"Oh shiit!"
Ayaz berusaha keras menangkap kaus biru muda yang terombang-ambing ombak lautan.
"I got you!" Akhirnya pria itu mendapatkan kembali kausnya. Lantas mulai memutar arah, berenang menuju ke permukaan.
Pria itu mendirikan tubuh saat sudah mencapai bibir pantai dan bergerak ke arah Sevda.
"Apa kau sudah tidak waras?!" Ayaz mengomeli gadis itu. Namun gadis itu hanya bersikap tak acuh.
Ayaz menghentikan langkah tepat di hadapannya sembari terus menghardiknya. "Dasar gadis sakit mental!"
"Kau sendiri yang mulai, Ayaz Navruz!" Sevda melipat tangannya di perut. Berdiri penuh percaya diri seakan tak gentar sama sekali pada pria di depannya itu.
"Asal kau tahu, berada di dekatmu hanya membuatku semakin gila!" Rahang Ayaz kini benar-benar sekeras baja.
"Dan berada di dekatmu juga membuatku terasa tersiksa seperti neraka!" timpal Sevda tak mau kalah.
"Oh, ya?" Ayaz maju selangkah. Menghapus jarak di antara keduanya.
Sevda meneguk ludah. Melihat tubuh pria itu yang masih bertelanjang dadaa berada tepat di matanya. Hal itu membuatnya benar-benar kesusahan untuk bernapas.
"Jika kau memang merasa seperti neraka, maka aku akan terus berada di dekatmu agar kau terbakar api neraka ku ini dan kau akan lenyap untuk selamanya!" Pria itu mengucap penuh kebencian.
Sevda mencoba bersikap percaya diri. Ia menyudutkan bibir—sinis. "Jika kau bilang berada di dekatku hanya membuatmu gila, maka aku akan terus-menerus di dekatmu terus sampai kau benar-benar masuk rumah sakit jiwa!" katanya sembari berdiri tegak dan berlagak angkuh.
Kedua pasang mata indah itu saling menumbuk dengan emosi masing-masing.
"Aarghh!"
Kini keduanya saling membalikkan tubuh.
"Jika kau memang tidak suka denganku, sebaiknya kita menjaga jarak seratus meter!" ketus Ayaz.
"Tidak perlu menyuruhku, karena aku akan langsung menjauh seribu meter darimu!" timpal Sevda.
"Bagus! Setidaknya kau membuat keputusan yang benar untuk pertama kalinya dalam hidupmu!" Setelah mengatakan itu, Ayaz lantas menjauh dari gadis itu.
Sevda membalikkan tubuh. Merasa geram terhadap pria itu. Bibirnya ketus-ketus dengan kedua mata memicing. "Andai aku punya kekuatan super, sudah kusihir dia jadi kodok!"
"Menyebalkan!" Sepanjang jalan Ayaz bergumam, meluapkan kekesalannya. "Andai aku punya kekuatan super, sudah kusihir dia jadi babi!"
Suasana kembali tenang.
Ayaz tengah menjemur kausnya yang basah di bawah terik mentari dengan menaruhnya diujung kayu. Sementara Sevda memilih duduk di hamparan pasir putih menikmati suasana pantai yang terbilang indah.
"Ibu, Ayah, aku sangat merindukan kalian. Kakek, Leon, dan Deniz … ingin rasanya kita semua berkumpul." Sevda merenung. Mengutarakan perasaannya yang teramat kesepian.
Lantas kedua matanya itu menadah ke cakrawala. Dilihatnya awan kumulus yang membentuk pola di atas sana. Juga ada burung-burung camar yang beterbangan mulai mencari makan di lautan.
"Tuhan, kau yang menciptakan semua alam semesta ini. Aku mohon, tolong kirimkan juga bantuan untukku. Aku ingin pergi dari sini." Suara gadis itu penuh iba.
"Tempat ini memang indah, tapi semuanya berantakan saat ada si makhluk es batu itu!" Sevda memicingkan mata ke arah Ayaz. Memasang wajah judes.
