Setelah mengalami kekalahan akibat kegagalan pasukan Mongol dalam melakukan invasi pertama di salah satu teluk di Pulau Jepang yang bernama, teluk Hakata. Pasukan Mongol yang dipimpin langsung oleh Jenderal besar Kublai Khan, pada berjatuhan dalam melawan pasukan Jepang pada pertempuran di teluk tersebut yang terjadi pada tahun 1274.
Alhasil, Jenderal besar Kublai Khan menarik mundur pasukannya untuk kembali menuju markasnya sambil terus mengatur strategi dalam melawan pasukan Jepang. Pertempuran itu terus berlanjut. Kali ini di pimpin oleh sepupu dari Jenderal besar Kublai Khan, Khotun Khan yang berwatak licik dan kejam. Berkat kelicikannya, pasukan armada invasi Khotun Khan berhasil mendarat di Pulau Tsushima, Jepang.
Mendengar kabar pasukan Khotun Khan mendarat di pulau tersebut, membuat telinga Hiro Sakai, salah satu samurai sekaligus pewaris tahta dari Clan Sakai mempunyai niat untuk berperang menumpas para armada invasi Mongol untuk pergi dari pulaunya.
Hiro Sakai lalu bergabung dengan para samurai dari Clan setempat untuk bertempur bersama melawan armada invasi Mongol. Dipimpin oleh pamannya Lord Shimura, dari clan Shimura, menggaungkan perang melawan mereka. Hiro Sakai, Lord Shimura, Lord Adachi dan para samurai lainnya mempersiapkan diri beserta pasukannya di atas perbukitan.
"Hari ini ... Aku mati demi rakyatku," ucap Lord Shimura pada ponakannya, Hiro Sakai.
"Mereka pasti ada banyak jumlahnya," timpal Hiro Sakai.
"Kita akan menghadapi maut dan mempertahankan pulau kita!" seru loed Shimuira dengan lantang, menggetarkan hati Hiro Sakai untuk tak gentar berjuang. Setelah itu, Sakai-san juga menggaungkan semangat perang kepada pasukannya, "Tradisi, keberanian, kehormatan, itu semua menjadikan diri kita adalah Ksatria Tsushima!"
"Kita adalah samurai! seru Lord Shimura.
Seruan itu lalu di jawab oleh seluruh pasukan yang tergabung olehnya, "Kita adalah samurai!"
Dari arah kejauhan terlihat jumlah pasukan invasi Mongol berjumlah tiga ratus tiga puluh ribu lengkap dengan persenjataan siap melawan mereka yang jumlahnya hanya sepertiga dari jumlah mereka. Lord Shimura lalu berbicara dengan salah satu samurai dari clan Adachi seraya mengarahkan wajahnya, "Lord Adachi, mari kita hancurkan semangat mereka!"
Dengan gagah berani, Lord Adachi menunggang kuda menghampiri perwakilan dari armada pasukan Mongol. Sementara itu, Shimura-san dan Hiro Sakai menunggunya di atas bukit. Sesampainya di lokasi, Lord Adachi turun dari kuda miliknya dan berbicara lantang kepada pasukan Mongol yang berada di depannya itu, "Orang asing! Kirimkan Ksatria terbaik kalian untuk menghadapiku!"
Mendengar suara tantangan dari lord Adachi, Khotun Khan keluar dari persembunyiannya. Dirinya berjalan menghampiri seraya memegang gelas kecil berisi air sake di tangan kanannya. Mereka berdua lalu saling bertatapan dengan mimik wajah serius.
"Namaku Harunoru Adachi, keturunan sang legenda Yoshimura Adachi!" seru Lord Adachi pada Khotun Khan.
Ucapan dari Lord Adachi bak angin lalu oleh Khotun Khan. Dengan remehnya, Khotun Khan tidak menggubris perkataan dariLprd Adachi. Sebaliknya, Khotun Khan menyiramkan air yang ada di dalam gelas kecilnya itu ke baju ksatria milik Lord Adachi. Tanpa basa-basi, Khotun Khan meraih obor dari tangan pengawalnya dan membakar hidup-hidup lord Adachi Dengan secepat kilat, Khotun Khan berhasil menebas kepala Lord Adachi menggunakan pedang miliknya. Tewaslah sudah Lord Adachi di tangan Khotun Khan yang kejam.
Sesaat kemudian, Khotun Khan dengan sombong berucap pada samurai yang berada di atas bukit, "Samurai! Apa kalian menyerah?"
Ucapan itu rupanya membuat telinga Lord Shimura panas. Dengan memasang sikap siap perang, Shimura-san berkata, "Pengecut tak terhormat, tak pantas diampuni!"
"Jangan kasih ampun!"
Dengan gagah berani, Lord Shimura dan keponakan, Hiro Sakai serta pasukannya menyerang armada invasi Mongol. "Tembak! Demi Tsushima! Serang!" serunya pada sekelompok pemanah yang kemudian di ikuti panah-panah yang menghujam pasukan Mongol.
Lord Shimura, Hiro Sakai dan pasukannya kemudian menyerang armada Mongol. Di sela-sela berperang Shimura-san kembali menggetarkan semangat pasukannya, "Demi Adachi-san! Serang! Kita harus penggal kepala pimpinannya! Terus maju!"
Di saat sedang berperang, Lord Shimura melihat Khotun Khan beserta beberapa pasukannya yang melekat memilih mundur menjauhi mereka, "Pemimpinnya mundur! Kejar dia!"
