Aku berjalan menaiki tangga demi tangga untuk menuju kamarku. Hari ini adalah hari yang cukup melelahkan, mulai dari mengikuti jam tambahan di pagi hari, sekolah hingga sore lalu berlanjut mengikuti bimbel hingga isya’. Rasanya tubuhku sudah berteriak meminta untuk direbahkan.
Rumahku tampak sangat sepi, Umi dan Abi masih di Jakarta, dan Mas Fatah kemungkinan belum pulang, mengingat akhir-akhir ini dia juga sangat sibuk. Sesampainya di kamar, aku menatap langit dari jendela kamarku yang terbuka, langit tampak begitu cerah, banyak bintang yang bermunculan, bahkan bulan pun membentuk purnama. Namun, meski sangat ingin menyaksikannya, rasanya aku tidak kuat. Akhirnya aku memilih untuk mandi dan segera mengistirahatkan tubuh.
Ketika aku baru saja selesai berganti pakaian dan ingin beranjak tidur, tiba-tiba pintu kamarku di ketuk, membuat ku mau tidak mau harus membukakan pintu.
"Ra.. ayo turun, kita makan dulu. Mas, sudah beli makanan." Ucap Fatah begitu aku membuka pintu, ternyata dia sudah pulang.
Sebenarnya, aku sudah makan sehabis magrib tadi, tapi melihat Mas Fatah sudah membelikanku makanan membuatku tidak tega untuk menolak. Akhirnya aku mengikuti langkah Mas Fatah menuju ruang makan.
“Tadi bimbel lagi?.” tanya Mas Fatah begitu kita sampai di ruang makan.”
Aku mengangguk sebagai jawaban.
"Gimana bimbelnya?"
Aku menghela nafasku, sedikit kesal jika mengingat-ingat saat bimbel tadi. Pasalnya tadi jadwalnya adalah fisika, dan fisika adalah salah satu mata pelajaran yang tidak ku sukai karena sangat membingungkan. Sedangkan tadi yang menjadi tentorku adalah Kak Abhi, dan itu benar-benar membuatku kesal. Bagaimana tidak, Kak Abhi mengajari aku dengan cara yang menyebalkan, dia terus saja marah ketika aku melakukan kesalahan sedikit saja.
“Sedikit menyebalkan.” Jawabku sembari menyuapkan makanan ke mulut.
Mas Fatah mengernyitkan dahinya. “Menyebalkan? Kok bisa?.”
Aku menghela nafas, mengumpulkan energi sebelum aku mulai bercerita. “Jadi, Ara kan udah capek ya, seharian sekolah. Terus tadi tuh bimbelnya Fisika, terus Ara dapat tentor baru. Namanya Kak Abhi, enggak tahu kenapa orangnya tuh selalu bikin Ara kesel, bahkan sejak kemarin waktu kita pertama ketemu, eh salah.. waktu kedua kali ketemu. Terus tadi tuh dia marah-marah mulu sama Ara gara-gara Ara ada yang salah. Kesel aja sih, padahal sama yang lain dia enggak galak. Tapi sama Ara kayak galak banget.”
“Perasaan kamu aja kali.”
“ih serius tahu, Mas.”
Aku lihat Mas Fatah tertawa, entah hal apa yang membuatnya tertawa, padahal tidak ada yang lucu sama sekali.
“Awas hati-hati, nanti kamu naksir loh.” Aku membelalakkan mataku ketika mendengar ucapan Mas Fatah. Naksir? Apa maksudnya?.
“Naksir? Maksud Mas Fatah, Ara naksir Kak Abhi gitu? Ih.. Kok sampai situ sih bahasannya, enggak jelas banget.”
Mas Fatah kembali tergelak ketika mendengar ucapanku. “ya kan, biasanya gitu, berawal dari enggak suka, benci terus jadi jatuh cinta, terus jadi suka banget.”
Aku mendengus mendengar ucapan Mas Fatah. “Mas Fatah ih. Mana ada kayak gitu, Mas Fatah aja nih, kebanyakan nonton sinetron.”
Kini Mas Fatah benar-benar tertawa lepas setelah mendengar ucapanku, bahkan dia hampir saja tersedak.
Setelh itu, Mas Fatah mengatur nafasnya, mencoba meredakan tawanya. “Udah-udah, ayo makan. Habis itu istirahat.” Ucapnya. Aku pun menurut, lalu kita menghabiskan makan malam dengan tenang dan setelah itu segera beranjak mengistirahatkan tubuh yang lelah.
**
"Lama banget sih Ai, lumutan nih nungguin kamu."
Aku tersenyum dan segera memasuki mobil Syam. Pagi ini kita berangkat ke sekolah pukul setengah enam pagi karena ada jam tambahan dari pukul enam hingga pukul tujuh untuk persiapan UN, dan Syam sudah nongkrong di halaman rumahku sejak pukul lima lebih lima belas.
“Lagian, suruh siapa datang lima belas menit lebih awal,” ucapku sembari mengenakan seatbelt.
“Abisnya, kalau kelamaan di rumah takut ketiduran lagi.”
Aku mengalihkan pandanganku untuk menatap Syam “Tapi sekarang posisinya lagi enggak ngantuk, kan? Bahaya kalau nyetir sambil ngantuk. Mendingan kita minta di antar aja.”
Syam tersenyum. “calm down Ai, aman kok. Aku enggak ngantuk,” ucapnya kemudian mulai melajukan mobil.