Ayaz yang baru saja selesai menjemur kausnya menoleh ke arah Sevda.
"Gadis itu pasti sedang mengejekku. Memangnya dia kira aku tidak tahu apa. Mulutnya itu selalu banyak bicara. Memang benar-benar tidak lebih seperti ikan koi!" Ayaz bergumam sembari melirik sinis ke arahnya. Kemudian mencari tempat teduh dan mendudukkan tubuhnya di hamparan pasir.
"Lihatlah cara dia duduk, sangat angkuh!" celetuk Sevda.
Seekor keong tampak menyembunyikan dirinya ke dalam tempurung saat melihat Sevda yang melirik ke arahnya.
"Apa kau juga takut pada pria itu?" kata Sevda pada keong tersebut. Ia merendahkan kepalanya, mulai berbicara pada sang keong.
"Pria batu itu memang menyebalkan. Suka marah-marah dan jarang tersenyum. Kau tahu, dia bahkan tidak peduli pada orang-orang di sekitarnya. Dia itu psikopat! Tampan juga tidak. Apa menurutmu dia tampan?"
Sevda melirik ke arah Ayaz sejenak. Memperhatikan wajah pria itu dari sampingnya. Serasa melihat seorang artis.
"Yah, terkadang dia memang sedikit tampan dari suatu sudut." Tanpa sadar ia memuji Ayaz.
"Oh Sevda ... apa yang kau katakan. Tidak … tidak … aku tidak boleh memujinya." Kembali matanya fokus pada si keong.
"Lupakan soal perkataanku tadi," katanya pada si keong.
Keong tersebut langsung kembali menyembunyikan dirinya dalam tempurung acap kali Sevda berbicara padanya.
"Dia itu monster. Kau jangan dekat-dekat dengannya, atau kau akan langsung dimakan hidup-hidup!"
Sevda benar-benar seperti anak kecil yang polos yang sedang berbicara pada binatang.
Ayaz diam-diam melirik ke arahnya. Mengerlingkan mata heran. "Apa gadis itu benar-benar gila berbicara sendiri?"
Ia mengulurkan tangannya, meraih kerikil dan melemparkannya ke arah Sevda.
Merasa ada yang melemparinya, Sevda langsung menatap pada Ayaz.
"Hei, apa kau tidak waras?!" teriak Sevda.
"Kau yang tidak waras! Kau berbicara sendiri seperti orang gila!" timpal Ayaz.
"Siapa bilang aku bicara sendiri!" bantah gadis itu.
"Lalu … kau berbicara dengan siapa? Tidak ada seorang pun yang bisa kau ajak bicara di sini kecuali aku. Dan aku sama sekali tidak sudi berbicara padamu!"
"Memangnya kau pikir aku tertarik mengobrol denganmu?!" Sevda memiringkan senyum penuh ejek. "Lihat, aku sedang berbicara pada keong ini!" Sevda memungut keong tersebut dan menunjukkannya pada Ayaz.
Pria itu tertawa geli.
"Apa saat kau dilahirkan otakmu ketinggalan di dalam perut?"
"Sembarangan!" ujar Sevda tak terima.
"Hanya orang sakit mental yang melakukan hal sepertimu! Memangnya keong itu bisa merespon ucapanmu apa? Oh iya, aku baru ingat. Kau kan ikan koi, sudah jelas dia bisa mendengarkan ocehanmu yang tidak jelas itu. Kalian sama-sama makhluk air. Haha!"
Sevda tak terima dengan ejekan pria itu. Tangan kirinya mencengkeram pasir dan melemparkannya ke arah Ayaz.
"Menyebalkan! Tutup mulutmu itu! Kalau bicara jangan asal bunyi!"
"Kau yang harusnya tutup mulut! Nyerocos mulu seperti radio rusak!"
"Mulutmu itu seperti panci penggorengan!" balas Sevda mengejek.
"Dan kau yang jadi ikan koinya lalu kugoreng sampai gosong!"
Sevda merasa sangat geram. Tak bisa mengeluarkan kata-kata lagi, hanya bisa meremas tangannya dengan penuh kekesalan.