"Hiro! Kau harus bersamaku!" perintah Lord Shimura pada ponakannya, Hiro Sakai.
"Kita kehilangan banyak." Jiwa berperang Lord Sakai sedikit memudar kala melihat pasukannya banyak yang berjatuhan.
"Kita harus terus maju, Lord Sakai." Lord Shimura membangunkan kembali jiwa berperang Lord Sakai yang sedikit memudar itu.
"Sesuai perintah, Lord Shimura." Lord Sakai lalu mengikuti arahan dari pamannya itu.
Prajurit pimpinannya banyak yang berjatuhan akibat melawan armada invasi Mongol yang kuat. Melihat, pasukan miliknya banyak yang gugur, Shimura-san memberikan arahan yang baru kepada pasukannya yang tersisa itu, "Prajurit! Kita harus kejar pimpinan Mongol! Semuanya ikut aku." Pasukan itu lalu mengikuti langkah darinya.
"Ada anjing Mongol lagi! Penggal mereka!" perintah Lord Shimura agar terus menggempur armada Mongol.
"Awas ada bala bantuan Mongol!" seru Lord Shimura pada pasukannya yang tersisa agar berhati-hati dalam menghadapi armada bantuan dari Mongol. Lagi-lagi, pasukan Lord Shimura berjatuhan hingga tak bersisa. Tinggallah mereka berdua dalam menghadapi Khotun Khan dan pasukannya. Mereka berdua pun dengan gagah berani terus menggempur pertahanan armada invasi Mongol hingga mata dari Lord Sakai menemukan celah jalan untuk mengejar pimpinan dari Mongol itu.
"Hanya satu jalan buat kita." Mereka berdua lalu berjalan menyusuri jalan setapak yang dikelilingi oleh batu besar di samping kanan dan kirinya sambil terus mencari Khotun Khan.
"Cari si pimpinan Mongol dan habisi di sini!"
"Aku tahu."
Perjalanan mereka terhenti saat Shimura-san melihat Khotun Khan sedang mengendarai kuda miliknya dan diapit oleh beberapa pengawal. Mereka nampaknya akan berusaha kabur menghindari kejaran mereka.
"Itu si pimpinan Mongol!" tunjuk lord Shimura yang kala itu melihat Khotun Khan, incarannya.
"Aku siap, Paman!" jiwa Lord Sakai menggebu dan siap membawa kepala dari Khotun Khan.
"Kita akhiri ini bersama." Mereka berdua lalu bergegas mengejar Khotun Khan. Namun, sebelum mereka sampai menangkap, tiba-tiba panah api menghujam mereka berdua. Seketika, mereka terpental dengan jarak yang cukup jauh.
Dengan tertatih, Lord Sakai membuka kedua matanya sambil menahan sakit akibat satu panah menempel di punggungnya. "Paman," lirih Lord Sakai melihat pamannya yang sedang diinterogasi oleh pasukan Mongol beserta Khotun Khan itu sendiri.
Di saat ingin menghampiri pamannya, lagi-lagi satu panah tepat mengenai punggungnya. Sakai-san pun kembali terjatuh. Tetapi, Lord Sakai mencoba bangkit dan tetap tetap gigih membantu pamannya. Dengan jalan merangkak menahan sakit, Lord Sakai berjalan menuju samurai miliknya yang berada di depan guna mengambil kembali dan membantu menyelamatkan paman. Apalah daya raga tak bisa, Sakai-san pun jatuh melemah sebelum menyelamatkan Shimura-san.
Di satu sisi, Lord Shimura berhasil di tangkap oleh pengawal dari Khotun Khan. Dengan tangan terikat ke belakang, Shimura-san berhadapan langsung dengan seorang Khotun Khan.
"Namaku Khotun. Sepupu dari Kublai Khan, Cucu dari Genghis Khan."
Khotun Khan lalu menurunkan badannya dan sejajar dengan Lord Shimura yang kala itu duduk dengan posisi tangan terikat dan kedua kaki sebagai penumpu tubuhnya. "Saudara, kau seorang ksatria. Aku melihat itu. Kau berlatih sepanjang hidup demi perang ini. Dan kau telah memenangkan pertempuran ini. Yang orang lemah sebut "tak bisa menang," ya, 'kan?" tanya Khotun Khan pada Shimura-san.
"Namun di saat kau mengasah pedangmu,—" sela Khotun Khan kala melihat samurai milik Lord Shimura yang ada didepannya itu.
Khotun Khan kemudian melanjutkan ucapannya, "Apa kau tau persiapanku demi hari ini? Aku belajar. Aku tahu bahasa kalian, tradisi kalian, keyakinan kalian, mana desa yang bisa kujinakkan dan mana desa yang bisa kubakar. Maka kutanya sekali lagi, Samurai. Apa kau menyerah?"
Mendengar pertanyaan itu, Lord Shimura bergeming tak ingin menjawab pertanyaan itu. Dirinya tetap kukuh pada pendirian bahwa samurai tidak bisa menyerah dengan begitu saja. Khotun Khan lalu berdiri dan meraih samurai miliknya. Dengan gegas, Lord Shimura di buat pingsan atas pukulan yang keras dari tangannya.
Lain halnya dengan keadaan Lord Sakai yang sedari tadi melemah akibat tak kuasa menahan sakit. Namun, hal itu tak menyurut mundur dari peperangan. Dengan mengepalkan tangan kanannya, dan tubuhnya yang melemah dengan posisi tengkurap, Lord Sakai akan terus berjuang untuk menghalau armada Mongol