Elena mendongak tidak percaya. Napasnya tercekat saat pria itu melangkah menjauh, meninggalkan meja bar begitu saja dan mengabaikan kopi yang baru dipesannya. Pria itu lenyap di balik pintu kayu kafe.
Elena masih bersimpuh di lantai kayu yang dingin, meremas paspor hijau tuanya dengan jantung yang bertalu liar. Di atas meja, kartu nama perak mewah itu berkilat kena lampu kafe. Alamat di kawasan Schloss-Heidelberg tertera di sana.
Otaknya mendadak nge-blank. Dia mencoba mencerna kalimat terakhir pria asing itu. Kantor catatan sipil. Minggu depan. Itu bukan tawaran. Itu perintah sepihak yang sangat angkuh.
Malam itu berlalu seperti mimpi buruk yang berjalan lambat. Elena tidak tahu bagaimana dia bisa menyelesaikan sif kerjanya di bawah tatapan cemas Lukas Becker, atau bagaimana kakinya yang mati rasa mampu menyeret tubuhnya kembali ke asrama mahasiswa di Neuenheimer Feld. Pikirannya carut-marut, bolak-balik membayangkan surat imigrasi, wajah Profesor Walter yang menjijikkan, dan yang paling mengganggu: sepasang mata abu-abu kebiruan di balik kacamata tadi.
Keesokan paginya, Heidelberg tidak menjadi lebih hangat. Langit di atas kompleks Rumah Sakit Universitas tampak kelabu, sewarna dengan benteng kuno di puncak bukit seberang Sungai Neckar.
Sebagai mahasiswa pascasarjana tingkat akhir yang sedang magang di laboratorium riset sel tumor, Elena biasanya datang sebelum matahari terbit. Tapi hari ini, atmosfer koridor rumah sakit terasa beda. Jauh lebih mencekam.
Elena berjalan menyusuri lorong berlantai putih bersih dengan jas laboratorium polosnya. Di dadanya, seberkas dokumen laporan sel tumor didekap erat. Di belokan menuju bangsal bedah saraf, beberapa perawat dan dokter residen tampak berkerumun, berbisik-bisik dengan suara rendah.
"Dia kembali melakukan operasi maraton selama delapan jam semalam," bisik seorang perawat berambut pendek, melirik cemas ke arah pintu ruang operasi utama. "Tanpa istirahat. Dan dia baru saja memecat asisten dokter karena salah menyerahkan jenis pinset."
"Dr. Goertz saja sampai tidak berani masuk ke ruang pemulihan tadi pagi," sahut dokter muda yang matanya berkantung tebal. "Semua orang tahu posisi Kepala Divisi taruhannya bulan ini. Dokter robot itu lagi dalam mode paling kejam. Jangan bikin salah sedikit pun kalau masih mau megang pisau bedah di sini."
Elena memperlambat langkahnya. Dia tidak bermaksud menguping, tapi obrolan itu membuat alarm di kepalanya berbunyi. Pikirannya langsung melayang pada ucapan merendahkan Profesor Walter beberapa hari lalu tentang "keluarga elite Haidenberg" yang tidak akan pernah bisa disentuh oleh imigran miskin seperti dirinya.
"Hei, anak magang!" Sebuah suara tajam membuyarkan lamunan Elena.
Profesor Walter sudah berdiri di depan pintu ruang administrasi. Tubuh tambunnya dibungkus jas dokter yang rapi. Senyum merendahkan yang biasa dia pakai saat memojokkan Elena kembali muncul. Tipis dan penuh kemenangan.
"Antarkan laporan nomor 402 ini ke ruang kerja Kepala Divisi Bedah Saraf sekarang. Ketuk pintu dengan benar. Pemilik ruangan itu tidak suka membuang waktu dengan orang tidak kompeten yang masa depannya di negara ini sudah tidak jelas."