Ayaz menggelengkan kepala heran, lantas kembali meluruskan pandangan ke depan, kembali fokus pada panorama indah di depan mata.
"Kau lihat sendiri, betapa kurang ajarnya pria itu!" kata Sevda pada keong itu. Lantas ia menaruh kembali keong tersebut ke hamparan pasir.
Keong itu langsung lari begitu sana.
Sevda menoleh ke kanan kiri. Merasa bosan dengan semua ini.
"Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini." Gadis itu menatap ke arah langit. "Andai ada helikopter yang terbang di atas sana, pasti aku akan berteriak meminta tolong."
Gadis itu terdiam sejenak. Mulai berpikir.
"Ah, aku tahu!" serunya lantas membangkitkan tubuh.
Sevda mengambil sebuah kayu kering di sekitar dan mulai menuliskan sesuatu di pasir pantai.
Ayaz yang melihatnya mengerutkan dahi heran. "Apa lagi yang sedang gadis itu lakukan?"
"Hei, kau sedang apa?!" teriak Ayaz.
"Bukan urusanmu!" balas Sevda sinis. Ia kembali fokus menggoreskan ujung kayu tersebut pada hamparan pasir putih.
"Done!" katanya setelah menyelesaikan digaris terakhir.
Ayaz membangkitkan diri. Bergerak mendekat dan membaca tulisan besar yang tergores di atas permukaan pasir putih. Tulisan itu berbunyi 'S.O.S'.
SOS adalah nama untuk tanda bahaya kode Morse internasional. Sebuah tanda SOS dipilih karena memiliki sandi morse yang mudah diingat, yakni tiga titik dan tiga tanda garis. Biasanya orang akan memakai tanda ini jika dalam bahaya, atau pun memerlukan bantuan.
"SOS?" Ayaz mengerutkan dahi.
"Yap. Kau tahu kan apa artinya?"
"Tentu saja! SOS artinya Sevda Orang Songong! Haha!" seloroh Ayaz.
"Sembarangan!" Sevda murka dan melemparkan kayu di genggamannya ke arah Ayaz.
"Hei, Nona sok pintar, dengar! Kalau kau berpikir akan ada helikopter atau pesawat yang melintas di sini lalu melihat tanda bulshit-mu itu, maka sebaiknya jangan terlalu banyak berharap, oke?" balas Ayaz meremehkan. "Tidak ada helikopter di atas sana. Yang ada hanya sekawanan burung camar. Tapi kalau kau mau meminta tolong burung camar silakan saja!"
Sevda merasa geram. "Setidaknya aku sudah berusaha untuk bisa keluar dari pulau ini. Daripada kau, kau hanya duduk diam dan tak mau berbuat apa-apa! Dasar payah!"
"Kalau aku mau aku bisa langsung meraungi lautan ini sampai ke pulau berikutnya yang berpenghuni!" balas Ayaz.
"Oh ya? Pasti kau akan mati tenggelam di tengah perjalanan!" timpal Sevda.
"Oh jadi kau meremehkanku? Baiklah aku akan berenang sekarang dan meninggalkanmu sendirian di sini bersama penghuni gaib pulau ini!" Ayaz menakuti-nakuti gadis itu.
"Ayaz … jangan begitu!" Sevda bergerak ke arah Ayaz dengan gesit dan memegang tangannya. Terlihat ekspresi panik dalam raut wajahnya.
Ayaz menatapnya tanpa henti. Ia bisa merasakan tangan Sevda yang menggenggamnya begitu erat.
"Tega sekali kau ingin meninggalkanku sendirian di sini. Di mana rasa kemanusiaanmu itu!"
Ayaz meneguk ludah. Melepaskan tangan Sevda dari genggamannya.
"Aku hanya bercanda!" katanya tanpa penuh dosa sembari memalingkan wajah.
Sevda kembali berapi-api. Menyemburkannya napas kesal.
