Ingatan Rayhan begitu jelas tentang malam kemarin, rasa ketakutan hingga berakhir Maura tidak sadarkan diri dan terpaksa Rayhan membawa ke apartemen mereka— Rayhan hanya mengingat apartemen karena jarak yang dekat dari sini. Menghubungi dokter pribadi keluarga Rayhan dan ternyata kepanikan Rayhan berangsur membaik ketika dokter mengatakan jika Maura baik-baik saja tidak ada penyakit serius dan pingsan disebabkan Maura mengalami shock. Kedua orang tua mereka serta adik-adik ikut panik ketika Rayhan mengabarkan bahwa Maura pingsan. Keduanya meminta untuk kesana tapi Rayhan menjelaskan jika Maura naik-naik saja. Ada Rayhan yang akan menjaga Maura.
Rayhan merasa dirinya gagal menjadi seorang suami— selama ini ia tidak ada disamping Maura— Rayhan hanya sibuk dengan pekerjaan sebagai bagian dari orang penerbangan. Harusnya Rayhan ada disamping Maura memiliki pekerjaan yang terbatas tidak perlu berhari-hari. Jika seperti ini ada secuil menyesalan dengan posisi pekerjaan Rayhan saat ini.
Rayhan kembali fokus membuat sandwich untuk sarapan Maura dan segelas s**u sebagai pelengkap. Semalam Maura juga sempat meminta agar Rayhan mengantar Maura setelah Maura sadar tapi Rayhan tidak memperbolehkan karena hari juga sudah memasuki tengah malam.
Kembali kemalam kemarin Rayhan terpaksa harus tidur di sofa ruang tamu karena tidak mungkin ia satu ranjang dengan Maura untuk saat ini. Ada dua kamar yang satu dulu— mereka bercita-cita kamar sebelah dijadikan untuk kamar anak mereka. Rayhan dan Maura berjanji tidak boleh menyentuh kamar sebelah hingga anak mereka lahir dan janji itu Rayhan tepati hingga saat ini. Impian harus dibuktikan Rayhan tidak mau hanya sekedar sebuah impian fiksi. Rayhan rasa ia tidak perlu mencuci selimut yang tergeletak di sofa sana— semalam diam-diam Maura memberikan selimut itu mungkin karena melihat Rayhan tertidur tanpa selimut karena Rayhan tidak enak masuk ke dalam kamar yang sedang ditempati Maura.
Dulu Maura juga selalu melakukan hal yang sama ketika Rayhan tidak terbang, berada didalam rumah kebiasaan jelek Rayhan satu selalu tertidur di sofa dan Maura yang mencoba membangunkan Rayhan selalu gagal karena Rayhan terlalu puas. Mengingat masa itu Rayhan tersenyum malu-malu sembari tangan yang tak berhenti menata sandwich yang sebentar lagi jadi.
“Sudah bangun, Ra?” Rayhan masuk ke dalam kamar— niat Rayhan hanya mengantar sarapan pagi untuk Maura tapi ternyata Maura sudah bangun.
Maura mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Rayhan.
“Sarapan dulu Ra, nanti aku antar kamu pulang.” Ucap Rayhan
“Tidak perlu repot-repot mas. Terima kasih banyak ...” Balas Maura tidak enak
“Tidak apa-apa. Kasih komentar dong setelah makan sandwich buatanku.” Pinta Rayhan. Menaruh nampan berisi makanan diatas meja tepat samping Maura.
“Iya. Sekali lagi terima kasih untuk semua kebaikan mas Rayhan, aku tidak tahu bagaimana cara membalasnya.”
Rayhan menyondongkan badannya tepat disamping telinga Maura. “Kamu hanya perlu membalas perasaanku, Ra ... Mau menjadi bagian dari hidupku.” Bisik Rayhan
Maura terdiam. Tanpa bertanya maksud dari perkataan Rayhan— Maura sudah arah percakapan Rayhan kemana. Maura masih ragu mereka baru kenal dalam hitungan Minggu.
“Maaf mas ... Aku rag—”
“Apa yang diragukan lagi, Ra?” sela Rayhan
“Kemarin malam mas tau bagaimana saat aku takut, itulah alasan aku ragu bukan hanya soal itu— aku mengalami amnesia mas. Aku takut ketika aku bersamamu ada hati lain tersakiti.” Jujur Maura
Rayhan diam menatap kedua mata Maura dalam-dalam ucapan Maura yang terakhir begitu mengenai ulu hati Rayhan. Entah antara senang atau tidak karena secara tidak langsung ucapan Maura mengarah pada Rayhan. Andai Maura ingat jika hati yang tersakiti adalah Rayhan— pria didepan Maura.
