Hari pertama tinggal di rumah barunya seharusnya menjadi hari yang membahagiakan bagi Selena.
Meski rumah itu terlihat tua dan sedikit menyeramkan, Selena tetap bersyukur, setidaknya ia tidak perlu memikirkan biaya sewa setiap bulan.
Pagi itu, sinar matahari masuk melalui jendela ruang tamu yang berdebu. Selena berdiri di tengah ruangan sambil memandangi rumah yang kini resmi menjadi miliknya.
Rumah itu tidak terlalu besar. Hanya terdiri dari satu ruang tamu, dua kamar tidur, dapur kecil, dan halaman belakang yang dipenuhi rumput liar.
Namun bagi Selena, tempat itu sudah lebih dari cukup.
"Baiklah," gumamnya sambil menggulung lengan baju. "Mulai hari ini, ini rumahku."
Ia mulai membersihkan rumah dari pagi hingga sore.
Debu yang menumpuk di atas lemari, Sarang laba-laba di sudut langit-langit, hingga daun-daun kering yang berserakan di halaman.
Semuanya ia bersihkan seorang diri.
Menjelang sore, tubuhnya sudah terasa pegal.
Namun rumah itu terlihat jauh lebih nyaman dibandingkan saat pertama kali ia datang.
Saat sedang menyapu teras depan, seorang wanita paruh baya yang tinggal di rumah seberang tiba-tiba menghampirinya.
"Baru pindah, Nak?" tanyanya wanita paruh baya itu dengan ramah.
Selena tersenyum.
"Iya, Bu."
Wanita itu menatap rumah di belakang Selena selama beberapa detik.
Ekspresinya berubah aneh.
"Kamu tinggal sendirian?"
"Iya."
"Oh..."
Hanya satu kata.
Namun entah mengapa terdengar seperti ada sesuatu yang ingin ia katakan.
"Memangnya kenapa, Bu?" tanya Selena penasaran.
Wanita itu tersenyum canggung.
"Tidak apa-apa. Kalau butuh bantuan, rumah saya di seberang."
"Terima kasih, Bu." ujar Selena tersenyum.
Wanita itu mengangguk lalu pergi. Namun sebelum masuk ke rumahnya, ia sempat menoleh sekali lagi ke arah rumah Selena.
Tatapannya membuat Selena merasa tidak nyaman.
Seolah-olah wanita itu mengetahui sesuatu.
~
Malam tiba lebih cepat dari yang Selena kira.
Setelah mandi dan makan malam sederhana, ia duduk di ruang tamu sambil memeriksa jadwal kuliahnya.
Besok adalah hari pertamanya di Universitas Mahardika.
Ia merasa gugup sekaligus bersemangat. Semua ini adalah awal dari kehidupan baru yang selama ini ia impikan.
Karena terlalu fokus membaca, Selena tidak menyadari bahwa malam semakin larut. Angin malam berembus pelan melalui celah jendela. Membuat tirai bergerak perlahan.
Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam ketika Selena akhirnya memutuskan tidur.
Sebelum masuk kamar, dia mengunci pintu depan, pintu belakang, dan juga jendela lalu mematikan lampu ruang tamu kemudian masuk ke kamar.
Tak lama kemudian, Selena tertidur.
_ _ _
Krek...
Suara pelan itu membangunkannya. Selena membuka mata perlahan. Dia mengerjakan mata beberapa kali. Melihat ke sekeliling, tidak ada yang aneh.
"Mungkin hanya perasaan ku saja." gumamnya
Ia menarik selimut dan kembali memejamkan mata.
Lalu kembali terdengar suara dan kali ini lebih jelas. Seperti suara seseorang sedang berjalan pelan di ruang tamu.
Selena langsung terbangun. Jantungnya mulai berdegup lebih cepat.
Ia menahan napas dan mencoba mendengarkan kembali suara aneh itu.
Hening.
Tidak ada suara apa pun.
Beberapa detik kemudian, ia menggeleng pelan.
"Sepertinya aku terlalu lelah hingga berhalusinasi." ujarnya menenangkan diri
"Rumah baru memang sering membuat seseorang merasa tidak nyaman pada malam pertama." pikirnya
Akhirnya Selena kembali tertidur.
~
Keesokan paginya, sinar matahari membangunkannya. Selena menguap panjang sebelum berjalan menuju dapur.
Namun langkahnya tiba-tiba terhenti. Dia memandang meja makan dengan bingung.
Di atas meja terdapat segelas air putih, masih penuh.
Selena mengernyit.
Semalam ia yakin tidak meletakkan gelas di sana. Bahkan ia tidak ingat mengambil gelas sama sekali.
"Ah, mungkin aku lupa."
Ia mengangkat bahu.
Karena terburu-buru menuju kampus, Selena tidak terlalu memikirkannya.
~
Hari pertamanya berjalan cukup baik. Ia berhasil berkenalan dengan beberapa teman baru dan mengikuti seluruh kelas tanpa masalah.
Dan ketika dia pulang, dia terpaku aneh melihat keadaan rumahnya. Matanya menyapu ke seluruh ruangan.
Rumahnya terlihat sangat bersih. Padahal tadi lagi dia sangat ingat jika meninggalkan beberapa buku di atas sofa, tas di meja makan dan piring bekas sarapan di dapur.
Sekarang semuanya tertata rapi. Buku-buku tersusun di rak, tas tergantung di kursi, piring sudah dicuci dan disimpan.
Selena segera mengecek ke segala sudut rumahnya. Namun, tidak ada tanda-tanda seseorang masuk secara paksa dan tidak ada barang yang hilang.
Justru semuanya tampak lebih rapi daripada sebelumnya.
Perlahan rasa dingin menjalar di tengkuknya.
"Jangan-jangan..."
Ia segera menggeleng berusaha untuk berfikir positif.
Tapi tiba-tiba terdengar sebuah suara seperti benda jatuh dari arah lantai atas loteng.
Selena langsung menoleh.
Sejak membeli rumah ini, ia belum pernah naik ke loteng. Bahkan dia tau apa saja yang ada di loteng.
Dan suara itu terdengar lagi.
Jantung Selena berdegup dengan sangat cepat.
Rumah itu tiba-tiba terasa jauh lebih sunyi.
Di atas sana, di balik pintu loteng yang tertutup rapat...
Seolah ada seseorang yang sedang memperhatikannya.