Kalimat terakhir itu rasanya seperti tamparan keras bagi Elena. Walter sengaja menyindir soal penolakan visanya. Elena mengepalkan tangan di balik tumpukan kertas naskah, menahan emosi yang naik ke d**a. Tanpa sepatah kata pun, dia berbalik menuju lantai teratas gedung bedah saraf area paling eksklusif di rumah sakit ini.
Lift berdenting di lantai lima. Koridor di sini jauh lebih sunyi dengan karpet abu-abu tebal yang meredam suara langkah kaki. Di ujung lorong, sebuah pintu kayu mahoni besar berdiri kokoh dengan papan nama kuningan yang berkilat bersih: Dr. med. Maximilian von Haidenberg.
Elena menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya. Dia melangkah mendekat, mengetuk pintu kayu itu tiga kali.
"Masuk."
Suara bariton yang berat itu langsung membuat Elena merinding. Nada bicaranya terlalu familier untuk dilupakan.
Elena mendorong pintu perlahan. Langkah kakinya langsung tertahan di ambang pintu begitu melihat pria yang sedang duduk di balik meja kerja marmer hitam yang luas.
Pria itu sedang memeriksa hasil rontgen MRI otak yang menyala terang di papan lampu dinding. Kacamata tanpa bingkainya memantulkan cahaya putih, menyembunyikan sorot matanya. Mantel wol hitam semalam sudah berganti dengan setelan jas abu-abu gelap, dilapisi jas dokter putih yang pas di bahu tegapnya. Di saku kirinya, ada sulaman benang sutra biru tua: Dr. med. Maximilian von Haidenberg.
Max tidak langsung mendongak. Jemari tangannya yang panjang sedang memegang pulpen perak, menandatangani berkas medis dengan cepat dan kaku.
"Letakkan laporannya di meja dan kau boleh keluar," ucap Max datar tanpa mengalihkan pandangan. Bahasa Jermannya sangat formal, terdengar seperti perintah mesin.
Elena menelan ludah dengan susah payah. Kakinya rasanya seperti paku yang tertancap di karpet.
Otak Elena mendadak terhubung pada satu kenyataan yang gila. Nama belakang itu... Haidenberg. Pria asing yang semalam menolongnya di tengah badai, pria di kafe yang menuntut pernikahan kontrak, ternyata adalah dokter bedah saraf jenius berdarah dingin yang baru saja digosipkan para perawat di bawah. Pemimpin dinasti medis yang ditakuti seluruh rumah sakit ini.
Melihat anak magang itu tidak juga bergerak, Max menghentikan pulpennya. Dia meletakkan pulpen itu dengan ketukan pelan yang terdengar nyaring di ruangan yang sepi. Max mendongak perlahan, menyandarkan punggungnya ke kursi kulit hitamnya yang tinggi.
Saat sepasang mata abu-abu kebiruan itu mengunci sosok Elena, tidak ada raut kaget sama sekali. Max menatapnya seolah dia memang sudah tahu Elena bakal masuk ke ruangan ini. Tatapannya tetap sedingin es.
"Jadi, kau anak magang yang rekomendasinya baru saja dicabut oleh Walter," ujar Max rendah. Dia memajukan tubuhnya, bertumpu pada meja marmer, membuat Elena kembali merasa terintimidasi. "Dunia medis di Heidelberg ternyata sempit juga."
"Anda... Anda Dr. Maximilian?" Elena akhirnya bisa bersuara, meski nadanya bergetar. Dia melangkah maju dengan ragu, menaruh berkas laporan di tepi meja. "Tuan von Haidenberg yang semalam..."
"Panggil aku Dr. von Heidenberg selama kau di dalam gedung ini, Elena," potong Max dingin, menegaskan batasan jabatan mereka. Max mengambil berkas itu, membukanya dengan gerakan cepat tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Elena. "Dan aku tidak butuh drama terkejut dari seorang pelayan kafe yang tinggal menghitung hari sebelum dideportasi."
Darah Elena mendadak mendidih. Rasa terhina dan amarah mengalahkan rasa takutnya. "Saya bukan pelayan kafe biasa, Dr. von Haidenberg. Saya mahasiswi pascasarjana resmi di sini sebelum Profesor Walter menghancurkan beasiswa saya secara ilegal!"