Selama perjalanan aku dan Syam tidak banyak bicara kerena memang sedang tidak ada yang ingin di bicarakan.
“anyway, nanti sore enggak bimbel kan? Ke danau yuk Ai.” Ucap Syam setelah kita turun dari mobil. Keadaan sekolah masih cukup sepi, hanya siswa-siswa kelas dua belas saja yang baru datang.
“Yuk.. yuk.. sudah lama banget enggak ke danau. Kangen juga lihat senja.”
Aku menjawab dengan antusias. Melihat senja adalah kesukaanku dan Syam sejak kita kecil, dulunya kita suka melihat senja melalui balkon kamarku, tetapi sejak kita SMP kita menemukan tempat yang tepat dan nyaman untuk menatap senja, yaitu di danau yang berjarak dua komplek perumahan dari rumahku. Itu adalah danau buatan yang dibuat sejak jaman aku duduk di sekolah dasar, di danau itu kita biasa menyaksikan senja dan mentari yang mulai tenggelan seperti masuk ke dalam air. Di danau juga banyak pepohonan rindang dan kursi-kursi taman yang di letakkan di beberapa spot. Sehingga pengunjung danau dapat menikmati danau sembari duduk di bawah rindangnya pohon. Huh, membayangkan saja sudah membuatku bahagia. Melihat senja di danau memang sangat cocok dijadikan momen untuk healing dari segala kepenatan.
“Ya sudah, nanti sepulang sekolah kita langsung kesana. aku ke kelas dulu ya Ai, Assalamu’alaikum.” Ucap SYam sembari melambaikan tangannya. Aku menjawab salam sembari melambaikan tangan. Kelasku dengan kelas Syam memang berbed dan ini adalah pertama kalinya kita berbeda kelas. Sejak di taman kanan-kanak hingga SMA kelas sebelas, kita selalu berada dalam satu kelas meskipun isi teman-temannya di acak. Tetapi entahlah, mungkin tahun ini adalah saatnya aku berpisah kelas dengan Syam.
**
“Nih.” Syam menyodorkan satu botol air mineral kepadaku.
Aku menerimanya, sore ini kita sudah berada di danau menatap senja yang sudah lama kita rindukan.
“Padahal baru empat hari enggak lihat. Tapi berasa lama banget ya, Ai.”
Aku mengangguk setuju. Empat hari tidak melihat senja dan digantikan dengan mengikuti bimbel memang terasa sangat melelahkan, dan kini lelah itu seperti telah terbayarkan dengan menyaksikan indahnya senja.
“Kamu ingat enggak Ai, waktu pertama kali kita kesini. Waktu itu kita iseng-iseng pengen lihat danau, eh malah terpesona sama senja.”
Lagi-lagi aku mengangguk setuju, benar yang dikatakan Syam. Sore itu, kita tengah bersepeda, niatnya hanya mengelilingi kompleks, namun begitu mendengar pengerjaan Danau telah selesai membuatku dan Syam jadi penasaran ingin melihatnya. Di sore hari menjelang magrib aku dan Syam bernar-benar terpukau melihat senja dan danau yang begitu sempurna.
“Kapan-kapan sepedaan lagi yuk!. Sudah lama juga kita enggak sepedaan.”
Syam mengangguk-anggukkan kepalanya. “Boleh-boleh. Sekalian nostalgia ya.”
Aku tertawa mendengar ucapan Syam.
“Ngomong-ngomong soal nostalgia. Ternyata banyak hal yang udah kita laluin bareng ya Ai, enggak nyangka banget sekarang kita udah dewasa gini. Padahal dulu kamu masih sering nangis di pojokan setiap kali ada yang gangguin. Eh lupa, sekarang kan juga masih sering nangis,” ucap Syam yang membuatku mendengus.
“Ih ngarang banget, kalau dulu kan memang masih kecil, kalau sekarang mah udah engga suka nangis?.”
“Yakin, enggak suka nangis?.”
“Yakin lah!.”
“Terus kemarin waktu aku hampir berantem sama anak sekolah sebelah, siapa yang nangis?.”
Aku mendengus mendengar ucapan Syam. “Ish, itu mah beda cerita, lagian kamu serem kalau lagi marah. Terus semisal jadi berantem terus kamu kenapa-napa gimana coba?.”
Syam tersenyum menatapku. “Cieee khawatir ya..”
“Ish apa sih, enggak jelas banget.”
Syam tersenyum, masih menatapku. Lalu dia berdeham. “Anyway, Ai. Kita kan sudah lama nih sahabatan? Pernah nggak kamu suka sama aku?”
Aku membelalakkan mata ketika mendengar pertanyaan dari Syam. Bagaimana bisa Syam menanyakan hal itu. “Ngomong apa sih, Syam. Ya pernah lah, kan kamu sahabat aku. Mana ada sahabat yang enggak suka ke sahabatnya sendiri.”
“Bukan itu Ai, maksudnya suka sebagai laki-laki dan perempuan.”
Aku terdiam sejenak sebelum menjawab, “ Eggak tahu ah, enggak bisa mikir. Lagian kenapa sih kamu tiba-tiba tanya kayak gini?.”
Syam tidak menjawab pertanyaanku, ia hanya tersenyum. Lalu memilih untuk mengganti topik pembicaraan. Sore ini, senja sama indahnya seperti biasanya dan aku merasakan bahagia seperti biasanya. Bersama dengan Syam, semua yang ku lalui terasa membahagiakan.
“I wish we could be like this forever.”