“Tunggu!” Sosok wanita berlari tergopoh mengejar lelaki di depannya.
“Apa maumu?” Sang lelaki berhenti dan berbalik menatap sang wanita dengan tatapan dingin.
“Dia bukan kekasih gelapku, hanya rekan kerja. Kumohon, percayalah padaku!” ucap sang wanita dengan suara bergetar menahan tangis. “Beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya!”
“Tidak ada yang perlu kamu jelaskan! Aku sudah melihat semuanya! Mana mungkin seorang wanita pergi makan malam berdua dengan mesra bersama lelaki lain, tapi mengaku tidak memiliki hubungan, hah?” Lelaki itu membentak kekasihnya dengan keras.
“Kumohon, percayalah padaku!” rintih wanita itu dalam tangis.
“Aku sudah muak denganmu! Menikah denganmu adalah kesalahan besar yang pernah kulakukan! Kamu hanyalah wanita yang tidak lebih baik dari mantan kekasihku!” Setelah berkata demikian, lelaki itu melepas dan melemparkan cincinnya, kemudian berjalan tergesa-gesa menuju ke mobilnya dan pergi menjauh dari situ dengan kecepatan tinggi.
Wanita itu tidak diam saja. Dia mengambil cincin pernikahan itu, kemudian berlari ke mobilnya sendiri dan menyusul kekasihnya. Dia mengemudi dengan kecepatan tinggi sambil menangis. Berusaha menyusul kekasihnya, tapi sulit. Dia tidak berani melampaui batas tertinggi yang bisa dicapainya. Tiba-tiba saja tangisnya terhenti dan menatap lurus dengan ekspresi tegang.
Dengan cepat, wanita itu memutar kemudi ke kanar hingga keluar jalur. Menabrak pembatas jembatan dengan keras. Kepalanya membentur kemudi dengan keras karena sabuk pengaman dan bantalan penyelamatnya tidak berfungsi. Dalam kesakitan, dia berusaha melihat ke sekeliling. Dia tidak sanggup mengeluarkan jeritan saat mobilnya pun meluncur jatuh ke laut dan air yang dingin langsung membalut tubuhnya.
* * *
“Emh ….”
Sosok yang berada di atas ranjang rumah sakit itu mengeluh pelan. Kedua kelopak matanya bergetar membuka perlahan dan menatap langit-langit kamar. Dahinya berkerut tidak hanya karena merasakan sakit dan pusing, tapi juga karena aroma obat yang menyeruak masuk menyapa indra penciumannya melalui sela-sela selang oksigen yang terpasang. Ditambah perasaan silau yang cukup menyakitkan untuk kedua matanya.
Sudut matanya menangkap pergerakan di samping. Dia menggerakkan kepala menatap ke arah sosok itu dan mengerang merasakan pusing. Tanpa sadar, dia menggerakkan tangan untuk meraih siapa pun sosok itu. Dia kembali meringis kesakitan saat berusaha bergerak dan diam merasakan elusan di kepalanya.
“Tunggu sebentar! Aku akan memanggil dokter!”
Itulah sekilas samar-samar kalimat yang didengarnya sebelum lelaki itu pergi. Dia bergerak memegang kepalanya yang terasa sangat sakit. Bibirnya terbuka berusaha mengatur napasnya yang sedikit terengah. Dia menoleh saat mendengar pintu terbuka. Pandangan matanya sudah mulai jelas untuk bisa mengenali ketiga sosok yang masuk—seorang wanita berjas putih dan satunya dengan pakaian biru muda, serta lelaki yang tadi memanggil.
“Constance, obatnya!” ucap dokter wanita itu lalu mulai memeriksanya.
Dia diam saat diperiksa, memperhatikan perawat itu menyuntikkan obat melalui selang infus di tangan. Dahinya kembali berkerut merasakan sakit saat cairan itu masuk ke dalam darah, tapi hanya sebentar. Begitu rasa sakitnya berkurang, dia bisa memfokuskan pandangan dan benar-benar mengumpulkan kesadarannya.
“How are you feeling?”
Dia menatap dokter wanita berwajah cantik yang mengulas senyum padanya. Dia ingin menyahut, tapi lidahnya teras kelu. Tubuhnya masih sangat lemas dengan kepala pening. Dia pun hanya diam menatap dokter itu.
“Kamu mau minum?” tanya dokter wanita itu lagi.
Dia mengangguk pelan sebagai jawaban. Diperhatikannya saat lelaki yang sejak tadi diam, bergerak membantunya duduk lalu menerima gelas berisi air yang disodorkan sang perawat. Dia pun minum dengan pelan. Mengernyit merasakan pahit, tapi juga lega saat air itu mengalir membasahi kerongkongannya.
