Kinan mengaduk kopinya yang bahkan belum sempat ia minum. Di seberang meja, Erin masih tersenyum, masih bercerita, dan setiap kalimat yang keluar dari mulut wanita itu terasa seperti jarum kecil yang ditusukkan pelan – pelan.
“Dia tuh dulu di sekolah nggak pernah aneh – aneh, nan. Anak basket, ranking terus, tapi ya gitu, kalau sama aku aja yang cerewet” Ucap Erin sembari mengeluarkan ponselnya. Beberapa detik kemudian layar ponsel itu diputar ke arah Kinan. Sebuah foto lama, buram, warnanya sudah kekuningan karena dipotret ulang dari album cetak. Serombongan anak SMA berseragam putih abu – abu berdiri di depan lapangan, dan di barisan kedua ada seorang anak laki – laki bertubuh tinggi yang wajahnya sama sekali tidak asing bagi Kinan.
“Yang ini Pras?” Tanya Kinan, berusaha membuat suaranya terdengar biasa saja.
“Iyaa, kurus banget kan dulu. Sekarang mah beda, udah jadi kapten” Jawab Erin sembari tertawa kecil.
Wanita itu menggeser layar ponselnya ke foto berikutnya, lalu ke foto berikutnya lagi, dan Kinan hanya bisa duduk di sana seperti orang yang dipaksa menonton film yang sudah ia tahu akhirnya.
“Aku tau dia balik ke Jakarta juga dari Cahyo” Ucap Erin. “Cahyo itu temen SMA kita juga, sekarang kerja di asuransi. Dia yang bilang, Ras, si Pras udah pindah base ke Jakarta loh. Ya udah aku langsung cari – cari alamatnya”
“Terus mbak dapet alamatnya dari mana?” Tanya Kinan, sedikit lebih cepat dari yang ia mau.
“Dari grup alumni. Ada yang tau daerahnya, terus aku nekat aja nyamperin” Jawab Erin sambil tertawa. “Malu sih sebenernya. Waktu itu yang buka pintu ibu – ibu muda, cantik. Aku kira pembantunya, ternyata bukan”
Sendok di tangan Kinan hampir jatuh ke piring.
“Terus mbak ngomong apa sama dia?” Tanya Kinan lagi.
“Ya aku cuma nanya bener nggak ini rumahnya Pras. Dia jawabnya iya, terus aku pergi” Ucap Erin sambil mengangkat bahu. “Kalau ketemu dia lagi aku mau minta maaf sih, kayaknya waktu itu aku ganggu banget”
Kinan menunduk, pura – pura mengaduk kopinya yang sudah dingin. Wanita yang membuka pintu itu adalah dirinya sendiri, dan sampai detik itu Erin sama sekali tidak mengenalinya sebagai orang yang sama.
Kinan ikut tertawa, walaupun sebenarnya tenggorokannya terasa kering. Perutnya yang mulai membesar itu tiba – tiba terasa penuh, dan ada mual yang datang dari bawah, entah karena kandungannya atau karena hal lain.
‘Ini suami saya, mbak. Yang kamu ceritain dari tadi itu suami saya’ Kalimat tersebut sudah berdiri di ujung lidah Kinan sejak sepuluh menit yang lalu, tapi tidak pernah benar – benar keluar.
Ia sudah beberapa kali mencoba. Tadi ia sempat berkata “Mbak, sebenernya…” tapi belum sampai kalimat itu selesai, pelayan datang membawa dua potong kue, dan Erin langsung berpindah topik ke rasa cheesecake yang katanya paling enak di toko tersebut. Kesempatan kedua datang saat Erin berhenti minum, tapi lagi – lagi Kinan menahan diri. Ia takut Erin salah paham dan menganggapnya sedang pamer. Ia takut suasananya jadi tidak enak padahal wanita di depannya ini adalah client kantornya.
Dan sejujurnya, ada satu ketakutan lagi yang tidak berani Kinan akui. Ia takut mendengar kelanjutan cerita itu.
“Eh, kamu sendiri gimana nan? Udah nikah kan? Tadi aku liat ada cincin” Tanya Erin tiba – tiba.
Kinan menutup tangan kirinya dengan tangan kanan tanpa sadar. “Iya mbak, udah”
“Suami kamu kerja apa?”
Ada satu detik di mana Kinan benar – benar berpikir untuk menjawab dengan jujur, satu detik yang kalau saja ia manfaatkan mungkin akan mengubah seluruh sore itu.
“Sering ke luar kota” Jawab Kinan akhirnya.
“Wah, sama dong kayak Pras” Ucap Erin sambil tertawa. “Capek ya nan ditinggal – tinggal terus. Aku sih nggak masalah, aku juga sibuk. Tapi katanya istri – istri pilot itu kuat – kuat, ya?”
“Ya gitu deh mbak” Jawab Kinan sambil ikut tertawa, dan tawanya sendiri terdengar aneh di telinganya.
“Anak?”
“Lagi isi, mbak. Jalan empat bulan”
“YA AMPUN, selamat ya!” Ucap Erin sambil menepuk lengan Kinan dua kali. “Pantesan mukanya lagi bagus banget. Suami kamu pasti seneng banget ya”
Kinan mengangguk, dan untuk pertama kalinya sore itu ia menjawab dengan seratus persen jujur. “Iya mbak. Seneng banget malah”
“Aku sebenernya nyesel sih, nan” Ucap Erin tiba – tiba, sembari memainkan sendok kecilnya.
“Nyesel kenapa mbak?”
