Sonya tersenyum tipis, menimbang dengan matang sebelum akhirnya menggelengkan kepala dengan cara yang sangat halus dan berkelas, menjaga harga dirinya sebagai wanita terhormat.
"Thank you for the flattering compliment, Christian. But I believe in destiny. If God allows it, we will meet again somewhere in this city without having to plan it. Have a great day," tolak Sonya dengan lembut namun tegas.
Christian tampak sedikit terkejut, namun ia mengangguk penuh hormat, mengagumi prinsip wanita di hadapannya. "A beautiful answer from a beautiful woman. Fair enough. Safe travels, ladies."
Saat mereka berbalik dan melangkah keluar dari restoran menuju area parkir, pikiran Andam justru tertinggal di meja tadi. Kontras dengan penolakan berkelas yang ditunjukkan Sonya, batin Andam justru bergejolak hebat. Di sepanjang selasar, mata cokelat Andam meredup, menyembunyikan fantasi liar yang mendadak meledak di dalam kepalanya.
Andam sangat mengagumi ketampanan maskulin dan aura percaya diri yang memancar dari pria bule tersebut. Kulit putihnya seolah meremang ketika imajinasinya melompat jauh ke sebuah kamar hotel mewah, membayangkan tubuh Christian berada di atas tubuhnya, menciumi lehernya dengan liar, dan memuaskan dahaga hasratnya yang tak pernah tuntas di ranjang suaminya.
Sentuhan eksotis dari pria asing itu terasa begitu nyata dalam benak Andam, membuat napasnya sedikit memburu di balik balutan blazer kaku yang ia kenakan.
"Dam? Kamu melamun?" suara Sonya memecah lamunan terlarang Andam tepat saat mereka sampai di depan mobil.
Andam tersentak, lalu buru-buru mengulas senyum untuk menutupi detak jantungnya yang berpacu cepat. "Ah, tidak kok, Son. Yuk, kita langsung ke salonmu!" jawab Andam, mencoba mengubur dalam-dalam hasrat membara yang kian hari kian sulit ia kendalikan.
Sedan milik Andam membelah kepadatan arus lalu lintas Jakarta Selatan yang dinamis.
Di balik kemudi, Andam fokus menatap jalanan, sementara di kursi penumpang sebelah, Sonya asyik menyandarkan punggungnya dengan santai, memancarkan aura wanita yang memegang kendali penuh atas hidupnya sendiri.
Alunan musik jazz instrumental mengalun lembut dari pelantang audio, menciptakan harmoni yang kontras dengan hiruk-pikuk di luar jendela kaca yang kedap suara.
Meskipun tangannya berada di setir, pikiran Andam masih tertinggal di sudut restoran. Bayangan sorot mata biru Christian dan penolakan Sonya yang begitu tenang terus berputar di benaknya, memicu rasa penasaran yang tak bisa lagi ia bendung.
Sambil melirik sekilas ke arah sahabatnya, Andam akhirnya membuka suara. "Son, aku mau tanya sesuatu deh. Kenapa tadi kamu sama sekali nggak mau kasih nomor w******p ke Christian?Dia sangat tertarik sama kamu."
Sonya spontan melepaskan tawa renyah yang terdengar menggoda. Ia membetulkan posisi duduknya, menghadap ke arah Andam.
"Duh, Andam sayang... kalau aku langsung kasih nomor ponselku begitu saja, perjuangan dia jadi terlalu mudah," ujar Sonya santai sembari merapikan ujung rambut gelombangnya. "Laki-laki itu pemburu alami. Biarkan dia berusaha keras mencariku kalau dia memang benar-benar tertarik. Percaya deh, pria dengan kelas seperti Christian akan melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang dia inginkan jika dia merasa tertantang."
Andam mengerutkan kening, senyum tipis terukir di bibirnya yang penuh. "Lalu, kalau dia benar-benar berhasil menemukanmu dan mengejarmu, kamu mau gimana?"
"Gimana nanti saja," jawab Sonya enteng dengan kerlingan mata yang penuh teka-teki. "Kalau aku lagi mood, ya... aku layani."
Andam tertegun. Kalimat terakhir Sonya terdengar begitu kasual namun sarat akan makna yang berani. Jantung Andam mendadak berdegup lebih kencang, memicu rasa ingin tahu yang lebih dalam dari sekadar obrolan kosmetik.
"Maksudmu? Layani gimana, Son?" tanya Andam, suaranya sedikit merendah, menuntut kejelasan.
Mendengar pertanyaan itu, Sonya tidak langsung menjawab. Ia terdiam sesaat, menatap wajah cantik alami Andam dari samping dengan tatapan yang intens dan penuh selidik. Atmosfer di dalam mobil mendadak berubah menjadi lebih intim dan rahasia.
"Tapi, ini rahasia kita berdua saja ya, Dam. Janji?" ucap Sonya setengah berbisik, memastikan komitmen sahabatnya.
Andam mengangguk cepat tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan. "Iya, aku janji."
Sonya tersenyum, lalu menyandarkan kembali tubuhnya dengan gaya yang sangat sensual. "Kita ini kaum wanita dewasa, Dam. Punya karier, punya uang, dan punya posisi. Tapi di balik itu semua, kita juga punya kebutuhan biologis. Kadang-kadang, kita butuh suasana baru, sentuhan baru yang bisa menyalakan kembali gairah yang redup oleh rutinitas pernikahan. Memangnya... kamu belum pernah… emmm… bersama pria lain selama ini?"
