Janji pada bapak itu sudah dicatat Maura di ponselnya sejak semalam: tanya Dokter Delia. Hanya saja jadwal klinik baru bisa dipastikan lewat Rayhan, yang akan mengurusnya begitu ia mendarat lagi. Jadi sambil menunggu, Maura memutuskan menyelesaikan urusan lain yang sudah lama ia tunda, yaitu keluar rumah tanpa ibu.
“Kafe Mas Oka?” Jelita menaikkan alis. “Kak, itu kan jauh dari jalan raya. Jalannya berlubang. Kalau Kak Ra muntah di jalan—”
“Aku sudah bawa kantong plastik dan minyak kayu putih. Kamu temani atau tidak?”
“Temani, tentu!” Jelita sudah menyambar tasnya. “Cuma, aku nggak mau jadi alasan Kak Ra mual.”
Mereka berjalan kaki, pelan, menyusuri tepi jalan yang teduh oleh pohon trembesi. Jelita menggandeng lengan Maura dan, tanpa terlihat, selalu berjalan di sisi yang lebih dekat ke jalan raya. Maura sadar, dan diam saja. Ketika sebuah motor lewat sambil memencet klakson pendek, bahunya terangkat sedikit. Jelita langsung mengeratkan genggamannya.
“Cuma pendek, Kak.”
“Aku tahu.” Maura menarik napas. “Pendek masih bisa kutahan. Yang panjang yang nggak.”
“Kalau yang panjang datang, Kak Ra jongkok aja. Jejel jagain.”
Maura melirik adiknya. “Katanya nggak mau jagain diam-diam.”
“Ini jagain terang-terangan,” sahut Jelita. “Kan Kak Ra sudah tahu.”
Kafe itu berada di ujung gang kecil, di antara toko jam dan tukang tambal ban, dengan papan tulis hitam di depan dan lonceng kecil di pintu. Begitu Maura mendorongnya, aroma kopi menghantam hidung, begitu pekat dan hangat sampai perutnya melompat. Ia menahan napas, menutup hidung dengan punggung tangan.
“Kak?”
“Aku nggak apa-apa. Cuma... bau kopinya.”
“Kopi?” Dari balik meja bar, Mas Oka muncul dengan celemek cokelat dan senyum lebar yang langsung hilang begitu melihat wajah Maura. “Ra! Kamu ke mana saja? Aku kirim pesan, nggak dibalas. Aku kira kamu ngambek.”
“Aku... sakit, Mas. Nanti kuceritakan.” Maura duduk di kursi dekat jendela, tempat yang entah kenapa terasa paling akrab. “Aku mau pesan, tapi bukan kopi. Ada teh jahe?”
Oka berhenti mencatat. Ia memiringkan kepala, mengamati Maura dengan cara orang yang melihat potret yang sedikit bergeser dari bingkainya.
“Dulu kamu pesan kopi hitam tanpa gula,” katanya pelan. “Tiap hari. Dua gelas, kalau toko lagi ramai.”
“Oh.” Maura tersenyum canggung. “Aku lupa.”
“Tapi teh jahe ada. Kubuatkan yang pakai madu, ya?”
“Boleh. Terima kasih.”
Oka berlalu. Jelita menatap kakaknya dengan alis berkerut. “Kakak benar-benar nggak ingat pernah minum kopi hitam dua gelas?”
“Nggak.” Maura memandang jalan di luar jendela. “Aneh, ya? Selera pun bisa lupa.”
Lonceng pintu berbunyi lagi.
Seorang laki-laki jangkung masuk dengan kemeja biru polos dan tas kerja di bahu. Rambutnya rapi, wajahnya tenang, dan ketika matanya menangkap Maura di dekat jendela, langkahnya berhenti seketika. Maura menegang. Ia tidak mengenal wajah itu, tetapi suara di kepalanya sendiri menyebut satu nama sebelum ia sempat berpikir.
“Bagas.”
“Maura.” Laki-laki itu menatapnya hati-hati. “Aku nggak mau mengganggu. Aku tadi cuma mau beli kopi. Tapi kalau kamu mau aku pergi, aku pergi.”
Jelita sudah setengah berdiri, siap pasang badan. Maura meraih tangan adiknya.
“Jel. Tolong tunggu di meja bar sebentar. Dua menit.”
“Kak—”
“Dua menit.”
Jelita menyipitkan mata ke arah Bagas, lalu pergi dengan langkah dihentak. Bagas menarik kursi di seberang Maura, duduk tegak dengan dua tangan di atas meja, seolah ingin menunjukkan tak ada apa pun yang disembunyikan.
“Aku mau minta maaf,” katanya tanpa basa-basi. “Soal malam di restoran Lentera. Aku bilang ‘Your husband’ ke kamu, lalu pergi begitu saja. Aku kira kamu sudah tahu. Aku nggak tahu kamu amnesia, nggak tahu dia belum bilang siapa dirinya. Aku baru tahu belakangan, dari Nadia, dan aku merasa seperti orang yang menjatuhkan piring di depan tamu.”