"Kau memang benar-benar sialan!" Gadis itu memalingkan wajah sembari menumpangkan kedua tangan di atas perut. Detik berikutnya gadis itu mendesis. "Ayaz setidaknya pikirkan sesuatu bagaimana cara keluar dari sini! Aku tidak mau jika harus bermalam di sini lagi! Dingin dan menyiksa!"
"Otakku lagi mode off!" balas Ayaz sekenanya.
"Oh ya? Lalu bagaimana caranya agar menjadi mode on? Apa harus aku pukul pakai kayu ini?" Sevda memungut sebatang kayu di bawah kakinya. Hendak memukulkannya pada pria di sebelahnya. Namun Ayaz buru-buru menghindar.
"Hei apa yang kau lakukan?!"
"Pikirkan sesuatu agar kita bisa keluar dari sini!" tuntut gadis itu.
"Apa yang harus aku lakukan?"
Sevda melirik ke arah kapal boat-nya yang sudah rusak di tepian pantai sana. "Bagaimana kalau kau perbaiki kapalnya agar bisa digunakan lagi?" Kedua belah alis Sevda naik dua kali. Seakan menganggap hal itu remeh.
"Aku bukan ahli mekanik yang bisa begituan!" jawab Ayaz kesal.
"Kau memang payah! Sebagai seorang pria apa ini tanggung jawabmu? Kau tidak pernah bisa bertanggung jawab! Kau harus banyak belajar dari sepupumu!"
Ayaz merasa kesal saat ada seseorang yang membandingkannya dengan Serkan. Itu mengingatkannya pada perkataan ayahnya yang begitu menyakitkan.
"Oh ya? Serkan yang sudah menyakiti perasaanmu dan sekarang kau mulai mengagung-agungkannya lagi?!"
Duri serasa kembali melukai hati Sevda saat mengingat akan kisah cintanya pada Serkan yang kandas sebelum dimulai.
Gadis itu menunduk sedih.
Ayaz maju selangkah demi menyuarakan kekesalannya. "Kau tahu apa masalahmu? Kau itu terlalu berharap pada Serkan! Kau menganggap Serkan adalah pria yang sempurna dan tidak ada duanya, sehingga kau mengabaikan semua kekurangannya. Tapi, aku rasa di sini bukan sepupuku yang bersalah. Dia tidak pernah menggodamu atau menjual buaian manis terhadapmu. Kau sendiri yang terlalu berharap padanya!"
"Diam!" Sevda berteriak sembari membungkam kedua telinganya. "Aku mohon diamlah!"
Gadis itu mulai menangis.
Ayaz menyemburkan napas gusar. Menatap punggung Sevda yang menggigil sebagai tanda kalau gadis itu sedang menangis.
"Sudahlah … tidak perlu menangis!"
"Siapa bilang aku menangis!" Sevda menyeka air matanya dengan kasar. Mulai bisa mengontrol dirinya.
"Aku tidak menangis! Lihat! Aku tersenyum. Tersenyum gembira!" Sevda memamerkan senyum yang dibuat-buatnya terhadap Ayaz.
Pria itu memutar mata malas.
Segerombolan burung camar tampak turun ke laut dan mulai menyambar ikan-ikan yang mencoba mencapai permukaan. Sevda memandangi rantai alam tersebut. Lantas, beberapa saat kemudian, kedua matanya menangkap sebuah kapal yang berlayar.
Gadis itu bergerak maju beberapa langkah. Menjelikan mata. Dilihatnya memang benar ada kapal Yacth yang tengah berlayar dan sepertinya bergerak mendekat ke pulau tersebut.
"Ayaz … Ayaz! Ada kapal!" teriak Sevda.
Ayaz berjalan mendekat. Menghentikan langkah di samping Sevda.
"Kau lihat! Itu kapal, kan?"
Ayaz menjelikan mata, kemudian mengangguk. "Iya, itu memang kapal!" serunya bersemangat.
"Cepat panggil dia, Ayaz!" perintah Sevda tidak sabaran.
Mereka kemudian mulia berteriak dan melambai-lambaikan tangannya ke udara.