“Ra ... Aku akan membantu kamu untuk memulihkan ingatanmu.” Ucap Rayhan. Ini adalah kesempatan untuk Rayhan, bukankah ini yang sedang ia cari.
Sayang sekali tidak ada jawaban dari Maura malah mengalih membicaran lain seperti rasa sandwich yang Rayhan buat. Kata Maura sandwich buatan Rayhan enak tapi ada baiknya Mayones jangan terlalu banyak karena terlalu manis menurut Maura dan Rayhan mengatakan iya dan berterima kasih telah berkomentar.
Teruntuk saat ini Rayhan memilih untuk menunggu jawaban Maura. Semuanya memang tidak bisa cepat terwujud apalagi status Rayhan yang menjadi orang asing bagi Maura. Sabar Maura pasti akan Rayhan genggam lagi.
****
“Ra kalau mau mandi ini baju gantimu, milik adikku— Melati.” Ucap Rayhan menaruh satu pasang pakaian— berdalih bahwa milik Melati itu bohong jelas-jelas itu pakaian Maura yang ada di apartemen.
“Nggak perlu deh mas, biar mandi dirumah.”
“Tapi Ra ... Biar pulang tidak perlu mandi lagi. Aku janji akan keluar dari apartemen ini.” Ucap Rayhan dan pria itu benar-benar keluar dari kamar sembari membawa bekas sarapan Maura. Maura merasa terlalu banyak merepotkan Rayhan.
Maura bangkit dan mengambil salah satu bingkai foto meja didekat jendela ia sangat penasaran— Maura tidak berani karena Rayhan ada disini. Foto dua orang antara perempuan dan laki-laki. Perempuan foto membelakangi dan Rayhan yang memeluk pinggang perempuan. Siapa perempuan ini apa mungkin kekasih Rayhan atau lainnya? Jika kekasih Rayhan tidak mungkin mengatakan ucapan di restoran tadi. Maura berpikir positif mungkin adik Rayhan yang bernama Melati seperti yang Rayhan sebutkan tadi.
Maura sudah tahu tentang apa yang dialami dirinya— ibu mengatakan semua itu pun karena Maura memaksa karena Maura yakin ada yang tidak beres dengan diri Maura dan ternyata benar— Maura mengalami amnesia sebuah pernyataan yang membuat hidup Maura semakin hancur. Pantas tidak ada yang Maura ingat terkecuali keluarga Maura sendiri. Sedih itu tentu saja sebagian memori lama harus hilang dan kini Maura harus menata dari awal. Ada ibu, bapak, Jelita yang selalu memberi kekuatan untuk Maura tapi tetap itu semua tidak bisa mengembalikan ingatan Maura— bahkan mereka selalu bungkam ketika Maura bertanya hal penting apa yang Maura lupakan dalam hidupnya.
“Mas Ray ...” Panggil Maura
“Ya?”
Setelah Maura selesai membersihkam tubuh Rayhan menepati janji untuk mengantar Maura pulang.
“Sekali lagi terima kasih untuk sem—”
“Ra ... Kamu sudah mengatakan hal ini berkali-kali dan aku menjawab iya sama-sama. Aku senang bisa membantumu Ra, ada disamping kamu seperti tadi malam.” Sela Rayhan. Menoleh kearah Maura sebentar lalu fokus menyetir mobil lagi.
Diam-diam Maura tersenyum. Manusiawi jika mengucapkan terima kasih berkali-kali karena nyatanya Maura memang merasa tidak enak dengan Rayhan.
“Jangan dipikirkan lagi ...” Ucap Rayhan. Satu tangan Rayhan bergerak mengusap punggung tangan Maura.
Semalam bersama Maura meski saling berjauhan seperti nyata jika Maura sudah kembali dalam hidup Rayhan. Rayhan bahagia meski hanya mengecup sekilas kening perempuan yang selalu Rayhan rindukan.
“Sudah sampai Ra ...”
Maura langsung melepaskan seat belt dan baru saja Maura ingin mengatakan pada Rayhan namun Rayhan sudah lebih dulu keluar dan membuka pintu untuk Maura.
“Mas .... Terim—”
“Sama-sama Ra, Maura ...” Jawab Rayhan tersenyum dihadapan Maura.
“Mas selalu memotong pembicaraan Maura.”
“Sorry ...”
“Aku masuk dulu, sampai jumpa.” Ucap Maura
“Sampai jumpa ...”
Rasanya tidak rela melepaskan Maura meski pulang ke rumah mama mertua— Rayhan meraih tangan Maura lalu menangkup wajah Maura dan mendekatkan wajah Rayhan pada kening Maura.
Kecupan kesekian kalinya yang tidak pernah bosan.
*****