“Dia suamiku,” kata Maura. “Kamu nggak salah, kamu cuma bilang kenyataan.”
“Tapi caraku salah.” Bagas menggeleng. “Kamu pantas mendengarnya dari orang yang tepat.”
Maura menunggu. Ia merasakan sesuatu yang tidak ia duga: bukan marah, bukan cemas, tapi rasa ingin tahu yang hati-hati.
“Siapa kamu buatku?” tanyanya akhirnya. “Jujur saja.”
“Mantan,” jawab Bagas, ringan dan jelas, tanpa memutar. “Sebelum kamu mengenal Rayhan. Kita berpisah baik-baik, tanpa drama. Aku hadir di pernikahan kalian, duduk di barisan ketiga, dan memberi amplop yang isinya mungkin terlalu sedikit.” Ia tersenyum miring. “Sekarang aku sudah bertunangan. Dengan perempuan yang jauh lebih sabar dari aku.”
“Selamat.”
“Terima kasih.”
“Di pernikahan kami,” kata Maura pelan. “Aku seperti apa waktu itu?”
Bagas tampak terkejut oleh pertanyaan itu, lalu tersenyum. “Kamu menangis sebelum akad bahkan sebelum ada yang bicara. Ibumu harus mengganti bedakmu dua kali. Dan Rayhan... dia berdiri di depan penghulu dengan tangan gemetar. Aku duduk di barisan ketiga dan berpikir, ya sudah, kalah dengan laki-laki yang seperti itu bukan memalukan.”
Maura tertawa kecil, pahit dan hangat sekaligus. Ia membayangkan Rayhan gemetar, lalu teringat tangan dingin yang diceritakan bapak. Dua gambar itu menyatu tanpa terlalu dipaksa.
“Kamu baik sekali,” ujarnya.
“Aku belajar.” Bagas mengangkat bahu. “Dari kamu juga.”
Ada jeda. Dari bar terdengar bunyi gelas diletakkan lebih keras dari perlu, tanda Jelita sedang menyadap dari jauh.
“Aku ingat satu hal tentangmu,” kata Bagas pelan. “Mungkin berguna buatmu. Dulu, waktu kita masih dekat, aku pernah tanya kenapa kamu nggak pernah ragu menolak ajakan keluar malam. Kamu jawab, ‘Aku sudah punya tempat pulang.’ Waktu itu aku kira kamu bicara soal rumah ibumu.” Ia menatap meja. “Ternyata bukan.”
Maura terdiam.
Tempat pulang. Kata itu terasa hangat di dadanya, bukan beban. Ia mengulanginya dalam hati, sekali, dua kali. Aku sudah punya tempat pulang. Perempuan itu, yang ada di video akad dan di foto-foto berbingkai, sudah tahu sesuatu yang belum Maura ketahui sendiri.
“Terima kasih, Bagas,” ucapnya.
“Itu saja yang mau kusampaikan.” Bagas berdiri, mengambil tas. “Kalau kamu mau aku jelaskan hal ini ke Rayhan, aku bersedia datang. Aku nggak mau jadi sumber masalah.”
“Nggak perlu. Aku yang akan cerita.”
Bagas mengangguk, lalu pergi tanpa menoleh. Lonceng pintu berdenting satu kali.
Jelita langsung muncul di sisi Maura, membawa dua gelas teh jahe berasap. “Dua menit lebih dua puluh detik. Tapi aku nggak nyadap, aku cuma kebetulan dengar semuanya.”
“Jel.”
“Maaf.” Jelita duduk. “Kak, mau cerita apa ke Mas Ray?”
Mas Oka lewat membawa piring kecil berisi dua potong kue pisang. “Dari rumah,” katanya, “gratis. Kamu dulu bilang kopiku ini obat ngantuk paling manjur. Sekarang aku buktikan teh jahe pun bisa.”
“Masa aku bilang begitu?”
“Dengan wajah serius,” Oka mengedip. “Pokoknya, selamat datang kembali.”
Ia pergi sebelum Maura sempat bertanya lagi, dan Maura mengunyah kue pisang itu sambil mencatat dalam hati: ada Maura yang suka kopi, ada Maura yang menyebut kopi obat ngantuk dengan wajah serius, dan ada Maura yang sekarang hanya sanggup minum teh jahe.
Maura menyesap teh jahe. Hangat, pedas, madu yang manis menyelinap di ujung. Rasanya seperti ucapan selamat datang.
“Kak?” Jelita menyentuh punggung tangannya. “Tadi aku tanya, mau cerita apa ke Mas Ray.”
“Semuanya,” jawab Maura. “Begitu dia mendarat. Aku nggak mau dia tahu dari orang lain.”
Jelita menepuk bahunya pelan. “Itu baru namanya aturan pertama.”