Detik, menit, jam terus berputar.
Satu, dua dan tiga angka beriringan.
Hari demi hari berlalu dan ternyata tak ada perubahan. Aku sendirian, menangis dalam gelap.
Hanya satu inginku, aku hanya ingin didengar.
-Emily Oswald-

Hiruk pikuk kota london selalu menjadi keseharian yang dilihat oleh masyarakat london setempat, negara Ratu Elizabeth ini selalu terkenal dengan orangnya yang sangat ramah, dan itu pada umumnya. London memang sangat indah bila dilihat, pantas saja banyak orang yang ingin pergi berliburan ke ibu kota negara inggris ini.
Tetapi tidak untuk Emily Oswald, ia tidak menyukai orang orang London. ia membenci tempat kelahiran ayahnya ini, kenapa dengan Emily? Ada apa dengannya?
?09.25
"Ily? kamu tidak ada jadwal kuliah nak" Teriak Caroline dari bawah, sambil melihat keatas karna kamar Emily berada dilantai Dua.
Caroline Oswald akhir akhir ini bingung dengan tingkah anaknya yang menjadi pendiam dan sangat tertutup, ia bingung tetapi tidak ingin bertanya, Caroline menunggu agar anaknya yang menceritakan sendiri tanpa pertanyaannya yang takut mengganggu Emily.
"Aku sedang malas mom" Jawab Emily acuh dengan nada sedikit berteriak agar mamanya yang berada dilantai bawah mendengar suaranya.
Caroline menghela nafas pasrah sejenak "Tumbenan kamu seperti itu ly, biasanya selalu bersemangat buat kuliah" arah mata Caroline langsung tertujuh ke Emily yang baru saja turun dan berada dianak tangga terakhir.
"Ada cerita yang tidak mengenakkan mom" jawab Emily dengan wajah lesu. "Akan ku ceritakan nanti bila aku ingin bercerita" lanjut Emily lagi dan langsung pergi ke kamar mandi.
Dan Caroline menatap nanar punggung putrinya yang beranjak menjauh darinya "semoga kau selalu baik baik saja nak" ucap caroline dalam hati.
---
Univercity College London

Emily berjalan gontai dan menyapu pandangan matanya keseluruh arah kampusnya dengan pandangan takut, ia merasa terasingkan saat ini. semua orang memandangnya benci, keadaan ini yang membuat Emily tidak ingin kekampus. Sejak minggu lalu hingga sekarang keadaannya masih sama dan tidak berubah.
Emily Oswald adalah anak kedua dari David Oswald dan Caroline Oswald yang mempunyai jiwa seni, dan memiliki seorang kakak laki laki bernama Darren Oswald yang kini sedang berada diJakarta, Indonesia. Emily adalah termasuk gadis yang pintar disalah satu kampusnya, ia memiliki paras yang menarik dan tidak membosankan, gadis si mata biru ini adalah orang yang manis dan ceria. Tetapi setelah kejadian minggu yang lalu perlahan sekarang keceriannya menghilang begitu saja.
**
"Hey kau gadis cupu!"
"Hey kau jelek!"
"Pergi kau dari kampus ini!"
"Berani sekali datang kesini!"
"Hey buruk rupa!!"
"Jangan sok cantik kau!"
"p*****r kau!"
Berbagai macam bullyan terlontar begitu saja kepada Emily sejak ia memasuki koridor kampus, Emily hanya bisa menunduk saat itu dan tidak berani mengangkat wajahnya untuk melihat orang orang tersebut, hatinya sakit, tergores. Ini semua salah paham, ia bukan gadis seperti itu dan itu tidak benar.
Emily memasuki ruang seni dan duduk di salah satu bangku menghadap piano, perlahan ia mulai memainkan jarinya dituts tuts piano. air matanya mengalir deras begitu saja, irama musik piano dimainkan dengan nada melow penuh penghayatan oleh Emily, berharap seseorang paham irama musik sedih ini mengutarakan isi hati Emily.
"Dia datang padaku dan seolah olah meminta bantuan agar semua gadis menjauhinya, tetapi aku tidak mengiyakan ucapannya. dia memang pernah menyatakan cinta padaku tapi aku tidak mencintainya, makanya aku menolaknya dan tidak berakhir disitu ternyata pria sombong nomer satu dikampus ini menjebakku, aku dibawa kesuatu tempat sepi dan hampir dilecehkan. aku berhasil kabur saat itu, aku pun tidak tau ternyata dia memfotokan diam diam kebersamaan kita dengan baju yang tidak pantas terlihat difoto itu, kau jahat Brian. sekarang semua gadis yang menggilaimu menerorku dan semua orang memandangku buruk!" ucap Emily pilu setelah mengakhiri musik pianonya, ia berbicara sendiri ditempat itu dengan hatinya yang sakit, berharap ada seseorang yang mau mendengar ceritanya.
"Aku tidak memandangmu buruk nona" Emily kaget, Adakah orang lain disini selain dia?
Emily mencari arah suara itu berasal, ketemu! pria itu berdiri tepat didepan pintu dan Emily langsung beranjak dari duduknya sambil menyeka air mata yang membasahi pipinya.
perlahan Emily menghampiri pria tinggi semampai itu.
"Aku bersamamu nona" lagi lagi perkataan pria itu menyejukkan hatinya. Emily tersenyum singkat mendengarnya. "Kau siapa?" ucap Emily terdengar serak.
Pria tinggi semampai itu maju satu langkah lebih dekat kearah Emily berdiri dan menundukkan sedikit badannya, ia berbisik "Aku penggemarmu nona"
To be continue...
Kritik dan sarannya dipersilahkan:)