Selena menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Tulisan di jendela itu masih jelas terlihat dalam rekaman.
"Maaf. Aku tidak bermaksud menakutimu."
Kalimat sederhana namun cukup untuk membuat tubuhnya merinding.
Jika benda-benda yang bergerak sendiri masih bisa dijelaskan dengan berbagai kemungkinan, tulisan itu tidak.
Seseorang telah menulis pesan untuknya.
Seseorang yang tidak terlihat.
Atau mungkin...
Sesuatu.
Selena buru-buru mematikan video itu.
Dadanya terasa sesak. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Kabur?
Menjual rumah?
Atau pura-pura tidak terjadi apa-apa?
Namun satu hal yang pasti.
Ia tidak mungkin meninggalkan rumah itu begitu saja. Semua tabungannya sudah habis untuk membeli rumah tersebut dan dia tidak punya tempat lain untuk pergi.
"Hebat, Selena," gumamnya sambil memijat pelipis. "Belum ada seminggu di kota dan sudah tinggal serumah dengan hantu."
~~
Hari itu kuliah terasa lebih melelahkan dari biasanya. Sepanjang pelajaran, pikirannya terus dipenuhi rekaman semalam.
Beberapa kali dosen memanggil namanya karena ia tidak fokus.
Bahkan saat teman-temannya mengajak makan siang, Selena hanya menjawab seadanya.
Sampai akhirnya ketika makan di kantin, Rania menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan temannya yang satu ini.
"Kamu kelihatan kayak habis lihat setan." ujar Rania.
Selena langsung tersedak minumannya.
Rania mengernyit.
"Tunggu, jangan bilang kamu benar-benar lihat setan?!" seru Rania.
"Tidak!"
Jawaban Selena terdengar terlalu cepat.
Rania justru semakin curiga.
"Kamu aneh."
"Aku cuma kurang tidur."
"Oh, oke...."
Untungnya Rania tidak melanjutkan pembicaraan.
Selena memang belum siap menceritakan semuanya karena bahkan dirinya sendiri belum bisa percaya apa yang dilihatnya.
~~
Menjelang sore, Selena pulang ke rumah dengan perasaan waswas.
Sepanjang perjalanan, ia terus memikirkan satu hal.
"Jika penghuni tak kasat mata itu bisa menulis pesan, berarti dia juga bisa diajak berkomunikasi."
Pikiran itu membuatnya sedikit tenang.
Setidaknya makhluk itu tidak terlihat berniat mencelakainya.
Sesampainya di rumah, Selena langsung menuju ruang tamu.
Ia mengambil selembar kertas kosong lalu menulis sesuatu.
"Siapa kamu?"
Setelah itu ia meletakkan kertas tersebut beserta pulpen di atas meja.
Jika memang ada seseorang di rumah itu, mungkin dia akan membalas.
Meski terdengar konyol, Selena tetap melakukannya.
~~
Malam tiba.
Selena sengaja belajar di kamar hingga larut.
Namun rasa penasaran membuatnya beberapa kali keluar untuk memeriksa meja ruang tamu.
Tidak ada perubahan. Kertas itu masih kosong, pulpennya juga tidak berpindah.
Mungkin ia memang terlalu berharap.
Mungkin pesan di jendela itu hanya kebetulan.
Akhirnya sekitar pukul satu dini hari, Selena menyerah dan memutuskan untuk tidur.
~~
Pagi harinya, Selena berjalan menuju dapur.
Namun langkahnya mendadak terhenti. Matanya langsung tertuju pada meja ruang tamu.
Kertas yang semalam ia tinggalkan kini sudah terisi tulisan.
Selena membeku.
Perlahan ia mendekat.
Tulisan itu terlihat rapi.
Jauh lebih rapi daripada tulisannya sendiri.
"Aku tidak tahu siapa aku."
Selena mengerutkan kening.
Jawaban itu membuatnya semakin bingung.
Bagaimana mungkin seseorang tidak tahu siapa dirinya sendiri?
Tangannya segera mengambil pulpen. Ia menulis balasan di bawahnya.
"Setidaknya beri tau aku siapa namamu?"
Lalu dia pergi ke kampus.
Sepanjang hari, pikirannya dipenuhi satu pertanyaan.
Apakah akan ada balasan lagi?
~~
Saat pulang kuliah di sore harinya, Selena bahkan belum sempat melepas sepatu.
Dia langsung berlari menuju meja ruang tamu.
Dan benar saja, tulisan baru telah muncul.
"Aku lupa."
Selena berkedip.
Lupa?
Nama sendiri?
Ia menatap tulisan itu cukup lama.
Lalu perlahan duduk di kursi.
Entah mengapa, untuk pertama kalinya ia tidak merasa takut.
Sebaliknya...
Dia merasa kasihan.
"Jika benar ada seseorang yang terjebak di rumah ini tanpa mengetahui siapa dirinya, bukankah itu sangat menyedihkan?" pikirnya
Malam itu, Selena kembali menulis.
"Kamu manusia?"
Keesokan paginya, jawaban baru sudah menunggu.
"Dulu, iya."
Selena menelan ludah.
Tidak perlu penjelasan lebih lanjut.
Ia sudah mengerti maksudnya.
Makhluk yang tinggal di rumah itu memang bukan manusia.
~~
Hari-hari berikutnya berlangsung dengan cara yang aneh.
Selena dan makhluk misterius itu mulai saling bertukar pesan.
Melalui kertas.
Melalui catatan kecil.
Kadang melalui tulisan di kaca jendela.
Mereka tidak pernah bertemu namun komunikasi itu terus berlangsung.
Selena mengetahui bahwa penghuni rumah itu tidak mengingat banyak hal tentang dirinya. sosok itu hanya ingat pernah tinggal di rumah ini dan entah bagaimana, dia tidak bisa pergi.
Sementara itu, makhluk misterius itu tampaknya mulai mengenal Selena.
Dia tau jadwal kuliahnya, makanan favoritnya, bahkan tau kebiasaan buruk Selena yang meninggalkan gelas kosong di mana-mana.
Suatu pagi Selena menemukan sebuah catatan baru di meja makan.
"Tolong cuci piring setelah makan."
Di bawahnya terdapat gambar wajah marah yang digambar dengan sangat buruk.
Selena langsung tertawa.
Untuk pertama kalinya sejak tinggal di rumah itu, dia tertawa lepas.
Namun tawa itu perlahan memudar saat matanya menangkap sesuatu di bagian bawah kertas.
Tulisan kecil yang sebelumnya tidak dia sadari.
"Aku rasa... aku mulai mengingat sesuatu."
Jantung Selena berdetak lebih cepat.
Di bawah kalimat itu hanya ada satu kata.
Sebuah nama.
Nama yang tampaknya baru berhasil diingat oleh penghuni rumah tersebut.
"Vinz."
Dan tanpa Selena sadari, dari sudut ruang tamu yang kosong, sepasang mata sedang memperhatikannya dengan penuh rasa penasaran.
Karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ada seseorang yang akhirnya mau berinteraksi dengannya.