Pertanyaan yang menembus langsung ke pusat tabu itu membuat Andam menahan napas sejenak. Jemarinya mencengkeram kemudi lebih erat, kulit putihnya mendadak terasa hangat.
"Aku... aku belum pernah, Son," jawab Andam jujur, suaranya terdengar mencicit, kontras dengan citra manajer sukses yang biasa ia tampilkan.
Sonya langsung menoleh dengan mata terbelalak, lalu mendesah tidak percaya. "Ya ampun, bodohnya kamu, Andam! Apa kamu benar-benar mau menghabiskan seluruh sisa hidupmu yang berharga ini hanya untuk satu lelaki saja? Apa kamu yakin, laki-laki di luar sana, termasuk para suami, akan menghabiskan hidupnya hanya dengan satu wanita tanpa pernah mencicipi selingan di luar?"
Kata-kata Sonya laksana hantaman gada yang meruntuhkan dinding-dinding pembenaran yang selama ini Andam bangun untuk menjaga predikat "istri yang setia".
Pertanyaan Sonya bergema berulang kali di dalam kepala Andam, menguliti kenyataan pahit tentang kehidupan ranjangnya bersama Profesor Anto yang selalu berakhir mengecewakan. Ego kewanitaannya seolah dibangunkan dari tidur panjang yang dipaksakan.
Andam terdiam, tenggelam dalam renungan yang mendalam. Kata-kata sahabatnya tidak hanya membuka matanya, tetapi juga menyiramkan bensin pada sisa-sisa api yang semalam ditinggalkan suaminya.
Di dalam keheningan mobil yang terus melaju, Andam bisa merasakan tubuhnya kembali berdesir hebat. Hasrat yang membara di dalam tubuh kini semakin bergelora, menuntut pembebasan yang nyata, bukan lagi sekadar fantasi di dalam kepala.
"Kamu mau dengar pengalaman terakhirku?" tanya Sonya, memecah keheningan yang sempat menggantung. Suaranya merendah, berubah menjadi bisikan yang sarat akan sisa gairah masa lalu.
Andam melirik sekilas, menanti kelanjutan kalimat sahabatnya dengan d**a yang mulai berdesir.
“Tapi sekali lagi, ini rahasia kita…”
“Masa sih kamu gak percaya aku,” ucap Andam.
"Ini tentang kejadian… beberapa bulan sebelum aku pindah ke Jakarta," lanjut Sonya, matanya menerawang menatap kaca depan. "Hari itu, salonku kedatangan turis asing. Pria dari Afrika, namanya Kofi. Dia bertubuh tinggi besar. Kofi datang untuk mengantar istrinya yang mau melakukan perawatan creambath total. Istrinya meminta paket lengkap, jadi langsung saja aku serahkan ke anak buahku untuk menangani di ruang privat."
Sonya menjeda kalimatnya, membasahi bibirnya yang penuh sebelum melanjutkan cerita yang membuat atmosfer di dalam mobil terasa kian memanas.
"Saat aku sedang memeriksa laporan di meja resepsionis, aku melihat Kofi bangkit dari ruang tunggu dan berjalan menuju lorong belakang, hendak ke toilet. Tapi, entah karena tidak memperhatikan papan petunjuk atau bagaimana, dia salah masuk. Dia malah masuk ke toilet khusus wanita."
"Lalu? Kamu menyusulnya?" tanya Andam, kini benar-benar penasaran, jemarinya mencengkeram kemudi sedikit lebih erat.
"Tentu saja. Aku menyusulnya untuk menegur dan mengarahkannya ke toilet pria," ujar Sonya dengan senyum misterius. "Tapi begitu aku mendorong pintu toilet... kata-kata teguran mentok di lidahku doang. Kofi sedang berdiri menghadap urinoir, memunggungi pintu, tapi posisinya agak menyamping membuatku bisa melihat dengan jelas…”
“Melihat…?”
“Ya, melihat itunya. Sungguh, aku belum pernah melihat ukuran semegah itu seumur hidupku. Aku tertegundepan pintu."
Andam menelan ludah. Bayangan visual yang diceritakan Sonya mulai menari-nari liar di dalam benaknya.
"Kofi menyadari kehadiranku. Dia sempat kaget, tapi alih-alih merasa malu, dia justru melihat reaksiku yang terpaku. Dia kayanya sudah kepalang basah. Dia menghampiriku. Tangannya meraih daun pintu, menutupnya rapat, dan memutar selot kunci…"
“Lalu???”
Sonya menghela napas panjang, meremang mengingat sensasi waktu itu. "Dia membalikkan tubuhku, merapatkan tubuhku ke dinding marmer yang dingin, sementara tubuhnya mengurungku sepenuhnya. Andam... kenikmatan saat dia mulai menjamahku sungguh luar biasa, berada di level yang berbeda. Dan ketika anunya perlahan masuk, rasanya seperti seluruh rongga kewanitaanku meledak. Liar, kuat, nmembuatku lupa segalanya... hehehe…"
Mendengar penuturan Sonya yang begitu menggoda, darah di dalam tubuh Andam seolah mendidih. Desaran hangat yang sejak semalam yang tertahan kini kian memuncak, menciptakan denyutan hasrat kian membara dan menuntut pelampiasan.
Namun, sekuat tenaga Andam mencoba mempertahankan topeng keanggunannya. Ia mencengkeram setir mobil lebih kuat, menggigit bibir bawahnya sendiri demi menyembunyikan gejolak liar yang sedang mengamuk di dalam batinnya.