“Bagaimana perasaanmu?” tanya dokter wanita itu lagi.
Dia tidak langsung menjawab dan melirik ke d**a kanan dokter itu, membaca nama yang ada di sana—dr. Olivia Lawrence. Tangannya memegang lengan lelaki itu saat dibantu untuk tidur kembali. Helaan napas lega lolos dari bibirnya begitu sudah berbaring. Pening yang tadi dirasakannya seketika menghilang.
‘Apa yang terjadi? Kenapa aku tidak ingat apa-apa?’ batinnya tanpa menyuarakan hal itu dan tidak menjawab pertanyaan sang dokter.
“Kamu ingat apa yang terjadi?”
Dia menoleh menatap dokter itu dan diam sejenak. Mengumpulkan tenaga untuk memberikan jawaban. Semua yang ada di situ menunggu dengan sabar. Sang dokter tampak memandang dengan tatapan serius dan meneliti. Memegang kepala dan tangan kirinya, seolah hendak memberinya kekuatan.
“Aku … kenapa …?” Hanya dua kata itu yang sanggup lolos dari bibirnya, itu pun dengan suara yang sangat pelan.
Tidak seorang pun memberikan tanggapan. Semua masih menunggu sampai dia benar-benar sadar. Dia mengalihkan pandangan ke jendela yang tertutup. Setelah itu, menggerakkan kepala menatap lelaki yang berdiri bersandar di tembok. Memberi jarak dengan ranjang tempatnya berada. Dia menatap dan meneliri satu per satu yang ada di ruangan itu, berusaha mengenali semuanya.
“Melissa?”
Panggilan itu membuat dia menoleh pada sang empunya suara—sang dokter. “Melissa … siapa?” tanyanya pelan dengan susah payah.
Ruangan seketika hening mendengar pertanyaan itu. Dia bisa melihat keterkejutan di wajah ketiga orang itu. Tangannya terangkat memegang kepalanya yang terasa sakit saat dia mencoba mengingat. Perasaan takut tiba-tiba menyelusup ke dalam hatinya saat menyadari dia tidak ingat apa pun, membuatnya sedikit panik.
“Melissa, Melissa Alessandra Northam-Smith, itulah adalah namamu.” Dokter wanita itu menenangkan sang pasien dengan nada lembut. “Namaku Olivia Mia Lesser dan aku adalah dokter yang menanganimu. Perawat ini asistenku—Erin, sementara lelaki itu ….”
Dokter itu—Olivia—tidak melanjutkan ucapannya. Menatap satu-satunya lelaki yang ada di situ. Tatapannya seolah sedang bertanya tanpa suara: Aku harus memperkenalkanmu sebagai siapa pada Melissa? Dia diam menunggu, begitu pun Melissa. Sama-sama menatap sang lelaki yang masih diam.
“Aku suamimu,” sambung lelaki itu pada akhirnya dengan nada lembut. “Namaku Daniel Christian Smith,” lanjutnya dengan senyuman hangat.
“Namaku … Melissa?” Wanita itu menoleh dan menatap sang dokter kembali penuh tanya—yang menjawab dengan anggukan. “Dia … suamiku?” tanyanya lagi.
“Iya, Melissa. Daniel adalah suamimu,” sahut Olivia dengan senyuman hangat.
Melissa menoleh dan melihat Daniel mengangkat tangan kirinya. Tersemat sebuah cincin emas di jari manis tangan kiri lelaki itu. Dia ganti mengangkat tangan kirinya, tapi tidak ada apa-apa di sana. Dia menoleh saat Daniel meraih tangan kirinya, kemudian menyematkan sebuah cincin emas di jari manis.
“Ini cincinmu,” ucap Daniel.
“Aku melepaskan dan menyerahkannya pada Daniel karena kamu harus masuk meja operasi,” jelas Olivia membaca kebingungan Melissa. “Nah, bagaimana kalau kamu tidur lagi dulu? Jangan dilawan karena tubuhmu masih sangat lemah setelah koma satu bulan ini. Tidurlah!”
Melissa memang merasakan kedua kelopak matanya masih sangat berat. Pandangannya juga masih terasa melayang dan kabur. Dia belum benar-benar bisa melihat seperti apa wajah Olivia, Daniel, dan Erin. Perlahan kedua matanya menutup. Dia pun jatuh tertidur akibat obat yang juga masih ada di dalam tubuhnya.
