Sejak malam ketika dia mendengar suara lirih itu, Selena tidak bisa melupakan satu kata yang terucap dari kegelapan ruang tamu.
Ibu.
Hanya satu kata, namun cukup untuk membuat dadanya terasa sesak.
Kini Selena menyadari bahwa penghuni rumah ini bukan sekadar hantu yang berkeliaran tanpa tujuan.
Vinz pernah hidup, pernah tertawa, pernah memiliki keluarga yang menunggunya pulang.
Dan entah bagaimana, semua itu berakhir.
~~
Pagi itu Selena bangun lebih awal dari biasanya.
Sebelum berangkat ke kampus, dia kembali naik ke loteng.
Sinar matahari yang masuk dari ventilasi kecil membuat ruangan itu tidak segelap sebelumnya.
Meski begitu, suasana di sana tetap terasa pengap.
Selena membawa masker dan sapu kecil.
Kali ini dia berniat membersihkan sebagian loteng.
Siapa tahu ada petunjuk lain yang tertinggal.
Ia mulai memindahkan kardus-kardus tua satu per satu.
Sebagian besar hanya berisi majalah lama, pakaian usang, dan perabot yang sudah rusak.
Tidak ada yang menarik.
Hingga ketika dia menggeser sebuah lemari kayu kecil di sudut ruangan, sesuatu jatuh dari belakangnya.
Bruk.
Selena melihat sebuah kotak kayu berukuran sedang. Kotak itu tertutup lapisan debu yang tebal.
Selena berjongkok lalu membersihkan bagian atasnya menggunakan sapu tangan.
Di permukaan kotak terdapat ukiran huruf yang mulai memudar.
A.P.
Selena langsung teringat nama yang tertulis pada foto keluarga.
Arvin Pratama.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
Dengan hati-hati ia mencoba membuka kotak tersebut.
Namun gagal. Kotak itu terkunci.
"Aduh."
Ia menggoyangkannya perlahan. Terdengar suara benda bergerak di dalam. Berarti masih ada sesuatu di sana.
~~
Sepulang kuliah, Selena mencoba berbagai cara untuk membuka kotak tersebut.
Menggunakan penjepit rambut, obeng kecil, bahkan menonton tutorial membuka kunci di internet.
Tetapi semuanya gagal.
Kotak itu tetap tertutup rapat.
Saat hampir menyerah, pandangannya tertuju pada secarik kertas yang terletak di meja ruang tamu.
Tulisan baru, tulisan dari Vinz.
"Apa yang sedang kamu cari?"
Selena tersenyum tipis.
Kini ia mulai terbiasa berkomunikasi dengan makhluk tak kasat mata itu.
Ia segera menulis balasan.
"Aku menemukan kotak kayu di loteng."
Tak sampai satu jam kemudian, jawaban baru muncul.
"Kotak seperti apa?"
lalu Selena menulis balasan lagi.
"Ada inisial A.P."
Beberapa saat tidak ada balasan.
Lalu perlahan sebuah tulisan baru muncul di bawahnya, seolah ditulis oleh tangan yang ragu-ragu.
"Entah kenapa... aku merasa pernah melihatnya."
Selena menggigit bibir bawahnya.
"Itu berarti kotak tersebut memang berkaitan dengan masa lalu Vinz." pikirnya
~~
Malam harinya hujan kembali turun.
Angin berembus cukup kencang hingga membuat ranting pohon di halaman bergesekan dengan jendela.
Selena duduk di ruang tamu sambil memperhatikan kotak kayu yang berada di atas meja.
Ia terus memikirkan isi di dalamnya.
Jika benar kotak itu milik Vinz, mungkin di dalamnya terdapat petunjuk tentang kehidupannya.
Atau bahkan penyebab kematiannya.
Tiba-tiba...
Klik.
Suara kecil terdengar dari atas meja.
Selena mengangkat kepala.
Matanya langsung membelalak.
Kunci pada kotak kayu itu terbuka dengan sendirinya.
Ia membeku.
Beberapa detik berlalu.
Tidak ada suara, tidak ada gerakan.
Namun Selena tahu persis apa yang baru saja terjadi.
Seseorang telah membukanya.
Atau lebih tepatnya...
Sesuatu.
Perlahan dia menelan ludah.
"Vinz?"
Tidak ada jawaban.
Untuk pertama kalinya sejak tinggal di rumah ini, Selena merasakan kehadiran seseorang begitu dekat.
Sangat dekat.
Seolah berdiri tepat di sampingnya.
Dengan tangan gemetar, dia membuka tutup kotak kayu tersebut.
Di dalamnya terdapat beberapa benda.
Sebuah jam tangan tua, gelang kain berwarna biru, beberapa foto yang sudah menguningan dan sebuah buku berukuran kecil dengan sampul kulit hitam. Semacam diary
Jantung Selena kembali berdegup kencang.
Ia segera membuka halaman pertama.
Tulisan tangan rapi memenuhi lembaran kertas yang sudah usang.
Namaku Arvin Pratama.
Selena terdiam.
Nama itu muncul lagi.
Ia melanjutkan membaca.
Hari ini Ibu kembali memarahiku karena pulang terlalu malam. Katanya aku terlalu sering bermain bersama teman-temanku. Tapi aku tau sebenarnya dia hanya khawatir padaku.
Tulisan itu terasa hangat.
Sederhana.
Seperti catatan seseorang tentang kehidupan sehari-harinya.
Namun, saat Selena membalik beberapa halaman berikutnya, ia menemukan sesuatu yang membuatnya mengernyit.
Banyak halaman yang hilang.
Sobekannya terlihat sengaja dilakukan, seolah seseorang tidak ingin bagian tertentu dibaca oleh siapa pun.
"Kenapa ada yang merobeknya?" gumamnya.
Selena kembali membuka halaman lain.
Dan menemukan kalimat terakhir yang masih utuh.
Aku akan menemuinya besok malam.
Hanya itu.
Tidak ada nama.
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada kelanjutan.
Halaman setelahnya telah disobek.
Selena menatap tulisan tersebut cukup lama. Perasaannya menjadi tidak enak.
Karna entah mengapa, kalimat itu terasa memiliki sesuatu yang penting.
Tepat saat dia hendak membaca halaman berikutnya, lampu rumah tiba-tiba padam.
Seluruh ruangan langsung gelap gulita.
Brakk!
"Hah?!"
Selena refleks berdiri.
Jantungnya hampir meloncat keluar.
Di luar, suara petir menggelegar.
Cahaya kilat sesaat menerangi ruang tamu.
Dan dalam sepersekian detik itu, Selena melihat sesuatu atau lebih tepatnya seseorang.
Sosok pria tinggi berdiri di seberang meja.
Mengenakan kemeja gelap.
Wajahnya samar tertutup bayangan.
Namun dia jelas ada di sana, memandangi buku harian yang terbuka sebelum akhirnya menghilang bersama gelapnya ruangan.
Selena membeku.
Tubuhnya tidak bisa bergerak dan nafasnya tercekat.
"apalah itu Vinz" gumamnya pada dirinya sendiri