"Tolong! Tolong! Tolong!"
"Kurasa mereka tidak akan dengar kalau di sini. Aku akan coba naik ke batu karang itu!" Ayaz bergegas menggerakkan kakinya menuju hamparan batu karang yang ukurannya cukup besar. Ia mulai naik ke sana. Berdiri tegak, berteriak, dan melambai-lambaikan tangannya.
"Tolong! Tolong!"
Sevda juga terus memekik. "Tolong kami!"
Kapal berwarna putih tersebut sepertinya mulai mendengar dan melihat teriakan mereka. Buktinya, kapal itu sekarang semakin berlayar maju ke arah mereka.
Saat kapal itu sudah mulai dekat, Ayaz memilih untuk turun dari bebatuan karang dan bergerak ke arah Sevda.
"Apa mereka mendengar kita, Ayaz?"
"Pasti. Buktinya mereka ke sini!"
Sevda kembali memperhatikan kapal tersebut. Hatinya menjadi senang.
"Mereka benar-benar datang!"
"Yey!!!"
Saking senangnya mereka bahkan tak sadar sampai berpelukan dan mengekspresikan kegembiraannya.
Sebuah kapal Yacth pribadi berwarna putih itu tampak mendekat dan berhenti di bibir pantai. Tampak seorang pria dan wanita paruh baya yang berdiri di sana. Mereka mengenakan pakaian santai serta kacamata hitam dan si pria membawa sebuah teropong. Kini mereka mulai menuruni kapal tersebut.
Ayaz dan Sevda mulai tersadar kalau mereka kini tengah berpelukan. Spontan mereka langsung menjaga jarak satu sama lain. Memalingkan wajah, saling salah tingkah.
Sepasang pria dan wanita yang kelihatannya lebih tua dari mereka itu mulai mendekat ke arah Ayaz dan Sevda.
"Hello!" Wanita dengan topi besar di kepalanya itu menyapa mereka.
Sevda dan Ayaz menghampiri.
"Hi! Apa kalian bisa menolong kami? Kami terjebak di sini dan kapal kami rusak," kata Sevda langsung pada intinya.
Si pria melepaskan kaca mata hitamnya dan mengaitkannya di kerah kemeja lengan pendeknya. Menoleh ke arah perahu boat yang rusak.
"Kami sudah hampir dua hari terjebak di sini!" sahut Ayaz.
"Kumohon tolong kami!" tambah Sevda dengan ekspresi penuh iba. Mulai memperhatikan wajah wanita itu. "Sebentar, apa kalian turis?" tanyanya.
"Iya, sebenarnya kami dari Indonesia." Sang pria yang menjawab.
"Indonesia? Benarkah? Aku juga kelahiran Indonesia!" seru Sevda berdecak.
"Oh, ya? Wow!" Sang wanita merasa antusias.
"Apa kalian pasangan suami istri?" Si pria bertanya. Mulai memperhatikan mereka dari kaki sampai kepala.
"Ti—"
"-iya!" Sevda menyela cepat perkataan Ayaz. Menggandeng tangan Ayaz dengan erat dan memasang wajah sumringah. "Kami pasangan suami istri," ujarnya lagi.
Ayaz mengerling heran.
"Iya, kan, Sayang? Kita pasangan suami istri?" Sevda menatap ke arah Ayaz dengan senyum yang dibuat-buatnya.
Itu semakin Ayaz keheranan. Entah ada apa dengan gadis di sampingnya itu.
Sevda meremas tangan Ayaz agar menyetujui perkataannya barusan.
"I-iya … kami suami istri," kata Ayaz canggung.
Pria dan wanita itu tersenyum.
"Kalian terjebak di pulau ini sendirian. Pasti malam kalian sangat romantis, bukan?" Lelaki itu berseloroh saat memperhatikan tubuh Ayaz yang masih bertelanjang dadda.
Ayaz meneguk ludah seketika.
"Sayang, kau membuat mereka malu-malu!" Sang Wanita menepuk kecil bahu lelaki di sampingnya.