"Hukum tidak peduli alasan di balik rusaknya dokumenmu, Fräulein," balas Max tanpa ekspresi. Dia menutup berkas itu dengan ketukan tajam. "Kantor imigrasi cuma melihat angka di rekeningmu, dan saat ini, angkamu nol. Kau tidak punya posisi tawar di depan hukum Jerman."
Max berdiri dari kursinya. Tubuhnya yang tinggi menjulang langsung memberi tekanan psikologis yang berat, membuat Elena merasa kerdil di bawah tatapannya. Pria itu berjalan memutari meja marmer, melangkah pelan sampai berhenti tepat dua langkah di depan Elena. Aroma mint yang segar bercampur wangi khas rumah sakit langsung tercium, memicu kembali ingatan saat tubuh mereka menempel erat di jalanan bersalju kemarin malam.
"Walter itu pria oportunis yang menjijikkan, aku tahu. Dan kau cuma korban dari egonya yang terluka. Tapi di dunia ini, keluhan tidak akan mengubah warna visamu jadi hijau."
Elena mendongak, menantang langsung mata abu-abu di balik kacamata Max. "Lalu apa mau Anda? Kenapa Anda bicara soal kantor catatan sipil semalam?"
"Aku sudah bilang di kafe. Aku tidak suka mengulang kalimat yang sama pada bidakku," ucap Max rendah. Dia memasukkan kedua tangannya ke saku jas dokter, menatap Elena dengan pandangan menilai yang bikin bulu kuduk meremang. "Aku butuh istri sah di atas kertas dalam waktu dua puluh sembilan hari ke depan untuk membungkam dewan direksi keluargaku. Dan kau, butuh uang jaminan serta perlindungan hukum supaya tidak jadi dideportasi."
"Ini bukan pernikahan, ini bisnis gila," desis Elena, menolak untuk tunduk begitu saja.
"Sebut sesukamu." Max memajukan wajahnya sedikit, membuat Elena merasa kian terdesak. "Kontrak ini cuma satu tahun. Aku akan urus rekening blokirmu, memulihkan status kuliahmu, dan menyediakan tempat tinggal supaya sandiwara ini kelihatan meyakinkan di mata imigrasi. Setelah dua belas bulan, kita cerai secara legal. Kau bebas pergi dengan paspor bersih dan gelar master di tanganmu."
Elena terengah-engah, dadanya naik turun dengan ritme kacau. Tawaran ini merendahkan harga dirinya, tapi kenyataan pahit tentang sisa waktu empat belas hari terus berputar di otaknya seperti bom waktu. Pria di depannya ini tidak menolong karena kasihan; dia murni menawarkan transaksi bisnis yang dingin, memanfaatkan krisis hidup Elena demi mengamankan ambisinya sendiri.
"Bagaimana kalau saya menolak?" tantang Elena, mencoba mengumpulkan sisa harga dirinya.
Max menarik tubuhnya kembali tegak. Senyum tipis yang dingin muncul di sudut bibirnya. "Kau bebas menolak, Elena. Silakan kemas barangmu dan pulang ke Jakarta dua minggu lagi sebagai mahasiswa yang gagal."
Max berjalan kembali ke kursi kerjanya dengan santai, seolah jawaban Elena tidak berpengaruh apa-apa bagi hidupnya. "Pilihan ada di tanganmu. Tanda tangani kontrak denganku dan lihat Profesor Walter berlutut memohon maaf karena sudah menyentuh milikku, atau pulang dengan tangan hampa. Datanglah ke apartemenku di kawasan Schloss-Heidelberg malam ini jam delapan kalau kau pilih opsi pertama. Alamatnya ada di balik kartu nama semalam."
Max kembali mengambil pulpen peraknya, membuka berkas pasien berikutnya, dan mulai menulis tanpa memedulikan Elena lagi. Isyarat mutlak kalau obrolan mereka sudah selesai.