“Waktu dia nembak aku itu kan aku lagi mau berangkat kuliah ke luar kota. Aku bilang, nanti aja jawabnya. Eh nanti nya kelamaan, aku sibuk, dia masuk sekolah penerbangan, terus ilang – ilangan” Erin menghela napas. “Sekarang aku udah balik ke Jakarta. Aku pikir, ya udah, sekarang saatnya aku jawab. Belum telat kan?”
Sendok di tangan Kinan berhenti bergerak.
Satu detik. Dua detik. Kinan menegakkan punggungnya, tersenyum, dan yang keluar dari mulutnya justru pertanyaan yang paling tidak ingin ia tanyakan.
“Kalau boleh tau, mbak mau jawab apa?”
Erin mengangkat bahu sembari tersenyum lebar. “Ya jawabnya iya lah, masa iya enggak”
Kinan tertawa. Tawanya keluar dengan benar, terdengar wajar, bahkan Erin ikut tertawa karenanya. Tidak ada satupun orang di kafe itu yang tahu bahwa wanita hamil yang duduk di sana sedang menghitung sisa – sisa kesabarannya sendiri.
“Kamu kenal dia dari kapan sih, nan? Kamu kan tetanggaan ya dulu” Tanya Erin.
“Iya, tetanggaan” Jawab Kinan pendek. Sebuah jawaban yang tidak salah, tapi juga tidak lengkap.
“Enak ya jadi tetangga. Bisa liat dia tiap hari” Ucap Erin. “Nan, kamu bantuin aku dong. Kasih tau aku dia sekarang sukanya apa, biar aku nggak salah langkah”
Kinan menelan ludah. ‘Dia sukanya saya, mbak’ Batinnya, dan untuk pertama kalinya sore itu ia hampir tidak bisa menahan senyum sinis di wajahnya sendiri.
“Mbak Erin” Ucap Kinan akhirnya, meletakkan sendoknya. “Kayaknya mbak harus ngomong langsung aja sama orangnya. Aku takutnya, apa yang aku tau tuh udah beda sama sekarang. Orang kan berubah”
Erin terdiam sebentar, lalu mengangguk. “Bener juga sih. Tapi kamu tetep bantuin aku ya kalau aku butuh”
Kinan hanya tersenyum, tidak mengiyakan, tidak juga menolak. Di bawah meja, tangannya mengelus perutnya sendiri, seolah – olah gerakan kecil itu bisa membuat dadanya berhenti terasa sesak.
Ponsel Erin bergetar di atas meja. Wanita itu melirik layar, lalu buru – buru berdiri.
“Ya ampun, aku ada meeting lagi jam enam. Nan, maaf ya aku duluan. Nanti bahan yang tadi aku kirim revisiannya lewat email ya” Ucap Erin sembari mengambil tasnya.
“Iya mbak, tenang aja”
“Makasih ya udah mau nemenin. Besok – besok kita ketemu lagi. Aku seneng ngobrol sama kamu, kamu orangnya enak diajak cerita” Ucap Erin sembari mencium pipi kanan kiri Kinan seperti kebiasaannya, lalu pergi meninggalkan kafe tersebut dengan langkah cepat.
Pelayan datang membereskan meja, dan Kinan meminta kue yang tersisa dibungkus. Bukan karena ia ingin memakannya, tapi karena ia teringat suaminya yang selalu berkata bahwa membuang makanan itu dosa paling gampang yang sering dianggap sepele.
Kinan duduk sendirian di meja yang tinggal berisi dua piring kue yang bahkan tidak habis setengah. Ia memandangi pintu kafe yang baru saja tertutup, lalu memandangi perutnya sendiri.
“Dede, ibu tadi hampir ngomong loh. Tapi ibu ndak jadi” Ucapnya pelan.
Ia membayar semuanya, lalu memesan taksi online untuk pulang. Sepanjang jalan, kepalanya penuh. Bukan penuh oleh kemarahan, tapi oleh sesuatu yang jauh lebih melelahkan dari itu. Semacam rasa tidak enak yang tidak jelas kepada siapa harus ditujukan.
Kepada Erin? Wanita itu tidak tahu apa – apa. Ia bahkan baik, ramah, dan sejak awal memperlakukan Kinan seperti teman lama yang sudah dikenalnya bertahun – tahun.
Kepada Pras? Suaminya bahkan tidak tahu kalau siang tadi ia dan Erin bertemu di ruang meeting yang sama.
Kepada dirinya sendiri? Mungkin. Karena sudah dua kali ia bertemu Erin, dan dua kali pula Kinan memilih diam.
Di dalam mobil, sopir menyalakan radio pelan – pelan. Sebuah lagu lama yang tidak Kinan kenal mengalun, dan wanita itu menyandarkan kepalanya ke jendela. Di kaca tersebut terpantul wajahnya sendiri yang lelah, dengan riasan tipis yang sudah luntur karena panas Jakarta.
Ia teringat percakapan mereka di teras rumah beberapa hari yang lalu, saat Erin datang mencari suaminya dan Kinan berpura – pura menjadi tetangga yang baik. Ia teringat bagaimana wanita itu tersenyum lega saat mendengar Pras tinggal di sana. Ia teringat bahwa sejak awal, sebenarnya, Kinan lah yang menutup pintu penjelasan itu rapat – rapat.
Sekali lagi kepalanya memutar kejadian sore tadi dari awal, dari bagian yang paling tidak ia sangka, saat ia berbalik di ruang meeting dan mendapati wanita yang beberapa hari lalu datang ke rumahnya untuk mencari suaminya kini berdiri di depannya sebagai client.
Suara itu terdengar lagi di kepalanya, jelas sekali, seperti baru saja diucapkan.
“Kinara?”
“E..rin?”