksud nenek?"
"Tidak ada."
Angin bergulir dengan irama lambat, Alvian Kato tidak dapat mengatakan apapun lagi ketika di lihatnya mata berubah kosong.
Apa yang terjadi pikirnya.
Memikirkan berulang kali, perjalanan sia-sia. Alvian Kato berjalan ke arah mobilnya, ia berpapasan seorang nenek.
"Nek, apakah bisa bertanya sebentar?"
Nenek tersebut memperhatikan lalu menganguk, "Tanyalah. Wanita tua di teras pasti mengusirmu."
"Hahaha benar. Tadi saya bertanya mengenai sang ibu dari ibu Santanael. Apakah anda tahu?"
Nenek menggeleng, "Pergilah nak, jangan usik orang mati dan hidup."
"Apa maksud nenek? saya mencintai Santanael tetapi dia sedang kesulitan."
"Santanael? siapa? aku tidak mengenalnya."
Alvian Kato terdiam.
Nenek tersebut pergi dengan langkah gontai, matanya terlihat sedih.
Sebenarnya ada apa ini pikirnya bingung namun, Alvian Kato mulai memperhatikan daerah ini seksama.
Seingatnya daerah ini adalah tempat Santanael di lahirkan tapi mengapa semua orang menolak memberitahu dimana sang ibu?
Aneh pikirnya.
Alvian Kato menjalankan mobilnya perlahan, berharap bertemu orang lain agar bisa bertanya.
Nenek di teras beranjak dari duduknya, "Karma sebab akibat. Sungguh anak malang."
Mobil berjalan lambat meninggalkan tapi Alvian Kato merasa lapar. Iapun berhenti depan warung kecil pinggir jalan.
Tampak pria tua duduk menikmati secangkir kopi dan rokok, "Bu, kopi satu," pinta Alvian Kato saat dekat.
Pria tua memperhatikan.
Ibu penjual cepat berikan permintaan, Alvian Kato mencomot pisang goreng di dekatnya.
"Kamu bukan orang sini."
"Benar, pak."
"Ada keperluan apa di daerah sini?"
"Saya mencari informasi sang ibu dari ibu Santanael."
"Ibu Santanael? bukankah sudah meninggal?"
"Ah bapak tahu tentangnya?"
"Wanita malang."
"Malang? pak tua, kamu jangan bikin cerita."
"Apa salahku, memang malang."
"Waktu hidup seperti wanita benar dan mati seperti abadi. Mana ada yang benar."
"Eh, kamu bicara begitu karena iri."
"Satu daerah tahu, iri dengannya adalah sia-sia."
Alvian Kato bersyukur berhenti di warung ini, "Apa maksudnya bu?"
Ibu penjual menatapnya lalu menghela nafas panjang, pak tua sibuk menyeruput kopinya.
"Waktu muda bernama Gesia. Anak yang sangat cantik menikahi orang kaya dengan bertaruh hidupnya menggunakan jiwa ke iblis."
Alvian Kato terdiam.
"Aku dengar hidupnya di permainkan anak orang kaya itu tapi sebenarnya sebelum menikahi anak kaya, Gesia sudah bersama anak kepala daerah cukup lama."
Terkejut mendengarnya.
"Jadi... wanita tua di teras itu siapa, bu?"
"Wanita tua di teras adalah ibu Gesia. Kasihan hidupnya, hidup segan mati tak mau."
"Lalu?"
"Gesia sangat kejam meminta ibunya menjadi penunggu rumah."
"Saya tidak paham."
"Anak muda, di jaman dulu. Daerah sini jika ingin hidup enak harus bersekutu dengan iblis dan korban persembahan haruslah ibu kandung."
"Jadi..."
"Ibu mati anak ikut mati."
Alvian Kato terbelalak mendengarnya, "Tapi setahu saya, sang ibu sudah mati cukup lama. Santanael dan saya melihat kuburannya."
Tepukan halus di berikan, "Jiwanya terbang dan masuk ke dalam ibunya kemudian masuk ke jiwa memiliki waktu kelahiran sama."
"Berarti sang ibu masih hidup."
"Benar. Orang kota hanya tahu mati tapi wanita tua masih hidup. Mati darimana, dasar anak tak berbakti!"
Alvian Kato nyaris tersedak mendengar informasi tersebut. Pak tua dan ibu penjual menggelengkan kepalanya bersamaan.
Masa muda di tukar dengan kekayaan dan hidup abadi, siapa manusia tidak suka.
Sungguh tidak masuk akal.
"Apakah Santanael tahu hal ini?"
"Santanael? hahaha mana mengerti. Anak itu hidup di kota, Gesia tidak membawanya kesini setelah berumur 3tahun."
"3 tahun?"
"Waktu masa kehamilan Gesia tinggal di sini."
"Kalau begitu, siapakah ayahnya?"
"Tentu saja anak kaya di kota, siapa lagi?"
"Benar itu, anak kepala daerah meninggal mendadak tepat saat Gesia menikah."
"Hah! ada cerita seperti itu."
