Seorang wanita sedang menelusuri jalan yang gelap tanpa ada cahaya sedikit pun.
"Gue ada dimana nih?" tanya wanita itu namun tak ada jawaban sama sekali.
Wanita itu terus menelusuri tempat gelap dan sunyi itu sambil berteriak.
"Halooo! Gue ada dimana?" teriak wanita itu.
Langkah demi langkah terus ditapaki oleh wanita itu. Namun tiba-tiba-
"Jangan pernah kamu liburan di tempat itu." terdengar suara seseorang yang misterius.
"Anda siapa? Terus saya ada dimana?" tanya wanita itu.
"Saya ada dihadapanmu" ujar seseorang dengan tangan yang mengarah keleher wanita itu dan mencekiknya.
"Aaaaa! Lepas! Lepaskan saya!" ujar wanita itu dengan terus memberontak ingin dilepas.
"Jangan liburan atau kalian akan MATI!!!" ujar seseorang itu dengan seringai seram di wajahnya.
...
"Lepas! Lepaskan saya! Aaaaaaaaaaaaaaaa!!!" teriak Sinta yang terbangun karna mimpi buruk.
Mama Sinta yang mendengar teriakan itu langsung berlari menuju kamar Sinta untuk mengecek keadaan Sinta.
"Kamu kenapa?" tanya mama Sinta yang khawatir.
Keringat dingin membasahi pelipis Sinta. Dengan cepat sang mama mengelap dan memberi segelas air putih untuk menenangkan Sinta.
"Udah mendingan?" tanya mama Sinta dan dibalas anggukan dari Sinta.
"Sekarang kamu jelasin kenapa kamu teriak-teriak?" tanya mama yang ingin tau.
"Sinta tadi mimpi buruk mah." jawab Sinta dengan bibir bergetar karna ketakutan.
"Makanya sebelum tidur baca doa dulu. Sekarang ayo kita turun buat sarapan." ujar mama Sinta lalu keluar dari kamar menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.
Sinta masih terdiam di atas kasur empuknya sambil berfikir apa yang dimaksud oleh seseorang tadi.
"Jangan liburan? Mati? Maksudnya apaan?" tanya Sinta dalam hati.
Sinta langsung tersadar dari lamunannya karna suara mamanya yang sudah memanggil untuk sarapan.
"Kamu tadi mimpi apaan?" tanya mama Sinta saat Sinta sudah turun dari kamar dan berjalan menuju meja makan.
"Bukan mimpi apa-apa kok mah" balas Sinta berbohong.
"Yaudah ayok kita sarapan" ajak mama Sinta lalu mereka sarapan bersama.
❌❌❌
"Guys gimana kalo kita liburan di tempat lain aja. Jangan di villa itu" ujar Sinta tiba-tiba saat sedang berada di rumah pohon.
Sontak mereka langsung menatap Sinta dengan wajah yang bertanya.
"Lho emangnya kenapa?" tanya Celsie.
"Gak papa" balas Sinta singkat.
Sebenarnya Sinta masih teringat dengan mimpinya tadi pagi.
"Mimpi aneh" ujar Sinta pelan namun dengar Jason.
"Mimpi apaan?" tanya Jason langsung.
"Eh-itu-gak papa kok." balas Sinta gelagapan.
Justin mengeryitkan dahi dengan sikap Sinta yang tiba-tiba menjadi aneh.
"Lo mimpi apaan? Cerita deh sama kita. Kalo lo ada masalah jangan di umpet. Siapa tau kita bisa bantu." ujar Justin.
"Gue tadi pagi mimpi aneh. Di mimpi itu ada yang bilang jangan liburan di tempat itu." jawab Sinta.
"Hah? Mimpi apaan tuh?" tanya Celsie lalu dibalas gelengan kepala oleh Sinta.
"Udah gak usah dipikirin. Mungkin itu karna lo yang kepikirin sama nih liburan terus kebawa mimpi." ujar Justin.
"Mungkin sih." balas Sinta singkat.
"Gue juga mimpi aneh." celetuk Jason tiba-tiba.
"Lo mimpi apaan?" tanya Kevin yang sedari tadi diam melihat percakapan mereka.
"Gue mimpi ena-ena." balas Jason.
"Enak-enak apaan sih? Kalo ngomong tuh yang jelas." ujar Celsie kesal karna tak tau yang dimaksud oleh Jason.
"Biar gue bisikin" balas Jason.
Jason langsung memajukan mulutnya tepat di telinga Celsie dan-
"DASAR m***m!!!" teriak Celsie setelah Jason selesai berbisik.
Celsie langsung lari mengejar Jason yang sudah terlebih dahulu turun dari rumah pohon.
"Hahahahaha. Kena juga kan lo." ujar Jason sambil tertawa puas.
Sinta, Justin dan Kevin hanya bisa menggelengkan kepala melihat dua insan yang sedang berkejar-kejaran itu.
"Hm... Sinta tadi lo mimpi apaan?" tanya Kevin pada Sinta.
Sinta langsung menoleh ke arah Kevin yang sedang membaca buku.
"Lo barusan nanya gue Vin?" tanya Sinta.
"Iya." balas Kevin singkat.
"Oh. Gue mimpi aneh dan agak nyeremin gitu. Di mimpi itu ada suara yang bilang jangan liburan atau mati." jawab Sinta panjang.
"Oh. Udah gak usah dipikirin nanti lo sakit kalo mikirin itu mulu" ujar Kevin dengan kepala yang masih menunduk ke buku yang dibacanya.
Sedangkan Sinta merasa pipinya memanas karna ucapan Kevin tadi.
"Ternyata lo perhatian juga. Tapi perhatian sebagai sahabat" batin Sinta.
"Mungkin ini sebuah pertanda." batin seseorang.