"I-ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Tadi kausku basah dan aku menjemurnya. Itu di sana!" kata Ayaz gugup.
"Ah, tidak apa-apa. Kau tidak usah malu," kata si lelaki pada Ayaz. "Kalian kan sudah suami istri, jadi apa masalahnya kalau kalian tidur tanpa sehelai benang?"
Perkataan lelaki itu semakin membuat Ayaz dan Sevda tertegun. Mereka berdua meneguk ludah berkali-kali.
"Kau membuat mereka salah tingkah lagi!" Kembali sang wanita menepuk bahu sang pria sembari terkekeh.
"S-sebentar … aku akan mengambil kausku dulu!" Ayaz bergegas mengambil kausnya dan mengenakannya cepat. Lantas kembali mendekati mereka.
"Jadi kalian tersesat di sini?"
"Iya!" jawab Sevda cepat. "Maukah kau menolong kami?"
"Tentu saja, kita sama-sama orang Indonesia yang harus saling menolong sesama. Kau ingat selogan berbeda-beda tetap satu jua?"
Sevda tersenyum lebar. "Iya, bhinneka tunggal Ika. Hehe!"
"Dan Kami sangat suka dengan pasangan seperti kalian. Pokoknya kalian harus tetap bersama. Kalian cocok sekali!" seru sang wanita yang langsung membuat wajah Ayaz dan Sevda memerah. "Oh, iya siapa nama kalian?" tanyanya kemudian.
"Ayaz!" Ayaz memperkenalkan diri pada mereka.
"Sevda!" Sevda pun melakukan hal demikian.
"Namaku Riko. Dan ini istriku, Miranda!" seru pria itu.
Mereka kini saling berjabat tangan.
"Bagaimana kapalmu bisa rusak dan sampai terdampar di sini?" tanya Riko sembari melihat kapal yang rusak di bibir pantai sana.
"Sebenarnya kunci kapalnya jatuh ke laut!" kata Ayaz.
"Kenapa bisa jatuh?"
"Umm… ada orang gila yang menjatuhkannya."
Sevda melototkan mata ke arah Ayaz. Ia tahu betul kalau pria itu sedang mencari kesempatan untuk mengejeknya.
"Orang gila?" Miranda bertanya dengan alis bertaut.
"Yah, komplotan bajak laut. Dia seperti penyihir. Dia mengambil paksa kunci dan menceburkannya ke laut," kata Ayaz mengarang cerita.
"Ha?" Mulut wanita itu membuka dan langsung ditutup dengan jemarinya. "Apa dia menyakiti kalian?" Dari nada pertanyaannya, ia seperti dengan cerita karangan Ayaz.
"Syukurnya tidak. Karena sebelum dia menyakiti kami, aku langsung memukulnya dan dia jatuh ke laut!" kata Ayaz dengan memamerkan otot lengannya.
"Ya ampun ... dia mulai banyak bicara!" gumam Sevda memutar mata malas.
Miranda terkagum-kagum pada Ayaz. "Ufff… kau memang suami yang romantis dan perhatian. Kau selalu menjaga istrimu dengan baik." Wanita itu kini menatap ke arah Sevda dan berkata, "Kau beruntung sekali memiliki suami sepertinya."
Dalam hati Sevda mengumpat berbagai hal buruk tentang Ayaz. Namun ia harus terus tersenyum di hadapan wanita itu.
"Kapal kalian mungkin masih bisa diperbaiki!" Suara Riko mengalihkan pembicaraan mereka. "Kami akan membantu membawa kapal kalian juga kalau kalian mau!" tawarnya.
"Tentu saja! Kami akan sangat berterima kasih akan hal itu!" ucap Ayaz cepat.
"Baiklah, kalau begitu … ayo kita naik ke kapal kami!" ajak Riko.
Lantas ia menyuruh dua orang asistennya untuk menggabungkan kapal yang rusak dengan kapalnya tersebut agar bisa diseret sampai tujuan.
Mereka pun mulai menaiki kapal dan bersiap untuk berlayar.