“Erin, pastikan kondisi Melissa baik! Aku mau laporannya ada di mejaku sebelum makan siang,” titah Olivia, kemudian beralih menatap Daniel. “Aku mau bicara denganmu di luar!” ucapnya.
Daniel mengangguk, kemudian mengikuti Olivia keluar. Mereka berdiri beberapa langkah dari pintu. Tidak langsung bicara karena ada beberapa dokter dan perawat yang lewat serta menyapa mereka. Mereka sama-sama menunggu hingga suasana lebih sepi sehingga bisa bicara dengan tenang.
“Apakah kamu mau mengatakan padaku kalau Melissa tidak ingat apa-apa, Olive?” tanya Daniel to the point.
“Aku takut memang dia tidak ingat apa-apa, Dan. Dengan kata lain, dia hilang ingatan—amnesia. Bersiaplah untuk semua kemungkinan terburuknya—kamu dan orang tuamu,” sahut Olivia.
Daniel menghela napas, kemudian berujar, “Alright. Aku harus memberi tahu orang tuaku kalau Melissa sudah sadar.”
Olivia mengangguk, kemudian menyahut, “Kalau begitu, aku pergi dulu. Masih ada pasien yang harus aku cek. Kalau ada apa-apa, segera panggil aku.”
Setelah Daniel mengangguk, Olivia pun pergi dari situ. Berjalan menyusuri lorong rumah sakit untuk deretan kamar VVIP yang sedikit lebih lengang daripada lorong lain. Kedua tangannya berada di dalam saku jas dokter. Sesekali dia mengangguk membalas sapaan dari perawat dan dokter yang berpapasan.
Langkahnya terhenti di sebuah kamar rawat yang berjarak lima kamar dari tempat Melissa berada. Olivia menoleh ke depan kamar Melissa yang sepi. Setelah itu, dia menghela napas dan beranjak masuk ke kamar rawat di depannya. Dia menutup pintu kembali dan tersenyum melihat sosok lelaki yang berdiri menghadap keluar jendela.
“Aku pikir kamu masih tidur,” ucap Olivia sambil berjalan mendekat, kemudian memeluk lelaki itu dari belakang.
“Aku sudah bangun sejak tadi pagi,” sahut lelaki itu.
“Aku baru saja dari kamar rawat Melissa. Dia sadar,” cerita Olivia.
Lelaki itu melepaskan pelukan Olivia lalu berbalik. Seluruh wajahnya tampak dililit perban, hanya menyisakan bagian mata dan alis, bibir, serta hidung. Kedua manik biru tuanya menatap iris biru muda Olivia. Tangannya terangkat mengelus pipi Olivia, kemudian membungkuk dan memberikan kecupan di bibir.
“Bagaimana kondisinya?” tanyanya setelah menarik wajah kembali.
“Baik, hanya … tidak ingat apa-apa,” jawab Olivia.
“Hilang ingatan?” Lelaki itu mengangkat sebelah alis.
“Iya,” sahut Olivia dengan anggukan.
“Daniel bersamanya?” tanya lelaki itu lagi.
“He always by her side,” sahut Olivia.
“Kamu cemburu?” tanya lelaki itu sambil meraih pinggang Olivia.
“Tidak, untuk apa? Aku sudah tidak memiliki perasaan apa-apa,” sahut Olivia lalu mengalungkan kedua tangan di leher. “Untuk apa perban di wajahmu? Siapa yang memasangnya?” tanyanya.
“Ada tujuannya. Erin tadi pagi-pagi sekali aku panggil,” jawab lelaki itu santai. “Besok aku keluar rumah sakit. Mau jalan-jalan?”
Olivia mengangguk dan kembali berciuman dengan lelaki itu—kekasihnya. Untuk sejenak, dia menikmati keintiman itu. Meluapkan perasaan lega yang dua hari ini menggelayut dalam hatinya. Erangan tertahan lolos saat lelaki itu menggigit bibirnya pelan. Dia tidak menolak saat ciuman itu semakin intens hingga berhenti setelah hampir satu menit.
“I love you. You know that, ‘right?” bisik lelaki itu.
“I know and I always believe you,” sahut Olivia dengan senyuman.
“Aku punya sebuah rencana yang bisa dibilang … yah, cukup menyenangkan,” ucap lelaki itu diakhiri kecupan di bibir.
“Rencana apa? Aku yakin itu berbahaya.” Olivia mengangkat satu alisnya dengan tatapan penuh tanya, tapi kekasihnya tampak tidak mau menjawab dan kembali memagut bibirnya pelan.