"Ada, keluarga kepala daerah masih ada dan sangat tertutup sekarang. Kami tidak tahu sebab jelasnya."
Alvian Kato mengangguk, tanpa sadar memakan 5 pisang goreng dan kopi tersisa sedikit.
Informasi bagus pikirnya.
"Nak, kamu ada hubungan apa dengan Santanael?"
"Saya temannya dan berniat menikahinya."
"Bagus...bagus...kamu ke tempat ini mencari keluarga dekatnya untuk beri kabar."
Alvian Kato meringis senang.
Pak tua dan ibu penjual memandangnya penuh simpati dan kasihan. Alvian Kato tidak menyadari, wanita tua yang di temui memperhatikan di seberang jalan.
Manusia bercerita namun, cerita mencari jalan kebenaran yang tertutup debu sangat berliku.
"Kasihan bermimpi di siang hari," gumamnya melanjutkan perjalanan menuju rumah berwarna putih kusam.
Alvian Kato mengakhiri percakapan setelah tidak adalagi informasi yang bisa di ambilnya.
Kemana lagi pikirnya muram.
Santanael, aku berharap kamu memikirkan baik-baik sebelum menerima tawarannya pikir Alvian Kato resah.
Ia sangat tahu bagaimana Santanael berjuang hidup sampai hari ini.
Apakah Langit begitu malas membantu?
Apakah neraka membiarkan karena iblis lebih kuat?
Alvian Kato mengemudikan mobilnya perlahan menyusuri jalanan sepi.
Sama seperti hatinya.
Sepi tanpa Santanael.
Alvian Kato menghentikan mobilnya, ia bermaksud merokok untuk mengusir penat. Matanya tidak sengaja melihat ke arah rumah yang memiliki bangunan tambahan di belakang seperti menara.
Aneh pikirnya.
Iapun keluar dari mobil, berjalan mendekati pembatas rumah yang mengelilingi.
"Anak muda, apa yang kamu lakukan di sini?"
Alvian Kato sontak terkejut, berbalik hanya melihat seorang pria tua.
"Saya...saya hanya ingin merokok."
"Pergi!" seru pria tua tidak senang, Alvian Kato tidak ingin melewatkan kesempatan.
"Pak, mau tanya. Apakah bapak mengenal keluarga Santanael?"
"Santanael?"
"Iya pak. Saya ingin melamarnya tapi saya tidak menemukan."
Mata tajam dengan kecurigaan membuat perasaan tidak nyaman di hati tapi Alvian Kato berpura-pura acuh.
"Menikah?"
"Nak, keluarga Santanael tersisa neneknya saja. Apakah kamu sudah datang ke rumahnya?"
"Sudah, sebenarnya ada apa ya?"
"Rumah mana yang kamu datangi?"
"Rumah tua ujung jalan."
Pria tua menggelengkan kepalanya, " Nenek Santanael ada di rumah yang berbentuk benteng."
"Hah! bukankah di ujung jalan?"
"Ujung jalan memang rumah nenek Santanael dari pihak ibu tapi pihak pria tinggal di rumah benteng."
Alvian Kato mengarahkan mata ke arah rumah yang di maksudkan. Otak besar berusaha mencerna informasi yang berbeda.
"Saya tidak mengerti."
"Kamu akan mengerti setelah datang ke rumah itu."
Alvian Kato menatap rumah tersebut dengan pemikiran rumit. Tidak menduga banyak rahasia Sang ibu yang membuatnya kebingungan.
Pria tua berjalan meninggalkan Alvian Kato yang sibuk berfikir.
Tugasnya sudah selesai, perlahan-lahan tubuhnya berubah menjadi sosok yang berbeda.
"Tuan..."
"Kita pulang."
Bayu diam mengikuti langkah Black menyusuri jalanan sepi. Ia tidak berani bertanya mengapa Black melakukan hal semacam ini.
Langit bisa menulis takdir dan nasib tapi pihak neraka selalu mempunyai cara untuk mengubah cerita. Namun, manusia menerima atau tidak menjadi sebuah misteri.
---
Angin memasuki ruang kerja dengan membawa harum bunga. Magdalena lelah berdiri, iapun memilih duduk di sofa tunggal.
Kepala pelayan terkejut mengetahui pilihannya, bayangan masa lalu bermunculan bagai film rusak.
"Bagaimana cara memangil anda? maafkan jika menggangu sepagi ini."
Lagi-lagi suaranya mengetuk jiwa Kepala pelayan, sesaat termanggu antara batas.
Dunia sungguh lucu.
Jiwa bergetar memanggil.
Apa yang di sebut belahan jiwa atau kesialan nasib dan takdir
Kepala pelayan terdiam.
Magdalena memiringkan kepalanya sedikit condong arah kanan, senyum polos di tampilkan di sertai mata menggoda seakan berkata aku datang.
Hujan mendadak turun serta berikan pertanda konyol. Suara petir menguncang rumah mewah tersebut.
Santanael melonjak ketakutan, berbalik lari ke arah balkon. Ia menatap langit gelap menutupi sebagian besar atas rumah, "Apa yang terjadi?" gumamnya.